Telusur Jantung Ibukota Thailand

Penampakan Grand Palace dari seberang jalan

Pagi menjelang. Riuh terdengar samar suara warga setempat dari balik ruko-ruko dari lantai tiga tempat aku menginap. Aksen orang Thailand yang sedikit mirip dengan Tiongkok membawa aku seperti berada di daerah pecinan.

Aku keluar dari kamar, berdiri di samping pagar setinggi pinggang. Memandangi panorama Kota Bangkok, meski yang terlihat hanya puncak-puncak gedung pencakar langit karena tertutupi bangunan-bangunan tinggi di dekatnya. Lagi-lagi, mirip dengan Kota Jakarta. Namun, bangunan beratap meruncing berwarna emas yang merupakan khas Thailand seolah menyadarkanku bahwa aku sedang berada di negera orang.

Aku beranjak mandi. Bersiap untuk memulai petualangan hari ini. Menjelajah Bangkok. Aku keluar dari hostel. Menyusuri sepanjang koridor di depan ruko-ruko. Para pekerja tampak bersiap memulai aktifitas mereka. Penjaja pakaian kaki lima menata barang dagangannya. Khaosan di pagi hari suasananya berbeda dengan malam. Terlihat lebih sepi. Jalanan pun lengang. Para wisatawan masih terlelap dalam tidur, setelah menikmati kehidupan (tengah) malam.

Mataku tertuju pada gerobak yang menjual aneka gorengan. Pedagangnya merupakan pasutri yang mengenakan hijab dan peci. Kesempatanku untuk mencicipi jajanan pinggir jalan di Thailand. Mumpung halal. Tidak mudah memang menemukan penjual gorengan ‘berlabel’ halal di Bangkok. Aku mencicip gorengan yang ditusuk ala sate, berupa irisan daging ayam. Dibumbui kecap, rasanya sedikit mirip ayam bakar. Harganya 5 baht per tusuk. Sedap.

Penjual gorengan ini letaknya masih satu jalur dengan tempat aku menginap. Dari hostel, berbelok ke kiri dan berjalan lurus sejauh 500 meter. Persis berada di seberang swalayan. Di sekitar sini terdapat beberapa pedagang makanan halal.

Menurut pengakuan penjual gorengan tersebut, dulunya kawasan Khaosan ini adalah sebuah perkampungan Muslim. Tak heran jika bisa dengan mudah menemukan agen travel milik Muslim atau para pedagang yang beragama Islam di sini. Hanya saja, sekarang jumlahnya sudah menjadi minoritas.

Di Khaosan juga terdapat Masjid yang lumayan besar. Letaknya sangat dekat dari tempat penjaja gorengan tadi. Menuju ke Masjid harus melewati sebuah gang kecil selebar dua meter yang berada di celah ruko. Sebuah plang penunjuk Masjid terletak di depan gang bertuliskan Masjid Chakkabrongse.

Kalau sudah ketemu Masjid di negara orang, rasanya rugi jika tidak mengunjunginya. Apalagi merupakan tempat ibadah yang memang sudah semestinya aku hampiri. Aku berjalan menyusuri gang sejauh 50 meter saja untuk mencapai Masjid tersebut. Masya Allah. Bagus sekali Masjid ini. Meski berada di gang kecil, namun halamannya cukup luas. Bangunannya bertingkat dua. Ornamen-ornamen yang menghiasinya terlihat artistik. Ternyata di tengah hiruk pikuk kawasan turis ini ada sebuah Masjid cantik nan menentrakan. Damai rasanya.

Seorang pria beperawakan besar berparas India tampak sedang menyemprot tanaman di area Masjid. Pria tersebut merupakan Marbot Masjid (penjaga Masjid). Ternyata ia warga negara Pakistan. Namun, sudah cukup mahir berkomunikasi dengan bahasa Thai.

Bagian dalam Masjid tidak terlalu luas, namun sangat nyaman. Merasakan tenang berada di dalamnya. Angin bertiup sepoi. Terdapat sebuah bangku kayu sepanjang 1,5 meter di dalam Masjid. Konsep tempat berwudhu dirancang menarik. Tempat duduk di depan keran terbuat dari batu alam berbentuk seperti paku payung.

Setelah dari Masjid, aku keluar melewati gang tadi. Jarum jam bertengger di angka 9 pagi. Aku melanjutkan perjalanan menuju Grand Palace, sebuah kuil terbesar di Thailand. Letaknya tidak jauh dari Khaosan.

Aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Sembari melihat-lihat wajah Kota Bangkok dari dekat. Sambil bertanya-tanya, memanfaatkan informan dari warga setempat. Kalau di Jakarta, kawasan ini seperti sekitaran Monas.

Semakin mendekati Grand Palace penampakan kota terlihat semakin megah. Jalanan yang sangat lebar. Trotoar yang luas. Sungguh nyaman berjalan melintasinya. Tampak beberapa pedagang dadakan yang membentangkan dagangannya secara lesehan di trotoar ini. Sepertinya mereka menjual barang-barang seken. Para supir taksi dan jasa tukang ojek tampak berkumpul di sebuah halte. Ada yang menghabiskan waktu dengan bermain catur tradisional khas Thailand. Wadahnya sekilas mirip papan catur, namun bidaknya menggunakan tutup botol kaca kemasan.

Di samping trotoar ini terdapat taman yang sangat luas, Sanam Luang. Persis di seberang jalan. Berbentuk oval seperti lapangan sepakbola. Di tengah-tengahnya terdapat hamparan rumput hijau nan luas. Bagian bahu yang mengelilingi taman berupa lajur bagi pejalan kaki atau pesepeda yang lebar sekali. Di sekitarnya disediakan bangku-bangku taman untuk bersantai

Taman ini ramai dikunjungi warga pada sore hari. Ragam aktifitas dilakukan di sini. Mulai dari berolahraga atau sekadar bersantai bersama keluarga atau sahabat. Sebagian orang terlihat bersantai di atas padang rumput. Ada juga yang terlihat sedang tiduran santai.Sanam Luang dapat terlihat jelas dari aplikasi google map.

Grand Palace terletak persis di seberang Sanam Luang. Meski hanya dipisahkan oleh jalan raya, namun menuju ke sana jaraknya cukup menguras energi jika menempuhnya dari ujung taman ini.

Setelah dari Grand Palace aku mengitari beberapa objek wisata lainnya yang terletak tidak berjauhan. Lalu lalang kendaraan tampak riuh di jalan raya. Matahari semakin terik. Aku beristirahat sejenak di sebuah warung sambil menyeruput es jeruk. Sesaat mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan. Ah, segarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *