Penuh Sensasi Menembus Vietnam

Pemeriksaan Paspor oleh tentara Vietnam

Tepat pukul tujuh malam bis meninggalkan Vientiane. Bangku di sebelahku ditempati oleh warga Vietnam bernama Hung Dong Minh yang dipanggil dengan Hung. Usianya sebaya denganku. Ia merupakan pekerja bank di Vientiane.

Kami menghabiskan waktu dengan berbincang. Ia lumayan mahir berbahasa Inggris meski hanya seadanya. Hung tampak bersemangat menceritakan tentang sejarah negaranya yang pernah beradu senjata dengan Negara Adidaya Amerika Serikat.

Aku mengeluarkan camilan kacang atom pedas yang aku bawa dari Indonesia. Ternyata ia sangat suka dengna kacang atom tersebut. Hung mengira bahwa anak muda Indonesia menggunakan bahasa Inggris sehari-hari. Entah mengapa ia bisa menduga demikian.

Bis terus berjalan membelah malam. Semakin jauh meninggalkan Vientiane. Sesaat bis berhenti di sebuah rumah makan. Semua penumpang diwajibkan keluar dari bis. Aku pun turun tanpa turut makan di rumah makan tersebut. Tentu saja mengantisipasi soal kehalalan makanan. Aku menambal perut dengan persediaan roti dan saos yang aku bawa dari Indonesia.

Aku tertidur pulas di dalam bis. Hingga jarum jam menunjukkan angka dua dinihari. Bis berhenti. Di sekitar tampak bis lainnya yang juga berhenti. Ternyata sudah tiba di perbatasan negara. Bis-bis tersebut menanti pagi hingga kantor imigrasi buka. Aku melanjutkan tidur hingga rona langit terlihat sedikit bercahaya.

Satu per satu para penumpang keluar dari bis. Aku pun turut melangkahkan kaki merasakan udara di luar sana. Sangat dingin. Tebing-tebing tinggi mengelilingi kami. Sebuah gedung berlantai dua terlihat tak jauh di depanku yang merupakan kantor imigrasi Laos. Kabut menyelimuti kota bernama Cau Treo ini.

Aku menuju toilet sekalian bersih-bersih. Airnya dingin seperti es. Rasanya tak sanggup ingin berkumur saat akan menyikat gigi. Hawa dingin tercium segar, memasuki sela-sela tenggorokan. Ramai sekali bis terparkir di area ini.

Kantor imigrasi telah buka. Para petugas bis memasuki kantor imigrasi, menyerahkan paspor para penumpang yang dikumpulkannya di dalam bis tadi. Hanya warga Laos dan Vietnam saja yang bisa dilayani oleh petugas tersebut. Selain itu harus menyerahkan sendiri ke kantor imgirasi, termasuk aku. Aku mengikuti petugas bis memasuki kantor. Mengantri bersama bule-bule Backpacker.

Setelah menyerahkan paspor kepada tugas, aku harus menanti dipanggil. Satu per satu nama dipanggil, hingga tiba giliranku. Petugas bis telah selesai mengurus paspor para penumpangnya. Ia tampak sedikit berlari mengejar bus yang mulai berjalan. Aku memberikan aba-aba kepadaku untuk bergegas mengikutinya. Bye, Laos!

Bis berjalan menembus batas negara. Memasuki Vietnam. Aku dan para penumpang turun kembali untuk melakukan pemeriksaan paspor di imigrasi Vietnam. Stempel paspor melayang di pasporku dengan mudah. Lebih cepat saat di imigrasi Laos tadi. Petugas imigrasi mengembalikan pasporku sambil tersenyum ramah.

Hujan turun deras. Aku dan para penumpang lainnya masih berlindung di sekitar kantor imigrasi. Bis tampak belum bergerak. Kabut semakin menebal. Jarak pandang hanya lima puluh meter. Dingin sekali.

Petugas bis memerintahkan kami untuk mengikutinya. Para tentara Vietnam tampak berjaga-jaga di depan sana. Mereka turut memeriksa paspor, sekadar mengecek saja. Tidak terlalu rumit tampaknya memasuki negeri Paman Ho ini. Setelah melewati tentara yang berumlah empat orang itu aku bergegas menaiki bus.

Halo, Vietnam! Saatnya memulai petualangan di negara paling utara di Asia Tenggara ini. Bersebelahan dengan Tiongkok. Layaknya sim card telepon genggam, perasaanku seketika berganti sinyal. Merasakan sensasi di negara baru. Perlahan hujan mulai mereda. Hanya rintik gerimis di luar sana.

Kawasan pedesaan terpencil mendominasi perjalanan awal ini. Hamparan perkebunan hijau terlihat dari balik jendela bus. Sungai Yang Tze tampak dari kejauhan. Alirannya membelah kawasan perkebunan sayur. Pepohonan hutan pun senantiasa terlihat di sepanjang perjalanan ini, juga rumah-rumah kayu khas pedesaan.

Beberapa jam kemudian rona kota terlihat lebih ramai. Segerombolan anak sekolah sedang mengendarai sepeda. Orang dewasa pun tak jarang terlihat mengayuh kendaraan tak bermesin tersebut. Perkembangan kehidupan modern seperti belum tersentuh di kawasan ini. Perbukitan karst nan eksotis menjadi pemandangan yang menarik. Bukit-bukit berbatu yang diselimuti pepohonan hijau. Berjejer di sebagian perjalanan ini.

Semakin jauh perjalanan, penampakan tampak mulai lebih maju. Jalanan tampak lebih cantik dan rapi. Deretan ruko beton memenuhi di sisi jalan, meski masih terkesan sederhana. Geliat aktifitas warga Vietnam semakin riuh. Pemandangan mengendarai sepeda masih terlihat wajar, terutama anak-anak sekolah. Kehidupan modern yang masih disentuh dengan nuansa tradisional. Rasa senang terus berdendang di hati ini. Hingga tak peduli dengan perjalanan panjang yang menghabiskan waktu 24 jam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *