Seharian Keliling Penang

Jembatan Penghubung Semenanjung Malaysia dengan Pulau Pinang (Penang)

Mentari perlahan menampakkan wujudnya. Pagi mulai menerangi Negeri Penang. Sembari menggendong ransel, aku menghampiri salah satu warung makan. Roti canai dan teh tarik menjadi pilihan sarapan di pagi nan cerah ini.

Melalui Facebook, aku mengontak seorang sahabat yang tinggal di Penang, Pak Amin. Ya, aku memanggil dengan tambahan ‘Pak’ di depan namanya karena usia kami terpaut cukup jauh. Beruntung Pak Amin senantiasa memantau akun Facebook miliknya sehingga tidak perlu waktu lama untuk menunggu balasan pesannya.

“Di mana posisi sekarang?”, Pak Amin membalas pesanku. Setelah menjelaskan keberadaanku, Pak Amin menginstruksikan agar aku menanti di Masjid Kapitan Muslim, masjid bersejarah yang juga menjadi salah satu destinasi wisatawan.

Aku melihat sosok wajah yang tak asing di depan sana. Ya, itu Pak Amin. Pertemuan pertama kami setelah sekian lama berkomunikasi melalui dunia maya, berawal dari media Kompasiana.

Pak Amin datang dengan mobil putih mirip Serena. Seragam kerjanya masih menempel di badannya. Mobil mulai melaju, mengiringi perbincangan kami selama di perjalanan. Pak Amin mengatakan bahwa ia sengaja meminta izin dari kantor hanya karena kedatanganku ke Penang. Ah, baik sekali. Aku jadi merasa tidak enak.

Penang terlihat sudah sangat maju. Meski hanya sebuah pulau kecil yang terpisah dari daratan Malaysia. Sekilas tampak seperti Singapura. Jalanannya terlihat mulus dan bersih. Pepohonan pinggir jalan menghadirkan kesejukan. Gedung-gedung pencakar langit menjadi pemandangan yang biasa, berjejer dimana-mana.

Pak Amin merupakan warga Malaysia kelahiran Sabah, salah satu negeri (provinsi) yang terletak di Malaysia bagian timur dekat Kalimantan. Ia memiliki garis keturunan Banyuwangi, Jawa Timur. Mobil yang kami naiki terus melaju membelah jalanan Penang. Pemandangan seketika berganti dengan suasana komplek perumahan yang bersebelahan dengan kawasan hutan. Ternyata di Penang masih banyak kawasan hutan yang belum tersentuh pembangunan.

Rumah Pak Amin terletak paling ujung di komplek perumahan ini. Persis bersebalahan dengan kawasan hutan yang dipisahkan sebuah sungai selebar 50 meter. Meski sudah dibatasi pagar, namun pemandangan hutan rimbun nan segar masih bisa terlihat jelas.

Aku memasuki rumah Pak Amin. Diperkenalkan dengan istri dan seorang anak perempuannya. Keluarga Pak Amin menyambut kedatanganku dengan hangat. Aku dipersilakan menempati kamar di lantai atas untuk melepas lelah.

Siang ini aku akan diajak oleh Pak Amin jalan-jalan keliling Penang, beserta Istri, anak, dan seorang keponakan perempuannya yang baru tiba dari Sabah untuk menghabiskan masa liburannya. Kebetulan sekali, ikut menemani keponakannya berlibur di Penang.

Penang merupakan sebuah pulau kecil. Sebagian tekstur tanahnya berbukit dan dipenuhi pepohonan hutan. Tidak seperti Singapura yang sudah meratakan semua sudut pulau kecilnya itu. Kali ini Pak Amin membawa mobil sedan. Aku duduk di kursi depan, puas memandang panorama Penang.

Mobil melaju mengelilingi pulau kecil ini. Melintasi sisi bagian lain, berlawanan dengan pusat kota Penang. Sisi di sebaliknya ini dinamakan Balik Pulau. Sebagaimana namanya, wilayah ini memang terletak di belakang pulau. Pemandangan didominasi pepohonan hutan dan berbukit.

Jalanan yang kami lintasi persis di bibir pulau, di atas ketinggian bukit. Dari sini, bisa menyaksikan hamparan laut nan luas di sisi kiri. Meski berada jauh dari pusat kota, namun jalanan di sini senantiasa beraspal mulus. Pak Amin mengarahkan kemudi mobil ke kanan, memasuki wilayah perkampungan. Ternyata masih ada daerah sederhana nan alami serupa kampung di kota modern ini. Kami mampir sejenak di rumah kerabat Pak Amin.

Perjalanan diteruskan, mengelilingi penuh pulau mungil ini. Mampir sejenak di kawasan wisata Peringgi. Ya, objek wisata di sini tentu tentu saja tidak jauh-jauh dari laut. Tempat ini benar-benar dikelola dengan baik. Hotel dan resor mewah banyak dibangun di dekatnya.

Kami mampir ke sebuah Masjid yang berada persis di pinggir laut untuk untuk menunaikan Sholat Dzuhur. Masjid ini dikenal dengan Masjid Terapung. Pernah terdampak tsunami pada tahun 2004 silam. Sehingga dilakukan renovasi total dan sekarang tampak lebih elegan. Sejak kejadian itulah, Masjid ini populer disebut dengan Masjid Tsunami.

Dari Peringgi sudah dekat menuju pusat kota, Georgetown. Perjalanan mengelilingi Pulau  Penang ini nan modern bercampur kawasan hutan nan alamai sungguh berkesan. Bersama keluarga Malaysia yang ramah dan penuh kehangatan. Tak terlupakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *