Serunya Keliling Aceh Lewat Jalur Darat (3, habis)

Cerita perjalanan di Aceh dimuat di Koran Sindo Batam

Kami menginap di Hotel Grand Nagan yang bertarif Rp. 300 ribu per malam. Meski minimalis namun hotel ini masih dirasa nyaman. Hotel dengan konsep terbuka, bentuk kamar-kamarnya mengelilingi sebuah kolam dan taman kecil di tengahnya yang beratapkan langit. Fasilitas kamar hotel terbilang bagus. Tempat tidur double bed dan sebuah LCD berukuran 21 inci. AC pendingin ruangan bekerja dengan baik. Begitu juga dengan fasilitas di kamar mandi. Air panasnya sangat mudah disetel. Malam pun semakin larut. Saatnya merehatkan tubuh untuk bekal energi petualangan esok hari.

Mentari muncul dari peraduan. Udara di Kota Nagan Raya terasa segar sekali pagi ini. Kami menuju restoran untuk sarapan. Restoran ini tidak disekat tembok, terhubung langsung dengan taman di tengahnya. Sajian prasmanan dengan menu ikan, ayam, dan sayur mayur. Ikannya terasa asin di lidah. Namun tempe gorengnya mampu menggoyang lidah saya. Enak.

Usai membersihkan diri kemudian kami meninggalkan hotel untuk bersiap melanjutkan perjalanan menuju Takengon. Pada etape pertama jalur yang dilintasi terlihat sungguh bersahabat. Beraspal mulus dengan pemandangan persawahan dan pemukiman penduduk di sekitar. Mata saya tertuju ke gadget sambil mengamati posisi melalui Google Maps. Jalur selanjutnya teksturnya berliku zig-zag sebagaimana yang ditunjukkan oleh aplikasi peta tersebut.

Pemukiman penduduk semakin sepi hingga tak terlihat sama sekali. Hanya pepohonan hutan dan semak belukar. Jalanan semakin menanjak. Berbelok-belok. Dan sempit, sekitar tiga meter. Parahnya lagi beberapa jalan terlihat rusak, aspal tergerus, sehingga harus berhati-hati melintasinya. Sulit ditebak, terkadang jalanan mulus terkadang pula rusak lumayan parah. Sesekali terlihat rombongan motor berjalan beriringan. Mobil yang berpapasan dapat dihitung dengan jari. Bersyukur kami bisa melalui jalur ini dengan baik.

Jalur lintasan mulai menurun. Aroma pemukiman penduduk mulai tercium. Kami tiba di sebuah desa yang ditengahnya terdapat sebuah sungai jernih nan lebar penuh bebatuan. Kami mampir di salah satu warung makan. Memesan mie rebus dan teh hangat. Beberapa mobil tampak terparkir di tempat ini. Desa ini ternyata sedang musim durian. Kami pun tidak ingin melewati kesempatan mencicipi rasa durian setempat. Sedap.

Takengon sudah semakin dekat sebagaimana informasi yang didapat dari penduduk setempat. Kami bergegas melanjutkan perjalanan. Jalur lintasan masih melewati jalan menanjak meski tidak sejauh sebelumnya. Saat jalanan kembali menurun di depan mata kami terpampang pemandangan yang sungguh menakjubkan. Hamparan padi baik yang sudah menguning maupun masih menghijau di kaki bukit yang memanjang di sebuah perkampungan pinggiran kota. Takengon sudah di depan mata.

Sepanjang jalan menuju kota beraspal mulus dan bersih. Suasana kota semakin terlihat. Takengon merupakan sebuah daerah berstatus kotamadya. Kota mungil ini adalah penghasil kopi yang sudah sangat mendunia. Selain itu, kota ini juga terkenal dengan kudanya. Tak jarang terlihat kuda-kuda yang sedang bermain di padang rumput.

Kemudi mobil kami arahkan ke sebuah danau yang bernama Danau Lut Tawar. Sepertinya danau tersebut sangat luas. Melalui panduan peta kami terus menyusuri jalan melalui aliran mirip sungai yang mengarah ke danau. Jalanannya cukup sempit. Harus berhati-hati saat berpapasan dengan mobil lain. Ramai sepeda motor yang melintas di jalur ini.

Danau mulai terlihat. Ternyata luas sekali. Di sekelilingnya tertutup oleh perbukitan yang saling terhubung, mirip Danau Toba di Sumatera Utara. Airnya berwarna biru keunguan. Terlihat eksotis. Pinggiran danau sebagiannya dijadikan area pertambakan ikan. Tak lama kemudian suasana berganti riuh. Pondok ikan bakar berjejer di sepanjang jalan. Kami mampir di pondok ikan bakar pertama yang menghadap langsung ke danau.

Kami memesan ikan bakar. Perjalanan dilanjutkan kembali ke Lhokseumawe. Jalan dari Takengon menuju Lhokseumawe masih memprihatinkan. Sebagiannya masih beralaskan tanah yang dipadu dengan bebatuan kerikil meski sudah terlihat lebar. Ironis memang. Disaat jalanan lain sudah beraspal mulus namun masih ada jalanan yang separah ini. Sepertinya jalan ini sedang dalam proses pengaspalan. Entahlah.

Perjalanan Takengon – Meulaboh ditempuh selama empat jam. Tentu saja akan jauh lebih cepat jika jalanannya sudah berlapis aspal. Saat memasuki Kota Lhokseumawe suasana masih terlihat hidup. Meriah dengan lalu lalang kendaraan di lintas provinsi dan deretan warung makan atau gerobak yang buka. Kami mampir makan malam di salah satu rumah makan. Masih setia memesan kuliner khas setempat, Sate Matang.

Usai menikmati santap malam perjalanan dilanjutkan kembali. Kami menuju perjalanan pulang ke kota asal. Melintasi kota-kota yang kami lintasi saat perjalanan pergi: Lhokseumawe, Langsa, Kualasimpang, Langkat, Binjai, Deli Serdang hingga sampai di kota yang merupakan rumah kami, Medan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *