Jumpa Pertama Saudara Beda Negara

Suara telepon genggam berdering. Tanpa nama. Dengan yakin aku angkat panggilan tersebut. “Assalaamu’alaykum, ini Pak Wo Man,” ucap suara di seberang sana. Benar dugaanku, telepon dari sepupu Ayahku. “Nanti Pak Wo jemput di stasiun Melati, ya,” lanjutnya memberikan arahan.

Sebelumnya Ayahku sudah memberi tahu terlebih dahulu kepada Pak Wo Man tentang kedatanganku. Aku memang belum menyimpan nomor beliau. Setelah telepon ditutup, nomor panggilan barusan aku simpan di phonebook.

Aku bergegas menuju stasiun Masjid Jamek. Sesuai dengan namanya, stasiun ini terletak persis di seberang Masjid tempat aku menunaikan sholat Subuh tadi. Sistem transportasi di Negeri Jiran ini jauh lebih baik dibandingkan dengan di negaraku. Aku memasuki stasiun dengan melewati sebuah jalan kecil yang berbelok dan menanjak menuju langsung ke lantai dua. Suasana stasiun terlihat ramai.

Aku membeli tiket single trip, untuk sekali jalan. Untuk mendapatkan tiket tersebut harus berhadapan dengan sebuah mesin tiket otomatis terlebih dahulu. Cukup mengikuti panduan pada layar monitor. Setelah memasukkan sejumlah uang yang diminta, seketika akan keluar sebuah tiket berbentuk koin plastik. Nantinya koin ini dimasukkan pada pintu masuk elektrik.

Aku bergegas menuju kereta. Sulit membedakan orang Malaysia dengan Indonesia. Namun, untuk perempuan berhijab bisa dibedakan dengan melihat model hijabnya.

Kereta tiba di Stasiun Melati. Pak Wo Man telah menanti di stasiun tersebut. Aku memencet tombol handphone mengontak Pak Wo Man. Setelah saling menyebutkan ciri-ciri, kami berjumpa di luar stasiun. Ini adalah kali pertama berjumpa dengan saudara yang terpisah batas negara. Rasanya Excited. Pak Wo Man berprofesi sebagai pengemudi taksi di Kuala Lumpur. Ia menjemputku dengan taksi miliknya yang terparkir tak jauh.

Selama di perjalanan kami berbincang akrab mengulik lebih jauh silsilah keluarga. Pak Wo Man telah merantau ke Malaysia sejak tahun 1978 dibawa merantau oleh kedua orangtuanya yang merupakan adik dari nenekku. Ketika itu, Pak Wo Man dan adik kakaknya masih kecil. Tidak sulit memasuki negara tetangga pada masa itu.

Saat ini, Pak Wo Man dan keluarga besarnya telah berstatus warga negara Malaysia, hingga memiliki enam orang anak. Namun, logat khas Minang masih terdengar fasih dari lidahnya. Wajar saja, karena bahasa tersebut senantiasa dipakai saat berkomunikasi dengan istrinya yang berasal dari suku yang sama. Hanya saja, keenam anak mereka justru sangat fasih berbahasa Melayu. Saat mendengar mereka berbicara maka akan sangat sulit untuk menebak bahwa sesungguhnya mereka adalah anak-anak Minang. Sama halnya seperti aku yang tumbuh besar di salah satu bumi Melayu, Pulau Kundur.

Ternyata banyak sekali saudaraku di negeri seberang ini. Aku diperkenalkan kepada hampir semua kerabat yang bertalian darah. Berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Sambutan mereka sungguh ramah. Aku dibawa berkeliling sambil mencecap kuliner setempat.

Seorang kerabat mengajakku menghabiskan sore hari di sebuah kawasan kuliner dengan menggunakan sepeda motor. Dari sini terlihat jelas ikon Malaysia, Twin Tower. Suguhan kuliner beragam dari masakan Melayu, Thailand, Minang, hingga Aceh. Uniknya, hampir semua pedagang di sini keturunan Indonesia.

Sebelum senja menghilang, aku dibawa menuju Dataran Merdeka. Menyaksikan bangunan-bangunan besar artistik nan cantik. Ragam bentuk bangunan dengan rancangan arsitek yang unik. Kamera ditangan tak lepas mengabadikan bangunan di sepanjang jalan meski dalam keadaan dibonceng di atas sepeda motor.

Masa di Kuala Lumpur hanya aku habiskan selama sehari semalam. Keesokan harinya aku sudah harus melanjutkan rute perjalanan berikutnya. Pengalaman bersua dengan kerabat beda negara memang sangat berkesan. Melihat wajah-wajah setalian darah yang sudah berganti bahasa. Tradisi merantau suku Minang telah membawa suku dari Propinsi Sumatera Barat ini tersebar hingga pelosok negeri, bahkan negara.

Mengejar Twin Tower

Selfie bersama Twin Tower

Aku dan Bang Harahap memiliki tujuan yang sama, ingin melihat gedung pencakar langit. Ndeso memang. Tapi ini bukan gedung pencakar langit biasa, tetapi popularitasnya sudah mendunia, Twin Tower. Menara kembar tertinggi milik perusahaan minyak Malaysia, Petronas.

Lokasinya tak jauh dari terminal bis Puduraya. Puncaknya dapat terlihat dari sekitar sini. Sehingga meyakinkan kami bahwa jaraknya tidaklah jauh. Dengan percaya diri, aku dan Bang Harahap berjalan menuju gedung tersebut, menyusuri trotoar, tanpa bertanya sana-sini. Puncak Twin Tower yang terlihat, menjadi petunjuk jalan kami.

Setelah beberapa menit berjalan, kami meyakinkan diri bahwa Twin Tower sudah semakin dekat. Ketia mendongakkan kepala ke atas, puncaknya sudah tidak terlihat lagi, tertutup gedung bertingkat lainnya. Kami kebingungan. Pasrah. Hah! Ternyata memang butuh panduan, minimal dari orang-orang yang ditemui.

Akhirnya kami memutuskan bertanya kepada setiap orang yang berpapasan. Setelah mendapatkan informasi kami melanjutkan perjalanan. Rasanya seperti sudah semakin dekat saja. Tetapi anehnya tidak kunjung jumpa. Ya Tuhan. Setelah beberapa kali berputar sana-sini, akhirnya tiba juga di Twin Tower.

Demi melihat bangunan yang tak ubahnya gedung lain ini, hanya saja lebih tinggi dan ada dua (kembar), kami rela berpeluh keringat untuk mencapainya. Tak mengapa. Yang penting rasa penasaran akan gedung yang menjadi pembicaraan banyak orang ini bisa terlampiaskan. Sekadar ingin tahu seperti apa wujudnya jika dilihat langsung. Nothing special. Tetapi cukup puas.

Kami memasuki gedung tersebut. Ingin menjajal naik ke puncaknya. Kami diarahkan ke lantai bawah oleh sekuriti. Tampak poster besar bergambar panoama Kuala Lumpur dari ketinggian yang menutupi salah satu tembok. Tak jauh dari poster tersebut tampak beberapa orang sedang mengantri. Ternyata mereka hendak menaiki puncak Twin Tower. Dikenakan tiket sebesar RM 80 per orang. Yasalam. Perjalananku masih panjang. Duit segitu lebih baik sebagai bekal di negara berikutnya.

Sebagai kenangan tentu saja kami tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto narsis dengan gedung kembar ini. Ada beberapa tempat terbaik untuk mengabadikan foto dengan gedung ini, salah satunya di danau buatan. Danau ini letaknya di dalam area gedung, sehingga untuk mendatanginya harus memasuki gedung terlebih dahulu.

Aku bersiap di depan kamera yang dipegang oleh Bang Harahap. Gedung kembar menjadi latar. Jembatan penghubung kedua gedung terlihat jelas di tengahnya sehingga terlihat seperti huruf H. Aku mengambil posisi lebih tinggi dari kamera dengan menjejali anak tangga. Bang Harahap mengarahkan lensa kamera ke arahku dari bawah dengan posisi jongkok, kepalanya hampir menyentuh lantai. Hal ini dilakukan agar puncak gedung terlihat sempurna. Perlu bersusah-susah dahulu jika ingin berpose dengan gedung ini. Begitulah.

Tidak hanya kami, hampir semua wisatawan tampak melakukan serupa. Pemandangan orang-orang berfoto dengan segala macam pose membelakangi Twin Tower akan selalu ditemui di sini.

Di sebelahku, segerombolan anak muda asal Filipina tampak foto bersama. Heboh sekali mereka. Si tukang foto sibuk mengarahkan dengan isyarat tangannya demi mendapatkan hasil foto yang bagus, bergeser ke kiri dan ke kanan. “Kanan.. Kanan..”, ujar si tukang foto itu. Kanan? Lalu, secara tiba-tiba siraman air pancur dari danau tersembur ke arah mereka. Semua berlarian sambil ada yang berucap, “basah.. basah..”. Basah? Setelah mereka berfoto, aku hampiri si tukang foto untuk menanyakan tentang bahasa mereka. Ternyata bahasa Tagalog Filipina memang banyak kemiripan dengan Bahasa Indonesia.

Puas menikmati Twin Tower, aku dan Bang Harahap melanjutkan perjalanan, meninggalkan Twin Tower. Kami berpisah. Bang Harahap masih akan melakukan petualangannya. Sementara aku hendak bersilaturahmi dulu ke rumah saudara yang tak pernah kujumpa. Saudara sepupu Ayahku yang sudah menjadi warga negara Malaysia. Semoga berjumpa kembali di lain waktu, Bang Harahap. Horas!

Subuh di Masjid Jamek Kuala Lumpur

Masjid Jamek Kuala Lumpur

Hening. Jarum jam menunjukkan angka 5 pagi. Hanya sesekali terlihat bis melintas di perempatan jalan raya lebar ini. Ada juga bis yang berhenti di sisi jalan, menurunkan penumpang, sebagaimana yang dilakukan bis yang aku naiki tadi.

Aku masih berdiri terpaku, memandangi keadaan sekitar. Aku tidak sendiri. Penumpang lain pun ada yang menanti di sini.

Tepat di seberang jalan tampak sebuah bangunan besar serupa mal yang ternyata adalah terminal bis Puduraya yang tampak masih sepi. Ditinggal tidur para pekerjanya. Pantas saja semua penumpang diturunkan di sisi jalan tak jauh dari terminal tersebut.

Tempat aku berdiri saat ini di pinggir jalan, tepat di depan sebuah restoran mamak yang buka 24 jam. Bukan, itu bukan restoran ibuku. Sebutan mamak di negeri ini dikhususkan bagi warung makan India yang beragama Islam. Restoran tersebut berada pada ketinggian satu meter, seperti panggung. Cukup menjejali beberapa anak tangga untuk masuk ke dalamnya.

Adzan Subuh akan bergema beberapa menit lagi. Aku mulai sibuk mencari tahu keberadaan Masjid terdekat. Satu per satu orang-orang yang sedang berdiri menanti di tempat yang sama, aku hampiri. Beruntung tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan informasi tersebut karena terjawab oleh orang kedua yang aku tanyai, yang juga akan menuju Masjid.

Kami berjalan membelah keheningan subuh di sepanjang trotoar. Melewati para wanita setengah pria yang berdandan seksi menanti pelanggan. Aku khawatir mendapat gangguan dari para pekerja dinihari tersebut. Tetapi, kekhawatiranku sirna. Mereka tidak mengusik. Sukurlah.

Jarak dari tempat penurunan penumpang bis tadi menuju Masjid sekitar satu kilometer. Terasa menyenangkan meskipun dengan berjalan kaki. Sambil memandangi jalan raya nan sunyi diterangi lampu jalan nan remang, berwarna keemasan. Sesekali terdengar desingan suara kendaraan roda empat yang melintas laju.

Azan subuh berkumandang merdu di Masjid Jamek. Jika dilihat dari luar, Masjid ini terkesan sempit. Namun ketika memasukinya, ternyata jauh dari yang dibayangkan. Selain bangunan yang besar, perkarangan masjid ini juga cukup lega.

Desain Masjid sekilas mirip Masjid Keraton di Jogja. Bagian luarnya lebih luas dari bagian dalam, yang ditopang oleh banyak tiang. Pancaran cahaya keemasan lampu di atas Masjid menambah kesan elegan.

Saat hendak berwudhu, di dekatnya aku melihat sebuah tulisan ‘Tandas’ di atas pintu. Sebuah kata yang masih membuatku bertanya-tanya. Yang sempat mengusik rasa penasaranku saat mendengar teriakan kondektur bis yang aku naiki tadi. Akhirnya terjawab juga. Toilet.

Jamaah sholat Subuh terisi satu setengah saf. Udara subuh terasa segar. Syahdu. Semakin menambah nikmat beribadah. Lantunan Alfatihah Sang Imam mengalun merdu.

Pagi mulai remang. Hari mulai terang. Sejenak aku merehatkan tubuh di selasar Masjid. Menikmati udara pagi nan segar. Di sini, aku bertemu dengan seseorang asal Indonesia, Bang Harahap. Kami berbincang sebentar. Dari namanya tentu mudah untuk ditebak asal daerahnya. Ya, Bang Harahap berasal dari ujung Sumatera Utara, Padangsidempuan. Ia juga sedang melakukan perjalanan, seorang diri. Ia memanfaatkan sisa perjalanan dinasnya di Pulau Batam untuk menjajal Singapura dan Malaysia.

Sejenak di Terminal Bis Larkin

Senja tampak semakin mencolok dengan pesona jingganya. Para pekerja mulai memadati jalanan hendak menuju pulang. Mulai dari riuhnya kendaraan yang memenuhi jalan hingga para pekerja yang berjalan melintasi trotoar berlalu-lalang.

Aku mulai berkemas, memasukkan semua perlengkapan ke dalam ransel. Menyerahkan kunci kamar kepada resepsionis, lalu bergegas menuju halte menanti angkutan umum tujuan terminal bis Larkin.

Sepuluh menit kemudian Aku tiba di terminal bis Larkin. Tampak deretan loket penjualan tiket, aku mendatangi salah satunya untuk membeli tiket tujuan Kuala Lumpur. Aku memutuskan memilih jadwal bis terakhir agar tidak terlalu lama menanti pagi saat tiba di Kuala Lumpur. Harga tiket 31 ringgit.

Adzan Maghrib berkumandang. Terdengar jelas dari terminal, artinya lokasi keberadaan Masjid berada tak jauh dari sini. Setelah bertanya, ternyata suara adzan barusan bergema dari lantai tiga terminal. Aku bergegas menuju atas melalui eskalator. Sebuah Masjid terletak di pojok, bagian sayap kanan. Masjid ini cukup luas. Nyaman berada di dalamnya.

Perutku mulai memberontak. Memaksa untuk mencari warung makan terdekat. Warung makan di terminal menjadi pilihanku. Aku memesan nasi lemak berisi ikan teri dengan sambal terpisah. Kelihatan hambar. Tapi perut harus segera diisi. Segelas teh tarik menjadi teman makan malam ini. Totalnya 4,5 ringgit.

Suasana terminal bis Larkin, secara fisik, sedikit mirip terminal di kota-kota besar di Indonesia. Hanya saja, penataannya lebih teratur. Kebersihan juga senantiasa terjaga. Ruas-ruas berbentuk miring yang memuat untuk dimasuki satu bis berjejer di sepanjang depan loket penjualan tiket. Ruas tersebut digunakan untuk dimasuki bis yang akan segera berangkat.

Salah satu ruasnya, terletak paling ujung, khusus ditempati oleh bis tujuan Johor-Singapura. Bentuk bisnya mirip busway, namun lebih pendek.

Di pojok terminal, tampak keriuhan sekelompok orang sedang menyaksikan layar tv di sebuah kafe. Ternyata mereka sedang menyaksikan siaran langsung pertandingan sepakbola antara Malaysia dan Indonesia. Aku turut di antara kerumunan orang-orang itu. Tidak berdesakan memang. Tapi sorakan suporter di sini terdengar cukup heboh.

Saat bola menembus masuk gawang Indonesia teriakan kegembiraan menggema seketika. Namun, ketika yang terjadi sebaliknya, bola membobol gawang Malaysia, suasana berganti hening. Rasanya aku ingin bersorak. Ah, sebaiknya kalem saja. Waktu dan tempat dirasa kurang tepat.

Aku hanya mampu berteriak girang dalam hati sambil menyunggingkan senyum tipis. Meskipun, hasil akhir pertandingan membuat aku kecewa. Namun, orang-orang di sekitar tidak menampakkan ekspresi berlebihan saat tim kesayangan mereka menang.

Malam semakin pekat. Bis akan segera berangkat. Aku menanti di bangku depan loket, tepat di depan pool bis. Wanita berhijab berbaju kurung khas melayu berparas manis menghampiriku sambil berucap, “Itu bis awak, plat nambe wai kei yu…”. Aku sedikit bingung dengan apa yang dikatakan petugas loket tersebut.

Loading sesaat mencerna maksudnya. Akhirnya aku ketahui bahwa ia sedang mengeja abjad plat mobil dengan aksen Melayu Malaysia yang berrti huruf W, K, dan U. Oalah!

Aku menaiki bis. Sungguh nyaman sekali di dalamnya. Terlihat ekslusif. Kursinya sangat empuk. Seperti sedang duduk di sofa saja. Di samping kursi tempat sandaran tangan terdapat tombol yang jika dipencet akan menggerakkan tempat bersandar kursi. Wah, pijat refleksi gratis! Keren. Seketika Aku membandingkannya dengan bis di negeriku sendiri.

Kondektur bis berteriak mengatakan bahwa bis sebentar lagi akan berangkat. Aku memilih kursi paling depan. Bersama seorang bapak tua yang duduk di sampingku. Aku memanggilnya dengan sebutan Pak Cik. Pria berumur sekitar 60 tahun namun tetap fit itu kerap melontarkan pertanyaan kepadaku, seperti sedang berceramah saja. Bahasanya terdengar formal. Ia merasa heran dengan perjalananku yang dilakukan seorang diri. Selama ini yang ia tahu turis selalu bepergian minimal berdua, sebagaimana orang Eropa.

Pak Cik mulai menghentikan ceramahnya. Sepertinya ia mengerti bahwa aku sudah sangat lelah. Perlahan mataku mulai terpejam. Bis terus melaju membelah kota. Suara mesin bis terdengar halus. Hening. Aku terlelap.

Awal Baru di Johor Bahru

Pelabuhan Stulanglaut tampak masih hidup dipenuhi para pekerja dan pendatang yang memasuki Malaysia. Setelah berjalan sejauh 30 meter dari tempat bersandarnya feri, aku tiba di antrian pemeriksaan paspor. “Nak buat apa kat sini?” tanya petugas imigrasi. “Transit to Thailand,” jawabku singkat. Ia merespon mengangguk pelan. Tanpa berceloteh panjang petugas tersebut langsung menempelkan cop di pasporku.

Banyak sekali konter pemesanan taksi di kawasan pelabuhan ini. Usai sholat Maghrib di musola pelabuhan, aku berjalan santai sambil meraba-raba suasana di negara yang baru pertama aku jejaki ini.

Aku memutuskan untuk memanfaatkan jasa taksi di dalam pelabuhan. Malam hari. Menjejali daerah baru seorang diri. Aku mesti berantisipasi. Taksi melaju membawaku ke kawasan JB City (Johor Bahru City). Ragam penginapan terdapat di sini.

Sebuah hostel bernama Hongkong menjadi pilihan tempat menginap malam ini. Posisinya tidak berada di sisi jalan utama, melainkan pada jalan bagian dalam, dekat persimpangan. Memasuki hostel tersebut harus menaiki anak tangga yang menuju ke lantai dua. Tarif permalam 35 ringgit. Aku rasa ini tarif termurah dari semua penginapan yang ada di sini.

Lelah. Perjalanan lintas negara membelah lautan sepulang dari kantor tanpa istirahat mengharuskanku untuk segera merebahkan tubuh sesaat setelah membersihkan diri dan mengisi perut.

Selamat pagi, Johor! Sebelum mentari menampakkan dirinya, aku bergegas keluar menghirup aroma pagi di kota berjarak sepelemparan batu dari Singapura ini. Langit perlahan mulai remang. Fajar menyingsing. Aku terus berjalan menyusuri tiap sudut kawasan JB City. Tata kota di sini sungguh menarik. Terlihat bersih dengan taman-taman kecil yang menghiasinya. Bak terciprat modernitas Singapura yang dipisahkan oleh Selat Johor di seberangnya.

Aku berjalan menuju bibir pulau, bagian paling selatan dari semenanjung Malaysia. Tampak jelas bangunan pencakar langit negara Singapura di seberang sana. Di bibir pulau terdapat taman cantik, persis di pinggir jalan besar. Matahari pagi mulai menyengat. Memancarkan sinarnya ke muka bumi.

Johor Bahru terhubung jembatan besar dengan Singapura. Jembatan ini tidak menggantung sebagaimana umumnya. Tetapi menyatu jejak hingga ke dasar selat. Dipadatkan dengan pasir yang ditimbun sehingga tampak seperti daratan. Mematikan aliran air di Selat Johor yang terisolasi tanpa ada sedikitpun aktifitas pelayaran di dalamnya.

Aku duduk di tepi selat sambil memandangi padatnya arus kendaraan menuju Singapura di jembatan lintas negara tersebut. Dijejali oleh para pekerja asal Malaysia yang mengadu nasib di negara tetangga. Jarak yang sangat dekat membuat para pekerja Malaysia tidak perlu membuang biaya mencari rumah untuk tinggal di Singapura. Tentu saja merupakan keuntungan tersendiri bagi pekerja khususnya dari Johor Bahru mengingat biaya hidup di Negeri Singa yang mahal.

 

Melintas Batas Batam – Malaysia

Rute perjalanan darat di Asia tenggara

Jarum jam menunjukkan pukul lima pagi. Aku beranjak dari tempat tidur, bersiap menuju kantor, hari terakhir bekerja sebelum memulai perjalanan panjang. Sore nanti, sepulang dari kantor aku akan bertualang keliling Asia Tenggara.

Hari ini terasa bersemangat. Sehingga tidak terlalu fokus menjalani pekerjaan. Pikiran terbagi dengan perjalanan yang akan dimulai sore nanti. Semua rekan di kantor tidak ada yang mengetahui rencana perjalanan nekad ini. Sengaja aku tidak menceritakannya karena tidak ingin ada suara-suara yang membuyarkan niatku. Aku ingin menikmati perjalanan nanti.

Jarum jam terus berputar. Jam pulang kantor hampir tiba. Aku meminta izin kepada rekan kantor untuk pulang tepat waktu. Tidak seperti biasanya ketika jam kantor berakhir, masih ada sisa pekerjaan yang harus diselesaikan. Setelah berpamitan, aku menyempatkan sejenak menyentuh facebook dan meninggalkan sebuah kalimat, “Petualangan Dimulai!”.

Dengan sedikit berlari, aku hampiri tukang ojek di pangkalan seberang kantor yang telah aku pesan. Sebelum ke pelabuhan, aku mampir sejenak ke rumah untuk berganti pakaian dan mengambil ransel. Aku meminta tukang ojek untuk mempercepat laju kendaraan. Perjalanan menuju pelabuhan feri internasional di Batam Centre memakan waktu 10 menit.

Tiket feri Batam – Stulanglaut, Johor Bahru, Malaysia, sudah ditangan. Aku membelinya saat istirahat jam makan siang kantor tadi. Aku memasuki ruang imigrasi di pelabuhan. Setelah stempel mendarat di pasporku, kemudian menuju ruang tunggu menanti keberangkatan yang tak berapa lama lagi.

Ini adalah kali pertama aku menjejakkan kaki di Malaysia. Hanya bermodal nekad dan doa. Kenekadan yang timbul dari passion, yang mampu mengikis rasa takut.

Terdengar suara petugas informasi mengumumkan feri tujuan Stulanglaut akan segera diberangkatkan. Aku beranjak dari kursi dan turut berbaris antri dengan penumpang lainnya di pintu pemeriksaan tiket. Langkah kaki kuayunkan melintasi koridor sepanjang 200 meter menuju ponton, tempat feri bersandar.

Penumpang feri kali ini tidak terlalu ramai. Terisi sepertiga dari total bangku yang tersedia. Tampak beberapa Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di dalamnya. Mereka berbincang akrab dengan logat medok sambil tertawa riang. Senang sekali rasanya mendengar keceriaan mereka. Karena selama ini aku hanya melihat kisah-kisah tragis yang dialami teman-teman mereka yang disiarkan melalui media. Perasaanku saat ini serupa dengan keriangan mereka yang duduk dikursi belakangku.

Sore nan cerah berganti remang yang kemudian redup menghadirkan kegelapan di luar sana. Aku masih duduk manis di dalam feri. Semarak cahaya lampu berwarna kuning terlihat dari balik jendela feri. Lampu-lampu itu milik berbagai perusahaan seperti galangan kapal, kilang minyak, dan sejenisnya yang saling berdekatan. Feri melintas di sisi negara Singapura, yang pernah menjadi bagian dari negara Malaysia.

Aroma tanah Malaysia semakin jelas tercium. Feri mulai merapat di pelabuhan Stulanglaut. Rupiah di saku celana seakan pudar tak bernilai. Lidahku tak begitu kaku untuk menyesuaikan dengan logat negara Melayu ini karena sedari kecil tumbuh dan besar dengan logat serupa di Pulau Kundur. Kaki kananku melangkah keluar dari pintu feri dan untuk pertama kalinya menginjak tanah yang masih satu daratan dengan benua Eropa ini. Assalaamualaykum, Malaysia!

Petualangan Dimulai!

Membayangkan berkelana ke negeri orang adalah kenikmatan tersendiri. Merasakan hidup di lingkungan aku tak paham berbahasa. Rupiah menjadi tak berharga. Adat kebiasaan yang tak lazim kujumpa. Merasakan hal baru nan berbeda dengan sensasi tak biasa.

Impian ini sudah lama terpendam. Semenjak kecil, setiap membaca majalah langgananku yang mengulas tentang kehidupan di luar negeri, aku senantiasa larut dalam apa yang kubaca. Seakan sedang berperan dalam bacaan tersebut. Seolah sudah berada di negeri orang.

Ketika menjadi seorang karyawan swasta di Pulau Batam, terbesit keinginan untuk mencoba menjajal negeri seberang yang berjarak dekat, Malaysia. Mengamati peta dengan seksama. Aku dapati negeri jiran tersebut berbatasan langsung dengan Thailand. Lalu, muncul hasrat untuk menembus batas negara yang jaraknya setara Jakarta-Jogja itu.

Aku mencari informasi akses lintas negara tersebut. Selama ini, yang ada di pikiranku adalah batas-batas negara itu memiliki akses yang tak mudah. Sempat berpikir, tidak ada transportasi yang melintas di wilayah perbatasan. Namun, setelah mengulik berbagai informasi dari dunia maya, melihat catatan para pejalan yang pernah melakukan perjalanan darat lintas negara, keraguanku selama ini terdobrak. Ternyata, tidak sulit untuk berpindah negara. Bahkan, tersedia transportasi umum yang melayani rute beda negara.

Mengetahui kemudahan akses lintas negara tersebut, hasratku yang semula hendak mengunjungi Malaysia saja, jadi melebar ke negara-negara di sebelahnya yang terhubung daratan. Rasa penasaran masih menggelayut di benakku. Tidak cukup Thailand, aku pun mencari tahu akses menuju negara di sebelahnya lagi, Laos.

Setelah berselancar di dunia maya, informasi yang sama juga aku dapatkan, akses menuju Laos tidak begitu sulit. Hanya membutuhkan tambahan visa. Bersyukur bisa sistem Visa on Arrival (VoA). Membuat visa tidak perlu repot-repot di Kedutaan Besar negaranya, tetapi bisa dilakukan langsung ketika tiba di imigrasi, saat memasuki negara tersebut. (Sekarang masuk Laos tidak membutuhkan visa lagi)

Entah mengapa, aku semakin tertantang untuk mencari tahu akses ke negara-negara selanjutnya yang masih berada di wilayah Asia Tenggara, mengingat sebagian besar negaranya dapat diakses tanpa Visa. Sekadar membawa paspor. Meskipun, ada beberapa yang memberlakukan visa, tetapi pengurusannya tidak memberatkan. Karena menerapkan sistem VoA.

Aku mengintip negara apa gerangan di sebelah Laos. Aha, Vietnam! Kembali aku berselancar di dunia maya mencari tahu akses menuju negara Paman Ho itu. Masih sama, informasi yang aku dapatkan untuk menembus Vietnam ternyata mudah.

Membaca pengalaman para pejalan yang mengurai lengkap disertai foto-foto tentang perjalanan mereka menuju Vietnam. Senyumku semakin mengembang. Harapan untuk melintasi negara-negara Asean semakin terbuka lebar. Tidak sabar rasanya untuk merasakan perubahan bahasa, budaya, dan adat kebiasaan di berbagai negara. Ini kesenanganku.

Aku mulai merancang rencana perjalanan. Semua informasi aku kumpulkan, sebulan sebelum keberangkatan. Hal pertama yang aku lakukan adalah membeli tiket pesawat Vietnam-Singapura. Aku membelinya di agen tiket di Batam. Ini untuk menguatkan niatku yang terlanjur membara.

Jadi, dengan adanya tiket di tangan, maka segala keraguan diharapkan bisa ditepis. Apalagi, harga tiket tersebut terbilang di atas satu juta. Sehingga meminimalisir kemungkinan pembatalan. Karena aku akan berpikir dua kali untuk menghanguskan tiket tersebut.

Selain mengurus pembelian tiket, persiapan lainnya yang aku lakukan adalah mengajukan cuti dari kantor. Lalu, mempersiapkan barang-barang penting. Bertanya sana-sini kepada orang-orang yang sudah berpengalaman, baik di dunia maya maupun nyata.

Perjalanan ini masih sebulan lagi. Namun, yang terlintas dibenakku adalah perasaan bahagia.