15 Hari Jelajah Asia Tenggara – OpenTrip

Jelajah Asia Tenggara lewat Darat

Asia Tenggara merupakan wilayah geografis yang ditempati oleh Indonesia. Di dalamnya terdapat 11 negara yang juga sering disebut dengan negara-negara Asean. Beberapa negaranya terletak satu daratan yang saling terhubung seperti Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Meski Indonesia berada di pulau terpisah dengan negara-negara tersebut, namun karena kesamaan letak geografis sehingga cukup mudah untuk menjangkaunya. Bahkan, beberapa negaranya yaitu Singapura dan Malaysia bisa ditempuh kurang dari satu jam dari Indonesia, khususnya dari wilayah Provinsi Kepri dengan menggunakan feri cepat.

Penulis sudah melakukan perjalanan menjelajahi negara-negara tersebut sebanyak dua kali. Pertama, melakukannya seorang diri atau solo backpacker. Perjalanan kedua, penulis melakukannya bersama istri setelah menikah. Rute negara yang dilalui pada dua kali pengalaman tersebut adalah sama yaitu Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Hanya saja, lintasan jalur yang dilewati berbeda. Saat pertama, penulis melintasi jalur tengah dengan melewati Vientiane, ibu kota negara Laos. Sedangkan perjalanan kedua, penulis memilih jalur utara dengan melintasi Chiang Mai, Chiang Rai, dan Luang Prabang.

Bagi Anda yang juga ingin merasakan sensasi perjalanan melintasi empat negara berbeda dengan melalui jalur darat atau menggunakan bus, penulis memberikan kesempatan dengan mengadakan Open Trip. Nantinya penulis akan memandu perjalanan sebagaimana yang pernah penulis lakukan sebelumnya. Silakan hubungi 085292311441 (lihat poster).

5 Jam di Laos

Sholat Jumat di Vientiane, Laos

Vientiane tidak semegah Bangkok. Mungkin setara dengan Kota Malang atau Palembang. Namun, beberapa gedung tinggi tetap tak luput dari wajah sebuah ibukota negara. Hanya saja, tidak semenjulang sebagaimana gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

Aku meninggalkan kawasan Morning Market. Tampak di seberang jalan sebuah ruko kecil di depan sebuah rumah. Ruko tersebut merupakan tempat penukaran uang. Ruko ini tidak berjejer menempel sebagaimana umumnya.

Aku ingin menukar persediaan rupiah ke mata uang setempat. Kusodorkan beberapa lembar rupiah kepadanya. Ia meninggalkan loket sejenak, menuju ke belakang. Beberapa saat aku menanti. Sepertinya ia jarang melihat uang dari negeriku ini.

Tak lama kemudian petugas money changer itu kembali. Ia mengatakan bahwa tidak bisa ditukar di sini. Baiklah. Mungkin ia sedang tidak memiliki stok rupiah. Aku kembali berjalan, mencari tempat penukaran uang lainnya. Ternyata beberapa money changer pun merespon sama. Rupiahku belum berubah juga.

Aku mulai khawatir. Bagaimana seandainya rupiah ini benar-benar tidak bisa ditukar. Sementara aku sudah berada di pertengahan jalan. Bahkan lebih dekat ke Vietnam, negara paling utara. Jauh dari negaraku. Bagaimana nasibku selanjutnya.

Aku mulai memutar otak, mencari solusi. Aku kembali ke toko orang Pakistan tadi. Mencari tahu tentang rupiah yang tidak bisa ditukar. Barangkali ia tahu tempat penukaran uang yang bisa menerima rupiah. Wanita itu menyarankanku untuk menuju sebuah bank milik negara Malaysia. Setelah Ia menyebutkan nama bank yang harus aku datangi, aku pun bergegas pergi.

Tidak jauh dari Morning Market. Kawasan ini sepertinya memang khusus ditempati oleh bank-bank bergedung besar. Aku mencoba menukarnya di semua bank yang dilewati yang ada pelayana penukaran uang, sebelum menemukan bank Malaysia. Siapa tahu ada yang bisa. Namun tetap nihil. Bank-bank itu tidak menerima rupiah.

Akhirnya aku tiba di bank milik negara tetanggaku, Malaysia. Aku merasa optimis karena letaknya yang berjiran dekat dengan negaraku, seharusnya familiar dengan rupiah. Aku memasuki tangga luar yang langsung menuju lantai dua bank tersebut.

Aku serahkan rupiah kepada karyawan bank. Setelah diterimanya, ia bergegas ke belakang sesaat. Aku berharap cemas. Tak lama kemudian karyawan bank itu datang kembali. Ia menyodorkan lembaran uang yang sama. Rupiah itu kembali lagi ke tanganku. Masih tidak bisa ditukar.

Sejenak aku melupakan permasalahan ini. Dengan tetap meyakinkan diri bahwa akan ada jalan keluar. Tiba-tiba ingatakanku tertuju pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Hm. Ada secercah harapan.

Secara tiba-tiba lagi, terpikirkan olehku tentang dolar yang sempat aku tukar saat di Batam. Dolar US senilai tiga digit. Ya, ada seratus dolar amerika di dalam ranselku. Jujur saja, aku tidak ingat tentang dolar penyelamat ini. Aku buka salah satu kantong ransel yang berukuran kecil. Alhamdulillah.

Aku tukarkan dolar ini dengan mata uang Laos, sebagian saja. Sebagian lagi tetap dalam bentuk dolar, untuk berjaga-jaga saat memasuki Vietnam nanti.

Aku kembali ke toko kain Pakistan tadi untuk bersiap-siap menunaikan sholat Jumat bersama. Matahari bersinar terik. Lalu lalang kendaraan terlihat ramai. Tak lama berselang, mobil mewah sejenis Pajero berhenti di hadapanku. Sesosok wajah keluar dari jendela mobil tersebut. Orang Pakistan itu datang menjemputku.

Orang Pakistan itu memberikan aba-aba kepadaku untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia bersama keponakannya. Bukan yang aku jumpai saat di terminal Nongkhai, melainkan abangnya yang bernama Shahab. Shahab pernah mengenyam pendidikan tinggi di Malaysia, sehingga sedikit fasih berbahasa Melayu.

Mencari Masjid di negara minoritas Muslim ini akan sangat lelah jika dengan berjalan kaki, tidak seperti di negara-negara mayoritas Muslim sepeprti Indonesia. Mobil mulai mencari posisi untuk tempat parkir. Namun belum terlihat tanda-tanda Masjid di sini. Ternyata masih masuk ke dalam lagi sejauh 50 meter. Masjid sederhana berlantai dua ini sepertinya sudah cukup tua.

Satu per satu jamaah memasuki Masjid. Tiba-tiba seorang pria paruh baya menyapaku dengan dengan bahasa yang sangat familiar didengar. Entah bagaimana bapak ini bisa menebak darimana aku berasal, kenal saja enggak. Mungkin karena wajahku yang khas Melayu.

Bapak yang menyapaku itu bernama Azhar. IA merupakan pensiunan KBRI di Laos yang sampai sekarang menetap di negara ini. Setelah memperkenalkan diri, Pak Azhar sepertinya sedang mencurahkan apa yang dialaminya. Tentang kondisinya yang masih menetap di Vientiane meski sudah pensiun.

Pak Azhar menikah dengan seorang wanita Laos. Awalnya, kehidupan rumah tangga mereka berjalan mulus hingga memiliki dua orang anak perempuan yang sudah beranjak dewasa. Namun, takdir berkata lain. Istrinya yang sempat menjadi mualaf, kembali ke keyakinan semula. Pak Azhar tetap memilih menetap di Vientiane karena mengingat dua anak gadisnya.

Usai sholat Jumat, aku dan orang Pakistan itu kembali ke mobil. Kami tidak kembali ke Morning Market melainkan akan menuju terminal bis Dongdok. Setelah sebelumnya sempat nyasar di terminal dekat pasar. Kali ini tidak perlu ragu lagi, karena aku diantar langsung oleh warga asli Laos. Ini merupakan terminal internasional yang memiliki keberangaktan menuju Vietnam.

Selalu ada saja hal tak terduga selama perjalanan ini. Hingga diantar menuju terminal bis, yang merupakan tujuan terakhir selama di Laos. Sebelum ke terminal, kami mampir sebentar di kantor KBRI Laos. Masih mencari solusi tentang rupiahku tadi. Barangkali ada jawaban di sini. Ternyata kantor KBRI masih tutup. Sepertinya masih istirahat makan siang. Karena terus dikejar waktu, akhirnya aku batalkan ke KBRI.

Tak lama kemudian kami tiba di terminal bis Vientiane. Suasana terminal masih tampak sepi. Bis-bis berjejer rapi di ujung sana, di halaman luas yang beralas tanah. Orang Pakistan itu menuju salah satu bis untuk membeli tiket, setelah aku menitipkan uangku kepadanya.

Tiket bis Vientiane – Hanoi didapat seharga USD 25. Petugas bis yang merupakan orang Vietnam itu menerima dolar sebagai alat pembayaran. Pasokan kip-ku sudah tidak mencukupi lagi. Uang kembalian pembelian tiket tadi dalam bentuk dong, mata uang Vietnam. Sengaja aku meminta uang Vietnam karena untuk persediaan di Hanoi nanti.

Bis berangkat pukul tujuh malam nanti. Masih tersisa banyak waktu sekitar 5 jam. Sebelum berpamitan dengan orang Pakistan itu, aku menyempatkan untuk foto bersama. Ia memberikan bekal roti baguette kepadaku. Roti jenis ini dijual hampir di tiap sudut kota Vientiane. Bentuknya panjang setara tangan orang dewasa. Agak keras digigit. Katanya lebih nikmat disantap dengan susu.

Sembari menanti keberangkatan bis, aku pututskan untuk jalan-jalan tak jauh dari sini, dengan menggunakan tuktuk. Aku memilih tuktuk secara acak. Tanpa bertanya kemana tujuan tuktuk tersebut.

Aku coba menghafal kemana saja arah tuktuk ini. Aku tidak berani menuju lebih jauh lagi. Bukan karena takut tersesat, tetapi aku tidak mau sampai ketinggalan bis ke Hanoi yang tinggal beberapa jam lagi.

Saat tuktuk yang aku naiki melintasi warnet (warung internet), aku mampir sejenak. Ingin mengabarkan kepada kerabat di tanah air. Lumayan membingungkan menggunakan komputer di Laos ini. Karena aksara di layar komputernya menggunakan huruf laos. Syukurlah aku masih familiar dengan simbol-simbol di komputer sehingga bisa digunakan untuk membaca simbol.

Usai berkirim kabar via internet, aku meminta izin kepada pemilik warnet untuk menunaikan sholat Ashar di ruangan ini. Dengan ramah ia mempersilahkanku. Tidak terlihat ekspresi aneh di wajahnya saat aku meminta izin untuk sholat. Keadaan warnet saat itu kebetulan sedang sepi, sehingga bisa menunaikan sholat dengan tenang.

Jarum jam terus berputar. Aku kembali menanti tuktuk lewat, kembali ke terminal bis tadi. Sambil mengingat-ingat jalur tadi. Mataku senantiasa awas melihat sisi kiri jalan untuk melihat keberadaan terminal. Mengantisipasi agar tidak kelewatan. Aku meminta bantuan kepada penumpang di dalam tuktuk untuk memberitahu saat tiba di terminal bis Dongdok.

Untunglah penampakan terminal mudah ditebak. Aku memberhentikan tuktuk, membayar ongkos tuktuk sebesar lima ribu kip (setara lima ribu rupiah). Mentari beranjak turun. Senja semakin jelas terlihat. Aku duduk menanti di ruang tunggu terminal yang terbuka, tanpa sekat. Hiruk pikuk para calon penumpang mulai riuh. Bule-bule backpacker pun tampak berseliweran.

Aku menuju bis. Melintasi halaman parkir bis yang luas. Para petugas bis tampak berlomba-lomba mendapatkan penumpang. Sedikit memaksa dengan menarik-narik tangan. Tidak semuanya. Namun harus tetap waspada. Aku sempat ditarik-tarik juga, tetapi rileks saja. Abaikan mereka dan terus berjalan hingga memasuki bus.

Bis yang aku naiki merupakan jenis sleeper bus. Bentuknya tidak deretan kursi sebagaimana biasanya. Melainkan seperti tempat tidur, kaki hanya bisa memanjang layaknya orang tidur. Bebas selonjoran. Bagian tempat bersandar didesain miring derajat dilengkapi bantal kecil dan selimut. Nyaman untuk ditempati. Aku menempati posisi persis di samping jendela. Serasa berada di penginapan berjalan saja. Memandangi panorama di luar sana. Menyenangkan sekali.

 

Wajah Kota Vientiane

Pedagang roti baguette di sekitar Morning Market

SaibaideeVientiane! Ibukota Laos ini tampak sederhana. Letaknya persis di perbatasan dengan Thailand. Jika Anda menuju Laos dari Thailand melintasi perbatasan di bagian Selatan, kota pertama yang dijejaki langsung wilayah ibukota negara Laos. Tidak seperti beberapa negara di kawasan Asia Tenggara lainnya yang ibukota negaranya tidak menyentuh perbatasan negara.
Vientiane merupakan bekas jajahan Perancis. Sebagian kebiasaan bangsa Perancis tertinggal di sini. Seperti aturan penggunaan lajur jalan. Jika di Indonesia terbiasa menggunakan sisi kiri. Berbeda dengan Laos yang menggunakan sisi kanan. Cukup membingungkan saat hendak menyeberang jalan.
Dari imigrasi Laos, aku menggunakan tuktuk menuju kota. Tarif per orang sebesar 100 baht. Ya, warga di perbatasan negara Laos masih memperbolehkan bertransaksi dengan mata uang negara tetangganya, Thailand. Mata uang laos menggunakan kip, setara dengan nilai mata uang Indonesia, hanya berbeda angka di belakang koma.
Jalanan di Vientiane penuh dengan debu. Pasir banyak ditemukan di bahu jalan sehingga menyebabkan polusi debu. Laos berbeda sekali dengan Thailand yang sedang giat-giatnya memoles diri menjadi negara maju. Bahkan, ada beberapa jalan yang belum tersentuh aspal.
Tuk-tuk berhenti di sisi jalan, suasana ramai. Entah dimana, aku masih meraba-raba. Ternyata tak jauh dari terminal. Aku menuju terminal tersebut yang berjarak 50 meter. Aku memang hendak menuju terminal. Tetapi tampak tidak meyakinkan, terminalnya kecil sekali. Berkonsep terbuka tanpa sekat. Seluas lapangan tenis.
Apalagi jika hendak menuju negara seberang, tidak mungkin terminal internasional seperti ini. Ternyata rasa curigaku terbukti. Terminal ini hanya melayani rute antar kota. Ya, aku ingin mencari informasi tentang tujuan ke negara seberang, Vietnam.
Huft. Aku lupakan sejenak cerita nyasar hari ini. Aku mulai mencari tahu tentang keberadaan Morning Market, pusat perbelanjaan yang di dalamnya terdapat toko kain milik orang Pakistan yang aku jumpai saat di Nongkhai. Toko kainnya bernama Laila. Diluar dugaan, Morning Market yang aku cari ada di seberang terminal ini. Alhamdulillah.
Aku mulai berjalan menelusuri deretan depan ruko-ruko kecil. Komplek ruko ini menyatu dengan sebuah mal sederhana, terletak di lantai dasar. Beberapa pedagang di sini menjadi sumber informasiku. Kendala bahasa membuat aku harus kreatif dalam berkomunikasi.

Wajah orang Pakistan yang khas Arab itu memudahkan aku untuk memberitahu ciri-cirinya. Aku mengisyaratkan tangan ke wajahku dengan mengucapkan kata ‘Arab’. Mataku senantiasa awas, memandang spanduk-spanduk toko yang terpajang di depan setiap toko. Dari jauh aku melihat tulisan ‘Laila’. Yaiy! Aku menemukannya.

Aku melihat seorang wanita paruh baya berwajah Pakistan. Ia sedang duduk menanti pembeli di dalam toko tersebut. Aku ingin memastikan kepadanya apakah benar ini toko yang aku cari. Ternyata benar. Wanita itu adalah istrinya.
Wanita itu mengatakan suaminya masih dalam perjalanan. Sembari menanti kedatangan orang Pakistan itu aku mencari sarapan terlebih dahulu. Istri orang Pakistan itu merekomendasikan tempat makan halal di lantai atas mal ini.
Aku menuju lantai tiga. Tampak label halal pada sebuah warung makan, mirip stan pameran. Pekerjanya berparas India. Menu-menu khas India tertera di daftar menu. Aku memesan nasi biryani dan masala tea. Tentu saja bukan teh bermasalah. Ini adalah sebutan lain dari teh tarik. Porsi nasi biryani banyak sekali, mengenyangkan. Lauknya berupa paha ayam yang dilumuri kuah kari.
Perut kenyang. Energi terisi kembali. Aku kembali ke toko Pakistan tadi. Istrinya menyuruhku untuk berada di sini pada pukul duabelas siang nanti. Orang Pakistan itu ingin mengajak aku menunaikan sholat Jumat bersama. Aku lirik jam di layar telepon genggam. Masih tersisa dua jam. Tentu akan terasa bosan juga jika harus duduk menanti di toko ini.

Waktu yang tersisa aku manfaatkan untuk jalan-jalan sejenak, tak jauh dari sini. Melihat sepotong wajah kota Vientiane.

Menembus Laos

Bersama warga Laos berdarah Pakistan

Aku bersiap meninggalkan Bangkok. Sambil menggendong ransel aku bergegas memasuki bis. Seorang pramugari bis berseragam rapi bak pramugari pesawat menyambut satu per satu penumpang yang menaiki bis. Setiap penumpang yang masuk akan ditanya kemana kota tujuan. Tiba giliranku, sang pramugari tersebut bertanya dengan bahasa Thai. Aku diam tak mengerti. Ia lalu menggantinya dengan Bahasa Inggris. “Where do you go?” tanyanya dengan aksen cadel khas Thailand. “Nongkhai,” jawabku.

Ya, aku akan menuju Nongkhai, salah satu provinsi di Thailand yang terletak di perbatasan dengan negara Laos. Jarak Bangkok – Nongkhai memakan waktu selama 8 jam perjalanan. Seperti biasa, sengaja aku memilih keberangkatan malam agar saat tiba di tujuan sudah mendekati pagi.

Pramugari tadi membagi-bagikan makanan dan snack kepada setiap penumpang. Ternyata pramugari tersebut merupakan seorang lady boy, pria berwujud wanita. Oh my God. Awalnya, aku sedikit khawatir. Namun ternyata ia sangat ramah. Nasi bungkus, snack, dan air mineral yan diberikan pramugari itu menjadi santapanku malam ini. Kecuali nasi, karena khawatir dengan kehalalannya.

Pukul delapan malam, bis mulai meninggalkan Bangkok. Supir bis mengendarai dengan kecepatan tinggi. Bak pebalap profesional. Sport jantung dibuatnya. Namun, tak berapa lama mataku terpejam. Terlelap dalam tidur. Mungkin karena rasa lelah selama seharian yang membuatku tidak sulit untuk tidur. Padahal bis dibawa ugal-ugalan. Semoga baik-baik saja. Aku berharap dalam hati.

Spontan aku terbangun. Ternyata bis telah tiba di Nongkhai. Semua penumpang turun. Suasana terminal di sini sedikit mirip dengan terminal bis di Phuket. Terbuka tanpa sekat. Cukup ramai orang di dalamnya. Sepertinya mereka sedang menanti pagi, melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya, lebih tepatnya negara seberang, Laos, yang hanya berjarak 15 menit dari sini.

Hening. Udara subuh memberikan energi baru. Sebagian orang ada yang melanjutkan tidur di ruang tunggu terminal. Aku meraba-raba waktu sholat Subuh. Sepertinya aku tidak akan mendengarkan suara azan di sini. Aku mencoba bertanya dimana keberadaan Masjid terdekat. Islam memang minoritas di sini. Tidak gampang untuk mencari tempat ibadah seperti Masjid. Tetapi tidak ada salahnya mencoba bertanya.

Aku melihat seseorang berwajah Arab, pria paruh baya duduk tak jauh dari sini. Mungkin ini jawaban dari pencarianku. Aku hampiri orang tersebut. Aku tanyakan kepadanya perihal Masjid. Ia mengatakan bahwa jarak Masjid cukup jauh dari sini. Ia menawarkan untuk menggunakan sajadah miliknya. Ia membantu membentangkan sajadah untuk menunjukkan arah kiblat. Aku melaksanakan sholat Subuh di terminal.

Pria tersebut ternyata warga negara Laos berdarah Pakistan – Laos. Ia baru saja tiba dari Pakistan bersama seorang keponakan laki-lakinya yang berusia sekitar 20 tahun.

Sebagaimana orang berdarah Arab, ia membuka usaha toko kain di Morning Market, pasar terkenal di Vientiane. Ia menawarkan kepadaku untuk mampir ke tokonya setibanya di Laos nanti. Kami berpisah menuju Laos, karena aku masih harus berurusan dengan pembuatan visa.

Keponakannya tiba-tiba datang membawa teh hangat yang dibelinya di warung terminal, tiga gelas. Kegelapan memudar. Pagi mulai terang. Loket tiket mulai menampakkan aktifitasnya. Orang-orang berbaris antri di depan loket tersebut, hendak menuju Laos.

Pria Pakistan itu membantuku mencari informasi kepada petugas loket. Kemampuannya dalam berbahasa setempat cukup memudahkanku. Aku disarankan langsung menuju kantor imigrasi di perbatasan Thailand – Laos. Ia mencarikan tuktuk untukku dan melakukan negosiasi harga. Tuktuk membawaku menuju perbatasan.

Mentari belum terlihat. Remang-remang cahaya pagi. Menembus dinginnya pagi di Kota Nongkhai. Belum tampak akitiftas warga. Jalanan terlihat sepi. Tak lama, tuktuk tiba di imigrasi perbatasan.

Pagi semakin terang. Tampak beberapa orang yang juga akan menyeberang ke Laos. Bis perbatasan terlihat mondar-mandir. Bis ini hanya mengantarkan penumpang dari imigrasi Thailand menuju imigrasi Laos. Aku mengabadikan suasana di perbatasan yang tampak bersih ini dengan kamera. Setelah melakukan pengecopan paspor, aku beranjak beberapa langkah untuk menanti bis perbatasan. Tarifnya 20 baht per orang.

Bis datang menjemput. Hanya beberapa penumpang. Didominasi oleh orang bule, yang juga pelancong sepertiku. Bis melintasi jembatan yang membelah Sungai Mekong. Sungai ini merupakan batas negara. Nama sungai ini tidak asing di telingaku. Aku mengenalnya pada pelajaran geografi semasa duduk di bangku Sekolah Dasar. Dulu hanya ada di dalam kepala. Kini nyata terlihat di depan mataku. Dream come true.

Hanya berjarak semenit melintas perbatasan dua negara ini. Semua penumpang turun dari bis. Imigrasi Laos terlihat lebih sederhana. Namun tetap bersih, sepertinya baru disapu oleh petugas kebersihan.

Aku turut berbaris antri dengan para backpacker bule di depan loket yang masih tutup. Tiba-tiba seseorang menghampiriku. Warga Laos yang berparas Melayu. Ia menanyakan asal negaraku. Mungkin karena wajahku yang khas Asia sehingga membuatnya yakin bahwa aku berasal dari negara yang serumpun dengannya.

Aku diarahkan olehnya menuju pos imigrasi. Namun aku masih ragu karena belum mengurus visa. Kuserahkan paspor kepada petugas imigrasi sebagaimana sarannya. Ia mengamati pasporku dengan seksama. Aku berharap cemas menanti. Cop! Petugas imigrasi melayangkan stempel ke pasporku. Ternyata sudah bebas visa. Alhamdulillah.

Aku baru tahu tentang kabar ini, warga Indonesia telah bebeas visa memasuki Laos. Biaya pembuatan visa sebesar USD 25 aku kantongi kembali. Lumayan buat bekal perjalanan selanjutnya.

Asiknya Jalur Kanal di Bangkok

Jalur kanal di pusat kota Bangkok

Berjalan kaki di jantung kota Bangkok, menyusuri trotoar. Melewati komplek kepresidenan. Tang-tank milik tentara Thailand terparkir di beberapa sudut jalan tersebut. Ada tentara yang berjaga di pos-pos tertentu. Kawasan sedang dalam pengawasan karena ada aksi demo sekelompok warga Thailand.

Spanduk-spanduk demo bertuliskan aksara Thailand berjejer memenuhi salah satu sudut jalan, di bagian ujung. Sepertinya kalimat-kalimat tersebut bermakna protes terhadap pemerintahan setempat. Namun, saat itu tidak terlihat satu pun pendemo di kawasan tersebut. Sengaja ditinggalkan sementara. Meski begitu, kondisi tetap kondusif. Beberapa turis pun tampak berlalu lalang melintasi kawasan tersebut. Kawasan ini bisa dipintasi, tembus ke jalan lainnya.

Para tentara Thailand ternyata sangat ramah, meski menyimpan mimik yang serius. Bahkan tak menolak saat ada turis yang ingin mengajak foto bersama. Seketika senyum mereka pun tersungging saat di depan kamera.

Thailand memang ramah bagi turis yang bertandang ke negerinya. Pantas saja setiap hari ramai ditemui turis dari berbagai negara di sini. Warga Thailand sudah sangat mengerti dengan keberadaan turis.

Dari komplek kepresidenan, aku terus berjalan menuju tujuan selanjutnya, masih berbau kuil. Sebagaimana kota-kota metropolis lainnya, tempat wisata di Bangkok didominasi wisata ibadah, museum, dan bangunan-bangunan unik yang berdiri di pusat kota.

Aku bertanya kepada warga setempat tentang lokasi keberadaannya. Kebetulan seorang tentara Thailand berjalan menuju arah yang sama. Ia menjawab dengan ramah. Karena searah, ia menyuruhku mengikuti langkahnya.

Sampai juga tempat yang dituju. Di kawasan ini sedang berlangsung sebuah acara di ballroom, sepertinya sangat resmi. Meski begitu, tidak tertutup bagi wisatawan yang hendak memasukinya. Banyak pepohonan hijau menghiasi area ini. Sebuah pos penjaga terbuka seluas 3×3 meter, di tempat ini melayani pembelian tiket menuju puncak kuil yang cukup tinggi.

Harga tiket masuk 20 baht. Tangga naiknya persis samping pos tesebut. Sisi kiri-kanan tangga selebar satu meter ini terhampar pepohonan, semi hutan. Terlihat apik. Naik ke atasnya sedikit meliuk.

Hampir sampai ke puncak. Tiba di area yang cukup luas, di tengahnya ada bangunan kuil. Bagian sisi kuil tersebut terdapat deretan gong yang bisa dipukul setiap gongnya. Katanya memiliki makna jika memukul gong tersebut. Masih ada puncak tertinggi. Aku menaiki tangga lagi. Dari sini bisa terlihat panorama kota Bangkok yang membentang.

Banyak pemeluk Buddha yang melakukan ritual ibadah di sini. Tempat ini berhadapan langsung dengan langit, terbuka. Di tengahnya, terdapat benda berbentuk kerucut, mirip piramida raksasa, setinggi sekitar 10 meter. Wisatawan diperbolehkan masuk ke dalamnya.

Tak perlu berlama-lama di tempat ini. Sekadar melihat-lihat saja, sudah cukup puas. Aku kembali turun. Tangga naik dan turun terletak terpisah.

Aku melanjutkan perjalanan. Menyusuri koridor depan deretan ruko. Menuju tempat pemberhentian kapal, disebut juga dengan stasiun kapal. Kapal dalam kota. Ya, di Kota Bangkok, sebagaimana di beberapa kota di Eropa, terdapat kanal-kanal atau anak sungai yang bisa dilewati kapal-kapal kecil. Kanal ini dijadikan jalur transportasi air resmi. Bisa jadi alternatif saat terjadi kemacetan di jalan raya. Efisien sekali.

Stasiun yang aku datangi ini terdapat persis di samping minimarket Seven Eleven. Para calon penumpang tampak duduk menanti kedatangan kapal. Tidak terlalu lama menunggu. Kemudian kapal berangkat menuju stasiun-stasiun pemberhentian selanjutnya. Petugas menarik tiket saat di dalam kapal. Aku membayar 10 baht. Tiketnya berupa secarik kertas kecil selebar jempol.

Aku hendak menuju kawasan pusat perbelanjaan ternama di Bangkok. Pratunam, Mal MBK (Moh Boon Krong), Paragon, Madame Tussaud, semuanya terpusat di sini. Kapal tiba di stasiun tak jauh dari tempat yang akan aku tuju. Setelah turun dari kapal, berjalan menuju sisi jalan raya, seketika pemandangan berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit, salah satunya mal MBK yang tampak dari kejauhan.

Dari stasiun kapal ini menuju mal MBK berjarak sekitar 500 meter. Aku berjalan menyusuri trotoar di sisi jalan raya. Tiba di persimpangan aku tidak langsung menyeberang, tetapi memanfaatkan tangga penyeberangan yang menghubungkan beberapa bangunan tinggi di sekitarnya. Tangga penyeberangan ini sangat lebar, selebar jalan raya di bawahnya. Terhubung dengan mal MBK, stasiun monorel, serta beberapa gedung-gedung lainnya.

Mal MBK merupakan mal terbesar di Thailand. Pusat perbelanjaan bagi kelas menengah ke atas ini menyuguhkan kesan elegan saat memasukinya. Selain toko-toko yang memanjakan bagi penggila shopping, ada juga foodcourt yang terpusat di lantai paling atas. Terdapat juga restoran halal, salah satunya ala arab.

Jika hendak ke Madame Tussaud, cukup menyeberang ke gedung Paragon yang berad di salah satu sudut persimpangan. Ya, di Negeri Gajah putih ini juga ada patung-patung lilin menyerupai tokoh dan selebriti ternama dunia. Tiket masuknya sebesar 800 baht. Namun, bisa lebih murah, sekita 50 persen, jika memesannya secara online.

Kota Bangkok memang menghadirkan kesan tersendiri bagi siapa saja yang mendatanginya. Khususnya bagi pelancong asal negara-negara yang serumpun dengannya. Melihat wajah-wajah serupa, dan seketika surprise ternyata mereka berbicara dengan bahasa berbeda, beraksen suara hidung sengau. Mengetahui hal-hal semacam itu akan menambah momen indah dalam perjalanan mengunjungi negeri yang sejarahnya tidak pernah dijajah bangsa lain ini Selain melihat panorama kotanya yang tak jauh berbeda dengan Jakarta, tentu saja.

Telusur Jantung Ibukota Thailand

Penampakan Grand Palace dari seberang jalan

Pagi menjelang. Riuh terdengar samar suara warga setempat dari balik ruko-ruko dari lantai tiga tempat aku menginap. Aksen orang Thailand yang sedikit mirip dengan Tiongkok membawa aku seperti berada di daerah pecinan.

Aku keluar dari kamar, berdiri di samping pagar setinggi pinggang. Memandangi panorama Kota Bangkok, meski yang terlihat hanya puncak-puncak gedung pencakar langit karena tertutupi bangunan-bangunan tinggi di dekatnya. Lagi-lagi, mirip dengan Kota Jakarta. Namun, bangunan beratap meruncing berwarna emas yang merupakan khas Thailand seolah menyadarkanku bahwa aku sedang berada di negera orang.

Aku beranjak mandi. Bersiap untuk memulai petualangan hari ini. Menjelajah Bangkok. Aku keluar dari hostel. Menyusuri sepanjang koridor di depan ruko-ruko. Para pekerja tampak bersiap memulai aktifitas mereka. Penjaja pakaian kaki lima menata barang dagangannya. Khaosan di pagi hari suasananya berbeda dengan malam. Terlihat lebih sepi. Jalanan pun lengang. Para wisatawan masih terlelap dalam tidur, setelah menikmati kehidupan (tengah) malam.

Mataku tertuju pada gerobak yang menjual aneka gorengan. Pedagangnya merupakan pasutri yang mengenakan hijab dan peci. Kesempatanku untuk mencicipi jajanan pinggir jalan di Thailand. Mumpung halal. Tidak mudah memang menemukan penjual gorengan ‘berlabel’ halal di Bangkok. Aku mencicip gorengan yang ditusuk ala sate, berupa irisan daging ayam. Dibumbui kecap, rasanya sedikit mirip ayam bakar. Harganya 5 baht per tusuk. Sedap.

Penjual gorengan ini letaknya masih satu jalur dengan tempat aku menginap. Dari hostel, berbelok ke kiri dan berjalan lurus sejauh 500 meter. Persis berada di seberang swalayan. Di sekitar sini terdapat beberapa pedagang makanan halal.

Menurut pengakuan penjual gorengan tersebut, dulunya kawasan Khaosan ini adalah sebuah perkampungan Muslim. Tak heran jika bisa dengan mudah menemukan agen travel milik Muslim atau para pedagang yang beragama Islam di sini. Hanya saja, sekarang jumlahnya sudah menjadi minoritas.

Di Khaosan juga terdapat Masjid yang lumayan besar. Letaknya sangat dekat dari tempat penjaja gorengan tadi. Menuju ke Masjid harus melewati sebuah gang kecil selebar dua meter yang berada di celah ruko. Sebuah plang penunjuk Masjid terletak di depan gang bertuliskan Masjid Chakkabrongse.

Kalau sudah ketemu Masjid di negara orang, rasanya rugi jika tidak mengunjunginya. Apalagi merupakan tempat ibadah yang memang sudah semestinya aku hampiri. Aku berjalan menyusuri gang sejauh 50 meter saja untuk mencapai Masjid tersebut. Masya Allah. Bagus sekali Masjid ini. Meski berada di gang kecil, namun halamannya cukup luas. Bangunannya bertingkat dua. Ornamen-ornamen yang menghiasinya terlihat artistik. Ternyata di tengah hiruk pikuk kawasan turis ini ada sebuah Masjid cantik nan menentrakan. Damai rasanya.

Seorang pria beperawakan besar berparas India tampak sedang menyemprot tanaman di area Masjid. Pria tersebut merupakan Marbot Masjid (penjaga Masjid). Ternyata ia warga negara Pakistan. Namun, sudah cukup mahir berkomunikasi dengan bahasa Thai.

Bagian dalam Masjid tidak terlalu luas, namun sangat nyaman. Merasakan tenang berada di dalamnya. Angin bertiup sepoi. Terdapat sebuah bangku kayu sepanjang 1,5 meter di dalam Masjid. Konsep tempat berwudhu dirancang menarik. Tempat duduk di depan keran terbuat dari batu alam berbentuk seperti paku payung.

Setelah dari Masjid, aku keluar melewati gang tadi. Jarum jam bertengger di angka 9 pagi. Aku melanjutkan perjalanan menuju Grand Palace, sebuah kuil terbesar di Thailand. Letaknya tidak jauh dari Khaosan.

Aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Sembari melihat-lihat wajah Kota Bangkok dari dekat. Sambil bertanya-tanya, memanfaatkan informan dari warga setempat. Kalau di Jakarta, kawasan ini seperti sekitaran Monas.

Semakin mendekati Grand Palace penampakan kota terlihat semakin megah. Jalanan yang sangat lebar. Trotoar yang luas. Sungguh nyaman berjalan melintasinya. Tampak beberapa pedagang dadakan yang membentangkan dagangannya secara lesehan di trotoar ini. Sepertinya mereka menjual barang-barang seken. Para supir taksi dan jasa tukang ojek tampak berkumpul di sebuah halte. Ada yang menghabiskan waktu dengan bermain catur tradisional khas Thailand. Wadahnya sekilas mirip papan catur, namun bidaknya menggunakan tutup botol kaca kemasan.

Di samping trotoar ini terdapat taman yang sangat luas, Sanam Luang. Persis di seberang jalan. Berbentuk oval seperti lapangan sepakbola. Di tengah-tengahnya terdapat hamparan rumput hijau nan luas. Bagian bahu yang mengelilingi taman berupa lajur bagi pejalan kaki atau pesepeda yang lebar sekali. Di sekitarnya disediakan bangku-bangku taman untuk bersantai

Taman ini ramai dikunjungi warga pada sore hari. Ragam aktifitas dilakukan di sini. Mulai dari berolahraga atau sekadar bersantai bersama keluarga atau sahabat. Sebagian orang terlihat bersantai di atas padang rumput. Ada juga yang terlihat sedang tiduran santai.Sanam Luang dapat terlihat jelas dari aplikasi google map.

Grand Palace terletak persis di seberang Sanam Luang. Meski hanya dipisahkan oleh jalan raya, namun menuju ke sana jaraknya cukup menguras energi jika menempuhnya dari ujung taman ini.

Setelah dari Grand Palace aku mengitari beberapa objek wisata lainnya yang terletak tidak berjauhan. Lalu lalang kendaraan tampak riuh di jalan raya. Matahari semakin terik. Aku beristirahat sejenak di sebuah warung sambil menyeruput es jeruk. Sesaat mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan. Ah, segarnya.

Hello, Bangkok!

Seketika aku tersadar dari tidur. Nyaman sekali tidur di dalam bis tingkat ini. Pagi masih gelap-gelap remang. Mentari belum menampakkan dirinya. Hamparan sawah di luar sana membuat hati terasa tentram memandangnya. Sesekali tampak pabrik industri yang dipugar tembok tinggi, diapit oleh rumah-rumah penduduk yang terlihat jarang.

Tak ada Bedul di samping kursiku. Kami berpisah di Phuket. Masa cutinya yang akan segera berakhir mengharuskan Bedul untuk kembali ke Indonesia. Aku kembali melanjutkan perjalanan seorang diri.

Aku menunaikan sholat Subuh yang masih tersisa. Bersuci sebelum sholat dengan menempelkan kedua telapak tangan ke bodi samping bis untuk mendapatkan percikan debu sebagai pengganti air. Mengoleskannya pada wajah dan kedua lenganku. Aku sholat sambil tetap duduk di atas kursi, mengikuti kemana bis berjalan. Kalimat syukur dalam bacaan Alfatihah aku lafazkan dengan penuh khusyu. Mensyukuri nikmat perjalanan ini.

Penampakan sawah tak lama kemudian berganti dengan jejeran gedung pencakar langit. Bis berjalan melintasi jalan layang, panorama kota metropolitan terlihat jelas. Macet. Para pekerja mulai berktifitas, berlalu lalang memenuhi. Penuh sesak. Aku tiba di Ibukota Negara Thailand. Sawadeeka Bangkok!

Bis masih berjalan membelah kota metropolitan ini. Jalanan tampak lebar, mulus dan bersih. Gedung-gedung nan menjulang tinggi menjadi pemandangan yang biasa di sini. Sekilas mirip Jakarta. Hanya saja, perbedaannya pada jalur lintasan monorel yang berada di antara dua lajur jalan di ketinggian lima meter.

Bis tiba di pemberhentian terakhir, di sebuah tempat berbentuk lapangan cukup luas yang dialasi paving block, enak dilihat. Para pedagang kaki lima memenuhi di beberapa sudut. Sepintas terlihat seperti terminal bis di Pulogadung, Jakarta. Namun, disini lebih tertata rapi. Jarang ditemui serakan sampah. Sederhana tapi bersih.

Aku masih menerka-nerka tempat apa gerangan ini. Jauh dari kesan terminal bis, terlebih lagi hanya satu bis yang tampak di sini, itu pun bis yang aku naiki tadi. Aku mengikuti arah jalan penumpang bis yang baru turun. Melintasi jalanan kecil serupa gang yang cukup panjang. Para pedagang kaki lima memenuhi kedua sisi jalan. Keluar dari jalan kecil ini, seketika penampakan manusia menjadi lebih ramai. Aku terus mengikuti langkah kaki mereka.

Akhirnya aku mengetahui tujuan orang-orang itu. Mereka hendak menuju terminal bis. Ternyata tempat bis menurunkan aku tadi merupakan terminal lama. Terminal bis baru tampak lebih megah, mirip mal. Bangunannya besar, memiliki empat lantai. Aku memasukinya. Sembari mencari tahu informasi tujuan ke kota selanjutnya yang akan kutuju. Aku menaiki lift untuk menuju lantai teratas. Keluar dari pintu lift, deretan loket penjual tiket berjejer panjang. Di tengahnya deretan kursi berlapis besi disediakan bagi calon penumpang di ruang tunggu.

Aku merasa sedikit shock. Mataku seketika kabur melihat tulisan nama-nama kota tujuan yang terpajang di atas semua loket. Hurufnya keriting semua. Menggunakan aksara Thai. Seperti melihat coretan anak kecil saja.

Saat-saat seperti ini menuntut aku untuk memutar otak mencari solusi. Harus kreatif. Selalu saja ada menemukan ide saat berhadapan dengan kondisi terdesak seperti ini. I’ve got the idea. Kuncinya, harus tahu nama kota yang hendak dituju. Sebutkan nama kota tujuan kepada petugas loket. Soal hitung-hitungan harga bisa diselesaikan dengan kalkulator. Beres.

Aku menemukan pusat informasi turis di bagian tengah agak ke depan. Mereka mahir berbahasa Inggris. Lega rasanya. Berbagai kemudahan aku dapatkan secara perlahan. Selalu saja ada jalan keluar di setiap kenekadanku. Ternyata modal nekad seringkali berujung pada hal-hal manis yang tak terduga.

Aku berada di Bangkok sehari saja. Besoknya, aku akan melanjutkan perjalanan menuju Nongkhai, kota di Thailand yang berbatasan dengan Laos. Aku mencari tahu terlebih dahulu tentang jadwal keberangkatan bis ke kota tujuanku selanjutnya.

Aku keluar dari terminal bis Chatuchak, menelusuri sepanjang sisi jalan raya dengan berjalan kaki. Tanpa perencanaan. Aku ingin menikmati dengan bebas. Wajah Kota Bangkok serupa Jakarta. Menyeberang jalan saja harus menempuh jarak yang cukup dengan melintasi jembatan penyeberangan. Rasa penasaranku dengan tempat-tempat baru membuat aku senantiasa bersemangat.

Baru 300 meter berjalan, sebuah taman cantik di sisi kiri menarik perhatianku. Padang rumput hijau dihiasi aneka tanaman bunga nan cantik seakan menghipnotisku untuk memasukinya. Ditengah taman terdapat danau cantik yang kelilingi oleh perbukitan padang rumput hijau. Tanaman teratai menghiasi danau.

Aku berjalan menyusuri jalan selebar empat meter di dalam taman. Sembari berbincang dengan warga Thailand yang kebetulan berjalan di sampingku. Hingga bertemu dengan salah satu pintu keluar dari taman ini, tembus ke sebuah mal tepat di seberang jalan bernama JJ Mall.

Aku memasuki mal tersebut. Pria berpakaian gamis dan bersorban melintas di depanku. Ini merupakan kesempatan untuk mencari tahu tentang tempat makan halal. Aku hampiri orang tersebut. Ternyata di area foodcourt di lantai atas mal ini terdapat stan pedagang Muslim. Alhamdulillah.

Ternyata di mal ini juga terdapat fasilitas musala. Bersyukur, di negara yang minoritas Muslim ini ternyata tidak sulit untuk mencari fasilitas beribadah. Setelah makan siang, aku bergegas menuju musala. Aku larut dalam sholat. Menunaikan kewajiban yang mampu menciptakan rasa damai. Mensyukuri setiap jejak perjalananku.

Phiphi, Tak Lagi Mimpi

Pulau Phiphi

Kapal mulai meninggalkan pelabuhan Rassada, Phuket. Menuju Pulau Phiphi. Wisatawan berkulit putih memadati kapal ini. Wajah-wajah India, Tiongkok, dan Melayu dapat dihitung dengan jari. Cemilan gratis biskuit sejenis nastar tak luput dari incaran kami. Bisa dicomot sesuka hati. Tentu saja ini merupakan kenikmatan bagi pelancong gembel seperti kami. Kenyangkan perut, Dul!

Aku dan Bedul duduk di kursi paling depan. Persis di sebelah stan sebuah agen perjalanan. Ragam paket tur terpajang di brosur di dekat stan tersebut, letaknya di sudut pojok kapal. Agen wisata ini menyediakan paket wisata ke pulau-pulau di kecil sekitar Phi-phi.

Perjalanan menuju Phi-phi memakan waktu selama satu jam perjalanan. Pada menit-menit awal perjalanan pemandangan di luar kapal terlihat biasa. Berupa hamparan laut lepas Andaman. Namun, saat akan mendekati Pulau Phiphi, penampakan alam membuat kami berdecak kagum. Gugusan batu karst yang besar dan menjulang tinggi setara rumah 4 lantai. Aku dan Bedul bergegas keluar dan naik ke dek atas kapal. Menyaksikan keindahan Phiphi dari dekat.

Air laut terlihat jernih, berwarna biru kehijauan. Membuat hati terasa plong. Semakin mendekat ke bebatuan karst, serasa seperti di kepung monster raksasa. Besar sekali. Melihat puncak batu karst harus dengan mendongakkan kepala.

Bedul tak henti-hentinya mengarahkan kamera ke berbagai arah, mengabadikan pesona Pulau Phiphi. Tentu saja tak ketinggalan ber-selfie ria, biar menjadi bukti di masa mendatang kelak. Ceileh. Sebagian wisatawan lain pun melakukan hal serupa. Seperti tak ingin melewatkan momen yang belum tentu terulang ini.

Kapal-kapal wisata tampak berseliweran. Mulai dari kapal besar hingga speed boat, yang bisa menjangkau hingga ke celah-celah batu karst yang menganga. Di ujung sana, tampak pantai dengan hamparan pasir putih. Rona lautnya terlihat menyegarkan. Tempat tersebut pernah dijadikan lokasi pembuatan film The Beach yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio.

Kapal yang kami naiki seketika berhenti, di tengah laut nan bening. Pulau Phiphi yang dipenuhi bangunan resor dan hotel terlihat tidak jauh. Penumpang kapal dipersilakan melompat dari kapal, menyebur ke laut. Bukan. Ini bukan karena aksi pembajakan kapal. Kami dimanjakan untuk menikmati keindahan bawah laut. Disediakan peralatan snorkling.

Aku dan Bedul tak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Sesaat sebelum nyebur ke laut kami mendengar ucapan yang sangat familiar di telinga. “Aku nggak berani!” teriak suara itu yang terdengar manja kepada temannya. Aku dan Bedul saling tatap. Ternyata ada orang kita di sini, Dul.

Kami mencari asal-usul suara tersebut. Tidak gampang menemukannya karena tidak ada wajah-wajah Melayu selain kami di sini. Ternyata suara itu berasal dari wanita muda berkaos merah. Wajahnya sangat oriental, sehingga tidak mudah menebaknya. Lebih mirip turis dari Tiongkok. Kami pun berkenalan. Wanita yang diketahui bernama Leni yang sedang berlibur bersama teman-temannya itu berasal dari Medan.

Aku dan Bedul melompat ke laut. Byur!. Ah, segarnya. Pemandangan bawah laut berupa aneka ikan berwarna-warni dan ragam terumbu karang mampu melenyapkan rasa lelah selama perjalanan. Indah sekali. Masya Allah.

Bedul berenang semakin menjauh. Aku menyusulnya. Sepertinya ia sangat menikmati aktifitas bawah laut seperti ini. Momen-momen langka selalu menyadarkan kami untuk tergerak mengambil kamera. Seperti sudah terekam di alam bawah sadar. Ya, narsis. Haha. Aku memotret Bedul yang sudah mempersiapkan pose terbaiknya. Beberapa kali. Begitupun sebaliknya saat kamera berpindah ke tangan Bedul.

Petugas kapal mengingatkan agar segera naik ke atas kapal karena kapal akan bersandar ke Pulau Phiphi. Setibanya di pelabuhan, semua penumpang turun dan menikmati makan siang di sebuah hotel berbintang. Memasuki Pulau Phiphi dikenakan tiket sebesar 20 baht, di luar paket tur. Kami berjalan kaki melewati jalan yang tidak terlalu lebar, menuju hotel untuk makan siang saja. Melintasi puluhan pedagang yang berjejer di sisi kanan dan kiri jalan. Aneka souvenir bercirikan Negeri Gajah Putih menggoda untuk dibeli. Mulai dari gantungan kunci, kaos, tas, dll.

Hotel tempat kami makan siang ini terlihat mewah. Aku dan Bedul menempati meja khusus, halal food. Nasi dengan ragam lauk-pauk serta aneka potongan buah-buahan. Bedul terlihat khusyuk melakukan ritual di meja makan ini. Pun aku.

Selesai makan siang, pemandu wisata mengingatkan kepada para peserta tur agar segera menaiki kapal. Sambil berjalan menuju kapal, aku dan Bedul menyempatkan membeli suvenir. Sepanjang jalan yang kami lewati ini dipenuhi oleh para pedangang suvenir. Setibanya di pelabuhan, kami tidak bergegas menaiki kapal. Pemandangan dari pelabuhan ini sungguh menggoda untuk diabadikan. Keluarkan kamera, Dul!

Kami menaiki kapal. Penumpang terlihat lebih sedikit dari saat berangkat tadi. Karena sebagiannya ada yang melanjutkan perjalanan menuju Krabi. Ternyata, mereka memilih paket rute Phuket – Phiphi – Krabi. Posisi Pulau Phiphi berada di tengah antara Phuket dan Krabi. Seandainya aku tahu tentang hal ini, mungkin kami akan merombak itinerari.

Kapal semakin jauh meninggalkan Pulau Phiphi. Pulau Phiphi tampak semakin mengecil dan lenyap. Penampakan di luar kapal kembali monoton. Hari beranjak sore. Senja pun menjelang. Aku dan Bedul terlelap di dalam kapal. Kami akan berpisah.

Keluarga Baru di Phuket

Seketika aku terbangun saat bis memasuki terminal bis Phuket. Aku membangunkan Bedul yang duduk di sampingku. Jarum jam menunjukkan angka 5 pagi. Pagi masih perawan. Sepi. Hanya ada beberapa orang, yang baru saja turun dari bis, menanti jemputan kerabat.

Aku dan Bedul memutuskan untuk rehat sejenak di terminal ini. Memanfaatkan fasilitas toilet untuk membersihkan diri, bergantian dengan Bedul menjaga ransel. Terminal ini berkonsep terbuka, tanpa dinding penutup. Dari sini bisa memandang bebas ke luar, tempat bis melintas keluar-masuk. Tampak para tukang ojek duduk menanti di salah satu sudut terminal, berjarak sekitar 15 meter dari sini. Mereka mengenakan rompi khusus berwarna oren.

Tukang ojek di sini sungguh pengertian. Saat mereka menawarkan jasa ojek kepadaku, hanya dengan sekali penolakan dengan menggunakan isyarat tangan dan gelengan kepala, seketika ia pun langsung menjauh, tanpa memaksa untuk kedua kali. Teman-temannya yang melihat pun turut mengerti. Salut untuk sopan santun pengemudi ojek di sini.

Sholat Subuh hampir tiba. Aku bertanya pada salah seorang tukang ojek tentang keberadaan Masjid. Bahasa memang menjadi kendala. Tetapi setelah dengan bantuan isyarat tubuh akhirnya ia mengerti yang aku maksud. Ia memanggil temannya, sesama tukang ojek yang beragama Islam.

Aku dan Bedul menggunakan jasa dua tukang ojek untuk menuju Masjid. Jalanan lengang. Warga Phuket masih terlelap dalam tidurnya. Hening. Sesaat kemudian kami tiba di Masjid. Hanya lima menit perjalanan. Kami membayar 40 baht per orang untuk ongkos ojek.

Kami diturunkan di Masjid Yameay. Lumayan besar. Bertingkat dua. Tempat sholat berada di lantai dua, bisa dimasuki langsung dari luar melalui anak tangga selebar lima meter. Para jamaah satu per satu tampak keluar dari dalam Masjid. Sholat Subuh usai ditunaikan. Masih dua jamaah tersisa di dalam Masjid, tampak sedang berzikir.

Kami ketinggalan sholat berjamaah bersama mereka. Usai berwudhu, Aku dan Bedul berjamaah untuk sholat Subuh. Setelah sholat, kami bersantai sejenak di luar, di bangku dekat tangga masuk. Perlahan langit mulai cerah. Seorang pria keluar dari Masjid. Saat ia melintas di depan kami, aku mencegatnya untuk bertanya, mencari informasi.

Pria Thailand tersebut bernama Khosim. Ia tak paham bercakap Inggris. Menanyakan tentang keberadaan Pulau Phiphi ternyata sulit sekali diisyaratkan dengan gerakan tubuh. Akhirnya aku mengeluarkan secarik kertas dan pena. Kami berkomunikasi melalui coretan gambar. Namun, tetap saja tidak nyambung. Hmm. Tiba-tiba ia bergegas turun tangga sambil berkata sesuatu. Entah apa yang diucapkannya, kami tak mengerti.

Dari bawah, ia memberikan aba-aba kepada kami untuk ikut bersamanya menaiki sepeda motor yang sedang dikendarainya. Ia memanggil seorang temannya yang tinggal di kawasan Masjid tersebut, mungkin seorang marbot. Aku berboncengan dengan Khosim dan Bedul bersama Abdul, teman Khosim.

Motor Khosim bersanding dengan gerobak yang ditempati beberapa kotak stereofoam. Sedikit mirip becak. Sepertinya kotak-kotak itu berisi ikan segar. Aku tak menaruh rasa curiga sedikitpun terhadapnya. Pertemuan kami di rumah ibadah seketika melenyapkan keraguan yang ada.

Ternyata kami dibawa Khosim ke sebuah rumah. Sederhana sekali rumahnya, berbahan kayu. Berbeda dengan tetangga kanan-kirinya yang sudah bertembok beton. Rumah ini berjejer membentuk seperti ruko pinggir jalan. Jalan beraspal di depannya terlihat mulus, rapi, dan bersih. Padahal bukan jalan utama, melainkan khusus untuk dilintasi warga setempat. Wajar saja, karena selain posisinya yang berada di pusat kota, Phuket adalah kota wisata yang menjadi primadona Thailand.

Ternyata ini adalah rumah Mak Cik-nya Khosim. Mak Cik lumayan mahir berbahasa Melayu. Ia pernah tinggal di Malaysia. Pantas saja Khosim membawa kami ke sini. Mak Cik berjualan nasi minyak (nasi lemak/uduk) di teras rumahnya.

Setiap kali aku dan Bedul berucap sesuatu kepada Mak Cik, Khosim selalu penasaran, meminta Mak Cik untuk mengartikannya ke dalam Bahasa Thai. Begitu juga saat Khosim hendak menyampaikan sesuatu, ia meminta bantuan Mak Cik untuk menyampaikannya kepada kami.

Wajah Bedul tampak memelas, mengelus perutnya yang sedikit berisik, mulai lapar. Tak lama berselang, nasi minyak dan es teh manis mendarat di meja kami. Nasi minyak ini terdapat beberapa irisan daging seukuran stik kentang goreng. Ditemani dengan sup yang diletakkan terpisah pada mangkuk kecil. Nasinya ada rasa-rasa nasi pulut. Sedap.

Setelah sarapan, Khosim langsung menyerahkan 150 baht kepada Mak Cik. Aku mencegahnya, merasa tidak enak. Namun, ia memaksa hingga uang tersebut berpindah ke tangan Mak Cik.

Khosim mengantarkan kami ke pelabuhan khusus untuk menuju Pulau Phiphi. Saat sedang melaju di atas motor, aku merasakan ada yang kurang. Ternyata jaketku tertinggal di rumah Mak Cik. Aku bingung bagaimana menjelaskannya kepada Khosim. Terkendala bahasa. Akhirnya aku menepuk pelan bahu Khosim sambil berucap “Makcik.. Makcik..,” sambil mengisyaratkan tangan ke belakang. Khosim memutar balik motornya. Bedul yang berbonceng di motor belakang turut mengikuti.

Tak lama kemudian kami tiba di pelabuhan. Aku dan Bedul membeli tiket tur ke Pulau Phi-phi. Si penjual tiket memberi harga 1.200 baht. Namun, setelah tawar-menawar akhirnya kami dikasih harga 1.000 baht.

Kapal belum berangkat. Aku dan Bedul menghampiri Khosim yang sedang duduk tak jauh. Bercengkerama semampunya. Lebih banyak diam kayak mengheningkan cipta. Seandainya kami mengerti bahasa Thai, tentu akan lebih banyak cerita yang kami dapat.

Khosim memperlihatkan sebuah foto balita perempuan mengenakan hijab melalui telepon genggamnya, anak semata wayangnya. Hmm. Sepertinya banyak hal yang ingin diungkapkannya. Aku menyodorkan lembaran baht kepada Khosim, karena telah banyak merepotkannya. Ia menolak dan tetap menolak, meski beberapa kali aku sodorkan. Ia mengatakan bahwa yang dilakukannya semata hanya mengharap ridho Allah SWT. “Lillaahita’ala,” katanya. Kami berpelukan sebelum berpisah.

Melanglang ke Aonang

Aku dan Bedul sudah berada di dalam tuktuk yang akan mengantarkan kami ke Aonang. Ongkosnya 50 baht per orang. Memilih angkutan umum di sini cukup dengan melihat warnanya. Tuktuk yang kami naiki ini berwarna putih. Sepanjang perjalanan aku tertidur pulas di dalam tuktuk. Membalas rasa lelah akibat ngegembel tadi malam.

Kami masih di wilayah Provinsi Krabi. Dari Krabi Town ke Aonang memakan waktu 30 menit menggunakan tuktuk. Di tengah perjalanan, pemandangan di dominasi oleh kawasan perkebunan dan hutan. Meski begitu, sepanjang jalannya berlapis aspal nan cantik dan terlihat bersih sehingga sedap dipandang.

Rona kota Aonang mulai terlihat. Masih sekitar 1,5 kilometer lagi untuk tiba di titik wisatanya. Pemandangan pun berganti deretan bangunan hotel, agen perjalanan wisata, restoran, toko souvenir, dan minimarket yang menjamur di sekitar. Tuk-tuk berhenti di halte, tak jauh dari pantai.Tepat di depan tuktuk, bentangan pantai dan laut tampak memesona. Ah, segarnya.

Pasir pantainya berwarna kekuningan berpadu dengan pesona lautnya yang bening. Menyegarkan pikiran saat melihatnya. Gugusan batu karst nan menjulang tinggi, setara rumah 3 lantai, di ujung sana terkesan seperti memagari sisi pantai.

Bedul tampaknya excited sekali untuk menuju batu karst itu. Sambil menenteng ransel, kami berjalan menyusuri pasir pantai yang lembut. Banyak turis bersantai menghangatkan tubuh di berbagai titik di pantai ini. Mengenakan busana minim. Tutup mata, Dul!

Sekilas, bukit karst itu tampak dekat. Tetapi setelah ditelusuri ternyata jauh juga. “Sudahlah, Dul. Sampai di sini saja”, jawabku lelah. Entah kenapa aku selalu kalah jika berjalan dengan Bedul yang bertubuh subur itu. Tampaknya ia seperti tak kenal lelah. Hebat betul Si Bedul temanku itu. Telepon genggam seketika berubah fungsi jadi kamera. Aku arahkan kamera di depan Bedul yang memohon sejak awal untuk berpose dengan batu raksasa itu. Bedul berdiri membelakangi pemandangan batu karst. Jepret!

Semua sudut kawasan wisata Ao Nang kami jelajahi dengan berjalan kaki. Kebetulan tidak terlalu luas. Apalagi Bedul yang sepertinya mempunyai energi serap. Kawasan wisata di Aonang, jika berpatokan pada jalan utamanya, membentuk letter U. Dari halte tempat tuktuk berhenti tadi, berbelok ke kanan sepanjang satu kilometer. Sisi ini merupakan tepian pulau, bersebalahan dengan pantai. Kemudian belok lagi ke kanan untuk menuju jalan pulang.

Di antara bahu jalan dan pantai terdapat trotoar selebar lima meter, ramah bagi pejalan kaki. Sedangkan di sisi jalan sebelahnya terdapat deretan toko-toko penjaja kebutuhan wisata, persis seperti toko-toko souvenir di Bali.

Krabi merupakan kawasan wisata favorit pelancong dari Malaysia. Mungkin hal ini dikarenakan banyak terdapat Muslim di sini, sehingga suasananya sedikit lebih santun dibandingkan Patong di Phuket atau Pattaya. Makanan halal pun mudah didapat. Agen-agen perjalanan sering dijumpai dengan pekerjanya wanita yang berhijab. Pada salah satu sudut, di arah jalan keluar, banyak pedagang jajanan gerobak yang memenuhi trotoar. Hampir semua pedagang di sini beragama Islam. Gerobak dihias menarik, kreatif sekali.

Aku dan Bedul duduk mengemper di rerumputan dekat trotoar, di seberang pusat jajanan gerobak halal. Bukan sekadar beristirahat, tetapi kami hendak memanfaatkan fasilitas wifi gratis milik pemerintah. Aroma internet gratis senantiasa tercium oleh Bedul. Sejenak kami beristirahat sambil meng-update keseruan yang terjadi seharian ini. Bedul memang membawa berkah.

Mengingat banyaknya Muslim di sini, seharusnya keberadaan Masjid pun tidak jauh dari sini. Setelah bertanya, kami di arahkan melewati sebuah jalan pintas. Informasi yang didapat, jarak ke Masjid sekitar satu kilometer. Dengan yakin Aku dan Bedul berjalan menyusuri jalanan yang terkesan sepi, namun tidak sedikit bangunan berdiri di sini termasuk hotel berbintang. Rumah penduduk berjarak jarang. Penampakan pepohonan kelapa sering dijumpai.

Setelah sekian jauh berjalan, tetap belum ditemukan juga Masjid yang dicari. Fiuh! Kami terus berjalan dengan yakin. Jalanan berbukit naik turun. Hendak menumpang Tuk-tuk tidak memungkinkan karena tidak ada yang melintas di sini. Seorang pria berwajah arab bertubuh besar tampak sedang berjalan berlawanan arah di depan kami. Kami bertanya kepadanya. “Where is the Mosque?,” tanyaku kepada pria yang ternyata warg Turki itu. Ia menjawab sambil mengisyaratkan tangannya menunjuk ke arah jalan yang baru saja ia lewati. Ternyata ia juga lepas melakukan sholat di Masjid tersebut.

Setelah sekian jauh berjalan sambil menenteng ransel yang cukup membebani, tampak kubah dari kejauhan. Ah, akhirnya. Meski kaki sudah cukup lelah namun sepertinya Bedul tak pernah menampakkan kepenatannya. Proud of you, Dul!

Masjid ini cukup besar meski tidak terlalu mewah. Memiliki halaman yang luas. Disekitarnya di dominasi penduduk Muslim. Satu per satu jamaah mulai berdatangan untuk menunaikan Sholat Dzuhur. Rata-rata mereka mengenakan gamis. Wajah mereka sangat mirip Indonesia, 100 persen. Seketika aku menjadi de javu. Seperti berada di negeri sendiri saja. Namun, ketika mendengar mereka berbicara baru terasa kalau ini adalah negeri orang.

Kami rehat sejenak di selasar Masjid. Angin bertiup sepoi merasuk pori-pori kulit, terasa dipasok energi baru. Lantai di selasar Masjid ini berlapis marmer, terasa adem, kami semakin pulas.

Energi telah terisi. Bersiap untuk menempuh petualangan selanjutnya. Bedul yang senantiasa membawa botol minuman memanfaatkan fasilitas air minum gratis yang disediakan Masjid ini. Sebelumnya, kami berkeliling sebentar melihat kehidupan penduduk sekitar. Kami membeli panganan khas setempat yang dijual oleh warga di pondok kecil di depan rumahnya. Wajah mereka tak ada bedanya dengan orang di kampungku. Terkadang membuat bingung. Suasana kampungnya juga hampir sama. Namun, lidah seakan tertahan untuk bercakap-cakap dengan penduduk sekitar, terhalang oleh perbedaan bahasa.

Kami kembali ke titik wisata Aonang tadi, melalui jalan yang sama. Menuju halte tempat pemberhentian Tuk-tuk tadi pagi. Senja mulai menjelang. Perlahan berganti dengan gelapnya malam. Kami menanti keberangkatan Tuk-tuk selanjutnya yang masih ngetem di sisi halte. Tak lama kemudian Tuk-tuk membawa kami meninggalkan Aonang, menembus malam dibawah deretan lampu jalan. Menempuh kembali perjalanan 30 menit ke Krabi Town.

Tuk-tuk berhenti di sisi jalan, di pusat kota. Kami menuju ruko tempat agen penjualan tiket bis. Meski sudah tutup, namun tidak sedikit yang berdiri di depan agen tersebut. Mereka sedang menanti bis yang melintas. Biasanya bis berhenti otomatis tanpa perlu dicegat. Waktu telah menunjukkan angka 10 malam. Aku dan Bedul masih saja terdampar di sini. Sementara penumpang lainnya berangsur-angsur lenyap di tempat penantian bis ini. Seperti malam sebelumnya, Aku dan Bedul kembali menggembel.