Melanglang ke Aonang

Aku dan Bedul sudah berada di dalam tuktuk yang akan mengantarkan kami ke Aonang. Ongkosnya 50 baht per orang. Memilih angkutan umum di sini cukup dengan melihat warnanya. Tuktuk yang kami naiki ini berwarna putih. Sepanjang perjalanan aku tertidur pulas di dalam tuktuk. Membalas rasa lelah akibat ngegembel tadi malam.

Kami masih di wilayah Provinsi Krabi. Dari Krabi Town ke Aonang memakan waktu 30 menit menggunakan tuktuk. Di tengah perjalanan, pemandangan di dominasi oleh kawasan perkebunan dan hutan. Meski begitu, sepanjang jalannya berlapis aspal nan cantik dan terlihat bersih sehingga sedap dipandang.

Rona kota Aonang mulai terlihat. Masih sekitar 1,5 kilometer lagi untuk tiba di titik wisatanya. Pemandangan pun berganti deretan bangunan hotel, agen perjalanan wisata, restoran, toko souvenir, dan minimarket yang menjamur di sekitar. Tuk-tuk berhenti di halte, tak jauh dari pantai.Tepat di depan tuktuk, bentangan pantai dan laut tampak memesona. Ah, segarnya.

Pasir pantainya berwarna kekuningan berpadu dengan pesona lautnya yang bening. Menyegarkan pikiran saat melihatnya. Gugusan batu karst nan menjulang tinggi, setara rumah 3 lantai, di ujung sana terkesan seperti memagari sisi pantai.

Bedul tampaknya excited sekali untuk menuju batu karst itu. Sambil menenteng ransel, kami berjalan menyusuri pasir pantai yang lembut. Banyak turis bersantai menghangatkan tubuh di berbagai titik di pantai ini. Mengenakan busana minim. Tutup mata, Dul!

Sekilas, bukit karst itu tampak dekat. Tetapi setelah ditelusuri ternyata jauh juga. “Sudahlah, Dul. Sampai di sini saja”, jawabku lelah. Entah kenapa aku selalu kalah jika berjalan dengan Bedul yang bertubuh subur itu. Tampaknya ia seperti tak kenal lelah. Hebat betul Si Bedul temanku itu. Telepon genggam seketika berubah fungsi jadi kamera. Aku arahkan kamera di depan Bedul yang memohon sejak awal untuk berpose dengan batu raksasa itu. Bedul berdiri membelakangi pemandangan batu karst. Jepret!

Semua sudut kawasan wisata Ao Nang kami jelajahi dengan berjalan kaki. Kebetulan tidak terlalu luas. Apalagi Bedul yang sepertinya mempunyai energi serap. Kawasan wisata di Aonang, jika berpatokan pada jalan utamanya, membentuk letter U. Dari halte tempat tuktuk berhenti tadi, berbelok ke kanan sepanjang satu kilometer. Sisi ini merupakan tepian pulau, bersebalahan dengan pantai. Kemudian belok lagi ke kanan untuk menuju jalan pulang.

Di antara bahu jalan dan pantai terdapat trotoar selebar lima meter, ramah bagi pejalan kaki. Sedangkan di sisi jalan sebelahnya terdapat deretan toko-toko penjaja kebutuhan wisata, persis seperti toko-toko souvenir di Bali.

Krabi merupakan kawasan wisata favorit pelancong dari Malaysia. Mungkin hal ini dikarenakan banyak terdapat Muslim di sini, sehingga suasananya sedikit lebih santun dibandingkan Patong di Phuket atau Pattaya. Makanan halal pun mudah didapat. Agen-agen perjalanan sering dijumpai dengan pekerjanya wanita yang berhijab. Pada salah satu sudut, di arah jalan keluar, banyak pedagang jajanan gerobak yang memenuhi trotoar. Hampir semua pedagang di sini beragama Islam. Gerobak dihias menarik, kreatif sekali.

Aku dan Bedul duduk mengemper di rerumputan dekat trotoar, di seberang pusat jajanan gerobak halal. Bukan sekadar beristirahat, tetapi kami hendak memanfaatkan fasilitas wifi gratis milik pemerintah. Aroma internet gratis senantiasa tercium oleh Bedul. Sejenak kami beristirahat sambil meng-update keseruan yang terjadi seharian ini. Bedul memang membawa berkah.

Mengingat banyaknya Muslim di sini, seharusnya keberadaan Masjid pun tidak jauh dari sini. Setelah bertanya, kami di arahkan melewati sebuah jalan pintas. Informasi yang didapat, jarak ke Masjid sekitar satu kilometer. Dengan yakin Aku dan Bedul berjalan menyusuri jalanan yang terkesan sepi, namun tidak sedikit bangunan berdiri di sini termasuk hotel berbintang. Rumah penduduk berjarak jarang. Penampakan pepohonan kelapa sering dijumpai.

Setelah sekian jauh berjalan, tetap belum ditemukan juga Masjid yang dicari. Fiuh! Kami terus berjalan dengan yakin. Jalanan berbukit naik turun. Hendak menumpang Tuk-tuk tidak memungkinkan karena tidak ada yang melintas di sini. Seorang pria berwajah arab bertubuh besar tampak sedang berjalan berlawanan arah di depan kami. Kami bertanya kepadanya. “Where is the Mosque?,” tanyaku kepada pria yang ternyata warg Turki itu. Ia menjawab sambil mengisyaratkan tangannya menunjuk ke arah jalan yang baru saja ia lewati. Ternyata ia juga lepas melakukan sholat di Masjid tersebut.

Setelah sekian jauh berjalan sambil menenteng ransel yang cukup membebani, tampak kubah dari kejauhan. Ah, akhirnya. Meski kaki sudah cukup lelah namun sepertinya Bedul tak pernah menampakkan kepenatannya. Proud of you, Dul!

Masjid ini cukup besar meski tidak terlalu mewah. Memiliki halaman yang luas. Disekitarnya di dominasi penduduk Muslim. Satu per satu jamaah mulai berdatangan untuk menunaikan Sholat Dzuhur. Rata-rata mereka mengenakan gamis. Wajah mereka sangat mirip Indonesia, 100 persen. Seketika aku menjadi de javu. Seperti berada di negeri sendiri saja. Namun, ketika mendengar mereka berbicara baru terasa kalau ini adalah negeri orang.

Kami rehat sejenak di selasar Masjid. Angin bertiup sepoi merasuk pori-pori kulit, terasa dipasok energi baru. Lantai di selasar Masjid ini berlapis marmer, terasa adem, kami semakin pulas.

Energi telah terisi. Bersiap untuk menempuh petualangan selanjutnya. Bedul yang senantiasa membawa botol minuman memanfaatkan fasilitas air minum gratis yang disediakan Masjid ini. Sebelumnya, kami berkeliling sebentar melihat kehidupan penduduk sekitar. Kami membeli panganan khas setempat yang dijual oleh warga di pondok kecil di depan rumahnya. Wajah mereka tak ada bedanya dengan orang di kampungku. Terkadang membuat bingung. Suasana kampungnya juga hampir sama. Namun, lidah seakan tertahan untuk bercakap-cakap dengan penduduk sekitar, terhalang oleh perbedaan bahasa.

Kami kembali ke titik wisata Aonang tadi, melalui jalan yang sama. Menuju halte tempat pemberhentian Tuk-tuk tadi pagi. Senja mulai menjelang. Perlahan berganti dengan gelapnya malam. Kami menanti keberangkatan Tuk-tuk selanjutnya yang masih ngetem di sisi halte. Tak lama kemudian Tuk-tuk membawa kami meninggalkan Aonang, menembus malam dibawah deretan lampu jalan. Menempuh kembali perjalanan 30 menit ke Krabi Town.

Tuk-tuk berhenti di sisi jalan, di pusat kota. Kami menuju ruko tempat agen penjualan tiket bis. Meski sudah tutup, namun tidak sedikit yang berdiri di depan agen tersebut. Mereka sedang menanti bis yang melintas. Biasanya bis berhenti otomatis tanpa perlu dicegat. Waktu telah menunjukkan angka 10 malam. Aku dan Bedul masih saja terdampar di sini. Sementara penumpang lainnya berangsur-angsur lenyap di tempat penantian bis ini. Seperti malam sebelumnya, Aku dan Bedul kembali menggembel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *