Serunya Keliling Aceh lewat Jalur Darat

Mampir di warung Mie Aceh Kepiting Merah, Langsa, Aceh.

Mengunjungi Aceh adalah impianku sejak kecil. Sebagai seorang pejalan tentu sangat mendambakan bisa menjejaki bumi paling barat negeri ini. Libur lebaran aku dan keluarga memanfaatkan waktu untuk mengeskplorasi bumi yang terkenal dengan sebutan Serambi Mekkah.

Perjalanan dimulai dari Medan. Kami beranjak dari rumah tepat pukul tujuh pagi. Sebelum menembus tapal batas provinsi, terlebih dahulu akan melewati tiga kabupaten dan kota di Sumatera Utara (Sumut). Pertama, Kabupaten Deliserdang. Ini merupakan kabupaten terbesar di Sumut. Letak geografisnya berada di pinggiran ibukota provinsi atau mengelilingi Kota Medan. Sehingga tidak terlalu lama untuk melintasinya. Wilayah kedua, kami melewati Kota Binjai. Kota mungil ini terlihat lebih bersih dan tertata dibandingkan Kota Medan. Perjalanan melintasi dua wilayah ini memakan waktu sekitar satu jam.

Wilayah ketiga yang kami lewati adalah Kabupaten Langkat. Kabupaten ini merupakan batas terakhir dari Provinsi Sumut. Perjalanan menempuh wilayah ini memakan waktu sekitar dua jam perjalanan. Sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan berupa pemukiman penduduk yang terlihat agak jarang. Suasana ramai hanya terlihat saat melintasi ibukotanya, Stabat, dan sebuah kecamatan tua nan bersejarah bernama Tanjungpura.

Semakin mendekati tapal batas provinsi pemandangan berganti menjadi deretan pohon kelapa sawit. Gapura perbatasan menyapa kami. Selamat datang di Provinsi Aceh. Daerah pertama yang kami masuki adalah Kabupaten Aceh Tamiang. Terlihat sekali perbedaan jenis aspal jalan saat menembus batas dua provinsi ini. Jalanan di Aceh memang terkenal lebih mulus, hanya sebagian kecil yang masih perlu perawatan. Ibukota Aceh Tamiang adalah Kualasimpang.

Selanjutnya memasuki Kota Langsa. Sebelum berstatus kotamadya, kota ini pernah menjadi bagian dari Aceh Timur, tentu saja penampakannya memenuhi standar sebuah kota, terlihat lebih maju. Di kota ini kami rehat makan siang sejenak di kawasan yang dipenuhi area pertambakan hewan seafood. Disini terkenal dengan menu mi kepiting. Beberapa pondok makan berjejer di sepanjang jalan yang mengarah ke Pelabuhan Kuala Langsa.

Mie kepiting merupakan mi aceh yang dipadu dengan kepiting rebus utuh di dalamnya. Pondok-pondok makan disini berbentuk saung, bagai rumah makan terapung, berdiri di atas tambak-tambak ikan. Suasana sekitar terlihat tenang. Riak gelombang kecil air tambak yang dihembus angin menambah syahdu suasana. Jalanan yang mulus dan bersih meski hanya selebar tiga meter turut memperindah tatanan di kawasan ini. Pemukiman sekitar terlihat sederhana, rumah-rumah berbahan kayu. Namun tidak mengurangi keindahan tempat ini.

Usai menyantap mi kepiting, perjalanan kami lanjutkan kembali. Melewati Kabupaten Aceh Timur yang beribukota di Idi Rayeuk, tanah tempat saya dilahirkan. Ya, saya menumpang lahir disini saat orangtua sedang bertugas. Namun belum genap usia saya setahun kami sudah hijrah dari kota ini. Sehingga saya tidak tahu seperti apa bentuk kota tanah tempat saya dilahirkan tersebut, setelah 20 tahun kemudian saat menghadiri suatu acara.

Dari Idi Rayeuk lalu berpindah ke Kabupaten Aceh Utara. Ibukotanya adalah Lhoksukon. Tak jauh di sebelahnya terdapat Kota Lhokseumawe yang pernah menjadi ibukota Kabupaten Aceh Utara sebelum pemekaran. Kota yang sudah berstatus kotamadya ini merupakan salah satu ladang minyak di Aceh. Sebuah perusahaan negara bernama PT. Arun berdiri megah disini, terlihat kontras memang dengan pemukiman di sekitarnya.

Kami rehat sejenak di Lhokseumawe. Mentari semakin beranjak ke peraduan. Langit terlihat masih remang meski jarum jam hampir mendekati pukul tujuh malam. Kami mengisi perut di sebuah warung kopi bergaya artistik. Saat melihat menu hanya tersedia minuman saja. Ternyata kami harus memesan makanan di gerobak-gerobak di depannya. Ya, mereka berbagi rezeki. Saat memasuki waktu Magrib warung kopi ini menutupi pintunya sesaat. Beberapa menit kemudian pintunya dibuka kembali. Ini adalah salah satu peraturan di Aceh yang harus dipatuhi pedagang ruko.

Warna langit mulai menghitam. Malam telah tiba. Perjalanan dilanjutkan kembali melintasi Kabupaten Bireun. Tidak terlihat jelas suasana di daerah ini karena tertutup gelapnya malam. Kemudian roda mobil beranjak melintasi Kota Sigli. Sebagaimana statusnya yang merupakan kotamadya tentu saja tidak jauh berbeda dengan Langsa dan Lhokseumawe. Terlihat lebih modern.

Mobil kami berhenti sejenak di jalan lintas daerah Pegunungan Seulawah yang merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Besar. Kabupaten yang beribukota di Jantho ini terletak di antara Sigli dan Banda Aceh. Ya, tidak lama lagi kami akan tiba di ibukota Provinsi Aceh. Tempat pemberhentian kami ini dipenuhi warung jajanan. Kami menyantap mie instant rebus dengan kuah khas Aceh. Jarum jam semakin mengarah ke angka duabelas malam. Tepat waktu dinihari kami tiba di Banda Aceh.

Saudara sepupu yang berdomisili di Banda Aceh menjemput kami di persimpangan jalan depan rumahnya. Kami menginap semalam di sini. Sepupu saya ini adalah keturunan Minang yang menikah dengan wanita Aceh. Usai membersihkan diri lalu kami lanjut mengistirahatkan tubuh yang cukup lelah akibat seharian di perjalanan. Mengisi energi untuk menyambut mentari esok pagi.

2 thoughts on “Serunya Keliling Aceh lewat Jalur Darat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *