Menembus Laos

Bersama warga Laos berdarah Pakistan

Aku bersiap meninggalkan Bangkok. Sambil menggendong ransel aku bergegas memasuki bis. Seorang pramugari bis berseragam rapi bak pramugari pesawat menyambut satu per satu penumpang yang menaiki bis. Setiap penumpang yang masuk akan ditanya kemana kota tujuan. Tiba giliranku, sang pramugari tersebut bertanya dengan bahasa Thai. Aku diam tak mengerti. Ia lalu menggantinya dengan Bahasa Inggris. “Where do you go?” tanyanya dengan aksen cadel khas Thailand. “Nongkhai,” jawabku.

Ya, aku akan menuju Nongkhai, salah satu provinsi di Thailand yang terletak di perbatasan dengan negara Laos. Jarak Bangkok – Nongkhai memakan waktu selama 8 jam perjalanan. Seperti biasa, sengaja aku memilih keberangkatan malam agar saat tiba di tujuan sudah mendekati pagi.

Pramugari tadi membagi-bagikan makanan dan snack kepada setiap penumpang. Ternyata pramugari tersebut merupakan seorang lady boy, pria berwujud wanita. Oh my God. Awalnya, aku sedikit khawatir. Namun ternyata ia sangat ramah. Nasi bungkus, snack, dan air mineral yan diberikan pramugari itu menjadi santapanku malam ini. Kecuali nasi, karena khawatir dengan kehalalannya.

Pukul delapan malam, bis mulai meninggalkan Bangkok. Supir bis mengendarai dengan kecepatan tinggi. Bak pebalap profesional. Sport jantung dibuatnya. Namun, tak berapa lama mataku terpejam. Terlelap dalam tidur. Mungkin karena rasa lelah selama seharian yang membuatku tidak sulit untuk tidur. Padahal bis dibawa ugal-ugalan. Semoga baik-baik saja. Aku berharap dalam hati.

Spontan aku terbangun. Ternyata bis telah tiba di Nongkhai. Semua penumpang turun. Suasana terminal di sini sedikit mirip dengan terminal bis di Phuket. Terbuka tanpa sekat. Cukup ramai orang di dalamnya. Sepertinya mereka sedang menanti pagi, melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya, lebih tepatnya negara seberang, Laos, yang hanya berjarak 15 menit dari sini.

Hening. Udara subuh memberikan energi baru. Sebagian orang ada yang melanjutkan tidur di ruang tunggu terminal. Aku meraba-raba waktu sholat Subuh. Sepertinya aku tidak akan mendengarkan suara azan di sini. Aku mencoba bertanya dimana keberadaan Masjid terdekat. Islam memang minoritas di sini. Tidak gampang untuk mencari tempat ibadah seperti Masjid. Tetapi tidak ada salahnya mencoba bertanya.

Aku melihat seseorang berwajah Arab, pria paruh baya duduk tak jauh dari sini. Mungkin ini jawaban dari pencarianku. Aku hampiri orang tersebut. Aku tanyakan kepadanya perihal Masjid. Ia mengatakan bahwa jarak Masjid cukup jauh dari sini. Ia menawarkan untuk menggunakan sajadah miliknya. Ia membantu membentangkan sajadah untuk menunjukkan arah kiblat. Aku melaksanakan sholat Subuh di terminal.

Pria tersebut ternyata warga negara Laos berdarah Pakistan – Laos. Ia baru saja tiba dari Pakistan bersama seorang keponakan laki-lakinya yang berusia sekitar 20 tahun.

Sebagaimana orang berdarah Arab, ia membuka usaha toko kain di Morning Market, pasar terkenal di Vientiane. Ia menawarkan kepadaku untuk mampir ke tokonya setibanya di Laos nanti. Kami berpisah menuju Laos, karena aku masih harus berurusan dengan pembuatan visa.

Keponakannya tiba-tiba datang membawa teh hangat yang dibelinya di warung terminal, tiga gelas. Kegelapan memudar. Pagi mulai terang. Loket tiket mulai menampakkan aktifitasnya. Orang-orang berbaris antri di depan loket tersebut, hendak menuju Laos.

Pria Pakistan itu membantuku mencari informasi kepada petugas loket. Kemampuannya dalam berbahasa setempat cukup memudahkanku. Aku disarankan langsung menuju kantor imigrasi di perbatasan Thailand – Laos. Ia mencarikan tuktuk untukku dan melakukan negosiasi harga. Tuktuk membawaku menuju perbatasan.

Mentari belum terlihat. Remang-remang cahaya pagi. Menembus dinginnya pagi di Kota Nongkhai. Belum tampak akitiftas warga. Jalanan terlihat sepi. Tak lama, tuktuk tiba di imigrasi perbatasan.

Pagi semakin terang. Tampak beberapa orang yang juga akan menyeberang ke Laos. Bis perbatasan terlihat mondar-mandir. Bis ini hanya mengantarkan penumpang dari imigrasi Thailand menuju imigrasi Laos. Aku mengabadikan suasana di perbatasan yang tampak bersih ini dengan kamera. Setelah melakukan pengecopan paspor, aku beranjak beberapa langkah untuk menanti bis perbatasan. Tarifnya 20 baht per orang.

Bis datang menjemput. Hanya beberapa penumpang. Didominasi oleh orang bule, yang juga pelancong sepertiku. Bis melintasi jembatan yang membelah Sungai Mekong. Sungai ini merupakan batas negara. Nama sungai ini tidak asing di telingaku. Aku mengenalnya pada pelajaran geografi semasa duduk di bangku Sekolah Dasar. Dulu hanya ada di dalam kepala. Kini nyata terlihat di depan mataku. Dream come true.

Hanya berjarak semenit melintas perbatasan dua negara ini. Semua penumpang turun dari bis. Imigrasi Laos terlihat lebih sederhana. Namun tetap bersih, sepertinya baru disapu oleh petugas kebersihan.

Aku turut berbaris antri dengan para backpacker bule di depan loket yang masih tutup. Tiba-tiba seseorang menghampiriku. Warga Laos yang berparas Melayu. Ia menanyakan asal negaraku. Mungkin karena wajahku yang khas Asia sehingga membuatnya yakin bahwa aku berasal dari negara yang serumpun dengannya.

Aku diarahkan olehnya menuju pos imigrasi. Namun aku masih ragu karena belum mengurus visa. Kuserahkan paspor kepada petugas imigrasi sebagaimana sarannya. Ia mengamati pasporku dengan seksama. Aku berharap cemas menanti. Cop! Petugas imigrasi melayangkan stempel ke pasporku. Ternyata sudah bebas visa. Alhamdulillah.

Aku baru tahu tentang kabar ini, warga Indonesia telah bebeas visa memasuki Laos. Biaya pembuatan visa sebesar USD 25 aku kantongi kembali. Lumayan buat bekal perjalanan selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *