Bus Kayu di Pulau Kundur yang Masih Eksis

Pulau Kundur mempunyai transportasi umum sepuh nan antik yang masih beroperasi hingga saat ini. Masyarakat setempat menyebutnya dengan Bas Kundo. Sebutan Bas diambil dari Bahasa Melayu Malaysia yang merupakan serapan dari kata bus. Sedangkan Kundo berasal dari kata Kundur dalam aksen Bahasa Melayu. Pulau ini memang berjiran dekat dengan negara Siti Nurhaliza itu.

Transportasi ini berpenampakan sebagaimana bus pada umumnya, hanya saja bodinya didominasi oleh bahan kayu. Pada bagian depan wajahnya terkesan pesek. Tempat duduk penumpang memanjang pada sisi kiri dan kanan, saling berhadapan. Kapasitas penumpang mampu memuat hingga 30 orang. Jendelanya senantiasa terbuka. Model jendela digeser turun-naik seperti pada jendela kereta api. Pintu penumpang berada dibuntut, bagian belakang.

Bas Kundo populer digunakan sebagai transportasi umum pada era 60-an hingga 90-an. Memasuki era milenium, keberadaan Bas perlahan tergerus oleh transportasi umum model baru berjenis carry yang disebut oplet. Meski begitu, kapasitas Bas Kundo yang mampu memuat banyak penumpang tetap menjadi pilihan bagi wisatawan yang hendak berlibur secara rombongan. Terutama bagi para pelajar sekolah.

Menurut salah seorang pemilik Bas Kundo, Kintan, sejarah keberadaan bus kayu ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat pada masa itu yang masih mengandalkan kaki untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Padahal jarak yang ditempuh sangat jauh. Pada era 1960-an aktifitas berjalan kaki memang sudah menjadi kebiasaan. Bahkan ada yang sanggup menempuh perjalanan dari Tanjungbatu ke Tanjungberlian (Urung) yang berjarak 20 kilometer tanpa kendaraan alias berjalan kaki.

Tercetuslah ide dari salah seorang pengusaha Tionghoa untuk menyediakan trasnportasi yang mampu memudahkan mobilitas bagi masyarakat setempat. Kendaraan sepuh ini bentuk awalnya adalah terbuka seperti truk. Kemudian oleh seorang ahli otomotif di pulau tersebut dirancang hingga bentuknya sebagaimana yang terlihat sekarang ini.