15 Hari Jelajah Asia Tenggara – OpenTrip

Jelajah Asia Tenggara lewat Darat

Asia Tenggara merupakan wilayah geografis yang ditempati oleh Indonesia. Di dalamnya terdapat 11 negara yang juga sering disebut dengan negara-negara Asean. Beberapa negaranya terletak satu daratan yang saling terhubung seperti Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Meski Indonesia berada di pulau terpisah dengan negara-negara tersebut, namun karena kesamaan letak geografis sehingga cukup mudah untuk menjangkaunya. Bahkan, beberapa negaranya yaitu Singapura dan Malaysia bisa ditempuh kurang dari satu jam dari Indonesia, khususnya dari wilayah Provinsi Kepri dengan menggunakan feri cepat.

Penulis sudah melakukan perjalanan menjelajahi negara-negara tersebut sebanyak dua kali. Pertama, melakukannya seorang diri atau solo backpacker. Perjalanan kedua, penulis melakukannya bersama istri setelah menikah. Rute negara yang dilalui pada dua kali pengalaman tersebut adalah sama yaitu Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Hanya saja, lintasan jalur yang dilewati berbeda. Saat pertama, penulis melintasi jalur tengah dengan melewati Vientiane, ibu kota negara Laos. Sedangkan perjalanan kedua, penulis memilih jalur utara dengan melintasi Chiang Mai, Chiang Rai, dan Luang Prabang.

Bagi Anda yang juga ingin merasakan sensasi perjalanan melintasi empat negara berbeda dengan melalui jalur darat atau menggunakan bus, penulis memberikan kesempatan dengan mengadakan Open Trip. Nantinya penulis akan memandu perjalanan sebagaimana yang pernah penulis lakukan sebelumnya. Silakan hubungi 085292311441 (lihat poster).

Selangkah Menuju Tiongkok

Di ruang tunggu bandara No Bai Hanoi, Vietnam

Hari terakhir di Hanoi. Hari terakhir pula petualangan menempuh Asia Tenggara hinggaVietnam Utara tanpa pesawat ini. Selesai sudah perjalanan darat. Hari ini aku akan menuju Singapura menggunakan pesawat.

Pukul enam pagi. Aku bergegas mandi. Berkemas barang lalu check out. Berpamitan pada Brandon yang masih tinggal di hostel ini semalam lagi. Aku menuju lantai bawah. Menyelesaikan pembayaran kepada resepsionis sebesar USD 15 untuk tiga malam.

Aku melangkah keluar dari hostel. Menuju pool bis bandara dengan berjalan kaki. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini. Pool bis bandara terletak di persimpangan dekat kantor Vietnam Airlines, Jalan Quang Trung. Tanyakan saja kepada warga setempat untuk mencari keberadaannya, karena sudah dikenal warga sini.

Beberapa bis bandara tampak terparkir di depan kantornya. Pool ini memang berada di bahu jalan, namun luasnya cukup lebar sehingga tidak mengganggu bagi pejalan kaki yang melintasi trotoar. Bis ini sejenis minibus. Berukuran sedang berkapasitas 15 orang. Aku membeli tiket bis pukul delapan pagi. Tiket bus dibanderol sebesar USD 2. Jadwal keberangkatan bis setiap satu jam, selain jam tujuh pagi. Bus pertama berangkat jam enam pagi. Entah kenapa bus tidak beroperasi pada jam 7 pagi, mungkin pada jam tersebut rawan macet.

Tepat pukul delapan pagi bis meninggalkan Old Quarter. Menuju Bandara No Bai. Membelah pagi yang masih berselimut kabut. Penumpang terisi penuh. Perjalanan menuju bandara memakan waktu 45 menit.

Setibanya di bandara, aku langsung menuju konter check-in. Menyerahkan paspor dan lembaran tiket yang aku dapat dari agen travel di Batam. Petugas tersebut hanya mengambil pasporku. Tiket yang aku berikan tadi ditolaknya. Ternyata ia hanya butuh data di paspor saja untuk mencocokkan dengan data di komputer sistem informasi di komputernya.

Usai check-in aku langsung menuju pos pengecopan paspor. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Aku menanti di ruang tunggu. Pesawatku terbang pukul sebelas siang nanti. Waktu tersisa ini aku manfaatkan dengan berbincang warga Jepang yang duduk di depanku.

Tak lama kemudian, terdengar suara informasi yang menandakan pesawat akan segera berangkat. Aku berbaris antri untuk melewati pemeriksaan boarding pass. Sekejap lagi aku akan meninggalkan negeri Paman Ho ini. Menuju negeri Paman Lee, Singapura.

Mengelilingi Old Quarter

Suasana Old Quarter, Hanoi

Hari kedua di Hanoi. Tidak ada rencana khusus mau kemana hari ini. Sekadar ingin jalan-jalan keliling di kawasan Old Quarter. Go show saja. Banyak tempat-tempat menarik di sini yang belum aku sambangi. Sebagian besar spot wisata di Hanoi ada di sini. Tidak cukup menjelajahinya dalam sehari, mengingat arealnya yang luas dan banyak persimpangan.

Jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku turun ke lantai bawah dan memanfaatkan fasilitas internet gratis di penginapan ini. Mencari ragam informasi yang aku butuhkan. Seperti danau hoan kiem, jembatan merah, dan kantor KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia). Daftar terakhir itu menjadi salah satu tujuanku karena bermaksud ingin mempertanyakan tentang rupiah yang tidak laku di sini. Aku berharap bisa menemukan jawaban.

Setelah semua informasi terkumpul aku pun mulai berjalan ke luar. Melihat kehidupan warga Hanoi di kawasan tua yang menjadi rumah para wisatawan ini. Jumlah sepeda motor terlihat mendominasi di sini. Suara klakson terdengar sering, saling bersahutan. Meski begitu, lengkingan klakson ini tidak menimbulkan emosi para pengendara. Sepertinya mereka sudah saling memahami.

Vietnam menggunakan lajur kanan, kebiasaan peninggalan negara yang pernah menjajahnya, Perancis. Berbeda dengan negaraku yang menerapkan lajur kiri. Cukup membingungkan. Karena perlu konsentrasi saat hendak menyeberang jalan.

Tujuan pertamaku adalah kantor KJRI. Sebagaimana yang tertera di peta, untuk menuju KJRI membutuhkan dua kali belokan. Aku berjalan menyusuri trotoar. Sesekali bertanya pada warga setempat. Menurut warga setempat, aku disarankan untuk menemukan gedung berwarna merah di sisi kiri.

Aku melihat tulisan KJRI di depan tembok yang memagari gedung di dalamnya. Ya, aku sudah berada di kantor pemerintahan milik negaraku. Ternyata cukup jauh ke sini. Aku menemui seorang wanita di dalam sebuah pos ruangan yang dibatasi dengan kaca transparan. Begitu mendengar aku berbicara ia langsung bergegas ke belakang, sepertinya memanggil temannya. Lalu muncul seorang pria yang menyapaku dengan bahasa Indonesia. Ternyata wanita itu orang Vietnam. Pantas.

Aku ceritakan permasalahan yang sedang aku hadapi kepadanya. Pria tersebut merupakan sekuriti di sini. Ia mempersilahkanku masuk. Cukup luas juga kantor KJRI ini. Tamannya terlihat asri. Aku disuruh menanti di ruang tamu kecil. Di dindingnya terpajang foto-foto kebersamaan Presiden Soekarno dengan presiden pertama Vietnam, Ho Chi Minh.

Tak lama kemudian, wanita paruh baya bertubuh subur datang ke ruang tamu. Ia memberikan lembaran uang Vietnam kepadaku. Aku membalasnya dengan memberikan rupiah. Akhirnya rupiahku tertukar juga. Alhamdulillah.

Aku meninggalkan KJRI. Selanjutnya menuju danau romantis Hoan Kiem. Letaknya di pusat kawasan Old Quarter. Tidak terlalu jauh. Dari kejauhan danau ini sudah memberikan kesan yang indah. Diselimuti rindangnya pepohonan besar di sekelilingnya. Ramai orang-orang berkunjung ke sini. Danau cantik ini berada persis di sisi jalan besar. Bahu yang mengelilingi danau sangat lebar, sekitar 10 meter. Ramah bagi pejalan kaki. Dihiasi dengan taman-taman indah di sekitarnya.

Ada yang melakukan foto pra pernikahan di sini. Keindahan dan sejarah yang dimiliki danau ini sepertinya menjadi alasan mereka untuk menjadikannya lokasi pemotretan. Ada juga yang sekadar berlari-lari kecil, berolahraga. Banyak pengunjung yang datang untuk bersantai di sini. Danau ini pernah menjadi lokasi syuting film Haji Backpacker.

Di tengah-tengah danau agak menjorok ke ujung, terdapat sebuah pulau kecil seluas dua kali lapangan badminton. Di atas pulau tersebut berdiri sebuah kuil. Kuil ini bisa dikunjungi oleh wisatawan. Untuk menuju ke sana melalui sebuah jembatan yang berbentuk melengkung. Jembatan ini berwarna merah. Seperti pernah melihatnya. Ternyata ini adalah jembatan merah atau red bridge yang ada dalam list kunjunganku tadi. Oalah!

Memasuki pulau kecil ini membayar tiket masuk sebesar 10.000 dong. Jalan masuknya agak sempit, serupa gang. Di depannya ada ruang terbuka yang tersedia bangku berbahan batu alam untuk bersantai. Di sampingnya terdapat ruang kecil seperti kios yang menjual aneka souvenir. Berada di kuil ini seperti di pedesaan Tiongkok jaman dulu.

Hari beranjak siang. Perutku mulai berbunyi, minta diisi. Aku mencari Restoran Nisa, tempat makan halal lain di Old Quarter. Tidak mudah untuk menemukan keberadaan restoran ini. Cukup lama mencari restoran milik warga Malaysia ini. Sebenarnya restoran ini tidak jauh dari Danau Hoan Kiem. Hanya saja, bentuknya yang mungil dan tertutup sedikit pepohonan hias membuat sedikit susah untuk menemukannya.

Aku memasuki Restoran Nisa, naik ke lantai dua. Selain makanan Malaysia, sebagian menunya ternyata Indonesia banget. Dan aku memilih makanan dan minuman paling standar, nasi goreng dan teh manis. Eits. Tapi ternyata harganya tidak sestandar menunya. Nasi goreng .80.000 dong. Ya, itu memang masih dalam bentuk dong. Jika dirupiahkan, 40.000 rupiah. Tetap saja mahal!

Ya sudahlah. Pasrah saja. Isi dompet masih mencukupi. Ini bukan tipuan pedagang yang mempermainkan harga saat hendak membayar. Aku memang sudah mengetahui harganya yang tercantum di daftar menu.

Usai makan siang, aku mencari masjid. Di Old Quarter ini terdapat masjid tua yang populer di kalangan wisatawan Muslim. Untuk memanfaatkan ojek yang ngetem di pinggir jalan untuk menuju ke sana. Tidak mudah berkomunikasi dengan tukang ojek, terkendala bahasa. Aku sudah mengantisipasi kemungkinan seperti ini.

Aku mengambil pena dan secarik kertas kemudian menggambar kubah masjid. Aku gambarkan sebuah kubah Masjid. Lalu kuperlihatkan gambar tersebut kepada tukang ojek dengan dibantu sedikit bahasa tubuh. Ia langsung mengangguk paham. Aku langsung naik, berbonceng di belakangnya. Tarifnya 30.000 dong.

Tak lama kemudian ojek itu menurunkanku di suatu tempat, di sisi jalan. Aku masih meraba-raba tempat apa ini. Ruko tua berjejer di sini, aktifitas terlihat riuh. Sebelah kiriku ada tembok setinggi tiga meter. Di balik tembok terdapat pohon besar, daunnya keluar melampaui pagar, rindang menutupi langit. Aku masih belum tahu keberadaan Masjid.

Aku datangi salah satu ruko terdekat untuk menanyakan keberadaan Masjid. Spontan ia langsung menunjuk ke arah tembok tinggi tadi. Ternyata tadi aku berdiri di depan Masjid. Ia menyarankan agar memasukinya dari pintu samping karena gerbang utama telah dikunci. Masjid ini sulit ditebak jika melihatnya dari sisi luar tembok karena terhalang oleh rimbunnya dedaunan pohon.

Pukul dua siang. Aku memasuki Masjid, menjamak dua waktu sholat: Dzuhur dan Ashar. Ini merupakan kemudahan beribadah bagi seorang musafir (sedang dalam perjalanan). Dilihat dari fisiknya, Masjid ini sepertinya sudah tua. Ruang sholat di dalam tidak terlalu luas, namun terasa nyaman. Beranda Masjid sama luasnya dengan bagian dalam. Seorang wanita warga setempat tampak menyapu halaman Masjid.

Waktu beranjak sore. Aku kembali menuju hostel. Sebagaimana di peta, jalan menuju hostel cukup ditempuh dengan berjalan kaki. Namun, di tengah perjalanan hujan turun deras. Aku berteduh di depan sebuah ruko. Khawatir hujan turun terlalu lama, aku mencari yang menjual jas hujan dengan bertanya pada toko di dekatku. Tidak ada yang menjualnya.

Aku berdiri pasrah, menanti hujan reda. Tiba-tiba terlihat olehku pedagang keliling yang menjual jas hujan. Seorang wanita paruh baya beperawakan mungil. Aku tanyakan berapa harga jas hujan tersebut. Ia memperlihatkan digit-digit angka melalui kalkulator yang dibawanya. Sepertinya ia sudah hafal dengan kondisi daeraeh ini yang dipenui wisatawan mancanegara, sehingga hal-hal semacam itu sudah dipersiapkan olehnya.

Ia menawarkan harga yang tidak masuk diakal. Mahal sekali untuk ukuran jas hujan yang berbahan kantong kresek tipis itu. Terlebih lagi, persediaan uangku pas-pasan. Aku coba tawar hingga mendapatkan harga yang pas. Aku membeli satu.

Aku melanjutkan perjalanan menuju hostel sambil ditutupi jas hujan. Namun, baru beberapa langkah hujan reda seketika. Sukurlah aku tidak gegabah membeli jas hujan itu dengan harga awak yang selangit. Aku masukkan jas hujan ke dalam tas dan meneruskan perjalanan pulang.

Aku tiba di hostel. Matahari masih tampak di ufuk barat. Tubuhku terasa lelah. Tanpa sadar aku tertidur pulas di atas kasur. Hingga tak terasa jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam, aku terbangun. Rasanya tidak memungkinkan lagi mencari tempat makan halal langgananku, dipastikan sudah tutup. Sukurlah masih ada stok makanan untuk menambal perut. Lumayan mengenyangkan.

Hello, Bangkok!

Seketika aku tersadar dari tidur. Nyaman sekali tidur di dalam bis tingkat ini. Pagi masih gelap-gelap remang. Mentari belum menampakkan dirinya. Hamparan sawah di luar sana membuat hati terasa tentram memandangnya. Sesekali tampak pabrik industri yang dipugar tembok tinggi, diapit oleh rumah-rumah penduduk yang terlihat jarang.

Tak ada Bedul di samping kursiku. Kami berpisah di Phuket. Masa cutinya yang akan segera berakhir mengharuskan Bedul untuk kembali ke Indonesia. Aku kembali melanjutkan perjalanan seorang diri.

Aku menunaikan sholat Subuh yang masih tersisa. Bersuci sebelum sholat dengan menempelkan kedua telapak tangan ke bodi samping bis untuk mendapatkan percikan debu sebagai pengganti air. Mengoleskannya pada wajah dan kedua lenganku. Aku sholat sambil tetap duduk di atas kursi, mengikuti kemana bis berjalan. Kalimat syukur dalam bacaan Alfatihah aku lafazkan dengan penuh khusyu. Mensyukuri nikmat perjalanan ini.

Penampakan sawah tak lama kemudian berganti dengan jejeran gedung pencakar langit. Bis berjalan melintasi jalan layang, panorama kota metropolitan terlihat jelas. Macet. Para pekerja mulai berktifitas, berlalu lalang memenuhi. Penuh sesak. Aku tiba di Ibukota Negara Thailand. Sawadeeka Bangkok!

Bis masih berjalan membelah kota metropolitan ini. Jalanan tampak lebar, mulus dan bersih. Gedung-gedung nan menjulang tinggi menjadi pemandangan yang biasa di sini. Sekilas mirip Jakarta. Hanya saja, perbedaannya pada jalur lintasan monorel yang berada di antara dua lajur jalan di ketinggian lima meter.

Bis tiba di pemberhentian terakhir, di sebuah tempat berbentuk lapangan cukup luas yang dialasi paving block, enak dilihat. Para pedagang kaki lima memenuhi di beberapa sudut. Sepintas terlihat seperti terminal bis di Pulogadung, Jakarta. Namun, disini lebih tertata rapi. Jarang ditemui serakan sampah. Sederhana tapi bersih.

Aku masih menerka-nerka tempat apa gerangan ini. Jauh dari kesan terminal bis, terlebih lagi hanya satu bis yang tampak di sini, itu pun bis yang aku naiki tadi. Aku mengikuti arah jalan penumpang bis yang baru turun. Melintasi jalanan kecil serupa gang yang cukup panjang. Para pedagang kaki lima memenuhi kedua sisi jalan. Keluar dari jalan kecil ini, seketika penampakan manusia menjadi lebih ramai. Aku terus mengikuti langkah kaki mereka.

Akhirnya aku mengetahui tujuan orang-orang itu. Mereka hendak menuju terminal bis. Ternyata tempat bis menurunkan aku tadi merupakan terminal lama. Terminal bis baru tampak lebih megah, mirip mal. Bangunannya besar, memiliki empat lantai. Aku memasukinya. Sembari mencari tahu informasi tujuan ke kota selanjutnya yang akan kutuju. Aku menaiki lift untuk menuju lantai teratas. Keluar dari pintu lift, deretan loket penjual tiket berjejer panjang. Di tengahnya deretan kursi berlapis besi disediakan bagi calon penumpang di ruang tunggu.

Aku merasa sedikit shock. Mataku seketika kabur melihat tulisan nama-nama kota tujuan yang terpajang di atas semua loket. Hurufnya keriting semua. Menggunakan aksara Thai. Seperti melihat coretan anak kecil saja.

Saat-saat seperti ini menuntut aku untuk memutar otak mencari solusi. Harus kreatif. Selalu saja ada menemukan ide saat berhadapan dengan kondisi terdesak seperti ini. I’ve got the idea. Kuncinya, harus tahu nama kota yang hendak dituju. Sebutkan nama kota tujuan kepada petugas loket. Soal hitung-hitungan harga bisa diselesaikan dengan kalkulator. Beres.

Aku menemukan pusat informasi turis di bagian tengah agak ke depan. Mereka mahir berbahasa Inggris. Lega rasanya. Berbagai kemudahan aku dapatkan secara perlahan. Selalu saja ada jalan keluar di setiap kenekadanku. Ternyata modal nekad seringkali berujung pada hal-hal manis yang tak terduga.

Aku berada di Bangkok sehari saja. Besoknya, aku akan melanjutkan perjalanan menuju Nongkhai, kota di Thailand yang berbatasan dengan Laos. Aku mencari tahu terlebih dahulu tentang jadwal keberangkatan bis ke kota tujuanku selanjutnya.

Aku keluar dari terminal bis Chatuchak, menelusuri sepanjang sisi jalan raya dengan berjalan kaki. Tanpa perencanaan. Aku ingin menikmati dengan bebas. Wajah Kota Bangkok serupa Jakarta. Menyeberang jalan saja harus menempuh jarak yang cukup dengan melintasi jembatan penyeberangan. Rasa penasaranku dengan tempat-tempat baru membuat aku senantiasa bersemangat.

Baru 300 meter berjalan, sebuah taman cantik di sisi kiri menarik perhatianku. Padang rumput hijau dihiasi aneka tanaman bunga nan cantik seakan menghipnotisku untuk memasukinya. Ditengah taman terdapat danau cantik yang kelilingi oleh perbukitan padang rumput hijau. Tanaman teratai menghiasi danau.

Aku berjalan menyusuri jalan selebar empat meter di dalam taman. Sembari berbincang dengan warga Thailand yang kebetulan berjalan di sampingku. Hingga bertemu dengan salah satu pintu keluar dari taman ini, tembus ke sebuah mal tepat di seberang jalan bernama JJ Mall.

Aku memasuki mal tersebut. Pria berpakaian gamis dan bersorban melintas di depanku. Ini merupakan kesempatan untuk mencari tahu tentang tempat makan halal. Aku hampiri orang tersebut. Ternyata di area foodcourt di lantai atas mal ini terdapat stan pedagang Muslim. Alhamdulillah.

Ternyata di mal ini juga terdapat fasilitas musala. Bersyukur, di negara yang minoritas Muslim ini ternyata tidak sulit untuk mencari fasilitas beribadah. Setelah makan siang, aku bergegas menuju musala. Aku larut dalam sholat. Menunaikan kewajiban yang mampu menciptakan rasa damai. Mensyukuri setiap jejak perjalananku.

Perjalanan Seru Menembus Thailand

Kota Hatyai, Thailand

Van membawaku meninggalkan Penang. Melintasi jembatan kokoh sepanjang 24 km penghubung Penang dengan Semenanjung Malaysia. Menembus batas negara. Menuju negeri Gajah Putih, Thailand. Van berkapasitas 15 orang ini sungguh nyaman sekali. Kursinya empuk mirip sofa. Bersih dan adem.

Semakin jauh dari pusat negara Malaysia, perlahan pemandangan berganti lebih alami. Dipenuhi area perkebunan sawit. Tak jauh berbeda dengan perjalanan Jakarta – Merak di Indonesia. Hanya saja, di sini lebih tertata dan aspalnya lebih bagus.

Memasuki Negeri Kedah, disuguhi suanasan kota modern yang tidak terlalu ramai. Meski tidak seramai Kuala Lumpur atau Penang, tetapi di Kedah ini kotanya terlihat maju sekali, sebagaimana kota-kota lainnya di Malaysia. Lepas dari pusat kota Kedah, penampakan kembali didominasi pepohonan hijau. Sesekali, terlihat bangunan pabrik serta perumahan penduduk.

Menembus batas negara. Melakukan proses masuk di imigrasi Malaysia kemudian berlanjut ke imigrasi Thailand. Jarak kedua imigrasi tersebut tak sampai satu kilometer, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Minivan kembali mengangkutku dan penumpang lainnya, melanjutkan perjalanan ke Hatyai.

Setibanya di Hatyai aku memilih penginapan bernama Chatay Guesthouse. Sebuah hostel sederhana yang merupakan favorit para backpacker. Selain murah, bertarif 200 baht per malam, fasilitas untuk wisatawan tersedia komplit. Seperti paket tur ke berbagai objek wisata, sewa kendaraan, hingga pembelian tiket bis bisa dilakukan di sini.

Hatyai merupakan kota kecil di selatan Thailand. Banyak sekali persimpangan jalan di sini, yang menjadi ciri khas kotanya. Angkutan umum di sini disebut tuktuk, berbentuk imut, ngepas badan. Pintu masuknya dari belakang seperti bemo.

Hostel tempat aku menginap ini lokasinya sangat strategis. Hanya berjarak 200 meter dari stasiun kereta api yang menghubungkan hingga ke Bangkok. Agen bus berjejer di ruko-ruko sekitar. Bisa ditemui dengan mudah. Tempat makan halal tak sulit untuk ditemukan. Kota ini masih berada tak jauh dari Malaysia. Pengaruh Muslim masih terasa cukup kuat di sini. Bahkan, bank besar milik Thailand bernama Islamic Bank berdiri gagah di salah satu sudut kota.

Hostel yang aku tempati berada di lantai tiga. Sementara lantai dasarnya digunakan sebagai tempat agen perjalanan wisata. Kafe mungil nan sederhana tersedia di dekat meja resepsionis. Meski sederhana namun terlihat kreatif.

Di hadapanku, seorang pria bertubuh subur sedang duduk menyeruput teh. Pria yang usianya tak jauh berbeda denganku itu sepertinya orang Malaysia. Ops! Dugaanku salah. Setelah mendengar logat bicaranya ternyata dia anak jakarte abis. Ah, senangnya bertemu saudara sekampung (baca: negara) di negeri orang.

Sama sepertiku, pria yang lebih senang dipanggil dengan Bedul juga baru tiba di Hatyai. Setelah mengobrol, diketahui kami memiliki passion yang sama, bertualang ugal-ugalan alias ngegembel. Haha. Aku mengatakan kepadanya tentang rencanaku untuk mengeksplorasi Kota Hatyai dengan berjalan kaki. Ternyata ia merespon dengan semangat. Aha!

Mengelilingi kota mungil yang penuh persimpangan ini dengan berjalan kaki memang pilihan yang menyenangkan, tentunya juga selain hemat. Si Bedul ternyata sangat handal dalam menemukan akses internet gratis. Di beberapa sudut kota ini, terutama di area fasilitas publik, terdapat layanan internet gratis yang disediakan oleh pemerintah setempat. Termasuk stasiun kereta api. Stasiun yang sungguh dekat ini menjadi incaran kami untuk berselancar di dunia maya, sembari menyempatkan update status terkini.

Menu paling nikmat di Hatyai adalah nasi goreng dan nasi kebuli. Seperti tak pernah menemukan di negeri sendiri saja saking nikmatnya nsai goreng di sini. Tekstur nasi gorengnya sejatinya serupa dengan nasi goreng kampung, tanpa dilumuri kecap. Bercampur sedikit minyak—sepertinya minyak ikan. Takaran garam dan bumbu penyedap dirasa sungguh pas sekali. Sehingga tercecap sangat nikmat di lidah, hingga piring pun licin tak bersisa.

Sementara nasi kebuli, sejatinya juga serupa dengan nasi kuning di Indonesia. Perbedaannya, dilengkapi dengan daging ayam bakar berukuran jumbo. Saking sedapnya sampai tak segan untuk menambah nasi sepiring lagi. Kedua makanan tersebut merupakan menu yang umumnya dijual oleh Muslim Thailand.

Meski bertubuh gempal, namun Bedul ternyata lebih berstamina dibandingkan aku. Saat berjalan kaki aku yang lebih sering meminta untuk beristirahat. Ia tak pernah sekalipun mengutarakan keinginan untuk rehat kepadaku. Tetap dijajal seperti apapun medannya. Ah, gembul temanku hebat sekali.

Siang berganti malam. Cahaya lampu keemasan menerangi kota Hatyai di malam hari. Bukan. Bukan waktunya untuk beristirahat. Tetapi aku dan Bedul akan segera meninggalkan Hatyai. Melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya, Krabi. Kami menuju terminal bis. Suasana terminal dipenuhi penumpang yang hendak berangkat ke berbagai kota di Thailand.

Perlahan bus berjalan meinggalkan Hatyai. Aku dan Bedul menempati salah satu ruas bangku. Wajah penumpang di dalam bis ini sulit dibedakan. Wajah orang Thailand, Malaysia, dan Indonesia identik sekali. Saat petugas bis berjalan hendak memeriksa tiket ia mengajak kami bercakap-cakap dengan bahasa Thai. Sorry, i’m Indonesia! Si Bedul menjelaskan kepada petugas tersebut.

Tepat tengah malam, kami tiba di Krabi salah satu provinsi di Thailand. Penumpang tujuan Krabi diturunkan di sisi jalan. Dekat keramaian kota. Tidak dibawa ke terminal bis mengingat posisinya cukup jauh sehingga lebih efisien diturunkan di pinggir jalan. Hujan turun sangat deras. Disertai sedikit genangan air yang merendam hingga mata kaki, di sekitar lokasi pemberhentian bis menurunkan penumpang. Malam semakin pekat. Padahal ini perjalanan perdana kami ke negara orang. Ditambah dengan bahasa yang tak kami mengerti. Tulisan negara ini yang keriting. Sempurna. Anyway, Ini kesukaan kami. Tantangan baru. The real adventure!