15 Hari Jelajah Asia Tenggara – OpenTrip

Jelajah Asia Tenggara lewat Darat

Asia Tenggara merupakan wilayah geografis yang ditempati oleh Indonesia. Di dalamnya terdapat 11 negara yang juga sering disebut dengan negara-negara Asean. Beberapa negaranya terletak satu daratan yang saling terhubung seperti Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Meski Indonesia berada di pulau terpisah dengan negara-negara tersebut, namun karena kesamaan letak geografis sehingga cukup mudah untuk menjangkaunya. Bahkan, beberapa negaranya yaitu Singapura dan Malaysia bisa ditempuh kurang dari satu jam dari Indonesia, khususnya dari wilayah Provinsi Kepri dengan menggunakan feri cepat.

Penulis sudah melakukan perjalanan menjelajahi negara-negara tersebut sebanyak dua kali. Pertama, melakukannya seorang diri atau solo backpacker. Perjalanan kedua, penulis melakukannya bersama istri setelah menikah. Rute negara yang dilalui pada dua kali pengalaman tersebut adalah sama yaitu Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Hanya saja, lintasan jalur yang dilewati berbeda. Saat pertama, penulis melintasi jalur tengah dengan melewati Vientiane, ibu kota negara Laos. Sedangkan perjalanan kedua, penulis memilih jalur utara dengan melintasi Chiang Mai, Chiang Rai, dan Luang Prabang.

Bagi Anda yang juga ingin merasakan sensasi perjalanan melintasi empat negara berbeda dengan melalui jalur darat atau menggunakan bus, penulis memberikan kesempatan dengan mengadakan Open Trip. Nantinya penulis akan memandu perjalanan sebagaimana yang pernah penulis lakukan sebelumnya. Silakan hubungi 085292311441 (lihat poster).

Perjalanan Seru Menembus Thailand

Kota Hatyai, Thailand

Van membawaku meninggalkan Penang. Melintasi jembatan kokoh sepanjang 24 km penghubung Penang dengan Semenanjung Malaysia. Menembus batas negara. Menuju negeri Gajah Putih, Thailand. Van berkapasitas 15 orang ini sungguh nyaman sekali. Kursinya empuk mirip sofa. Bersih dan adem.

Semakin jauh dari pusat negara Malaysia, perlahan pemandangan berganti lebih alami. Dipenuhi area perkebunan sawit. Tak jauh berbeda dengan perjalanan Jakarta – Merak di Indonesia. Hanya saja, di sini lebih tertata dan aspalnya lebih bagus.

Memasuki Negeri Kedah, disuguhi suanasan kota modern yang tidak terlalu ramai. Meski tidak seramai Kuala Lumpur atau Penang, tetapi di Kedah ini kotanya terlihat maju sekali, sebagaimana kota-kota lainnya di Malaysia. Lepas dari pusat kota Kedah, penampakan kembali didominasi pepohonan hijau. Sesekali, terlihat bangunan pabrik serta perumahan penduduk.

Menembus batas negara. Melakukan proses masuk di imigrasi Malaysia kemudian berlanjut ke imigrasi Thailand. Jarak kedua imigrasi tersebut tak sampai satu kilometer, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Minivan kembali mengangkutku dan penumpang lainnya, melanjutkan perjalanan ke Hatyai.

Setibanya di Hatyai aku memilih penginapan bernama Chatay Guesthouse. Sebuah hostel sederhana yang merupakan favorit para backpacker. Selain murah, bertarif 200 baht per malam, fasilitas untuk wisatawan tersedia komplit. Seperti paket tur ke berbagai objek wisata, sewa kendaraan, hingga pembelian tiket bis bisa dilakukan di sini.

Hatyai merupakan kota kecil di selatan Thailand. Banyak sekali persimpangan jalan di sini, yang menjadi ciri khas kotanya. Angkutan umum di sini disebut tuktuk, berbentuk imut, ngepas badan. Pintu masuknya dari belakang seperti bemo.

Hostel tempat aku menginap ini lokasinya sangat strategis. Hanya berjarak 200 meter dari stasiun kereta api yang menghubungkan hingga ke Bangkok. Agen bus berjejer di ruko-ruko sekitar. Bisa ditemui dengan mudah. Tempat makan halal tak sulit untuk ditemukan. Kota ini masih berada tak jauh dari Malaysia. Pengaruh Muslim masih terasa cukup kuat di sini. Bahkan, bank besar milik Thailand bernama Islamic Bank berdiri gagah di salah satu sudut kota.

Hostel yang aku tempati berada di lantai tiga. Sementara lantai dasarnya digunakan sebagai tempat agen perjalanan wisata. Kafe mungil nan sederhana tersedia di dekat meja resepsionis. Meski sederhana namun terlihat kreatif.

Di hadapanku, seorang pria bertubuh subur sedang duduk menyeruput teh. Pria yang usianya tak jauh berbeda denganku itu sepertinya orang Malaysia. Ops! Dugaanku salah. Setelah mendengar logat bicaranya ternyata dia anak jakarte abis. Ah, senangnya bertemu saudara sekampung (baca: negara) di negeri orang.

Sama sepertiku, pria yang lebih senang dipanggil dengan Bedul juga baru tiba di Hatyai. Setelah mengobrol, diketahui kami memiliki passion yang sama, bertualang ugal-ugalan alias ngegembel. Haha. Aku mengatakan kepadanya tentang rencanaku untuk mengeksplorasi Kota Hatyai dengan berjalan kaki. Ternyata ia merespon dengan semangat. Aha!

Mengelilingi kota mungil yang penuh persimpangan ini dengan berjalan kaki memang pilihan yang menyenangkan, tentunya juga selain hemat. Si Bedul ternyata sangat handal dalam menemukan akses internet gratis. Di beberapa sudut kota ini, terutama di area fasilitas publik, terdapat layanan internet gratis yang disediakan oleh pemerintah setempat. Termasuk stasiun kereta api. Stasiun yang sungguh dekat ini menjadi incaran kami untuk berselancar di dunia maya, sembari menyempatkan update status terkini.

Menu paling nikmat di Hatyai adalah nasi goreng dan nasi kebuli. Seperti tak pernah menemukan di negeri sendiri saja saking nikmatnya nsai goreng di sini. Tekstur nasi gorengnya sejatinya serupa dengan nasi goreng kampung, tanpa dilumuri kecap. Bercampur sedikit minyak—sepertinya minyak ikan. Takaran garam dan bumbu penyedap dirasa sungguh pas sekali. Sehingga tercecap sangat nikmat di lidah, hingga piring pun licin tak bersisa.

Sementara nasi kebuli, sejatinya juga serupa dengan nasi kuning di Indonesia. Perbedaannya, dilengkapi dengan daging ayam bakar berukuran jumbo. Saking sedapnya sampai tak segan untuk menambah nasi sepiring lagi. Kedua makanan tersebut merupakan menu yang umumnya dijual oleh Muslim Thailand.

Meski bertubuh gempal, namun Bedul ternyata lebih berstamina dibandingkan aku. Saat berjalan kaki aku yang lebih sering meminta untuk beristirahat. Ia tak pernah sekalipun mengutarakan keinginan untuk rehat kepadaku. Tetap dijajal seperti apapun medannya. Ah, gembul temanku hebat sekali.

Siang berganti malam. Cahaya lampu keemasan menerangi kota Hatyai di malam hari. Bukan. Bukan waktunya untuk beristirahat. Tetapi aku dan Bedul akan segera meninggalkan Hatyai. Melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya, Krabi. Kami menuju terminal bis. Suasana terminal dipenuhi penumpang yang hendak berangkat ke berbagai kota di Thailand.

Perlahan bus berjalan meinggalkan Hatyai. Aku dan Bedul menempati salah satu ruas bangku. Wajah penumpang di dalam bis ini sulit dibedakan. Wajah orang Thailand, Malaysia, dan Indonesia identik sekali. Saat petugas bis berjalan hendak memeriksa tiket ia mengajak kami bercakap-cakap dengan bahasa Thai. Sorry, i’m Indonesia! Si Bedul menjelaskan kepada petugas tersebut.

Tepat tengah malam, kami tiba di Krabi salah satu provinsi di Thailand. Penumpang tujuan Krabi diturunkan di sisi jalan. Dekat keramaian kota. Tidak dibawa ke terminal bis mengingat posisinya cukup jauh sehingga lebih efisien diturunkan di pinggir jalan. Hujan turun sangat deras. Disertai sedikit genangan air yang merendam hingga mata kaki, di sekitar lokasi pemberhentian bis menurunkan penumpang. Malam semakin pekat. Padahal ini perjalanan perdana kami ke negara orang. Ditambah dengan bahasa yang tak kami mengerti. Tulisan negara ini yang keriting. Sempurna. Anyway, Ini kesukaan kami. Tantangan baru. The real adventure!

Seharian Keliling Penang

Jembatan Penghubung Semenanjung Malaysia dengan Pulau Pinang (Penang)

Mentari perlahan menampakkan wujudnya. Pagi mulai menerangi Negeri Penang. Sembari menggendong ransel, aku menghampiri salah satu warung makan. Roti canai dan teh tarik menjadi pilihan sarapan di pagi nan cerah ini.

Melalui Facebook, aku mengontak seorang sahabat yang tinggal di Penang, Pak Amin. Ya, aku memanggil dengan tambahan ‘Pak’ di depan namanya karena usia kami terpaut cukup jauh. Beruntung Pak Amin senantiasa memantau akun Facebook miliknya sehingga tidak perlu waktu lama untuk menunggu balasan pesannya.

“Di mana posisi sekarang?”, Pak Amin membalas pesanku. Setelah menjelaskan keberadaanku, Pak Amin menginstruksikan agar aku menanti di Masjid Kapitan Muslim, masjid bersejarah yang juga menjadi salah satu destinasi wisatawan.

Aku melihat sosok wajah yang tak asing di depan sana. Ya, itu Pak Amin. Pertemuan pertama kami setelah sekian lama berkomunikasi melalui dunia maya, berawal dari media Kompasiana.

Pak Amin datang dengan mobil putih mirip Serena. Seragam kerjanya masih menempel di badannya. Mobil mulai melaju, mengiringi perbincangan kami selama di perjalanan. Pak Amin mengatakan bahwa ia sengaja meminta izin dari kantor hanya karena kedatanganku ke Penang. Ah, baik sekali. Aku jadi merasa tidak enak.

Penang terlihat sudah sangat maju. Meski hanya sebuah pulau kecil yang terpisah dari daratan Malaysia. Sekilas tampak seperti Singapura. Jalanannya terlihat mulus dan bersih. Pepohonan pinggir jalan menghadirkan kesejukan. Gedung-gedung pencakar langit menjadi pemandangan yang biasa, berjejer dimana-mana.

Pak Amin merupakan warga Malaysia kelahiran Sabah, salah satu negeri (provinsi) yang terletak di Malaysia bagian timur dekat Kalimantan. Ia memiliki garis keturunan Banyuwangi, Jawa Timur. Mobil yang kami naiki terus melaju membelah jalanan Penang. Pemandangan seketika berganti dengan suasana komplek perumahan yang bersebelahan dengan kawasan hutan. Ternyata di Penang masih banyak kawasan hutan yang belum tersentuh pembangunan.

Rumah Pak Amin terletak paling ujung di komplek perumahan ini. Persis bersebalahan dengan kawasan hutan yang dipisahkan sebuah sungai selebar 50 meter. Meski sudah dibatasi pagar, namun pemandangan hutan rimbun nan segar masih bisa terlihat jelas.

Aku memasuki rumah Pak Amin. Diperkenalkan dengan istri dan seorang anak perempuannya. Keluarga Pak Amin menyambut kedatanganku dengan hangat. Aku dipersilakan menempati kamar di lantai atas untuk melepas lelah.

Siang ini aku akan diajak oleh Pak Amin jalan-jalan keliling Penang, beserta Istri, anak, dan seorang keponakan perempuannya yang baru tiba dari Sabah untuk menghabiskan masa liburannya. Kebetulan sekali, ikut menemani keponakannya berlibur di Penang.

Penang merupakan sebuah pulau kecil. Sebagian tekstur tanahnya berbukit dan dipenuhi pepohonan hutan. Tidak seperti Singapura yang sudah meratakan semua sudut pulau kecilnya itu. Kali ini Pak Amin membawa mobil sedan. Aku duduk di kursi depan, puas memandang panorama Penang.

Mobil melaju mengelilingi pulau kecil ini. Melintasi sisi bagian lain, berlawanan dengan pusat kota Penang. Sisi di sebaliknya ini dinamakan Balik Pulau. Sebagaimana namanya, wilayah ini memang terletak di belakang pulau. Pemandangan didominasi pepohonan hutan dan berbukit.

Jalanan yang kami lintasi persis di bibir pulau, di atas ketinggian bukit. Dari sini, bisa menyaksikan hamparan laut nan luas di sisi kiri. Meski berada jauh dari pusat kota, namun jalanan di sini senantiasa beraspal mulus. Pak Amin mengarahkan kemudi mobil ke kanan, memasuki wilayah perkampungan. Ternyata masih ada daerah sederhana nan alami serupa kampung di kota modern ini. Kami mampir sejenak di rumah kerabat Pak Amin.

Perjalanan diteruskan, mengelilingi penuh pulau mungil ini. Mampir sejenak di kawasan wisata Peringgi. Ya, objek wisata di sini tentu tentu saja tidak jauh-jauh dari laut. Tempat ini benar-benar dikelola dengan baik. Hotel dan resor mewah banyak dibangun di dekatnya.

Kami mampir ke sebuah Masjid yang berada persis di pinggir laut untuk untuk menunaikan Sholat Dzuhur. Masjid ini dikenal dengan Masjid Terapung. Pernah terdampak tsunami pada tahun 2004 silam. Sehingga dilakukan renovasi total dan sekarang tampak lebih elegan. Sejak kejadian itulah, Masjid ini populer disebut dengan Masjid Tsunami.

Dari Peringgi sudah dekat menuju pusat kota, Georgetown. Perjalanan mengelilingi Pulau  Penang ini nan modern bercampur kawasan hutan nan alamai sungguh berkesan. Bersama keluarga Malaysia yang ramah dan penuh kehangatan. Tak terlupakan.

Jumpa Pertama Saudara Beda Negara

Suara telepon genggam berdering. Tanpa nama. Dengan yakin aku angkat panggilan tersebut. “Assalaamu’alaykum, ini Pak Wo Man,” ucap suara di seberang sana. Benar dugaanku, telepon dari sepupu Ayahku. “Nanti Pak Wo jemput di stasiun Melati, ya,” lanjutnya memberikan arahan.

Sebelumnya Ayahku sudah memberi tahu terlebih dahulu kepada Pak Wo Man tentang kedatanganku. Aku memang belum menyimpan nomor beliau. Setelah telepon ditutup, nomor panggilan barusan aku simpan di phonebook.

Aku bergegas menuju stasiun Masjid Jamek. Sesuai dengan namanya, stasiun ini terletak persis di seberang Masjid tempat aku menunaikan sholat Subuh tadi. Sistem transportasi di Negeri Jiran ini jauh lebih baik dibandingkan dengan di negaraku. Aku memasuki stasiun dengan melewati sebuah jalan kecil yang berbelok dan menanjak menuju langsung ke lantai dua. Suasana stasiun terlihat ramai.

Aku membeli tiket single trip, untuk sekali jalan. Untuk mendapatkan tiket tersebut harus berhadapan dengan sebuah mesin tiket otomatis terlebih dahulu. Cukup mengikuti panduan pada layar monitor. Setelah memasukkan sejumlah uang yang diminta, seketika akan keluar sebuah tiket berbentuk koin plastik. Nantinya koin ini dimasukkan pada pintu masuk elektrik.

Aku bergegas menuju kereta. Sulit membedakan orang Malaysia dengan Indonesia. Namun, untuk perempuan berhijab bisa dibedakan dengan melihat model hijabnya.

Kereta tiba di Stasiun Melati. Pak Wo Man telah menanti di stasiun tersebut. Aku memencet tombol handphone mengontak Pak Wo Man. Setelah saling menyebutkan ciri-ciri, kami berjumpa di luar stasiun. Ini adalah kali pertama berjumpa dengan saudara yang terpisah batas negara. Rasanya Excited. Pak Wo Man berprofesi sebagai pengemudi taksi di Kuala Lumpur. Ia menjemputku dengan taksi miliknya yang terparkir tak jauh.

Selama di perjalanan kami berbincang akrab mengulik lebih jauh silsilah keluarga. Pak Wo Man telah merantau ke Malaysia sejak tahun 1978 dibawa merantau oleh kedua orangtuanya yang merupakan adik dari nenekku. Ketika itu, Pak Wo Man dan adik kakaknya masih kecil. Tidak sulit memasuki negara tetangga pada masa itu.

Saat ini, Pak Wo Man dan keluarga besarnya telah berstatus warga negara Malaysia, hingga memiliki enam orang anak. Namun, logat khas Minang masih terdengar fasih dari lidahnya. Wajar saja, karena bahasa tersebut senantiasa dipakai saat berkomunikasi dengan istrinya yang berasal dari suku yang sama. Hanya saja, keenam anak mereka justru sangat fasih berbahasa Melayu. Saat mendengar mereka berbicara maka akan sangat sulit untuk menebak bahwa sesungguhnya mereka adalah anak-anak Minang. Sama halnya seperti aku yang tumbuh besar di salah satu bumi Melayu, Pulau Kundur.

Ternyata banyak sekali saudaraku di negeri seberang ini. Aku diperkenalkan kepada hampir semua kerabat yang bertalian darah. Berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Sambutan mereka sungguh ramah. Aku dibawa berkeliling sambil mencecap kuliner setempat.

Seorang kerabat mengajakku menghabiskan sore hari di sebuah kawasan kuliner dengan menggunakan sepeda motor. Dari sini terlihat jelas ikon Malaysia, Twin Tower. Suguhan kuliner beragam dari masakan Melayu, Thailand, Minang, hingga Aceh. Uniknya, hampir semua pedagang di sini keturunan Indonesia.

Sebelum senja menghilang, aku dibawa menuju Dataran Merdeka. Menyaksikan bangunan-bangunan besar artistik nan cantik. Ragam bentuk bangunan dengan rancangan arsitek yang unik. Kamera ditangan tak lepas mengabadikan bangunan di sepanjang jalan meski dalam keadaan dibonceng di atas sepeda motor.

Masa di Kuala Lumpur hanya aku habiskan selama sehari semalam. Keesokan harinya aku sudah harus melanjutkan rute perjalanan berikutnya. Pengalaman bersua dengan kerabat beda negara memang sangat berkesan. Melihat wajah-wajah setalian darah yang sudah berganti bahasa. Tradisi merantau suku Minang telah membawa suku dari Propinsi Sumatera Barat ini tersebar hingga pelosok negeri, bahkan negara.

Mengejar Twin Tower

Selfie bersama Twin Tower

Aku dan Bang Harahap memiliki tujuan yang sama, ingin melihat gedung pencakar langit. Ndeso memang. Tapi ini bukan gedung pencakar langit biasa, tetapi popularitasnya sudah mendunia, Twin Tower. Menara kembar tertinggi milik perusahaan minyak Malaysia, Petronas.

Lokasinya tak jauh dari terminal bis Puduraya. Puncaknya dapat terlihat dari sekitar sini. Sehingga meyakinkan kami bahwa jaraknya tidaklah jauh. Dengan percaya diri, aku dan Bang Harahap berjalan menuju gedung tersebut, menyusuri trotoar, tanpa bertanya sana-sini. Puncak Twin Tower yang terlihat, menjadi petunjuk jalan kami.

Setelah beberapa menit berjalan, kami meyakinkan diri bahwa Twin Tower sudah semakin dekat. Ketia mendongakkan kepala ke atas, puncaknya sudah tidak terlihat lagi, tertutup gedung bertingkat lainnya. Kami kebingungan. Pasrah. Hah! Ternyata memang butuh panduan, minimal dari orang-orang yang ditemui.

Akhirnya kami memutuskan bertanya kepada setiap orang yang berpapasan. Setelah mendapatkan informasi kami melanjutkan perjalanan. Rasanya seperti sudah semakin dekat saja. Tetapi anehnya tidak kunjung jumpa. Ya Tuhan. Setelah beberapa kali berputar sana-sini, akhirnya tiba juga di Twin Tower.

Demi melihat bangunan yang tak ubahnya gedung lain ini, hanya saja lebih tinggi dan ada dua (kembar), kami rela berpeluh keringat untuk mencapainya. Tak mengapa. Yang penting rasa penasaran akan gedung yang menjadi pembicaraan banyak orang ini bisa terlampiaskan. Sekadar ingin tahu seperti apa wujudnya jika dilihat langsung. Nothing special. Tetapi cukup puas.

Kami memasuki gedung tersebut. Ingin menjajal naik ke puncaknya. Kami diarahkan ke lantai bawah oleh sekuriti. Tampak poster besar bergambar panoama Kuala Lumpur dari ketinggian yang menutupi salah satu tembok. Tak jauh dari poster tersebut tampak beberapa orang sedang mengantri. Ternyata mereka hendak menaiki puncak Twin Tower. Dikenakan tiket sebesar RM 80 per orang. Yasalam. Perjalananku masih panjang. Duit segitu lebih baik sebagai bekal di negara berikutnya.

Sebagai kenangan tentu saja kami tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto narsis dengan gedung kembar ini. Ada beberapa tempat terbaik untuk mengabadikan foto dengan gedung ini, salah satunya di danau buatan. Danau ini letaknya di dalam area gedung, sehingga untuk mendatanginya harus memasuki gedung terlebih dahulu.

Aku bersiap di depan kamera yang dipegang oleh Bang Harahap. Gedung kembar menjadi latar. Jembatan penghubung kedua gedung terlihat jelas di tengahnya sehingga terlihat seperti huruf H. Aku mengambil posisi lebih tinggi dari kamera dengan menjejali anak tangga. Bang Harahap mengarahkan lensa kamera ke arahku dari bawah dengan posisi jongkok, kepalanya hampir menyentuh lantai. Hal ini dilakukan agar puncak gedung terlihat sempurna. Perlu bersusah-susah dahulu jika ingin berpose dengan gedung ini. Begitulah.

Tidak hanya kami, hampir semua wisatawan tampak melakukan serupa. Pemandangan orang-orang berfoto dengan segala macam pose membelakangi Twin Tower akan selalu ditemui di sini.

Di sebelahku, segerombolan anak muda asal Filipina tampak foto bersama. Heboh sekali mereka. Si tukang foto sibuk mengarahkan dengan isyarat tangannya demi mendapatkan hasil foto yang bagus, bergeser ke kiri dan ke kanan. “Kanan.. Kanan..”, ujar si tukang foto itu. Kanan? Lalu, secara tiba-tiba siraman air pancur dari danau tersembur ke arah mereka. Semua berlarian sambil ada yang berucap, “basah.. basah..”. Basah? Setelah mereka berfoto, aku hampiri si tukang foto untuk menanyakan tentang bahasa mereka. Ternyata bahasa Tagalog Filipina memang banyak kemiripan dengan Bahasa Indonesia.

Puas menikmati Twin Tower, aku dan Bang Harahap melanjutkan perjalanan, meninggalkan Twin Tower. Kami berpisah. Bang Harahap masih akan melakukan petualangannya. Sementara aku hendak bersilaturahmi dulu ke rumah saudara yang tak pernah kujumpa. Saudara sepupu Ayahku yang sudah menjadi warga negara Malaysia. Semoga berjumpa kembali di lain waktu, Bang Harahap. Horas!

Subuh di Masjid Jamek Kuala Lumpur

Masjid Jamek Kuala Lumpur

Hening. Jarum jam menunjukkan angka 5 pagi. Hanya sesekali terlihat bis melintas di perempatan jalan raya lebar ini. Ada juga bis yang berhenti di sisi jalan, menurunkan penumpang, sebagaimana yang dilakukan bis yang aku naiki tadi.

Aku masih berdiri terpaku, memandangi keadaan sekitar. Aku tidak sendiri. Penumpang lain pun ada yang menanti di sini.

Tepat di seberang jalan tampak sebuah bangunan besar serupa mal yang ternyata adalah terminal bis Puduraya yang tampak masih sepi. Ditinggal tidur para pekerjanya. Pantas saja semua penumpang diturunkan di sisi jalan tak jauh dari terminal tersebut.

Tempat aku berdiri saat ini di pinggir jalan, tepat di depan sebuah restoran mamak yang buka 24 jam. Bukan, itu bukan restoran ibuku. Sebutan mamak di negeri ini dikhususkan bagi warung makan India yang beragama Islam. Restoran tersebut berada pada ketinggian satu meter, seperti panggung. Cukup menjejali beberapa anak tangga untuk masuk ke dalamnya.

Adzan Subuh akan bergema beberapa menit lagi. Aku mulai sibuk mencari tahu keberadaan Masjid terdekat. Satu per satu orang-orang yang sedang berdiri menanti di tempat yang sama, aku hampiri. Beruntung tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan informasi tersebut karena terjawab oleh orang kedua yang aku tanyai, yang juga akan menuju Masjid.

Kami berjalan membelah keheningan subuh di sepanjang trotoar. Melewati para wanita setengah pria yang berdandan seksi menanti pelanggan. Aku khawatir mendapat gangguan dari para pekerja dinihari tersebut. Tetapi, kekhawatiranku sirna. Mereka tidak mengusik. Sukurlah.

Jarak dari tempat penurunan penumpang bis tadi menuju Masjid sekitar satu kilometer. Terasa menyenangkan meskipun dengan berjalan kaki. Sambil memandangi jalan raya nan sunyi diterangi lampu jalan nan remang, berwarna keemasan. Sesekali terdengar desingan suara kendaraan roda empat yang melintas laju.

Azan subuh berkumandang merdu di Masjid Jamek. Jika dilihat dari luar, Masjid ini terkesan sempit. Namun ketika memasukinya, ternyata jauh dari yang dibayangkan. Selain bangunan yang besar, perkarangan masjid ini juga cukup lega.

Desain Masjid sekilas mirip Masjid Keraton di Jogja. Bagian luarnya lebih luas dari bagian dalam, yang ditopang oleh banyak tiang. Pancaran cahaya keemasan lampu di atas Masjid menambah kesan elegan.

Saat hendak berwudhu, di dekatnya aku melihat sebuah tulisan ‘Tandas’ di atas pintu. Sebuah kata yang masih membuatku bertanya-tanya. Yang sempat mengusik rasa penasaranku saat mendengar teriakan kondektur bis yang aku naiki tadi. Akhirnya terjawab juga. Toilet.

Jamaah sholat Subuh terisi satu setengah saf. Udara subuh terasa segar. Syahdu. Semakin menambah nikmat beribadah. Lantunan Alfatihah Sang Imam mengalun merdu.

Pagi mulai remang. Hari mulai terang. Sejenak aku merehatkan tubuh di selasar Masjid. Menikmati udara pagi nan segar. Di sini, aku bertemu dengan seseorang asal Indonesia, Bang Harahap. Kami berbincang sebentar. Dari namanya tentu mudah untuk ditebak asal daerahnya. Ya, Bang Harahap berasal dari ujung Sumatera Utara, Padangsidempuan. Ia juga sedang melakukan perjalanan, seorang diri. Ia memanfaatkan sisa perjalanan dinasnya di Pulau Batam untuk menjajal Singapura dan Malaysia.

Sejenak di Terminal Bis Larkin

Senja tampak semakin mencolok dengan pesona jingganya. Para pekerja mulai memadati jalanan hendak menuju pulang. Mulai dari riuhnya kendaraan yang memenuhi jalan hingga para pekerja yang berjalan melintasi trotoar berlalu-lalang.

Aku mulai berkemas, memasukkan semua perlengkapan ke dalam ransel. Menyerahkan kunci kamar kepada resepsionis, lalu bergegas menuju halte menanti angkutan umum tujuan terminal bis Larkin.

Sepuluh menit kemudian Aku tiba di terminal bis Larkin. Tampak deretan loket penjualan tiket, aku mendatangi salah satunya untuk membeli tiket tujuan Kuala Lumpur. Aku memutuskan memilih jadwal bis terakhir agar tidak terlalu lama menanti pagi saat tiba di Kuala Lumpur. Harga tiket 31 ringgit.

Adzan Maghrib berkumandang. Terdengar jelas dari terminal, artinya lokasi keberadaan Masjid berada tak jauh dari sini. Setelah bertanya, ternyata suara adzan barusan bergema dari lantai tiga terminal. Aku bergegas menuju atas melalui eskalator. Sebuah Masjid terletak di pojok, bagian sayap kanan. Masjid ini cukup luas. Nyaman berada di dalamnya.

Perutku mulai memberontak. Memaksa untuk mencari warung makan terdekat. Warung makan di terminal menjadi pilihanku. Aku memesan nasi lemak berisi ikan teri dengan sambal terpisah. Kelihatan hambar. Tapi perut harus segera diisi. Segelas teh tarik menjadi teman makan malam ini. Totalnya 4,5 ringgit.

Suasana terminal bis Larkin, secara fisik, sedikit mirip terminal di kota-kota besar di Indonesia. Hanya saja, penataannya lebih teratur. Kebersihan juga senantiasa terjaga. Ruas-ruas berbentuk miring yang memuat untuk dimasuki satu bis berjejer di sepanjang depan loket penjualan tiket. Ruas tersebut digunakan untuk dimasuki bis yang akan segera berangkat.

Salah satu ruasnya, terletak paling ujung, khusus ditempati oleh bis tujuan Johor-Singapura. Bentuk bisnya mirip busway, namun lebih pendek.

Di pojok terminal, tampak keriuhan sekelompok orang sedang menyaksikan layar tv di sebuah kafe. Ternyata mereka sedang menyaksikan siaran langsung pertandingan sepakbola antara Malaysia dan Indonesia. Aku turut di antara kerumunan orang-orang itu. Tidak berdesakan memang. Tapi sorakan suporter di sini terdengar cukup heboh.

Saat bola menembus masuk gawang Indonesia teriakan kegembiraan menggema seketika. Namun, ketika yang terjadi sebaliknya, bola membobol gawang Malaysia, suasana berganti hening. Rasanya aku ingin bersorak. Ah, sebaiknya kalem saja. Waktu dan tempat dirasa kurang tepat.

Aku hanya mampu berteriak girang dalam hati sambil menyunggingkan senyum tipis. Meskipun, hasil akhir pertandingan membuat aku kecewa. Namun, orang-orang di sekitar tidak menampakkan ekspresi berlebihan saat tim kesayangan mereka menang.

Malam semakin pekat. Bis akan segera berangkat. Aku menanti di bangku depan loket, tepat di depan pool bis. Wanita berhijab berbaju kurung khas melayu berparas manis menghampiriku sambil berucap, “Itu bis awak, plat nambe wai kei yu…”. Aku sedikit bingung dengan apa yang dikatakan petugas loket tersebut.

Loading sesaat mencerna maksudnya. Akhirnya aku ketahui bahwa ia sedang mengeja abjad plat mobil dengan aksen Melayu Malaysia yang berrti huruf W, K, dan U. Oalah!

Aku menaiki bis. Sungguh nyaman sekali di dalamnya. Terlihat ekslusif. Kursinya sangat empuk. Seperti sedang duduk di sofa saja. Di samping kursi tempat sandaran tangan terdapat tombol yang jika dipencet akan menggerakkan tempat bersandar kursi. Wah, pijat refleksi gratis! Keren. Seketika Aku membandingkannya dengan bis di negeriku sendiri.

Kondektur bis berteriak mengatakan bahwa bis sebentar lagi akan berangkat. Aku memilih kursi paling depan. Bersama seorang bapak tua yang duduk di sampingku. Aku memanggilnya dengan sebutan Pak Cik. Pria berumur sekitar 60 tahun namun tetap fit itu kerap melontarkan pertanyaan kepadaku, seperti sedang berceramah saja. Bahasanya terdengar formal. Ia merasa heran dengan perjalananku yang dilakukan seorang diri. Selama ini yang ia tahu turis selalu bepergian minimal berdua, sebagaimana orang Eropa.

Pak Cik mulai menghentikan ceramahnya. Sepertinya ia mengerti bahwa aku sudah sangat lelah. Perlahan mataku mulai terpejam. Bis terus melaju membelah kota. Suara mesin bis terdengar halus. Hening. Aku terlelap.

Awal Baru di Johor Bahru

Pelabuhan Stulanglaut tampak masih hidup dipenuhi para pekerja dan pendatang yang memasuki Malaysia. Setelah berjalan sejauh 30 meter dari tempat bersandarnya feri, aku tiba di antrian pemeriksaan paspor. “Nak buat apa kat sini?” tanya petugas imigrasi. “Transit to Thailand,” jawabku singkat. Ia merespon mengangguk pelan. Tanpa berceloteh panjang petugas tersebut langsung menempelkan cop di pasporku.

Banyak sekali konter pemesanan taksi di kawasan pelabuhan ini. Usai sholat Maghrib di musola pelabuhan, aku berjalan santai sambil meraba-raba suasana di negara yang baru pertama aku jejaki ini.

Aku memutuskan untuk memanfaatkan jasa taksi di dalam pelabuhan. Malam hari. Menjejali daerah baru seorang diri. Aku mesti berantisipasi. Taksi melaju membawaku ke kawasan JB City (Johor Bahru City). Ragam penginapan terdapat di sini.

Sebuah hostel bernama Hongkong menjadi pilihan tempat menginap malam ini. Posisinya tidak berada di sisi jalan utama, melainkan pada jalan bagian dalam, dekat persimpangan. Memasuki hostel tersebut harus menaiki anak tangga yang menuju ke lantai dua. Tarif permalam 35 ringgit. Aku rasa ini tarif termurah dari semua penginapan yang ada di sini.

Lelah. Perjalanan lintas negara membelah lautan sepulang dari kantor tanpa istirahat mengharuskanku untuk segera merebahkan tubuh sesaat setelah membersihkan diri dan mengisi perut.

Selamat pagi, Johor! Sebelum mentari menampakkan dirinya, aku bergegas keluar menghirup aroma pagi di kota berjarak sepelemparan batu dari Singapura ini. Langit perlahan mulai remang. Fajar menyingsing. Aku terus berjalan menyusuri tiap sudut kawasan JB City. Tata kota di sini sungguh menarik. Terlihat bersih dengan taman-taman kecil yang menghiasinya. Bak terciprat modernitas Singapura yang dipisahkan oleh Selat Johor di seberangnya.

Aku berjalan menuju bibir pulau, bagian paling selatan dari semenanjung Malaysia. Tampak jelas bangunan pencakar langit negara Singapura di seberang sana. Di bibir pulau terdapat taman cantik, persis di pinggir jalan besar. Matahari pagi mulai menyengat. Memancarkan sinarnya ke muka bumi.

Johor Bahru terhubung jembatan besar dengan Singapura. Jembatan ini tidak menggantung sebagaimana umumnya. Tetapi menyatu jejak hingga ke dasar selat. Dipadatkan dengan pasir yang ditimbun sehingga tampak seperti daratan. Mematikan aliran air di Selat Johor yang terisolasi tanpa ada sedikitpun aktifitas pelayaran di dalamnya.

Aku duduk di tepi selat sambil memandangi padatnya arus kendaraan menuju Singapura di jembatan lintas negara tersebut. Dijejali oleh para pekerja asal Malaysia yang mengadu nasib di negara tetangga. Jarak yang sangat dekat membuat para pekerja Malaysia tidak perlu membuang biaya mencari rumah untuk tinggal di Singapura. Tentu saja merupakan keuntungan tersendiri bagi pekerja khususnya dari Johor Bahru mengingat biaya hidup di Negeri Singa yang mahal.

 

Melintas Batas Batam – Malaysia

Rute perjalanan darat di Asia tenggara

Jarum jam menunjukkan pukul lima pagi. Aku beranjak dari tempat tidur, bersiap menuju kantor, hari terakhir bekerja sebelum memulai perjalanan panjang. Sore nanti, sepulang dari kantor aku akan bertualang keliling Asia Tenggara.

Hari ini terasa bersemangat. Sehingga tidak terlalu fokus menjalani pekerjaan. Pikiran terbagi dengan perjalanan yang akan dimulai sore nanti. Semua rekan di kantor tidak ada yang mengetahui rencana perjalanan nekad ini. Sengaja aku tidak menceritakannya karena tidak ingin ada suara-suara yang membuyarkan niatku. Aku ingin menikmati perjalanan nanti.

Jarum jam terus berputar. Jam pulang kantor hampir tiba. Aku meminta izin kepada rekan kantor untuk pulang tepat waktu. Tidak seperti biasanya ketika jam kantor berakhir, masih ada sisa pekerjaan yang harus diselesaikan. Setelah berpamitan, aku menyempatkan sejenak menyentuh facebook dan meninggalkan sebuah kalimat, “Petualangan Dimulai!”.

Dengan sedikit berlari, aku hampiri tukang ojek di pangkalan seberang kantor yang telah aku pesan. Sebelum ke pelabuhan, aku mampir sejenak ke rumah untuk berganti pakaian dan mengambil ransel. Aku meminta tukang ojek untuk mempercepat laju kendaraan. Perjalanan menuju pelabuhan feri internasional di Batam Centre memakan waktu 10 menit.

Tiket feri Batam – Stulanglaut, Johor Bahru, Malaysia, sudah ditangan. Aku membelinya saat istirahat jam makan siang kantor tadi. Aku memasuki ruang imigrasi di pelabuhan. Setelah stempel mendarat di pasporku, kemudian menuju ruang tunggu menanti keberangkatan yang tak berapa lama lagi.

Ini adalah kali pertama aku menjejakkan kaki di Malaysia. Hanya bermodal nekad dan doa. Kenekadan yang timbul dari passion, yang mampu mengikis rasa takut.

Terdengar suara petugas informasi mengumumkan feri tujuan Stulanglaut akan segera diberangkatkan. Aku beranjak dari kursi dan turut berbaris antri dengan penumpang lainnya di pintu pemeriksaan tiket. Langkah kaki kuayunkan melintasi koridor sepanjang 200 meter menuju ponton, tempat feri bersandar.

Penumpang feri kali ini tidak terlalu ramai. Terisi sepertiga dari total bangku yang tersedia. Tampak beberapa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di dalamnya. Mereka berbincang akrab dengan logat medok sambil tertawa riang. Senang sekali rasanya mendengar keceriaan mereka. Karena selama ini aku hanya melihat kisah-kisah tragis yang dialami teman-teman mereka yang disiarkan melalui media. Perasaanku saat ini serupa dengan keriangan mereka yang duduk dikursi belakangku.

Sore nan cerah berganti remang yang kemudian redup menghadirkan kegelapan di luar sana. Aku masih duduk manis di dalam feri. Semarak cahaya lampu berwarna kuning terlihat dari balik jendela feri. Lampu-lampu itu milik berbagai perusahaan seperti galangan kapal, kilang minyak, dan sejenisnya yang saling berdekatan. Feri melintas di sisi negara Singapura, yang pernah menjadi bagian dari negara Malaysia.

Aroma tanah Malaysia semakin jelas tercium. Feri mulai merapat di pelabuhan Stulanglaut. Rupiah di saku celana seakan pudar tak bernilai. Lidahku tak begitu kaku untuk menyesuaikan dengan logat negara Melayu ini karena sedari kecil tumbuh dan besar dengan logat serupa di Pulau Kundur. Kaki kananku melangkah keluar dari pintu feri dan untuk pertama kalinya menginjak tanah yang masih satu daratan dengan benua Eropa ini. Assalaamualaykum, Malaysia!

Petualangan Dimulai!

Membayangkan berkelana ke negeri orang adalah kenikmatan tersendiri. Merasakan hidup di lingkungan aku tak paham berbahasa. Rupiah menjadi tak berharga. Adat kebiasaan yang tak lazim kujumpa. Merasakan hal baru nan berbeda dengan sensasi tak biasa.

Impian ini sudah lama terpendam. Semenjak kecil, setiap membaca majalah langgananku yang mengulas tentang kehidupan di luar negeri, aku senantiasa larut dalam apa yang kubaca. Seakan sedang berperan dalam bacaan tersebut. Seolah sudah berada di negeri orang.

Ketika menjadi seorang karyawan swasta di Pulau Batam, terbesit keinginan untuk mencoba menjajal negeri seberang yang berjarak dekat, Malaysia. Mengamati peta dengan seksama. Aku dapati negeri jiran tersebut berbatasan langsung dengan Thailand. Lalu, muncul hasrat untuk menembus batas negara yang jaraknya setara Jakarta-Jogja itu.

Aku mencari informasi akses lintas negara tersebut. Selama ini, yang ada di pikiranku adalah batas-batas negara itu memiliki akses yang tak mudah. Sempat berpikir, tidak ada transportasi yang melintas di wilayah perbatasan. Namun, setelah mengulik berbagai informasi dari dunia maya, melihat catatan para pejalan yang pernah melakukan perjalanan darat lintas negara, keraguanku selama ini terdobrak. Ternyata, tidak sulit untuk berpindah negara. Bahkan, tersedia transportasi umum yang melayani rute beda negara.

Mengetahui kemudahan akses lintas negara tersebut, hasratku yang semula hendak mengunjungi Malaysia saja, jadi melebar ke negara-negara di sebelahnya yang terhubung daratan. Rasa penasaran masih menggelayut di benakku. Tidak cukup Thailand, aku pun mencari tahu akses menuju negara di sebelahnya lagi, Laos.

Setelah berselancar di dunia maya, informasi yang sama juga aku dapatkan, akses menuju Laos tidak begitu sulit. Hanya membutuhkan tambahan visa. Bersyukur bisa sistem Visa on Arrival (VoA). Membuat visa tidak perlu repot-repot di Kedutaan Besar negaranya, tetapi bisa dilakukan langsung ketika tiba di imigrasi, saat memasuki negara tersebut. (Sekarang masuk Laos tidak membutuhkan visa lagi)

Entah mengapa, aku semakin tertantang untuk mencari tahu akses ke negara-negara selanjutnya yang masih berada di wilayah Asia Tenggara, mengingat sebagian besar negaranya dapat diakses tanpa Visa. Sekadar membawa paspor. Meskipun, ada beberapa yang memberlakukan visa, tetapi pengurusannya tidak memberatkan. Karena menerapkan sistem VoA.

Aku mengintip negara apa gerangan di sebelah Laos. Aha, Vietnam! Kembali aku berselancar di dunia maya mencari tahu akses menuju negara Paman Ho itu. Masih sama, informasi yang aku dapatkan untuk menembus Vietnam ternyata mudah.

Membaca pengalaman para pejalan yang mengurai lengkap disertai foto-foto tentang perjalanan mereka menuju Vietnam. Senyumku semakin mengembang. Harapan untuk melintasi negara-negara Asean semakin terbuka lebar. Tidak sabar rasanya untuk merasakan perubahan bahasa, budaya, dan adat kebiasaan di berbagai negara. Ini kesenanganku.

Aku mulai merancang rencana perjalanan. Semua informasi aku kumpulkan, sebulan sebelum keberangkatan. Hal pertama yang aku lakukan adalah membeli tiket pesawat Vietnam-Singapura. Aku membelinya di agen tiket di Batam. Ini untuk menguatkan niatku yang terlanjur membara.

Jadi, dengan adanya tiket di tangan, maka segala keraguan diharapkan bisa ditepis. Apalagi, harga tiket tersebut terbilang di atas satu juta. Sehingga meminimalisir kemungkinan pembatalan. Karena aku akan berpikir dua kali untuk menghanguskan tiket tersebut.

Selain mengurus pembelian tiket, persiapan lainnya yang aku lakukan adalah mengajukan cuti dari kantor. Lalu, mempersiapkan barang-barang penting. Bertanya sana-sini kepada orang-orang yang sudah berpengalaman, baik di dunia maya maupun nyata.

Perjalanan ini masih sebulan lagi. Namun, yang terlintas dibenakku adalah perasaan bahagia.