Malam Pertama di Hanoi

Suasana riuh old quarter Hanoi di malam minggu

Wajah kota Vietnam terlihat semakin modern. Jalur jalan tol yang berbentuk memutar seperti benang yang terlilit. Cahaya kuning lampu jalan menernagi jalan. Gedung-gedung pencakar langit mulai terlihat. Jarum jam hampir mendekati pukul tujuh malam. Aku tiba di Hanoi.

Bus memasuki terminal. Taksi-taksi tampak telah bersiaga berebut penumpang. Beryukur ada Hung yang merupakan warga Hanoi. Aku naik taksi bersamanya. Kebetulan kami melintasi jalur yang sama. Aku menuju Old Quarter, kawasan populer bagi para wisatawan.

Taksi di Hanoi bentuknya mini, mirip mobilnya Mr. Bean. Taksi yang membawa kami ini dikemudikan oleh anak muda berusia sekitar duapuluhan tahun. Membelah malam di Hanoi yang terlihat semarak. Melewati pusat perbelanjaan yang dipadati banyak orang. Akhirnya taksi yang kami naiki melintasi kawasan Old Quarter.

Hung bertanya kepadaku hendak menginap dimana. Aku katakan kepadanya bahwa turunkan saja dimanapun yang ada penginapannya. Tak sengaja aku melihat tulisan Hanoi Central Backpacker, berbentuk ruko. Aku turun sebentar dari taksi. Mencari tahu apakah ada kamar kosong tersedia. Resepsionis wanita berparas imut dan berambut panjang menyambut dengan aksen Inggris yang sedikit cadel. Ia mengatakan bahwa masih tersisa tempat menginap. Alhamdulillah.

Aku kembali menuju taksi. Berpamitan pada Hung. Aku berikan lembaran dong kepadanya. Namun ia menolak. Terimakasih Hung. Semoga kelak berjumpa kembali. Tak jarang aku mendapatkan bantuan-bantuan tak terduga selama perjalanan. The magic of solo backpacking.

Aku memasuki hostel. Kamarku berada di lantai tiga. Meski dari luar terlihat seperti ruko, namun fasilitas di dalamnya tidak murahan. Tarif menginap per malam hanya USD 5. Ya, kamar yang akan aku tempati memang berjenis dormitori. Ada empat tempat tidur tingkat (untuk delapan penginap). Fasilitasnya sungguh nyaman. Dan naik ke atas menggunakan lift!

Selain kamarnya sejuk ber-AC, tempat tidurnya pun empuk dilengkapi selimut tebal yang pas untuk menetralkan dari dinginnya AC. Kamar mandi bersih, desainnya menarik, mirip hotel berbintang.

Ternyata hostel ini merupakan rekomendasi para traveler. Padahal aku menemukannya secara acak, go show. Tanpa memesan online. Ini kemudahan kesekian kali yang aku dapatkan. Lucky me.

Di dalam kamar tampak tiga penginap yang menempati tempat tidur masing-masing. Semuanya bule. Aku menyapa salah satunya, yang menempati tempat tidur di sampingku. Traveler bernama Brandon ini berasal dari California. Sama sepertiku, ia pun berpetualang seorang diri. Setelah Hanoi, ia berencana melanjutkan menuju Tiongkok dan Hongkong lewat darat yang hanya berjarak 6 jam menggunakan bis. Di atas tempat tidurku ditempati traveler asal Kanada. Satu orang lagi tampak tertidur pulas.

Aku bersih-bersih di kamar mandi lalu turun ke bawah menuju meja resepsionis. Hendak bertanya tentang paket tur ke Halong Bay. Harga tiketnya sebesar USD 25, tanpa menginap. Paket tur ini menyediakan kamar layaknya hotel untuk bermalam. Jika menginap di kapal dipatok sebesar USD 60.

Ternyata Brandon juga membeli paket tur yang sama. Kami akan ke Halong Bay bersama besok.

Waktunya makan malam. Sepanjang dari Vientiane, perutku belum menyentuh makanan berat. Sekadar roti yang diolesi saos. Fasilitas internet gratis di tempat menginap ini aku manfaatkan untuk mencari tempat makan halal terdekat. Berselancar di Google. Ketemu juga.

Aku bertanya kepada resepsionis tentang keberadaan restoran halal tersebut. Ia memberikanku selembar kertas berukuran jumbo yang berisikan peta lokasi Old Quarter. Ia menandai jalan mana saja yang harus aku lalui. Sangat terbantu sekali menginap di sini.

Malam pertama di Hanoi, bertepatan malam Minggu. Jalanan penu sesak oleh sepeda motor. Kendaraan roda empat cukup sulit melintas di sini. Suara klason saling bersahutan. Riuh sekali. Aku terus berjalan menyisir trotoar di pinggiran ruko. Meraba-raba jalan sambil sesekali melihat peta.

Aku bertanya kepada warga setempat yang kutemui. Orang Hanoi sangat welcome dengan turis. Mereka terlihat antusias membantu saat ada turis yang bertanya. Kawasan ini memang merupakan rumah para traveler dari berbagai penjuru bumi.

Namanya Taj Mahal Restaurant. Dari namanya tentu dapat ditebak. Ya, restoran milik Muslim ini didominasi makanan India. Terdapat label halal di depannya. Berada di antara deretan ruko. Desainnya elegan layaknya restoran meski ukurannya mungil. Aku menuju lantai atas.

Seorang pelayan menghampiriku sambil menyodorkan daftar menu. Aku memesan menu yang ada nasinya, Nasi Biryani. Dan minuman Teh Vietnam.

Nasi Biryani disajikan dalam panci mini. Berwarna kuning mirip nasi kuning. Hanya saja bentuk nasinya panjang-panjang. Paduan rempah-rempah menyatu dalam bumbu nasi ini. Enak sekali. Segelas teh vietnam disajikan dalam gelas kecil. Warna tehnya agak bening. Aku menyeruputnya. Weks! Rasanya sungguh pahit. Mungkin belum ditambah gula, pikirku. Setelah aku tambahkan gula tetap saja pahit. Ah, sudahlah. Aku minum air mineral saja.

Akhirnya perutku terisi nasi. Lumayan mengenyangkan. Aku kembali ke hostel. Sambil meraba-raba jalan sebagaimana perjalanan pergi tadi. Melintasi sebuah danau yang bernuansa romantis. Cahaya lampu berwarna-warni di tepian danau, tampak menarik.

Tiba-tiba terasa asing dengan jalan yang aku lalui. Seperti bukan jalan yang aku lewati tadi. Ternyata salah jalan. Aku kembali melihat peta. Berbalik arah. Mataku memandang awas. Terlihat bangunan unik yang aku lihat saat pergi tadi. Aku mengarah ke sana. Akhirnya sampai juga di penginapan. Fiuh.

Aku lelah, tapi nikmat. Mungkin ini yang dinamakan passion. Setelah menghabiskan perjalanan 24 jam di dalam bis. Kasur empuk hostel ini menggodaku untuk segera menimpukinya. Hawa dingin kamar seketika berubah hangat oleh selimut tebal yang menutupi. Zzz.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *