Phiphi, Tak Lagi Mimpi

Pulau Phiphi

Kapal mulai meninggalkan pelabuhan Rassada, Phuket. Menuju Pulau Phiphi. Wisatawan berkulit putih memadati kapal ini. Wajah-wajah India, Tiongkok, dan Melayu dapat dihitung dengan jari. Cemilan gratis biskuit sejenis nastar tak luput dari incaran kami. Bisa dicomot sesuka hati. Tentu saja ini merupakan kenikmatan bagi pelancong gembel seperti kami. Kenyangkan perut, Dul!

Aku dan Bedul duduk di kursi paling depan. Persis di sebelah stan sebuah agen perjalanan. Ragam paket tur terpajang di brosur di dekat stan tersebut, letaknya di sudut pojok kapal. Agen wisata ini menyediakan paket wisata ke pulau-pulau di kecil sekitar Phi-phi.

Perjalanan menuju Phi-phi memakan waktu selama satu jam perjalanan. Pada menit-menit awal perjalanan pemandangan di luar kapal terlihat biasa. Berupa hamparan laut lepas Andaman. Namun, saat akan mendekati Pulau Phiphi, penampakan alam membuat kami berdecak kagum. Gugusan batu karst yang besar dan menjulang tinggi setara rumah 4 lantai. Aku dan Bedul bergegas keluar dan naik ke dek atas kapal. Menyaksikan keindahan Phiphi dari dekat.

Air laut terlihat jernih, berwarna biru kehijauan. Membuat hati terasa plong. Semakin mendekat ke bebatuan karst, serasa seperti di kepung monster raksasa. Besar sekali. Melihat puncak batu karst harus dengan mendongakkan kepala.

Bedul tak henti-hentinya mengarahkan kamera ke berbagai arah, mengabadikan pesona Pulau Phiphi. Tentu saja tak ketinggalan ber-selfie ria, biar menjadi bukti di masa mendatang kelak. Ceileh. Sebagian wisatawan lain pun melakukan hal serupa. Seperti tak ingin melewatkan momen yang belum tentu terulang ini.

Kapal-kapal wisata tampak berseliweran. Mulai dari kapal besar hingga speed boat, yang bisa menjangkau hingga ke celah-celah batu karst yang menganga. Di ujung sana, tampak pantai dengan hamparan pasir putih. Rona lautnya terlihat menyegarkan. Tempat tersebut pernah dijadikan lokasi pembuatan film The Beach yang diperankan oleh Leonardo Di Caprio.

Kapal yang kami naiki seketika berhenti, di tengah laut nan bening. Pulau Phiphi yang dipenuhi bangunan resor dan hotel terlihat tidak jauh. Penumpang kapal dipersilakan melompat dari kapal, menyebur ke laut. Bukan. Ini bukan karena aksi pembajakan kapal. Kami dimanjakan untuk menikmati keindahan bawah laut. Disediakan peralatan snorkling.

Aku dan Bedul tak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Sesaat sebelum nyebur ke laut kami mendengar ucapan yang sangat familiar di telinga. “Aku nggak berani!” teriak suara itu yang terdengar manja kepada temannya. Aku dan Bedul saling tatap. Ternyata ada orang kita di sini, Dul.

Kami mencari asal-usul suara tersebut. Tidak gampang menemukannya karena tidak ada wajah-wajah Melayu selain kami di sini. Ternyata suara itu berasal dari wanita muda berkaos merah. Wajahnya sangat oriental, sehingga tidak mudah menebaknya. Lebih mirip turis dari Tiongkok. Kami pun berkenalan. Wanita yang diketahui bernama Leni yang sedang berlibur bersama teman-temannya itu berasal dari Medan.

Aku dan Bedul melompat ke laut. Byur!. Ah, segarnya. Pemandangan bawah laut berupa aneka ikan berwarna-warni dan ragam terumbu karang mampu melenyapkan rasa lelah selama perjalanan. Indah sekali. Masya Allah.

Bedul berenang semakin menjauh. Aku menyusulnya. Sepertinya ia sangat menikmati aktifitas bawah laut seperti ini. Momen-momen langka selalu menyadarkan kami untuk tergerak mengambil kamera. Seperti sudah terekam di alam bawah sadar. Ya, narsis. Haha. Aku memotret Bedul yang sudah mempersiapkan pose terbaiknya. Beberapa kali. Begitupun sebaliknya saat kamera berpindah ke tangan Bedul.

Petugas kapal mengingatkan agar segera naik ke atas kapal karena kapal akan bersandar ke Pulau Phiphi. Setibanya di pelabuhan, semua penumpang turun dan menikmati makan siang di sebuah hotel berbintang. Memasuki Pulau Phiphi dikenakan tiket sebesar 20 baht, di luar paket tur. Kami berjalan kaki melewati jalan yang tidak terlalu lebar, menuju hotel untuk makan siang saja. Melintasi puluhan pedagang yang berjejer di sisi kanan dan kiri jalan. Aneka souvenir bercirikan Negeri Gajah Putih menggoda untuk dibeli. Mulai dari gantungan kunci, kaos, tas, dll.

Hotel tempat kami makan siang ini terlihat mewah. Aku dan Bedul menempati meja khusus, halal food. Nasi dengan ragam lauk-pauk serta aneka potongan buah-buahan. Bedul terlihat khusyuk melakukan ritual di meja makan ini. Pun aku.

Selesai makan siang, pemandu wisata mengingatkan kepada para peserta tur agar segera menaiki kapal. Sambil berjalan menuju kapal, aku dan Bedul menyempatkan membeli suvenir. Sepanjang jalan yang kami lewati ini dipenuhi oleh para pedangang suvenir. Setibanya di pelabuhan, kami tidak bergegas menaiki kapal. Pemandangan dari pelabuhan ini sungguh menggoda untuk diabadikan. Keluarkan kamera, Dul!

Kami menaiki kapal. Penumpang terlihat lebih sedikit dari saat berangkat tadi. Karena sebagiannya ada yang melanjutkan perjalanan menuju Krabi. Ternyata, mereka memilih paket rute Phuket – Phiphi – Krabi. Posisi Pulau Phiphi berada di tengah antara Phuket dan Krabi. Seandainya aku tahu tentang hal ini, mungkin kami akan merombak itinerari.

Kapal semakin jauh meninggalkan Pulau Phiphi. Pulau Phiphi tampak semakin mengecil dan lenyap. Penampakan di luar kapal kembali monoton. Hari beranjak sore. Senja pun menjelang. Aku dan Bedul terlelap di dalam kapal. Kami akan berpisah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *