15 Hari Jelajah Asia Tenggara – OpenTrip

Jelajah Asia Tenggara lewat Darat

Asia Tenggara merupakan wilayah geografis yang ditempati oleh Indonesia. Di dalamnya terdapat 11 negara yang juga sering disebut dengan negara-negara Asean. Beberapa negaranya terletak satu daratan yang saling terhubung seperti Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Meski Indonesia berada di pulau terpisah dengan negara-negara tersebut, namun karena kesamaan letak geografis sehingga cukup mudah untuk menjangkaunya. Bahkan, beberapa negaranya yaitu Singapura dan Malaysia bisa ditempuh kurang dari satu jam dari Indonesia, khususnya dari wilayah Provinsi Kepri dengan menggunakan feri cepat.

Penulis sudah melakukan perjalanan menjelajahi negara-negara tersebut sebanyak dua kali. Pertama, melakukannya seorang diri atau solo backpacker. Perjalanan kedua, penulis melakukannya bersama istri setelah menikah. Rute negara yang dilalui pada dua kali pengalaman tersebut adalah sama yaitu Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Hanya saja, lintasan jalur yang dilewati berbeda. Saat pertama, penulis melintasi jalur tengah dengan melewati Vientiane, ibu kota negara Laos. Sedangkan perjalanan kedua, penulis memilih jalur utara dengan melintasi Chiang Mai, Chiang Rai, dan Luang Prabang.

Bagi Anda yang juga ingin merasakan sensasi perjalanan melintasi empat negara berbeda dengan melalui jalur darat atau menggunakan bus, penulis memberikan kesempatan dengan mengadakan Open Trip. Nantinya penulis akan memandu perjalanan sebagaimana yang pernah penulis lakukan sebelumnya. Silakan hubungi 085292311441 (lihat poster).

Malam Pertama di Hanoi

Suasana riuh old quarter Hanoi di malam minggu

Wajah kota Vietnam terlihat semakin modern. Jalur jalan tol yang berbentuk memutar seperti benang yang terlilit. Cahaya kuning lampu jalan menernagi jalan. Gedung-gedung pencakar langit mulai terlihat. Jarum jam hampir mendekati pukul tujuh malam. Aku tiba di Hanoi.

Bus memasuki terminal. Taksi-taksi tampak telah bersiaga berebut penumpang. Beryukur ada Hung yang merupakan warga Hanoi. Aku naik taksi bersamanya. Kebetulan kami melintasi jalur yang sama. Aku menuju Old Quarter, kawasan populer bagi para wisatawan.

Taksi di Hanoi bentuknya mini, mirip mobilnya Mr. Bean. Taksi yang membawa kami ini dikemudikan oleh anak muda berusia sekitar duapuluhan tahun. Membelah malam di Hanoi yang terlihat semarak. Melewati pusat perbelanjaan yang dipadati banyak orang. Akhirnya taksi yang kami naiki melintasi kawasan Old Quarter.

Hung bertanya kepadaku hendak menginap dimana. Aku katakan kepadanya bahwa turunkan saja dimanapun yang ada penginapannya. Tak sengaja aku melihat tulisan Hanoi Central Backpacker, berbentuk ruko. Aku turun sebentar dari taksi. Mencari tahu apakah ada kamar kosong tersedia. Resepsionis wanita berparas imut dan berambut panjang menyambut dengan aksen Inggris yang sedikit cadel. Ia mengatakan bahwa masih tersisa tempat menginap. Alhamdulillah.

Aku kembali menuju taksi. Berpamitan pada Hung. Aku berikan lembaran dong kepadanya. Namun ia menolak. Terimakasih Hung. Semoga kelak berjumpa kembali. Tak jarang aku mendapatkan bantuan-bantuan tak terduga selama perjalanan. The magic of solo backpacking.

Aku memasuki hostel. Kamarku berada di lantai tiga. Meski dari luar terlihat seperti ruko, namun fasilitas di dalamnya tidak murahan. Tarif menginap per malam hanya USD 5. Ya, kamar yang akan aku tempati memang berjenis dormitori. Ada empat tempat tidur tingkat (untuk delapan penginap). Fasilitasnya sungguh nyaman. Dan naik ke atas menggunakan lift!

Selain kamarnya sejuk ber-AC, tempat tidurnya pun empuk dilengkapi selimut tebal yang pas untuk menetralkan dari dinginnya AC. Kamar mandi bersih, desainnya menarik, mirip hotel berbintang.

Ternyata hostel ini merupakan rekomendasi para traveler. Padahal aku menemukannya secara acak, go show. Tanpa memesan online. Ini kemudahan kesekian kali yang aku dapatkan. Lucky me.

Di dalam kamar tampak tiga penginap yang menempati tempat tidur masing-masing. Semuanya bule. Aku menyapa salah satunya, yang menempati tempat tidur di sampingku. Traveler bernama Brandon ini berasal dari California. Sama sepertiku, ia pun berpetualang seorang diri. Setelah Hanoi, ia berencana melanjutkan menuju Tiongkok dan Hongkong lewat darat yang hanya berjarak 6 jam menggunakan bis. Di atas tempat tidurku ditempati traveler asal Kanada. Satu orang lagi tampak tertidur pulas.

Aku bersih-bersih di kamar mandi lalu turun ke bawah menuju meja resepsionis. Hendak bertanya tentang paket tur ke Halong Bay. Harga tiketnya sebesar USD 25, tanpa menginap. Paket tur ini menyediakan kamar layaknya hotel untuk bermalam. Jika menginap di kapal dipatok sebesar USD 60.

Ternyata Brandon juga membeli paket tur yang sama. Kami akan ke Halong Bay bersama besok.

Waktunya makan malam. Sepanjang dari Vientiane, perutku belum menyentuh makanan berat. Sekadar roti yang diolesi saos. Fasilitas internet gratis di tempat menginap ini aku manfaatkan untuk mencari tempat makan halal terdekat. Berselancar di Google. Ketemu juga.

Aku bertanya kepada resepsionis tentang keberadaan restoran halal tersebut. Ia memberikanku selembar kertas berukuran jumbo yang berisikan peta lokasi Old Quarter. Ia menandai jalan mana saja yang harus aku lalui. Sangat terbantu sekali menginap di sini.

Malam pertama di Hanoi, bertepatan malam Minggu. Jalanan penu sesak oleh sepeda motor. Kendaraan roda empat cukup sulit melintas di sini. Suara klason saling bersahutan. Riuh sekali. Aku terus berjalan menyisir trotoar di pinggiran ruko. Meraba-raba jalan sambil sesekali melihat peta.

Aku bertanya kepada warga setempat yang kutemui. Orang Hanoi sangat welcome dengan turis. Mereka terlihat antusias membantu saat ada turis yang bertanya. Kawasan ini memang merupakan rumah para traveler dari berbagai penjuru bumi.

Namanya Taj Mahal Restaurant. Dari namanya tentu dapat ditebak. Ya, restoran milik Muslim ini didominasi makanan India. Terdapat label halal di depannya. Berada di antara deretan ruko. Desainnya elegan layaknya restoran meski ukurannya mungil. Aku menuju lantai atas.

Seorang pelayan menghampiriku sambil menyodorkan daftar menu. Aku memesan menu yang ada nasinya, Nasi Biryani. Dan minuman Teh Vietnam.

Nasi Biryani disajikan dalam panci mini. Berwarna kuning mirip nasi kuning. Hanya saja bentuk nasinya panjang-panjang. Paduan rempah-rempah menyatu dalam bumbu nasi ini. Enak sekali. Segelas teh vietnam disajikan dalam gelas kecil. Warna tehnya agak bening. Aku menyeruputnya. Weks! Rasanya sungguh pahit. Mungkin belum ditambah gula, pikirku. Setelah aku tambahkan gula tetap saja pahit. Ah, sudahlah. Aku minum air mineral saja.

Akhirnya perutku terisi nasi. Lumayan mengenyangkan. Aku kembali ke hostel. Sambil meraba-raba jalan sebagaimana perjalanan pergi tadi. Melintasi sebuah danau yang bernuansa romantis. Cahaya lampu berwarna-warni di tepian danau, tampak menarik.

Tiba-tiba terasa asing dengan jalan yang aku lalui. Seperti bukan jalan yang aku lewati tadi. Ternyata salah jalan. Aku kembali melihat peta. Berbalik arah. Mataku memandang awas. Terlihat bangunan unik yang aku lihat saat pergi tadi. Aku mengarah ke sana. Akhirnya sampai juga di penginapan. Fiuh.

Aku lelah, tapi nikmat. Mungkin ini yang dinamakan passion. Setelah menghabiskan perjalanan 24 jam di dalam bis. Kasur empuk hostel ini menggodaku untuk segera menimpukinya. Hawa dingin kamar seketika berubah hangat oleh selimut tebal yang menutupi. Zzz.

 

Penuh Sensasi Menembus Vietnam

Pemeriksaan Paspor oleh tentara Vietnam

Tepat pukul tujuh malam bis meninggalkan Vientiane. Bangku di sebelahku ditempati oleh warga Vietnam bernama Hung Dong Minh yang dipanggil dengan Hung. Usianya sebaya denganku. Ia merupakan pekerja bank di Vientiane.

Kami menghabiskan waktu dengan berbincang. Ia lumayan mahir berbahasa Inggris meski hanya seadanya. Hung tampak bersemangat menceritakan tentang sejarah negaranya yang pernah beradu senjata dengan Negara Adidaya Amerika Serikat.

Aku mengeluarkan camilan kacang atom pedas yang aku bawa dari Indonesia. Ternyata ia sangat suka dengna kacang atom tersebut. Hung mengira bahwa anak muda Indonesia menggunakan bahasa Inggris sehari-hari. Entah mengapa ia bisa menduga demikian.

Bis terus berjalan membelah malam. Semakin jauh meninggalkan Vientiane. Sesaat bis berhenti di sebuah rumah makan. Semua penumpang diwajibkan keluar dari bis. Aku pun turun tanpa turut makan di rumah makan tersebut. Tentu saja mengantisipasi soal kehalalan makanan. Aku menambal perut dengan persediaan roti dan saos yang aku bawa dari Indonesia.

Aku tertidur pulas di dalam bis. Hingga jarum jam menunjukkan angka dua dinihari. Bis berhenti. Di sekitar tampak bis lainnya yang juga berhenti. Ternyata sudah tiba di perbatasan negara. Bis-bis tersebut menanti pagi hingga kantor imigrasi buka. Aku melanjutkan tidur hingga rona langit terlihat sedikit bercahaya.

Satu per satu para penumpang keluar dari bis. Aku pun turut melangkahkan kaki merasakan udara di luar sana. Sangat dingin. Tebing-tebing tinggi mengelilingi kami. Sebuah gedung berlantai dua terlihat tak jauh di depanku yang merupakan kantor imigrasi Laos. Kabut menyelimuti kota bernama Cau Treo ini.

Aku menuju toilet sekalian bersih-bersih. Airnya dingin seperti es. Rasanya tak sanggup ingin berkumur saat akan menyikat gigi. Hawa dingin tercium segar, memasuki sela-sela tenggorokan. Ramai sekali bis terparkir di area ini.

Kantor imigrasi telah buka. Para petugas bis memasuki kantor imigrasi, menyerahkan paspor para penumpang yang dikumpulkannya di dalam bis tadi. Hanya warga Laos dan Vietnam saja yang bisa dilayani oleh petugas tersebut. Selain itu harus menyerahkan sendiri ke kantor imgirasi, termasuk aku. Aku mengikuti petugas bis memasuki kantor. Mengantri bersama bule-bule Backpacker.

Setelah menyerahkan paspor kepada tugas, aku harus menanti dipanggil. Satu per satu nama dipanggil, hingga tiba giliranku. Petugas bis telah selesai mengurus paspor para penumpangnya. Ia tampak sedikit berlari mengejar bus yang mulai berjalan. Aku memberikan aba-aba kepadaku untuk bergegas mengikutinya. Bye, Laos!

Bis berjalan menembus batas negara. Memasuki Vietnam. Aku dan para penumpang turun kembali untuk melakukan pemeriksaan paspor di imigrasi Vietnam. Stempel paspor melayang di pasporku dengan mudah. Lebih cepat saat di imigrasi Laos tadi. Petugas imigrasi mengembalikan pasporku sambil tersenyum ramah.

Hujan turun deras. Aku dan para penumpang lainnya masih berlindung di sekitar kantor imigrasi. Bis tampak belum bergerak. Kabut semakin menebal. Jarak pandang hanya lima puluh meter. Dingin sekali.

Petugas bis memerintahkan kami untuk mengikutinya. Para tentara Vietnam tampak berjaga-jaga di depan sana. Mereka turut memeriksa paspor, sekadar mengecek saja. Tidak terlalu rumit tampaknya memasuki negeri Paman Ho ini. Setelah melewati tentara yang berumlah empat orang itu aku bergegas menaiki bus.

Halo, Vietnam! Saatnya memulai petualangan di negara paling utara di Asia Tenggara ini. Bersebelahan dengan Tiongkok. Layaknya sim card telepon genggam, perasaanku seketika berganti sinyal. Merasakan sensasi di negara baru. Perlahan hujan mulai mereda. Hanya rintik gerimis di luar sana.

Kawasan pedesaan terpencil mendominasi perjalanan awal ini. Hamparan perkebunan hijau terlihat dari balik jendela bus. Sungai Yang Tze tampak dari kejauhan. Alirannya membelah kawasan perkebunan sayur. Pepohonan hutan pun senantiasa terlihat di sepanjang perjalanan ini, juga rumah-rumah kayu khas pedesaan.

Beberapa jam kemudian rona kota terlihat lebih ramai. Segerombolan anak sekolah sedang mengendarai sepeda. Orang dewasa pun tak jarang terlihat mengayuh kendaraan tak bermesin tersebut. Perkembangan kehidupan modern seperti belum tersentuh di kawasan ini. Perbukitan karst nan eksotis menjadi pemandangan yang menarik. Bukit-bukit berbatu yang diselimuti pepohonan hijau. Berjejer di sebagian perjalanan ini.

Semakin jauh perjalanan, penampakan tampak mulai lebih maju. Jalanan tampak lebih cantik dan rapi. Deretan ruko beton memenuhi di sisi jalan, meski masih terkesan sederhana. Geliat aktifitas warga Vietnam semakin riuh. Pemandangan mengendarai sepeda masih terlihat wajar, terutama anak-anak sekolah. Kehidupan modern yang masih disentuh dengan nuansa tradisional. Rasa senang terus berdendang di hati ini. Hingga tak peduli dengan perjalanan panjang yang menghabiskan waktu 24 jam.

5 Jam di Laos

Sholat Jumat di Vientiane, Laos

Vientiane tidak semegah Bangkok. Mungkin setara dengan Kota Malang atau Palembang. Namun, beberapa gedung tinggi tetap tak luput dari wajah sebuah ibukota negara. Hanya saja, tidak semenjulang sebagaimana gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

Aku meninggalkan kawasan Morning Market. Tampak di seberang jalan sebuah ruko kecil di depan sebuah rumah. Ruko tersebut merupakan tempat penukaran uang. Ruko ini tidak berjejer menempel sebagaimana umumnya.

Aku ingin menukar persediaan rupiah ke mata uang setempat. Kusodorkan beberapa lembar rupiah kepadanya. Ia meninggalkan loket sejenak, menuju ke belakang. Beberapa saat aku menanti. Sepertinya ia jarang melihat uang dari negeriku ini.

Tak lama kemudian petugas money changer itu kembali. Ia mengatakan bahwa tidak bisa ditukar di sini. Baiklah. Mungkin ia sedang tidak memiliki stok rupiah. Aku kembali berjalan, mencari tempat penukaran uang lainnya. Ternyata beberapa money changer pun merespon sama. Rupiahku belum berubah juga.

Aku mulai khawatir. Bagaimana seandainya rupiah ini benar-benar tidak bisa ditukar. Sementara aku sudah berada di pertengahan jalan. Bahkan lebih dekat ke Vietnam, negara paling utara. Jauh dari negaraku. Bagaimana nasibku selanjutnya.

Aku mulai memutar otak, mencari solusi. Aku kembali ke toko orang Pakistan tadi. Mencari tahu tentang rupiah yang tidak bisa ditukar. Barangkali ia tahu tempat penukaran uang yang bisa menerima rupiah. Wanita itu menyarankanku untuk menuju sebuah bank milik negara Malaysia. Setelah Ia menyebutkan nama bank yang harus aku datangi, aku pun bergegas pergi.

Tidak jauh dari Morning Market. Kawasan ini sepertinya memang khusus ditempati oleh bank-bank bergedung besar. Aku mencoba menukarnya di semua bank yang dilewati yang ada pelayana penukaran uang, sebelum menemukan bank Malaysia. Siapa tahu ada yang bisa. Namun tetap nihil. Bank-bank itu tidak menerima rupiah.

Akhirnya aku tiba di bank milik negara tetanggaku, Malaysia. Aku merasa optimis karena letaknya yang berjiran dekat dengan negaraku, seharusnya familiar dengan rupiah. Aku memasuki tangga luar yang langsung menuju lantai dua bank tersebut.

Aku serahkan rupiah kepada karyawan bank. Setelah diterimanya, ia bergegas ke belakang sesaat. Aku berharap cemas. Tak lama kemudian karyawan bank itu datang kembali. Ia menyodorkan lembaran uang yang sama. Rupiah itu kembali lagi ke tanganku. Masih tidak bisa ditukar.

Sejenak aku melupakan permasalahan ini. Dengan tetap meyakinkan diri bahwa akan ada jalan keluar. Tiba-tiba ingatakanku tertuju pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Hm. Ada secercah harapan.

Secara tiba-tiba lagi, terpikirkan olehku tentang dolar yang sempat aku tukar saat di Batam. Dolar US senilai tiga digit. Ya, ada seratus dolar amerika di dalam ranselku. Jujur saja, aku tidak ingat tentang dolar penyelamat ini. Aku buka salah satu kantong ransel yang berukuran kecil. Alhamdulillah.

Aku tukarkan dolar ini dengan mata uang Laos, sebagian saja. Sebagian lagi tetap dalam bentuk dolar, untuk berjaga-jaga saat memasuki Vietnam nanti.

Aku kembali ke toko kain Pakistan tadi untuk bersiap-siap menunaikan sholat Jumat bersama. Matahari bersinar terik. Lalu lalang kendaraan terlihat ramai. Tak lama berselang, mobil mewah sejenis Pajero berhenti di hadapanku. Sesosok wajah keluar dari jendela mobil tersebut. Orang Pakistan itu datang menjemputku.

Orang Pakistan itu memberikan aba-aba kepadaku untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia bersama keponakannya. Bukan yang aku jumpai saat di terminal Nongkhai, melainkan abangnya yang bernama Shahab. Shahab pernah mengenyam pendidikan tinggi di Malaysia, sehingga sedikit fasih berbahasa Melayu.

Mencari Masjid di negara minoritas Muslim ini akan sangat lelah jika dengan berjalan kaki, tidak seperti di negara-negara mayoritas Muslim sepeprti Indonesia. Mobil mulai mencari posisi untuk tempat parkir. Namun belum terlihat tanda-tanda Masjid di sini. Ternyata masih masuk ke dalam lagi sejauh 50 meter. Masjid sederhana berlantai dua ini sepertinya sudah cukup tua.

Satu per satu jamaah memasuki Masjid. Tiba-tiba seorang pria paruh baya menyapaku dengan dengan bahasa yang sangat familiar didengar. Entah bagaimana bapak ini bisa menebak darimana aku berasal, kenal saja enggak. Mungkin karena wajahku yang khas Melayu.

Bapak yang menyapaku itu bernama Azhar. IA merupakan pensiunan KBRI di Laos yang sampai sekarang menetap di negara ini. Setelah memperkenalkan diri, Pak Azhar sepertinya sedang mencurahkan apa yang dialaminya. Tentang kondisinya yang masih menetap di Vientiane meski sudah pensiun.

Pak Azhar menikah dengan seorang wanita Laos. Awalnya, kehidupan rumah tangga mereka berjalan mulus hingga memiliki dua orang anak perempuan yang sudah beranjak dewasa. Namun, takdir berkata lain. Istrinya yang sempat menjadi mualaf, kembali ke keyakinan semula. Pak Azhar tetap memilih menetap di Vientiane karena mengingat dua anak gadisnya.

Usai sholat Jumat, aku dan orang Pakistan itu kembali ke mobil. Kami tidak kembali ke Morning Market melainkan akan menuju terminal bis Dongdok. Setelah sebelumnya sempat nyasar di terminal dekat pasar. Kali ini tidak perlu ragu lagi, karena aku diantar langsung oleh warga asli Laos. Ini merupakan terminal internasional yang memiliki keberangaktan menuju Vietnam.

Selalu ada saja hal tak terduga selama perjalanan ini. Hingga diantar menuju terminal bis, yang merupakan tujuan terakhir selama di Laos. Sebelum ke terminal, kami mampir sebentar di kantor KBRI Laos. Masih mencari solusi tentang rupiahku tadi. Barangkali ada jawaban di sini. Ternyata kantor KBRI masih tutup. Sepertinya masih istirahat makan siang. Karena terus dikejar waktu, akhirnya aku batalkan ke KBRI.

Tak lama kemudian kami tiba di terminal bis Vientiane. Suasana terminal masih tampak sepi. Bis-bis berjejer rapi di ujung sana, di halaman luas yang beralas tanah. Orang Pakistan itu menuju salah satu bis untuk membeli tiket, setelah aku menitipkan uangku kepadanya.

Tiket bis Vientiane – Hanoi didapat seharga USD 25. Petugas bis yang merupakan orang Vietnam itu menerima dolar sebagai alat pembayaran. Pasokan kip-ku sudah tidak mencukupi lagi. Uang kembalian pembelian tiket tadi dalam bentuk dong, mata uang Vietnam. Sengaja aku meminta uang Vietnam karena untuk persediaan di Hanoi nanti.

Bis berangkat pukul tujuh malam nanti. Masih tersisa banyak waktu sekitar 5 jam. Sebelum berpamitan dengan orang Pakistan itu, aku menyempatkan untuk foto bersama. Ia memberikan bekal roti baguette kepadaku. Roti jenis ini dijual hampir di tiap sudut kota Vientiane. Bentuknya panjang setara tangan orang dewasa. Agak keras digigit. Katanya lebih nikmat disantap dengan susu.

Sembari menanti keberangkatan bis, aku pututskan untuk jalan-jalan tak jauh dari sini, dengan menggunakan tuktuk. Aku memilih tuktuk secara acak. Tanpa bertanya kemana tujuan tuktuk tersebut.

Aku coba menghafal kemana saja arah tuktuk ini. Aku tidak berani menuju lebih jauh lagi. Bukan karena takut tersesat, tetapi aku tidak mau sampai ketinggalan bis ke Hanoi yang tinggal beberapa jam lagi.

Saat tuktuk yang aku naiki melintasi warnet (warung internet), aku mampir sejenak. Ingin mengabarkan kepada kerabat di tanah air. Lumayan membingungkan menggunakan komputer di Laos ini. Karena aksara di layar komputernya menggunakan huruf laos. Syukurlah aku masih familiar dengan simbol-simbol di komputer sehingga bisa digunakan untuk membaca simbol.

Usai berkirim kabar via internet, aku meminta izin kepada pemilik warnet untuk menunaikan sholat Ashar di ruangan ini. Dengan ramah ia mempersilahkanku. Tidak terlihat ekspresi aneh di wajahnya saat aku meminta izin untuk sholat. Keadaan warnet saat itu kebetulan sedang sepi, sehingga bisa menunaikan sholat dengan tenang.

Jarum jam terus berputar. Aku kembali menanti tuktuk lewat, kembali ke terminal bis tadi. Sambil mengingat-ingat jalur tadi. Mataku senantiasa awas melihat sisi kiri jalan untuk melihat keberadaan terminal. Mengantisipasi agar tidak kelewatan. Aku meminta bantuan kepada penumpang di dalam tuktuk untuk memberitahu saat tiba di terminal bis Dongdok.

Untunglah penampakan terminal mudah ditebak. Aku memberhentikan tuktuk, membayar ongkos tuktuk sebesar lima ribu kip (setara lima ribu rupiah). Mentari beranjak turun. Senja semakin jelas terlihat. Aku duduk menanti di ruang tunggu terminal yang terbuka, tanpa sekat. Hiruk pikuk para calon penumpang mulai riuh. Bule-bule backpacker pun tampak berseliweran.

Aku menuju bis. Melintasi halaman parkir bis yang luas. Para petugas bis tampak berlomba-lomba mendapatkan penumpang. Sedikit memaksa dengan menarik-narik tangan. Tidak semuanya. Namun harus tetap waspada. Aku sempat ditarik-tarik juga, tetapi rileks saja. Abaikan mereka dan terus berjalan hingga memasuki bus.

Bis yang aku naiki merupakan jenis sleeper bus. Bentuknya tidak deretan kursi sebagaimana biasanya. Melainkan seperti tempat tidur, kaki hanya bisa memanjang layaknya orang tidur. Bebas selonjoran. Bagian tempat bersandar didesain miring derajat dilengkapi bantal kecil dan selimut. Nyaman untuk ditempati. Aku menempati posisi persis di samping jendela. Serasa berada di penginapan berjalan saja. Memandangi panorama di luar sana. Menyenangkan sekali.

 

Wajah Kota Vientiane

Pedagang roti baguette di sekitar Morning Market

SaibaideeVientiane! Ibukota Laos ini tampak sederhana. Letaknya persis di perbatasan dengan Thailand. Jika Anda menuju Laos dari Thailand melintasi perbatasan di bagian Selatan, kota pertama yang dijejaki langsung wilayah ibukota negara Laos. Tidak seperti beberapa negara di kawasan Asia Tenggara lainnya yang ibukota negaranya tidak menyentuh perbatasan negara.
Vientiane merupakan bekas jajahan Perancis. Sebagian kebiasaan bangsa Perancis tertinggal di sini. Seperti aturan penggunaan lajur jalan. Jika di Indonesia terbiasa menggunakan sisi kiri. Berbeda dengan Laos yang menggunakan sisi kanan. Cukup membingungkan saat hendak menyeberang jalan.
Dari imigrasi Laos, aku menggunakan tuktuk menuju kota. Tarif per orang sebesar 100 baht. Ya, warga di perbatasan negara Laos masih memperbolehkan bertransaksi dengan mata uang negara tetangganya, Thailand. Mata uang laos menggunakan kip, setara dengan nilai mata uang Indonesia, hanya berbeda angka di belakang koma.
Jalanan di Vientiane penuh dengan debu. Pasir banyak ditemukan di bahu jalan sehingga menyebabkan polusi debu. Laos berbeda sekali dengan Thailand yang sedang giat-giatnya memoles diri menjadi negara maju. Bahkan, ada beberapa jalan yang belum tersentuh aspal.
Tuk-tuk berhenti di sisi jalan, suasana ramai. Entah dimana, aku masih meraba-raba. Ternyata tak jauh dari terminal. Aku menuju terminal tersebut yang berjarak 50 meter. Aku memang hendak menuju terminal. Tetapi tampak tidak meyakinkan, terminalnya kecil sekali. Berkonsep terbuka tanpa sekat. Seluas lapangan tenis.
Apalagi jika hendak menuju negara seberang, tidak mungkin terminal internasional seperti ini. Ternyata rasa curigaku terbukti. Terminal ini hanya melayani rute antar kota. Ya, aku ingin mencari informasi tentang tujuan ke negara seberang, Vietnam.
Huft. Aku lupakan sejenak cerita nyasar hari ini. Aku mulai mencari tahu tentang keberadaan Morning Market, pusat perbelanjaan yang di dalamnya terdapat toko kain milik orang Pakistan yang aku jumpai saat di Nongkhai. Toko kainnya bernama Laila. Diluar dugaan, Morning Market yang aku cari ada di seberang terminal ini. Alhamdulillah.
Aku mulai berjalan menelusuri deretan depan ruko-ruko kecil. Komplek ruko ini menyatu dengan sebuah mal sederhana, terletak di lantai dasar. Beberapa pedagang di sini menjadi sumber informasiku. Kendala bahasa membuat aku harus kreatif dalam berkomunikasi.

Wajah orang Pakistan yang khas Arab itu memudahkan aku untuk memberitahu ciri-cirinya. Aku mengisyaratkan tangan ke wajahku dengan mengucapkan kata ‘Arab’. Mataku senantiasa awas, memandang spanduk-spanduk toko yang terpajang di depan setiap toko. Dari jauh aku melihat tulisan ‘Laila’. Yaiy! Aku menemukannya.

Aku melihat seorang wanita paruh baya berwajah Pakistan. Ia sedang duduk menanti pembeli di dalam toko tersebut. Aku ingin memastikan kepadanya apakah benar ini toko yang aku cari. Ternyata benar. Wanita itu adalah istrinya.
Wanita itu mengatakan suaminya masih dalam perjalanan. Sembari menanti kedatangan orang Pakistan itu aku mencari sarapan terlebih dahulu. Istri orang Pakistan itu merekomendasikan tempat makan halal di lantai atas mal ini.
Aku menuju lantai tiga. Tampak label halal pada sebuah warung makan, mirip stan pameran. Pekerjanya berparas India. Menu-menu khas India tertera di daftar menu. Aku memesan nasi biryani dan masala tea. Tentu saja bukan teh bermasalah. Ini adalah sebutan lain dari teh tarik. Porsi nasi biryani banyak sekali, mengenyangkan. Lauknya berupa paha ayam yang dilumuri kuah kari.
Perut kenyang. Energi terisi kembali. Aku kembali ke toko Pakistan tadi. Istrinya menyuruhku untuk berada di sini pada pukul duabelas siang nanti. Orang Pakistan itu ingin mengajak aku menunaikan sholat Jumat bersama. Aku lirik jam di layar telepon genggam. Masih tersisa dua jam. Tentu akan terasa bosan juga jika harus duduk menanti di toko ini.

Waktu yang tersisa aku manfaatkan untuk jalan-jalan sejenak, tak jauh dari sini. Melihat sepotong wajah kota Vientiane.

Menembus Laos

Bersama warga Laos berdarah Pakistan

Aku bersiap meninggalkan Bangkok. Sambil menggendong ransel aku bergegas memasuki bis. Seorang pramugari bis berseragam rapi bak pramugari pesawat menyambut satu per satu penumpang yang menaiki bis. Setiap penumpang yang masuk akan ditanya kemana kota tujuan. Tiba giliranku, sang pramugari tersebut bertanya dengan bahasa Thai. Aku diam tak mengerti. Ia lalu menggantinya dengan Bahasa Inggris. “Where do you go?” tanyanya dengan aksen cadel khas Thailand. “Nongkhai,” jawabku.

Ya, aku akan menuju Nongkhai, salah satu provinsi di Thailand yang terletak di perbatasan dengan negara Laos. Jarak Bangkok – Nongkhai memakan waktu selama 8 jam perjalanan. Seperti biasa, sengaja aku memilih keberangkatan malam agar saat tiba di tujuan sudah mendekati pagi.

Pramugari tadi membagi-bagikan makanan dan snack kepada setiap penumpang. Ternyata pramugari tersebut merupakan seorang lady boy, pria berwujud wanita. Oh my God. Awalnya, aku sedikit khawatir. Namun ternyata ia sangat ramah. Nasi bungkus, snack, dan air mineral yan diberikan pramugari itu menjadi santapanku malam ini. Kecuali nasi, karena khawatir dengan kehalalannya.

Pukul delapan malam, bis mulai meninggalkan Bangkok. Supir bis mengendarai dengan kecepatan tinggi. Bak pebalap profesional. Sport jantung dibuatnya. Namun, tak berapa lama mataku terpejam. Terlelap dalam tidur. Mungkin karena rasa lelah selama seharian yang membuatku tidak sulit untuk tidur. Padahal bis dibawa ugal-ugalan. Semoga baik-baik saja. Aku berharap dalam hati.

Spontan aku terbangun. Ternyata bis telah tiba di Nongkhai. Semua penumpang turun. Suasana terminal di sini sedikit mirip dengan terminal bis di Phuket. Terbuka tanpa sekat. Cukup ramai orang di dalamnya. Sepertinya mereka sedang menanti pagi, melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya, lebih tepatnya negara seberang, Laos, yang hanya berjarak 15 menit dari sini.

Hening. Udara subuh memberikan energi baru. Sebagian orang ada yang melanjutkan tidur di ruang tunggu terminal. Aku meraba-raba waktu sholat Subuh. Sepertinya aku tidak akan mendengarkan suara azan di sini. Aku mencoba bertanya dimana keberadaan Masjid terdekat. Islam memang minoritas di sini. Tidak gampang untuk mencari tempat ibadah seperti Masjid. Tetapi tidak ada salahnya mencoba bertanya.

Aku melihat seseorang berwajah Arab, pria paruh baya duduk tak jauh dari sini. Mungkin ini jawaban dari pencarianku. Aku hampiri orang tersebut. Aku tanyakan kepadanya perihal Masjid. Ia mengatakan bahwa jarak Masjid cukup jauh dari sini. Ia menawarkan untuk menggunakan sajadah miliknya. Ia membantu membentangkan sajadah untuk menunjukkan arah kiblat. Aku melaksanakan sholat Subuh di terminal.

Pria tersebut ternyata warga negara Laos berdarah Pakistan – Laos. Ia baru saja tiba dari Pakistan bersama seorang keponakan laki-lakinya yang berusia sekitar 20 tahun.

Sebagaimana orang berdarah Arab, ia membuka usaha toko kain di Morning Market, pasar terkenal di Vientiane. Ia menawarkan kepadaku untuk mampir ke tokonya setibanya di Laos nanti. Kami berpisah menuju Laos, karena aku masih harus berurusan dengan pembuatan visa.

Keponakannya tiba-tiba datang membawa teh hangat yang dibelinya di warung terminal, tiga gelas. Kegelapan memudar. Pagi mulai terang. Loket tiket mulai menampakkan aktifitasnya. Orang-orang berbaris antri di depan loket tersebut, hendak menuju Laos.

Pria Pakistan itu membantuku mencari informasi kepada petugas loket. Kemampuannya dalam berbahasa setempat cukup memudahkanku. Aku disarankan langsung menuju kantor imigrasi di perbatasan Thailand – Laos. Ia mencarikan tuktuk untukku dan melakukan negosiasi harga. Tuktuk membawaku menuju perbatasan.

Mentari belum terlihat. Remang-remang cahaya pagi. Menembus dinginnya pagi di Kota Nongkhai. Belum tampak akitiftas warga. Jalanan terlihat sepi. Tak lama, tuktuk tiba di imigrasi perbatasan.

Pagi semakin terang. Tampak beberapa orang yang juga akan menyeberang ke Laos. Bis perbatasan terlihat mondar-mandir. Bis ini hanya mengantarkan penumpang dari imigrasi Thailand menuju imigrasi Laos. Aku mengabadikan suasana di perbatasan yang tampak bersih ini dengan kamera. Setelah melakukan pengecopan paspor, aku beranjak beberapa langkah untuk menanti bis perbatasan. Tarifnya 20 baht per orang.

Bis datang menjemput. Hanya beberapa penumpang. Didominasi oleh orang bule, yang juga pelancong sepertiku. Bis melintasi jembatan yang membelah Sungai Mekong. Sungai ini merupakan batas negara. Nama sungai ini tidak asing di telingaku. Aku mengenalnya pada pelajaran geografi semasa duduk di bangku Sekolah Dasar. Dulu hanya ada di dalam kepala. Kini nyata terlihat di depan mataku. Dream come true.

Hanya berjarak semenit melintas perbatasan dua negara ini. Semua penumpang turun dari bis. Imigrasi Laos terlihat lebih sederhana. Namun tetap bersih, sepertinya baru disapu oleh petugas kebersihan.

Aku turut berbaris antri dengan para backpacker bule di depan loket yang masih tutup. Tiba-tiba seseorang menghampiriku. Warga Laos yang berparas Melayu. Ia menanyakan asal negaraku. Mungkin karena wajahku yang khas Asia sehingga membuatnya yakin bahwa aku berasal dari negara yang serumpun dengannya.

Aku diarahkan olehnya menuju pos imigrasi. Namun aku masih ragu karena belum mengurus visa. Kuserahkan paspor kepada petugas imigrasi sebagaimana sarannya. Ia mengamati pasporku dengan seksama. Aku berharap cemas menanti. Cop! Petugas imigrasi melayangkan stempel ke pasporku. Ternyata sudah bebas visa. Alhamdulillah.

Aku baru tahu tentang kabar ini, warga Indonesia telah bebeas visa memasuki Laos. Biaya pembuatan visa sebesar USD 25 aku kantongi kembali. Lumayan buat bekal perjalanan selanjutnya.

Petualangan Dimulai!

Membayangkan berkelana ke negeri orang adalah kenikmatan tersendiri. Merasakan hidup di lingkungan aku tak paham berbahasa. Rupiah menjadi tak berharga. Adat kebiasaan yang tak lazim kujumpa. Merasakan hal baru nan berbeda dengan sensasi tak biasa.

Impian ini sudah lama terpendam. Semenjak kecil, setiap membaca majalah langgananku yang mengulas tentang kehidupan di luar negeri, aku senantiasa larut dalam apa yang kubaca. Seakan sedang berperan dalam bacaan tersebut. Seolah sudah berada di negeri orang.

Ketika menjadi seorang karyawan swasta di Pulau Batam, terbesit keinginan untuk mencoba menjajal negeri seberang yang berjarak dekat, Malaysia. Mengamati peta dengan seksama. Aku dapati negeri jiran tersebut berbatasan langsung dengan Thailand. Lalu, muncul hasrat untuk menembus batas negara yang jaraknya setara Jakarta-Jogja itu.

Aku mencari informasi akses lintas negara tersebut. Selama ini, yang ada di pikiranku adalah batas-batas negara itu memiliki akses yang tak mudah. Sempat berpikir, tidak ada transportasi yang melintas di wilayah perbatasan. Namun, setelah mengulik berbagai informasi dari dunia maya, melihat catatan para pejalan yang pernah melakukan perjalanan darat lintas negara, keraguanku selama ini terdobrak. Ternyata, tidak sulit untuk berpindah negara. Bahkan, tersedia transportasi umum yang melayani rute beda negara.

Mengetahui kemudahan akses lintas negara tersebut, hasratku yang semula hendak mengunjungi Malaysia saja, jadi melebar ke negara-negara di sebelahnya yang terhubung daratan. Rasa penasaran masih menggelayut di benakku. Tidak cukup Thailand, aku pun mencari tahu akses menuju negara di sebelahnya lagi, Laos.

Setelah berselancar di dunia maya, informasi yang sama juga aku dapatkan, akses menuju Laos tidak begitu sulit. Hanya membutuhkan tambahan visa. Bersyukur bisa sistem Visa on Arrival (VoA). Membuat visa tidak perlu repot-repot di Kedutaan Besar negaranya, tetapi bisa dilakukan langsung ketika tiba di imigrasi, saat memasuki negara tersebut. (Sekarang masuk Laos tidak membutuhkan visa lagi)

Entah mengapa, aku semakin tertantang untuk mencari tahu akses ke negara-negara selanjutnya yang masih berada di wilayah Asia Tenggara, mengingat sebagian besar negaranya dapat diakses tanpa Visa. Sekadar membawa paspor. Meskipun, ada beberapa yang memberlakukan visa, tetapi pengurusannya tidak memberatkan. Karena menerapkan sistem VoA.

Aku mengintip negara apa gerangan di sebelah Laos. Aha, Vietnam! Kembali aku berselancar di dunia maya mencari tahu akses menuju negara Paman Ho itu. Masih sama, informasi yang aku dapatkan untuk menembus Vietnam ternyata mudah.

Membaca pengalaman para pejalan yang mengurai lengkap disertai foto-foto tentang perjalanan mereka menuju Vietnam. Senyumku semakin mengembang. Harapan untuk melintasi negara-negara Asean semakin terbuka lebar. Tidak sabar rasanya untuk merasakan perubahan bahasa, budaya, dan adat kebiasaan di berbagai negara. Ini kesenanganku.

Aku mulai merancang rencana perjalanan. Semua informasi aku kumpulkan, sebulan sebelum keberangkatan. Hal pertama yang aku lakukan adalah membeli tiket pesawat Vietnam-Singapura. Aku membelinya di agen tiket di Batam. Ini untuk menguatkan niatku yang terlanjur membara.

Jadi, dengan adanya tiket di tangan, maka segala keraguan diharapkan bisa ditepis. Apalagi, harga tiket tersebut terbilang di atas satu juta. Sehingga meminimalisir kemungkinan pembatalan. Karena aku akan berpikir dua kali untuk menghanguskan tiket tersebut.

Selain mengurus pembelian tiket, persiapan lainnya yang aku lakukan adalah mengajukan cuti dari kantor. Lalu, mempersiapkan barang-barang penting. Bertanya sana-sini kepada orang-orang yang sudah berpengalaman, baik di dunia maya maupun nyata.

Perjalanan ini masih sebulan lagi. Namun, yang terlintas dibenakku adalah perasaan bahagia.