15 Hari Jelajah Asia Tenggara – OpenTrip

Jelajah Asia Tenggara lewat Darat

Asia Tenggara merupakan wilayah geografis yang ditempati oleh Indonesia. Di dalamnya terdapat 11 negara yang juga sering disebut dengan negara-negara Asean. Beberapa negaranya terletak satu daratan yang saling terhubung seperti Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Meski Indonesia berada di pulau terpisah dengan negara-negara tersebut, namun karena kesamaan letak geografis sehingga cukup mudah untuk menjangkaunya. Bahkan, beberapa negaranya yaitu Singapura dan Malaysia bisa ditempuh kurang dari satu jam dari Indonesia, khususnya dari wilayah Provinsi Kepri dengan menggunakan feri cepat.

Penulis sudah melakukan perjalanan menjelajahi negara-negara tersebut sebanyak dua kali. Pertama, melakukannya seorang diri atau solo backpacker. Perjalanan kedua, penulis melakukannya bersama istri setelah menikah. Rute negara yang dilalui pada dua kali pengalaman tersebut adalah sama yaitu Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Hanya saja, lintasan jalur yang dilewati berbeda. Saat pertama, penulis melintasi jalur tengah dengan melewati Vientiane, ibu kota negara Laos. Sedangkan perjalanan kedua, penulis memilih jalur utara dengan melintasi Chiang Mai, Chiang Rai, dan Luang Prabang.

Bagi Anda yang juga ingin merasakan sensasi perjalanan melintasi empat negara berbeda dengan melalui jalur darat atau menggunakan bus, penulis memberikan kesempatan dengan mengadakan Open Trip. Nantinya penulis akan memandu perjalanan sebagaimana yang pernah penulis lakukan sebelumnya. Silakan hubungi 085292311441 (lihat poster).

Masjid Cheng Ho Bergaya Oriental di Pulau Batam

Masjid Muhammad Cheng Ho di Batam

Pulau Batam menjadi salah satu tempat berdirinya Masjid Cheng Ho. Selain Surabaya, Semarang, dan Palembang. Muhammad Cheng Ho adalah seorang pahlawan Muslim dari Negara Tiongkok yang melakukan ekspedisi pelayarannya hingga ke Indonesia.

Ia membawa serta lebih kurang 27.000 anak buahnya selama tujuh kali dalam kurun waktu tahun 1416. Kedatangannya disambut baik oleh raja-raja di Indonesia. Ia juga mempunyai peranan penting dalam penyebaran agama Islam di Nusantara.

Beberapa daerah yang menjadi jalur pelayaran Cheng Ho dibangun Masjid berarsitektur khas Tiongkok di dalamnya. Hal ini untuk mengenang perjalanannya yang pernah menjejak di bumi Indonesia.

Desain Masjid yang tidak biasa menjadi pemandangan menarik bagi siapa saja yang melihatnya. Dibuat dengan gaya bangunan ala Negeri Tirai Bambu. Bagian atapnya tidak berbentuk kubah melainkan lebih mirip pagoda sebagaimana yang sering terlihat pada desain rumah ibadah umat Buddha.

Warna yang digunakan hampir keseluruhannya diolesi dengan merah pekat. Beberapa ornamen kaligrafi berbentuk lingkaran diselipkan pada temboknya. Di selasar kiri Masjid terdapat sebuah beduk merah berukuran lebih kecil dari biasanya yang dipasang tergantung.

Masjid ini sudah dua tahun berdiri tepatnya tanggal 21 Februari 2015 yang diresmikan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya. Namun, belum banyak warga Batam yang mengetahui keberadaannya. Minimnya publikasi serta lokasinya yang berada di kawasan pesisir Pulau Batam dan melewati banyak persimpangan membuat Masjid ini sedikit sulit ditemukan.

Namun, beberapa wisatawan tampak bertandang ke Masjid nan unik ini. Tentu saja mereka tidak ingin melewatkan berswafoto di depannya. Ya, bentuknya yang unik serta warnanya yang mencolok Masjid ini menghasilkan gambar yang bagus saat difoto.

White Sands Island, Serasa di Pulau Pribadi

Cantiknya Pulau Beralas Pasir

Jika berbicara mengenai pantai di Pulau Bintan umumnya ingatan orang akan tertuju pada Trikora yang merupakan pantai favorit warga setempat. Namun masih ada pantai yang tak kalah menarik dengan hamparan pasir putih halus bertekstur tebal dan gembur. Pantai ini masih berada di wilayah perairan yang sama. Hanya saja terletak di pulau terpisah namun masih bernaung di gugusan Kepulauan Bintan. Banyaknya tumpukan pasir di pantai tersebut sehingga pulau ini dinamakan dengan Pulau Beralas Pasir atau White Sands Island.

Pulau Beralas Pasir merupakan pulau kecil yang memiliki luas satu setengah kali lapangan sepakbola. Pulau ini dikelola secara profesional oleh swasta. Di dalamnya terdapat berbagai fasilitas yang memanjakan aktifitas berlibur bagi wisatawan, mulai dari penginapan, kafe, hingga sport water.

Adapun fasilitas yang dapat dinikmati di pulau mungil ini yaitu kayaking, voli pantai, hammock, ayunan, dan pondok-pondok cantik tempat bersantai. Selain itu terdapat beberapa meja bulat dan kursi berwarna putih yang beralas pasir tepat di bawah rimbun pepohonan tak jauh dari kafe. Suasananya terkesan romantis.

Tidak semua lahan di pulau ini dimanfaatkan sebagai lokasi wisata. Hanya sebagian saja, tepatnya di ujung pulau. Sebagiannya lagi masih ditumbuhi habitat mangrove namun masih beralaskan pasir putih. Saat pertama kali memasuki pulau ini dengan menggunakan speed boat maka akan terlihat jelas hamparan pasir putih yang dikelilingi lautan berwarna hijau tosca. Beningnya laut di sekitar pulau menambah cantik panorama di pulau ini.

Gemburnya pasir putih yang mengalasi pulau ini bisa membenamkan kaki. Namun tidak perlu khawatir, karena tetap aman saat melintasi hamparan pasir di atasnya. Dari tempat berlabuhnya speed boat menuju pondok atau kafe di atasnya berjarak sekitar 25 meter, yang juga merupakan lebar dari pantai tersebut. Sungguh memuaskan beraktifitas di atasnya.

Posisi pantai yang terletak di ujung pulau menyuguhkan banyak pilihan spot untuk menikmati pantai. Mulai dari sisi kanan, kiri, dan ujung pulau. Di tengah-tengahnya ditumbuhi pepohonan besar yang dipasang hammock di celah-celahnya. Bak suasana di hutan, namun jarak antar pohon terlihat jarang-jarang dan beralaskan pasir putih. Semua sisi memiliki fasilitas yang bisa dinikmati.

Di Pulau ini juga terdapat habitat penyu. Jika sudah mendengar hewan penyu yang berhabitat di suatu pulau biasanya identik dengan keindahan alam lautnya. Ya, penyu-penyu ini seolah memberitahu bahwa pesona laut di sini sungguh menawan. Tidak banyak memang penyu yang bertelur di sini. Namun cukup memberikan suguhan yang berkesan bisa melihat tukik-tukik atau anak-anak penyu yang berlarian menuju laut. Penyu-penyu yang bertelur di sini dirawat oleh pengelola pulau hingga masa pelepasan ke laut.

Menuju Kesana

Pulau Beralas Pasir bisa ditempuh dari Kota Tanjungpinang dengan lama perjalanan sekitar satu jam. Bagi yang melalui pelabuhan di Tanjunguban bisa juga ditempuh dengan jarak yang tidak jauh berbeda. Saat menuju pos keberangkatan menuju Pulau Beralas Pasir nantinya akan melintasi pesisir Pantai Trikora.

Pulau ini merupakan milik pribadi yang dikelola untuk umum. Masuk ke dalamnya dikenakan biaya sebesar Rp. 150 ribu per orang. Biaya tersebut belum termasuk biaya penginapan. Sebelum menyeberang ke pulau cantik ini, terlebih dahulu wisatawan diharuskan berkumpul di pos keberangkatan yang terletak di salah satu sudut Pulau Bintan.

Pos keberangkatan ini juga sebagai tempat pembelian tiket masuk. Semua wisatawan akan diberikan life jacket sebelum menaiki speed boat berkapasitas tujuh orang.

Dari pelabuhan keberangkatan saja sudah bisa dinikmati beningnya air laut yang dipagari pepohonan dan bebatuan granit. Dari sini juga sudah bisa terlihat Pulau Beralas Pasir yang tampak mengecil di ujung sana. Jarak tempuh menuju Pulau Beralas Pasir dari pos keberangkatan ini adalah sepuluh menit dengan menggunakan speed boat.

Transit Singapura Sebelum Pulang

Di Masjid Sultan Singapura

Penampakan gedung-gedung pencakar langit terlihat rapi dari dari ketinggian. Panorama kota yang tertata sangat apik. Hamparan hijau rumput pun terlihat indah. Pesawat yang aku naiki masih terbang di udara. Menuju Singapura.

Pesawat mendarat di Bandara Changi, salah satu bandara tersibuk di dunia. Canggih sekali negara ini. Padahal luasnya tak jauh berbeda dengan Pulau Batam. Singapura merupakan salah satu negara mungil yang masuk dalam 10 besar negara terkaya di dunia. Negara ini pernah menjadi bagian dari Malaysia.

Tujuan pertamaku tentu saja Merlion, patung singa yang menjadi kebanggaan Singapura. Aku menggunakan MRT dari bandara Changi. Akses menuju dari satu tempat ke tempat lainnya sungguh mudah di sini. MRT menghubungkan semua tempat di Singapura, seperti pelabuhan, terminal bis, bandara, hingga tempat-tempat wisata. Tidak perlu takut tersesat. Rajin-rajinlah bertanya. Meski penampilan warga Singapura terkesan cuek namun sebenarnya mereka sungguh ramah saat diajak ngobrol.

Aku menuju Stasiun City Hall, jarak terdekat ke Merlion. Sesampainya di staisun City Hall aku meneruskan dengan berjalan kaki untuk menuju Merlion. Bagi yang tidak terbiasa berjalan kaki mungkin akan cukup melelahkan. Stasiunnya memang cukup luas. Namun, jalur ini merupakan yang terdekat jika dengan berjalan kaki. Perjalanan akan dimanjakan dengan melintasi tempat-tempat menarik.

Akhirnya aku bisa melihat ikon Singapura yang selama ini hanya dilihat melalui gambar. Patung Merlion berdiri gagah sembari menyemburkan air dari mulutnya. Tempat ini selalu dipenuhi wisatawan dari mancanegara, khususnya Asia Tenggara. Padahal patung ini terlihat biasa saja. Hm. Kreatifitas Singapura dalam mempromosikan pariwisatanya patut diacungi jempol. Berhasil membuat orang-orang di seluruh dunia penasaran untuk melihatnya secara langsung.

Patung ini berada di tepi teluk. Di sekelilingnya, tampak mencolok gedung-gedung menjulang yang berdiri berdekatan. Tepat di seberang teluk sana tampak gedung unik yang sangat populer. Tiga gedung tinggi yang menopang bangunan berbentuk kapal di atasnya. Tempat ini dikenal dengan Marina Bay.

Gedung ini sering menjadi sasaran kamera fotografer. Sementara di sisi kiri, tampak bangunan berbentuk setengah durian bernama Esplanade. Ini merupakan gedung teater.

Di dekat patung Merlion ini terdapat jasa perahu wisata yang bisa dimanfaatkan untuk mengelilingi teluk nan luas tersebut. Di dekatnya lagi tersedia resotoran yang dapat meredakan rasa lapar.

Rasa penasaran terhadap patung berkepala Singa bertubuh ikan itu pun telah terlampiaskan. Selanjutnya, aku akan menjelajahi kota di negara imut ini. Ada dua kawasan populer yang seering menjadi incaran wisatawan:s Little India dan China Town.

Little India, sebagaimana namanya tempat ini memang dominasi etnis keturunan India. Untuk menuju Little India lebih praktis menggunakan MRT. Ada dua stasiun yang berada di dekat di kawasan ini yaitu Stasiun Little India dan Quay Park. Namun stasiun yang lebih dekat di pusat Little India justru stasiun Quay Park. Pada peta jalur MRT kedua stasiun ini ditandai dengan warna ungu.

Hampir semua perdagangan di sini dikuasai warga keturunan mereka. Mulai dari pemilik toko, rumah makan, sampai pengemisnya. Toko-toko musik seringkali menyetel musik-musik India, membuat seakan benar-benar berada di Negeri Taj Mahal.

Tidak sedikit etnis India beragama Islam di sini. Sehinga bisa dengan mudah untuk menemukan tempat makan halal. Terdapat juga Masjid Mangolian di tengahnya, persisi di pinggir jalan utama.

Setelah city tour di Little India aku beranjak menuju China Town. Stasiun pemberhentian di China Town memiliki nama sama, Stasiun China Town. Pada peta stasiun ini ditandai dengan warna hijau. Meski Singapura secara umum didominasi etnis Tionghoa, namun berada di China Town akan menemukan suasana kampung China yang lebih detail.

China Town sengaja dikonsep untuk wisatawan. Pedagang kaki lima berjejer teratur memenuhi salah satu jalan. Pusat kuliner yang bersih dan luas. Tetapi tentu saja meski waspada soal makanan halal. Kawasan yang terlihat seperti taman ini merupakan tempat favorit untuk bersantai.

Uniknya, di kawasan China Town ini terdapat asebuah sebuah kuil milik umat Hindu yang berdiri megah. Kuil ini dijadikan destinasi bagi wisatawan. Memasukinya harus melepas alas kaki dan dilarang membawa kamera. Jika sedang panas terik jangan coba-coba menginjak lantai bagian luarnya, karena kaki terasa seperti terbakar.

China Town menjadi destinasi terakhir dalam lawatanku di Negeri Mini ini. Juga akhir dari lawatan penuh menempuh Asia Tenggara. Aku tidak menginap di Singapura, mengingat waktu cuti yang akan segera habis. Mengunjungi tempat-tempat tersebut dalam satu hari memang memungkinkan, karena selain jaraknya yang tidak terlalu jauh, juga akses transportasi yang sangat memudahkan dalam bepergian.

Hari beranjak senja. Aku kembali menaiki MRT, menuju stasiun Harbour Front, stasiun yang berada di dalam mal Vivo City, menyatu dengan pelabuhan internasional yang menuju Batam, Tanjungpinang, dan Karimun. Aku menuju loket penjualan tiket di lantai tiga. Ada sekitar empat agen tiket feri cepat di sini. Aku membeli tiket tujuan seharga SGD 29.

Usai membeli tiket, aku langsung menuju pos pengecopan paspor. Berbaris antri. Lalu turun ke lantai dasar menuju ruang tunggu. Ramai penumpang duduk menanti di sini. Didominasi wajah-wajah Indonesia.

Petugas pelabuhan menginformasikan kapal feri akan segera berangkat. Aku bergegas menuju antrian boarding pass. Lalu berjalan menyusuri koridor pelabuhan sepanjang 200 meter untuk tiba di ponton tempat bersandar feri. Suasana di luar telah berubah gelap. Malam menjelang. Feri berjalan perlahan meninggalkan Singapura.

Feri tidak terisi penuh, hanya sepertiga penumpang. Sepi sekali di dalam ruangan. Penumpang lain memilih duduk di dek atas feri sambil menikmati panorama gedung-gedung pencakar langit Singpura yang berkilau di malam hari. Aku memilih merebahkan tubuh di dalam ruangan ber-AC nan nyaman. Meredakan rasa lelah setelah seharian menguras energi. Lelah bercampur nikmat.

40 menit kemudian feri tiba di Pulau Batam. Akhirnya tiba di negeri tercinta, Indonesia. Tak sabar rasanya ingin sampai di rumah. Dari ponton pelabuhan aku masih harus berjalan menyusuri koridor sepanjang 100 meter untuk tiba di pos pengecopan paspor.

Stempel imigrasi berhasil mendarat di pasporku. Rasa lelah bercampur nikmat masih aku rasakan. Aku keluar dari terminal feri, berjalan keluar mencari ojek. Malam semakin larut. Seorang tukang ojek menghampiriku sambil berkata, “Mau cari penginapan, Mas?”

Awal Baru di Johor Bahru

Pelabuhan Stulanglaut tampak masih hidup dipenuhi para pekerja dan pendatang yang memasuki Malaysia. Setelah berjalan sejauh 30 meter dari tempat bersandarnya feri, aku tiba di antrian pemeriksaan paspor. “Nak buat apa kat sini?” tanya petugas imigrasi. “Transit to Thailand,” jawabku singkat. Ia merespon mengangguk pelan. Tanpa berceloteh panjang petugas tersebut langsung menempelkan cop di pasporku.

Banyak sekali konter pemesanan taksi di kawasan pelabuhan ini. Usai sholat Maghrib di musola pelabuhan, aku berjalan santai sambil meraba-raba suasana di negara yang baru pertama aku jejaki ini.

Aku memutuskan untuk memanfaatkan jasa taksi di dalam pelabuhan. Malam hari. Menjejali daerah baru seorang diri. Aku mesti berantisipasi. Taksi melaju membawaku ke kawasan JB City (Johor Bahru City). Ragam penginapan terdapat di sini.

Sebuah hostel bernama Hongkong menjadi pilihan tempat menginap malam ini. Posisinya tidak berada di sisi jalan utama, melainkan pada jalan bagian dalam, dekat persimpangan. Memasuki hostel tersebut harus menaiki anak tangga yang menuju ke lantai dua. Tarif permalam 35 ringgit. Aku rasa ini tarif termurah dari semua penginapan yang ada di sini.

Lelah. Perjalanan lintas negara membelah lautan sepulang dari kantor tanpa istirahat mengharuskanku untuk segera merebahkan tubuh sesaat setelah membersihkan diri dan mengisi perut.

Selamat pagi, Johor! Sebelum mentari menampakkan dirinya, aku bergegas keluar menghirup aroma pagi di kota berjarak sepelemparan batu dari Singapura ini. Langit perlahan mulai remang. Fajar menyingsing. Aku terus berjalan menyusuri tiap sudut kawasan JB City. Tata kota di sini sungguh menarik. Terlihat bersih dengan taman-taman kecil yang menghiasinya. Bak terciprat modernitas Singapura yang dipisahkan oleh Selat Johor di seberangnya.

Aku berjalan menuju bibir pulau, bagian paling selatan dari semenanjung Malaysia. Tampak jelas bangunan pencakar langit negara Singapura di seberang sana. Di bibir pulau terdapat taman cantik, persis di pinggir jalan besar. Matahari pagi mulai menyengat. Memancarkan sinarnya ke muka bumi.

Johor Bahru terhubung jembatan besar dengan Singapura. Jembatan ini tidak menggantung sebagaimana umumnya. Tetapi menyatu jejak hingga ke dasar selat. Dipadatkan dengan pasir yang ditimbun sehingga tampak seperti daratan. Mematikan aliran air di Selat Johor yang terisolasi tanpa ada sedikitpun aktifitas pelayaran di dalamnya.

Aku duduk di tepi selat sambil memandangi padatnya arus kendaraan menuju Singapura di jembatan lintas negara tersebut. Dijejali oleh para pekerja asal Malaysia yang mengadu nasib di negara tetangga. Jarak yang sangat dekat membuat para pekerja Malaysia tidak perlu membuang biaya mencari rumah untuk tinggal di Singapura. Tentu saja merupakan keuntungan tersendiri bagi pekerja khususnya dari Johor Bahru mengingat biaya hidup di Negeri Singa yang mahal.

 

Melintas Batas Batam – Malaysia

Rute perjalanan darat di Asia tenggara

Jarum jam menunjukkan pukul lima pagi. Aku beranjak dari tempat tidur, bersiap menuju kantor, hari terakhir bekerja sebelum memulai perjalanan panjang. Sore nanti, sepulang dari kantor aku akan bertualang keliling Asia Tenggara.

Hari ini terasa bersemangat. Sehingga tidak terlalu fokus menjalani pekerjaan. Pikiran terbagi dengan perjalanan yang akan dimulai sore nanti. Semua rekan di kantor tidak ada yang mengetahui rencana perjalanan nekad ini. Sengaja aku tidak menceritakannya karena tidak ingin ada suara-suara yang membuyarkan niatku. Aku ingin menikmati perjalanan nanti.

Jarum jam terus berputar. Jam pulang kantor hampir tiba. Aku meminta izin kepada rekan kantor untuk pulang tepat waktu. Tidak seperti biasanya ketika jam kantor berakhir, masih ada sisa pekerjaan yang harus diselesaikan. Setelah berpamitan, aku menyempatkan sejenak menyentuh facebook dan meninggalkan sebuah kalimat, “Petualangan Dimulai!”.

Dengan sedikit berlari, aku hampiri tukang ojek di pangkalan seberang kantor yang telah aku pesan. Sebelum ke pelabuhan, aku mampir sejenak ke rumah untuk berganti pakaian dan mengambil ransel. Aku meminta tukang ojek untuk mempercepat laju kendaraan. Perjalanan menuju pelabuhan feri internasional di Batam Centre memakan waktu 10 menit.

Tiket feri Batam – Stulanglaut, Johor Bahru, Malaysia, sudah ditangan. Aku membelinya saat istirahat jam makan siang kantor tadi. Aku memasuki ruang imigrasi di pelabuhan. Setelah stempel mendarat di pasporku, kemudian menuju ruang tunggu menanti keberangkatan yang tak berapa lama lagi.

Ini adalah kali pertama aku menjejakkan kaki di Malaysia. Hanya bermodal nekad dan doa. Kenekadan yang timbul dari passion, yang mampu mengikis rasa takut.

Terdengar suara petugas informasi mengumumkan feri tujuan Stulanglaut akan segera diberangkatkan. Aku beranjak dari kursi dan turut berbaris antri dengan penumpang lainnya di pintu pemeriksaan tiket. Langkah kaki kuayunkan melintasi koridor sepanjang 200 meter menuju ponton, tempat feri bersandar.

Penumpang feri kali ini tidak terlalu ramai. Terisi sepertiga dari total bangku yang tersedia. Tampak beberapa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di dalamnya. Mereka berbincang akrab dengan logat medok sambil tertawa riang. Senang sekali rasanya mendengar keceriaan mereka. Karena selama ini aku hanya melihat kisah-kisah tragis yang dialami teman-teman mereka yang disiarkan melalui media. Perasaanku saat ini serupa dengan keriangan mereka yang duduk dikursi belakangku.

Sore nan cerah berganti remang yang kemudian redup menghadirkan kegelapan di luar sana. Aku masih duduk manis di dalam feri. Semarak cahaya lampu berwarna kuning terlihat dari balik jendela feri. Lampu-lampu itu milik berbagai perusahaan seperti galangan kapal, kilang minyak, dan sejenisnya yang saling berdekatan. Feri melintas di sisi negara Singapura, yang pernah menjadi bagian dari negara Malaysia.

Aroma tanah Malaysia semakin jelas tercium. Feri mulai merapat di pelabuhan Stulanglaut. Rupiah di saku celana seakan pudar tak bernilai. Lidahku tak begitu kaku untuk menyesuaikan dengan logat negara Melayu ini karena sedari kecil tumbuh dan besar dengan logat serupa di Pulau Kundur. Kaki kananku melangkah keluar dari pintu feri dan untuk pertama kalinya menginjak tanah yang masih satu daratan dengan benua Eropa ini. Assalaamualaykum, Malaysia!

Petualangan Dimulai!

Membayangkan berkelana ke negeri orang adalah kenikmatan tersendiri. Merasakan hidup di lingkungan aku tak paham berbahasa. Rupiah menjadi tak berharga. Adat kebiasaan yang tak lazim kujumpa. Merasakan hal baru nan berbeda dengan sensasi tak biasa.

Impian ini sudah lama terpendam. Semenjak kecil, setiap membaca majalah langgananku yang mengulas tentang kehidupan di luar negeri, aku senantiasa larut dalam apa yang kubaca. Seakan sedang berperan dalam bacaan tersebut. Seolah sudah berada di negeri orang.

Ketika menjadi seorang karyawan swasta di Pulau Batam, terbesit keinginan untuk mencoba menjajal negeri seberang yang berjarak dekat, Malaysia. Mengamati peta dengan seksama. Aku dapati negeri jiran tersebut berbatasan langsung dengan Thailand. Lalu, muncul hasrat untuk menembus batas negara yang jaraknya setara Jakarta-Jogja itu.

Aku mencari informasi akses lintas negara tersebut. Selama ini, yang ada di pikiranku adalah batas-batas negara itu memiliki akses yang tak mudah. Sempat berpikir, tidak ada transportasi yang melintas di wilayah perbatasan. Namun, setelah mengulik berbagai informasi dari dunia maya, melihat catatan para pejalan yang pernah melakukan perjalanan darat lintas negara, keraguanku selama ini terdobrak. Ternyata, tidak sulit untuk berpindah negara. Bahkan, tersedia transportasi umum yang melayani rute beda negara.

Mengetahui kemudahan akses lintas negara tersebut, hasratku yang semula hendak mengunjungi Malaysia saja, jadi melebar ke negara-negara di sebelahnya yang terhubung daratan. Rasa penasaran masih menggelayut di benakku. Tidak cukup Thailand, aku pun mencari tahu akses menuju negara di sebelahnya lagi, Laos.

Setelah berselancar di dunia maya, informasi yang sama juga aku dapatkan, akses menuju Laos tidak begitu sulit. Hanya membutuhkan tambahan visa. Bersyukur bisa sistem Visa on Arrival (VoA). Membuat visa tidak perlu repot-repot di Kedutaan Besar negaranya, tetapi bisa dilakukan langsung ketika tiba di imigrasi, saat memasuki negara tersebut. (Sekarang masuk Laos tidak membutuhkan visa lagi)

Entah mengapa, aku semakin tertantang untuk mencari tahu akses ke negara-negara selanjutnya yang masih berada di wilayah Asia Tenggara, mengingat sebagian besar negaranya dapat diakses tanpa Visa. Sekadar membawa paspor. Meskipun, ada beberapa yang memberlakukan visa, tetapi pengurusannya tidak memberatkan. Karena menerapkan sistem VoA.

Aku mengintip negara apa gerangan di sebelah Laos. Aha, Vietnam! Kembali aku berselancar di dunia maya mencari tahu akses menuju negara Paman Ho itu. Masih sama, informasi yang aku dapatkan untuk menembus Vietnam ternyata mudah.

Membaca pengalaman para pejalan yang mengurai lengkap disertai foto-foto tentang perjalanan mereka menuju Vietnam. Senyumku semakin mengembang. Harapan untuk melintasi negara-negara Asean semakin terbuka lebar. Tidak sabar rasanya untuk merasakan perubahan bahasa, budaya, dan adat kebiasaan di berbagai negara. Ini kesenanganku.

Aku mulai merancang rencana perjalanan. Semua informasi aku kumpulkan, sebulan sebelum keberangkatan. Hal pertama yang aku lakukan adalah membeli tiket pesawat Vietnam-Singapura. Aku membelinya di agen tiket di Batam. Ini untuk menguatkan niatku yang terlanjur membara.

Jadi, dengan adanya tiket di tangan, maka segala keraguan diharapkan bisa ditepis. Apalagi, harga tiket tersebut terbilang di atas satu juta. Sehingga meminimalisir kemungkinan pembatalan. Karena aku akan berpikir dua kali untuk menghanguskan tiket tersebut.

Selain mengurus pembelian tiket, persiapan lainnya yang aku lakukan adalah mengajukan cuti dari kantor. Lalu, mempersiapkan barang-barang penting. Bertanya sana-sini kepada orang-orang yang sudah berpengalaman, baik di dunia maya maupun nyata.

Perjalanan ini masih sebulan lagi. Namun, yang terlintas dibenakku adalah perasaan bahagia.