5 Jam di Laos

Sholat Jumat di Vientiane, Laos

Vientiane tidak semegah Bangkok. Mungkin setara dengan Kota Malang atau Palembang. Namun, beberapa gedung tinggi tetap tak luput dari wajah sebuah ibukota negara. Hanya saja, tidak semenjulang sebagaimana gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

Continue reading “5 Jam di Laos”

Wajah Kota Vientiane

Pedagang roti baguette di sekitar Morning Market

SaibaideeVientiane! Ibukota Laos ini tampak sederhana. Letaknya persis di perbatasan dengan Thailand. Jika Anda menuju Laos dari Thailand melintasi perbatasan di bagian Selatan, kota pertama yang dijejaki langsung wilayah ibukota negara Laos. Tidak seperti beberapa negara di kawasan Asia Tenggara lainnya yang ibukota negaranya tidak menyentuh perbatasan negara.

Continue reading “Wajah Kota Vientiane”

Menembus Laos

Bersama warga Laos berdarah Pakistan

Aku bersiap meninggalkan Bangkok. Sambil menggendong ransel aku bergegas memasuki bis. Seorang pramugari bis berseragam rapi bak pramugari pesawat menyambut satu per satu penumpang yang menaiki bis. Setiap penumpang yang masuk akan ditanya kemana kota tujuan. Tiba giliranku, sang pramugari tersebut bertanya dengan bahasa Thai. Aku diam tak mengerti. Ia lalu menggantinya dengan Bahasa Inggris. “Where do you go?” tanyanya dengan aksen cadel khas Thailand. “Nongkhai,” jawabku.

Continue reading “Menembus Laos”

Asiknya Jalur Kanal di Bangkok

Jalur kanal di pusat kota Bangkok

Berjalan kaki di jantung kota Bangkok, menyusuri trotoar. Melewati komplek kepresidenan. Tang-tank milik tentara Thailand terparkir di beberapa sudut jalan tersebut. Ada tentara yang berjaga di pos-pos tertentu. Kawasan sedang dalam pengawasan karena ada aksi demo sekelompok warga Thailand.

Continue reading “Asiknya Jalur Kanal di Bangkok”

Telusur Jantung Ibukota Thailand

Penampakan Grand Palace dari seberang jalan

Pagi menjelang. Riuh terdengar samar suara warga setempat dari balik ruko-ruko dari lantai tiga tempat aku menginap. Aksen orang Thailand yang sedikit mirip dengan Tiongkok membawa aku seperti berada di daerah pecinan.

Continue reading “Telusur Jantung Ibukota Thailand”

Hello, Bangkok!

Seketika aku tersadar dari tidur. Nyaman sekali tidur di dalam bis tingkat ini. Pagi masih gelap-gelap remang. Mentari belum menampakkan dirinya. Hamparan sawah di luar sana membuat hati terasa tentram memandangnya. Sesekali tampak pabrik industri yang dipugar tembok tinggi, diapit oleh rumah-rumah penduduk yang terlihat jarang.

Continue reading “Hello, Bangkok!”

Phiphi, Tak Lagi Mimpi

Pulau Phiphi

Kapal mulai meninggalkan pelabuhan Rassada, Phuket. Menuju Pulau Phiphi. Wisatawan berkulit putih memadati kapal ini. Wajah-wajah India, Tiongkok, dan Melayu dapat dihitung dengan jari. Cemilan gratis biskuit sejenis nastar tak luput dari incaran kami. Bisa dicomot sesuka hati. Tentu saja ini merupakan kenikmatan bagi pelancong gembel seperti kami. Kenyangkan perut, Dul!

Continue reading “Phiphi, Tak Lagi Mimpi”

Keluarga Baru di Phuket

Seketika aku terbangun saat bis memasuki terminal bis Phuket. Aku membangunkan Bedul yang duduk di sampingku. Jarum jam menunjukkan angka 5 pagi. Pagi masih perawan. Sepi. Hanya ada beberapa orang, yang baru saja turun dari bis, menanti jemputan kerabat.

Continue reading “Keluarga Baru di Phuket”

Melanglang ke Aonang

Aku dan Bedul sudah berada di dalam tuktuk yang akan mengantarkan kami ke Aonang. Ongkosnya 50 baht per orang. Memilih angkutan umum di sini cukup dengan melihat warnanya. Tuktuk yang kami naiki ini berwarna putih. Sepanjang perjalanan aku tertidur pulas di dalam tuktuk. Membalas rasa lelah akibat ngegembel tadi malam.

Continue reading “Melanglang ke Aonang”

Aku, Bedul, dan Krabi

Hujan masih turun deras. Aku dan Bedul berteduh di depan ruko. Membentang koran, duduk di atasnya, beristirahat. Kami kedinginan. Tiba-tiba tukang ojek datang menghampiri. Sambil mengenakan jas hujan ia menawarkan jasa tumpangan berbayar. Kami menggelengkan kepala. Menanti hujan reda saja.Khawatir dipermainkan dengan bayaran tak sewajarnya, karena kami bukan orang Thailand.

Continue reading “Aku, Bedul, dan Krabi”