Perjalanan Seru Menembus Thailand

Kota Hatyai, Thailand

Van membawaku meninggalkan Penang. Melintasi jembatan kokoh sepanjang 24 km penghubung Penang dengan Semenanjung Malaysia. Menembus batas negara. Menuju negeri Gajah Putih, Thailand. Van berkapasitas 15 orang ini sungguh nyaman sekali. Kursinya empuk mirip sofa. Bersih dan adem.

Semakin jauh dari pusat negara Malaysia, perlahan pemandangan berganti lebih alami. Dipenuhi area perkebunan sawit. Tak jauh berbeda dengan perjalanan Jakarta – Merak di Indonesia. Hanya saja, di sini lebih tertata dan aspalnya lebih bagus.

Memasuki Negeri Kedah, disuguhi suanasan kota modern yang tidak terlalu ramai. Meski tidak seramai Kuala Lumpur atau Penang, tetapi di Kedah ini kotanya terlihat maju sekali, sebagaimana kota-kota lainnya di Malaysia. Lepas dari pusat kota Kedah, penampakan kembali didominasi pepohonan hijau. Sesekali, terlihat bangunan pabrik serta perumahan penduduk.

Menembus batas negara. Melakukan proses masuk di imigrasi Malaysia kemudian berlanjut ke imigrasi Thailand. Jarak kedua imigrasi tersebut tak sampai satu kilometer, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Minivan kembali mengangkutku dan penumpang lainnya, melanjutkan perjalanan ke Hatyai.

Setibanya di Hatyai aku memilih penginapan bernama Chatay Guesthouse. Sebuah hostel sederhana yang merupakan favorit para backpacker. Selain murah, bertarif 200 baht per malam, fasilitas untuk wisatawan tersedia komplit. Seperti paket tur ke berbagai objek wisata, sewa kendaraan, hingga pembelian tiket bis bisa dilakukan di sini.

Hatyai merupakan kota kecil di selatan Thailand. Banyak sekali persimpangan jalan di sini, yang menjadi ciri khas kotanya. Angkutan umum di sini disebut tuktuk, berbentuk imut, ngepas badan. Pintu masuknya dari belakang seperti bemo.

Hostel tempat aku menginap ini lokasinya sangat strategis. Hanya berjarak 200 meter dari stasiun kereta api yang menghubungkan hingga ke Bangkok. Agen bus berjejer di ruko-ruko sekitar. Bisa ditemui dengan mudah. Tempat makan halal tak sulit untuk ditemukan. Kota ini masih berada tak jauh dari Malaysia. Pengaruh Muslim masih terasa cukup kuat di sini. Bahkan, bank besar milik Thailand bernama Islamic Bank berdiri gagah di salah satu sudut kota.

Hostel yang aku tempati berada di lantai tiga. Sementara lantai dasarnya digunakan sebagai tempat agen perjalanan wisata. Kafe mungil nan sederhana tersedia di dekat meja resepsionis. Meski sederhana namun terlihat kreatif.

Di hadapanku, seorang pria bertubuh subur sedang duduk menyeruput teh. Pria yang usianya tak jauh berbeda denganku itu sepertinya orang Malaysia. Ops! Dugaanku salah. Setelah mendengar logat bicaranya ternyata dia anak jakarte abis. Ah, senangnya bertemu saudara sekampung (baca: negara) di negeri orang.

Sama sepertiku, pria yang lebih senang dipanggil dengan Bedul juga baru tiba di Hatyai. Setelah mengobrol, diketahui kami memiliki passion yang sama, bertualang ugal-ugalan alias ngegembel. Haha. Aku mengatakan kepadanya tentang rencanaku untuk mengeksplorasi Kota Hatyai dengan berjalan kaki. Ternyata ia merespon dengan semangat. Aha!

Mengelilingi kota mungil yang penuh persimpangan ini dengan berjalan kaki memang pilihan yang menyenangkan, tentunya juga selain hemat. Si Bedul ternyata sangat handal dalam menemukan akses internet gratis. Di beberapa sudut kota ini, terutama di area fasilitas publik, terdapat layanan internet gratis yang disediakan oleh pemerintah setempat. Termasuk stasiun kereta api. Stasiun yang sungguh dekat ini menjadi incaran kami untuk berselancar di dunia maya, sembari menyempatkan update status terkini.

Menu paling nikmat di Hatyai adalah nasi goreng dan nasi kebuli. Seperti tak pernah menemukan di negeri sendiri saja saking nikmatnya nsai goreng di sini. Tekstur nasi gorengnya sejatinya serupa dengan nasi goreng kampung, tanpa dilumuri kecap. Bercampur sedikit minyak—sepertinya minyak ikan. Takaran garam dan bumbu penyedap dirasa sungguh pas sekali. Sehingga tercecap sangat nikmat di lidah, hingga piring pun licin tak bersisa.

Sementara nasi kebuli, sejatinya juga serupa dengan nasi kuning di Indonesia. Perbedaannya, dilengkapi dengan daging ayam bakar berukuran jumbo. Saking sedapnya sampai tak segan untuk menambah nasi sepiring lagi. Kedua makanan tersebut merupakan menu yang umumnya dijual oleh Muslim Thailand.

Meski bertubuh gempal, namun Bedul ternyata lebih berstamina dibandingkan aku. Saat berjalan kaki aku yang lebih sering meminta untuk beristirahat. Ia tak pernah sekalipun mengutarakan keinginan untuk rehat kepadaku. Tetap dijajal seperti apapun medannya. Ah, gembul temanku hebat sekali.

Siang berganti malam. Cahaya lampu keemasan menerangi kota Hatyai di malam hari. Bukan. Bukan waktunya untuk beristirahat. Tetapi aku dan Bedul akan segera meninggalkan Hatyai. Melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya, Krabi. Kami menuju terminal bis. Suasana terminal dipenuhi penumpang yang hendak berangkat ke berbagai kota di Thailand.

Perlahan bus berjalan meinggalkan Hatyai. Aku dan Bedul menempati salah satu ruas bangku. Wajah penumpang di dalam bis ini sulit dibedakan. Wajah orang Thailand, Malaysia, dan Indonesia identik sekali. Saat petugas bis berjalan hendak memeriksa tiket ia mengajak kami bercakap-cakap dengan bahasa Thai. Sorry, i’m Indonesia! Si Bedul menjelaskan kepada petugas tersebut.

Tepat tengah malam, kami tiba di Krabi salah satu provinsi di Thailand. Penumpang tujuan Krabi diturunkan di sisi jalan. Dekat keramaian kota. Tidak dibawa ke terminal bis mengingat posisinya cukup jauh sehingga lebih efisien diturunkan di pinggir jalan. Hujan turun sangat deras. Disertai sedikit genangan air yang merendam hingga mata kaki, di sekitar lokasi pemberhentian bis menurunkan penumpang. Malam semakin pekat. Padahal ini perjalanan perdana kami ke negara orang. Ditambah dengan bahasa yang tak kami mengerti. Tulisan negara ini yang keriting. Sempurna. Anyway, Ini kesukaan kami. Tantangan baru. The real adventure!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *