Serunya Keliling Aceh lewat Jalur Darat (2)

Perjalanan menuju Meulaboh

Selamat Pagi Banda Aceh. Kota ini terlihat menarik pada pandangan pertama berjumpa. Mampu menyuguhkan kesan manis pada pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kaki dikotanya. Taman kota tertata rapi dengan paduan pepohonan rindang. Bersih. Segar memandangnya. Menariknya lagi sebuah sungai di pusat kota terlihat bagai jelmaan sungai di Eropa. Rumput nan hijau menutupi kedua sisi bahunya yang cukup luas. Airnya pun terlihat jernih.

Sungai ini terletak tidak jauh dari landmark Aceh yang sangat populer, Masjid Raya Baiturrahman. Kubah hitamnya yang khas mengundang hasrat untuk mengabadikannya dengan kamera. Juga tak jauh dengan Museum Tsunami yang merupakan monumen bersejarah dari bencana Tsunami yang pernah menimpa kota ini pada 2004 silam. Museum ini terlihat megah, hampir mirip dengan Esplanade di Singapura.

Cerita tentang dua bangunan tersebut dengan terpaksa tidak bisa saya teruskan karena, ehm, kami hanya menikmati dari dalam mobil yang sedang melintas saja. Maapkan kami pemirsah. Ah, tiba-tiba merasa tidak enak. Seperti akan digebukin pembaca, hehe. Tetapi tenang saja. Saya akan mengajak mengelilingi provinsi nan istimewa ini. Melintasi jalan lintas antar kabupaten yang cukup ekstrim. Ingin mengetahui seperti apa jalur dari Meulaboh ke Takengon? Ikuti perjalanan selanjutnya.

Dari Banda Aceh perjalanan diteruskan ke Meulaboh melalui jalur lintas Barat. Aspal yang menutupi sepanjang jalan ini terlihat lebar dan mulus. Mirip seperti jalanan di Thailand yang terkenal dengan infrastruktur jalannya yang bagus. Hampir tidak ditemukan noda sampah. Hanya saja jangan kaget jika menemukan sapi yang melintas seenaknya di jalan raya. Ya, disini sapi sangat diperhatikan. Dibiarkan bebas berkeliaran bahkan di jalan raya. Sehingga tidak heran banyak sekali rambu-rambu lalulintas yang bergambar sapi.

Jalur lintas Banda Aceh – Meulaboh ini sangat direkomendasikan bagi yang hobi berpetualang. Sepanjang perjalanan akan disuguhkan pemandangan yang sungguh indah. Pada sisi kiri terpampang perbukitan yang merupakan gugusan dari Bukit Barisan. Sementara pada sisi kanan terhampar garis pantai nan panjang dengan panorama yang sungguh indah di sepanjang jalan. Pantai yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia ini ketinggian ombaknya mencapai hingga tiga meter. Air lautnya berwarna biru kehijauan, menambah kesan eksotis.

Di tengah perjalanan kami singgah sejenak di sebuah kawasan wisata bernama Puncak Geureke. Tempat wisata ini sedikit ekstrim. Deretan pondok makan di pinggir jalan berdiri tepat di atas jurang nan tinggi. Meski begitu, dari ketinggian ini dapat terlihat lautan lepas nan tenang dibawah sana. Beberapa pulau kecil tampak muncul di sekitarnya. Cantik sekali. Sambil menyicipi mie rebus dan air kelapa kami menikmati pemandangan yang ada di hadapan.

Jalanan yang berada di sisi bukit ini lebih sempit sehingga saat kendaraan alat berat melintas di tikungan sering menyebabkan kemacetan karena harus berhati-hati. Terlebih lagi di pinggir jalan dipadati beberapa kendaraan yang parkir. Pada tebing bukit terdapat tangga yang bisa membawa hingga ke tempat lebih tinggi. Ramai pengunjung menaikinya terutama para remaja.

Kami meninggalkan Puncak Geureke. Kembali melanjutkan perjalanan. Laju roda mobil menyentuh lembut aspal nan mulus. Jalanan kembali terlihat lebar. Rumah-rumah penduduk terlihat jarang. Namun sesekali melintas di kawasan permukiman ramai. Pesona pantai di sepanjang pesisir Selatan masih dapat dinikmati. Mentari perlahan beranjak turun mengejar sore.

Sekitar pukul enam sore kami tiba di Meulaboh. Jika dilihat di peta tempat ini tampak berada di salah satu sudut yang jauh dari kota-kota di sekitarnya. Terkesan seperti terisolasi. Namun siapa sangka ternyata kota ini terlihat lebih maju dari yang diduga. Gerai makanan cepat saji seperti KFC berdiri di salah satu sudut kota. Suasana kota terlihat hidup. Tidak heran jika kota ini berstatus sebagai kotamadya.

Kami menuju pesisir Kota Meulaboh untuk menyaksikan matahari terbenam. Sebagaimana di pantai-pantai sebelumnya maka deru ombak nan tinggi pun bisa disaksikan disini. Pasir pantainya berwarna putih buram dan bertekstur lembut. Mentari yang terkesan hampir sejajar dengan bumi kami manfaatkan untuk bermain siluet dengan menggunakan kamera. Meski bolanya tidak terlihat sempurna namun sinar jingga mentari yang semakin pekat terlihat sangat indah. Sesaat kemudian azan Magrib berkumandang.

Deretan warung makan berdiri di sepanjang jalan. Kami memilih makanan khas setempat berupa Sate Matang. Sate khas Aceh ini sekilas terlihat seperti sate kacang. Namun disajikan dengan nasi dan semangkuk kuah yang masing-masing ditempatkan di wadah terpisah. Paduan kuah tersebut yang membuat sate ini berbeda. Rasa kuahnya sedikit mirip kuah sop Thailand.

Usai mengisi perut perjalanan kami lanjutkan kembali. Dari Meulaboh kami akan menuju Takengon. Hari semakin gelap. Cahaya mentari berganti dengan temaram lampu-lampu yang menyinari Kota Meulaboh. Melalui aplikasi Google Maps kami meraba jalan. Setengah jam kemudian saat sudah semakin menjauh dari Meulaboh kami tiba di sebuah persimpangan sebuah kota berbeda. Persimpangan ini salah satunya merupakan lanjutan jalur lintas timur yang melewati Singkil hingga Subulussalam, perbatasan Aceh-Sumut. Namun kami tidak memilih jalur ini karena ingin berkunjung ke Takengon sehingga harus melewati jalur tengah yang sangat jarang dilewati oleh kendaraan.

Kami putuskan untuk bertanya kepada warga setempat. Saya turun dari mobil dan menghampiri salah seorang warga yang duduk di depan sebuah ruko. Saat ia mengetahui kota yang hendak saya tuju tampak ekspresi sedikit kaget dari wajahnya. Ia tidak menyarankan untuk menuju Takengon pada malam hari. Demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kami pun mengikuti sarannya. Kami bermalam di kota yang ternyata merupakan ibukota Kabupaten Naganraya ini.

2 thoughts on “Serunya Keliling Aceh lewat Jalur Darat (2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *