Lalu Lintas Aman, Wisatawan Nyaman, Medan Paten!

 

Angkot, betor, dan sepeda motor yang melewati zebra cross di simpang karya jaya, Medan Johor.

Medan merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia. Sebagaimana kota-kota besar lainnya, permasalahan lalu lintas memang tidak ada habisnya. Mulai dari soal kemacetan, infrastruktur jalan yang buruk, hingga perilaku pengguna jalan. Kota Medan memiliki masalah yang cukup pelik soal ini.

Kompetisi blog yang diadakan oleh PT. Astra International dengan tema “Bagaimana Medan Membangun Kota Tertib Lalu Lintas dan Menginspirasi Indonesia”, mendorong saya untuk mengeluarkan uneg-uneg tentang pengalaman selama menjadi pengguna jalan di Kota Medan. Inspirasi 60 Tahun Astra. Di usianya yang lebih dari setengah abad, PT. Astra International terus menginspirasi dengan memberikan apresiasi kepada orang-orang yang dianggap sebagai agen perubahan.

Anda pernah mendengar istilah orang yang membawa kendaraan secara ugal-ugalan di jalanan dengan sebutan “Supir Medan”? Imej ini bahkan sudah terbentuk di beberapa daerah di luar Kota Medan sendiri. Tak dapat dipungkiri, profesi supir angkutan kota (angkot) di beberapa kota besar di luar Kota Medan identik dengan warga dari Sumatera Utara, seperti di Batam dan Jakarta.

Mari sejenak perhatikan perilaku pengguna jalan di Kota Medan saat berada di lampu lalu lintas (traffic light). Seringkali terlihat pengendara melakukan pelanggaran mulai dari yang (dianggap) remeh seperti memberhentikan kendaraan melewati batas zebra cross hingga menerobos lampu merah. Tidak jarang juga pengendara yang sebelumnya sekadar melewati zebra cross lalu akhirnya menerobos lampu merah jika dianggap sudah aman atau tidak ada kendaraan yang melintas lagi. Tipe pengendara seperti ini berprinsip Yang Penting Aman (YPA), sekalipun melanggar aturan.

Umumnya, pengendara yang melakukan pelanggaran tersebut adalah sepeda motor, becak, dan angkot. Meski tidak jarang juga hal tersebut dilakukan oleh mobil pribadi. Sejauh pantauan penulis, pelanggaran-pelanggaran seperti ini lebih sering terjadi di titik-titik yang minim dari pengawasan Polisi lalu lintas (Polantas). Sementara, pada titik lampu lalu lintas yang dijaga penuh oleh Polantas, biasanya pengendara terlihat lebih patuh. Seperti di kawasan rumah dinas wali kota, simpang katamso, dan beberapa titik lainnya.

Umumnya, pengendara yang lebih teredukasi soal tata tertib lalu lintas adalah pengguna mobil pribadi atau masyarakat golongan ekonomi ke atas. Sebaliknya, masyarakat yang menggunakan sepeda motor, becak, dan angkot atau yang identik dengan masyarakat golongan menengah ke bawah berprinsip sebagaimana di atas, YPA. Klaim ini tentu saja tidak secara keseluruhan. Ada juga pengendara sepeda motor yang benar-benar tertib lalu lintas. Sebaliknya, pengendara mobil pribadi pun ada yang berkendara secara ugal-ugalan.

Seorang pengendara sepeda motor yang tertib lalu lintas

Ikut-ikutan

Para pengendara biasanya suka mengikuti pengendara yang ada di depannya.  Jika kendaraan di depannya dianggap dapat melintasi jalan dengan aman dan lancar maka secara otomatis kendaraan di belakangnya pun turut mengikuti. Hal ini tentu sah-sah saja selama tidak menciptakan kesemrawutan atau pelanggaran jalan.

Namun, yang menjadi permasalahan adalah kebiasaan ‘ikut-ikutan’ ini seringkali terjadi dengan mengabaikan ketertiban dan peraturan yang ada. Terutama pada saat berada di lampu lalu lintas. Perhatikan saja, saat ada kendaraan paling depan yang lolos menerobos ‘lampu merah’ dengan aman maka gerombolan sepeda motor, angkot, hingga becak motor (betor)  yang ada didekatnya pun akan mengekor dari belakang.

Aman? Tentu saja tidak. Justru pada saat sepi dan lampu hijau menyala, kendaraan yang mendapat giliran lampu hijau tersebut akan memacu kendaraannya lebih cepat, terburu-buru mengejar sebelum lampu berganti merah. Pada saat seperti inilah yang dapat membahayakan bagi pengendara yang melanggar aturan tersebut.

Tak jarang kendaraan yang seharusnya mendapat giliran lampu hijau dihalangi oleh kendaraan-kendaraan yang menerobos lampu merah. Terkadang sampai menimbulkan percekcokan atau yang lebih fatal lagi terjadi kecelakaan. Anehnya, pengendara yang jelas-jelas melakukan kesalahan terkadang bersikap lebih ‘keras’ dan merasa benar. Kasus seperti inilah yang sering menjadi umpatan orang luar kota terhadap buruknya lalu lintas di Kota Medan.

Dua Hijau pada Traffic Light

Kota Medan memiliki peraturan lampu lintas yang sedikit berbeda dari kota lainnya. Di beberapa titik lampu lalu lintas ada yang menerapkan dua lampu hijau menyala pada dua arah yang berlawanan. Pada saat lampu hijau menyala, maka kendaraan-kendaraan yang berada pada dua arah berlawanan tersebut akan jalan bersamaan.

Jika pengendara dari dua arah tersebut berjalan lurus atau berbelok ke arah kiri, hal ini tentu sangat membantu bagi kelancaran lalu lintas. Tetapi, jika kendaraan-kendaraan tersebut berbelok ke arah kanan atau bentrok dengan kendaraan dari arah berlawanan, maka yang terjadi adalah kesemrawutan lalu lintas.

Sistem dua lampu hijau menyala bersamaan pada lampu lalu lintas seperti ini sebenarnya sudah diterapkan di beberapa kota besar lainnya. Salah satunya di Kota Batam. Hanya saja Batam menerapkannya secara tepat dimana kendaraan dari dua arah berlawanan yang sama-sama diberi lampu hijau tersebut hanya diperbolehkan berbelok pada satu arah yaitu kanan. Sehingga kendaraan dapat berlalu lalang dengan lancar karena tidak terjadi ‘bentrok’ antar kendaraan dari dua arah tersebut.

 

Traffic light tidak berfungsi

Di simpang Jalan Bakti lampu lalu lintas tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bukan dikarenakan listrik mati atau kendala teknis sesaat. Tetapi lampu lalu lintas di simpang ini memang sudah lama tidak berfungsi. Padahal persimpangan ini merupakan jalan besar yang banyak dilalui kendaraan.

Kondisi ini diperparah dengan aspal jalannya yang rusak dan cukup membahayakan. Sehingga tak jarang menimbulkan kesemrawutan lalu lintas hingga kemacetan. Kalau kasusnya sudah seperti ini, pengendara yang biasanya tertib lalu lintas pun akan berusaha untuk bisa lolos dari jeratan kusut simpang tersebut.

Entah mengapa kawasan simpang ini seperti tidak dianggap. Luput dari perhatian. Lampu lalu lintas masih berdiri kokoh namun tak bermakna. Kondisi jalan yang memprihatinkan di simpang tersebut tak kunjung disentuh aspal cantik. Padahal simpang tersebut seringkali menjadi biang kemacetan, terutama pada saat-saat jam sibuk seperti waktu pulang kantor atau malam minggu.

Tertibkan Angkot dan Betor

Kesemrawutan lalu lintas di jalan menjadi momok tersendiri bagi Kota Medan. Banyak faktor yang mencoreng imej lalu lintas di kota ini. Namun, sekian lama menjadi pengguna jalan di kota terbesar di Sumatera ini, penulis menyimpulkan yang menjadi penyebab utama adalah angkot dan becak motor (betor).

Angkutan umum jenis minibus ini sering menjadi biang kusutnya lalu lintas di Kota Medan. Tidak melihat situasi dan tempat, bagi supir angkot semua jalan seperti tidak ada aturan yang berlaku. Meski di lampu lalu lintas sekalipun.

Perhatikan saja saat angkot dan betor berada pada kondisi lampu lalu lintas sedang menyala merah. Berbagai pelanggaran dilakukannya. Mulai dari melewati batas zebra cross, berhenti di lajur kiri, berhenti di zona merah sepeda motor, hingga menerobos lampu merah. Hal ini sering dilakukan di semua lampu lalu lintas.

Itu baru pada titik lampu lalu lintas. Belum lagi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan saat angkot sedang berada di  jalanan. Mulai dari berhenti mendadak saat menaikkan atau menurunkan penumpang, ngetem sampai memakan sebagian badan jalan, hingga mengendarai angkot secara ugal-ugalan.

Berbeda dengan betor. Ulah transportasi roda tiga satu ini cukup unik. Bahkan sering menjadi bahan candaan warga Medan sendiri. Bagaimana tidak, angkutan yang dikendarai dengan sepeda motor serta memiliki bodi yang tidak jauh berbeda dengan mobil ini tidak pernah memberikan tanda lampu sein saat akan berbelok ke kanan atau kiri. Bahkan sebagian besarnya memang tidak memiliki lampu sein alias rusak.

“Hanya dia dan Tuhan yang tahu kapan mau belok.” Kalimat ini menjadi candaan bagi warga Medan terhadap supir betor. Memang cukup sulit ditebak kapan supir betor ini akan membelokkan kendaraannya. Karena bodinya yang mungil dan ringan sehingga bisa diarahkan dengan cepat dan sesuka hatinya saja.

Kondisi ini selalu terjadi setiap hari. Sepertinya sudah membudaya di kalangan supir angkot dan betor. Dari peran supir angkot yang sering membawa kendaraan secara ugal-ugalan inilah sehingga tercipta istilah “Supir Medan” yang memiliki konotasi negatif. Sampai kapan kondisi ini akan tetap melekat pada jati diri Kota Medan?

 

Peran Polisi Lalu Lintas

Melihat fenomena ini, tentu tidak cukup dengan melihat dari satu sisi saja. Peran pengatur lalu lintas dalam hal ini Polantas tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh angkot tidak hanya sekali atau dua kali melainkan terjadi setiap saat. Istilah kasarnya, sudah membudaya.

Mengapa hal ini terus terjadi sehingga membuat masyarakat berprasangka seakan terjadi pembiaran pada kondisi ini. Bagaimana peran polantas?

Menertibkan angkot dan betor yang sering ugal-ugalan di jalan dan sudah menjadi kebiasaan ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Namun, ketegasan para pengatur lalu lintas dalam hal ini polantas memiliki peran yang sangat penting. Setidaknya berani menindak tegas para pengendara yang tidak mematuhi tata tertib lalu lintas khususnya angkot dan betor yang sering menjadi biang dari kesemrawutan ini.

Kebiasaan angkot dan betor yang sering melanggar aturan sudah menjadi kebiasaan. Sesuatu yang telah menjadi kebiasaan biasanya akan terlihat monoton. Sesuatu yang monoton identik dengan hal yang membosankan. Apakah pelanggaran-pelanggaran yang sudah menjadi kebiasaan ini sudah sangat membosankan untuk ditertibkan?

Seperti kata Aa Gym, mulailah dari yang kecil. Meski hal yang remeh temeh sekalipun. Yang terjadi saat ini pada kondisi lalu lintas di Kota Medan adalah mengabaikan hal-hal yang (dianggap) remeh tersebut. Harapannya, petugas lalu lintas bisa lebih tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran yang (mungkin dianggap) remeh.

Sedikit pengalaman penulis saat menaiki kendaraan di negeri seberang, Malaysia, yang dikemudikan oleh warga setempat. Saat mobil tiba di lampu lalu lintas yang sedang menyala merah seketika itu juga mobil berhenti. Padahal kondisi jalanan saat itu sangat sepi. Posisinya juga jauh dari pusat kota atau bisa dikatakan jalan lintas provinsi.

Dan yang perlu dicatat lagi adalah saat itu waktu hampir tengah malam. Sepi kendaraan. Padahal bisa saja menerobos lampu merah karena kondisinya memang terlihat aman. Tetapi sang supir tetap setia menanti hingga lampu menyala hijau. Hm. Andai saja hal ini terjadi di Kota Medan.

 

Aspal Jalan

Perbedaan kondisi jalan di pusat kota dengan di beberapa pinggiran kota terlihat kontras. Jika sedang melintasi kawasan rumah dinas walikota yang terletak di pusat kota dan merasa kagum dengan infrastruktur jalan di sana adalah hal yang wajar. Karena kondisi demikian memang sudah sepantasnya dimiliki wajah sebuah pusat kota.

Kawasan tersebut selain  memiliki jalan yang lebar, aspal yang melapisi jalannya pun terasa mulus. Ditambah lagi dengan panorama hutan kota nan rimbun yang menghiasi kawasan tersebut. Meski masih ada beberapa jalan yang sedikit rusak.

Berbicara soal infrastruktur jalan yang bagus tidak hanya tentang pusat kota saja, tetapi harus merata di semua tempat. Selama masih berada pada status administratif Pemerintah Kota (Pemko) Medan maka semua wajib diperlakukan serupa.

Jalan-jalan yang rusak harus menjadi prioritas utama. Jika berdalih soal anggaran pemerintah yang terbatas sehingga belum sanggup melapisi semua jalan dengan aspal baru, maka solusinya adalah dengan memprioritaskan jalan-jalan yang rusak terlebih dahulu. Terutama yang kondisinya sangat membahayakan bagi pengguna jalan.

Ironi yang terjadi saat ini adalah prioritas pengaspalan ulang dilakukan pada jalan-jalan yang sejatinya masih tergolong aman. Sementara jalanan yang memiliki tingkat kerusakan lebih parah sampai saat ini belum tersentuh lapisan aspal yang mulus.

Kondisi jalan di beberapa wilayah di Kota Medan memang cukup memprihatinkan. Tidak jarang terlihat jalan yang lubangnya menganga lebar dan cukup dalam seperti di jalan aksara, jalan glugur, jalan panglima denai, jalan bakti, pinang baris, dan masih banyak lagi. Hal ini tentu saja dapat membahayakan bagi pengguna jalan.

Jalan Menteng yang masih banyak jalanan berlubang
Kondisi di Jalan Panglima Denai yang rusak parah harus menjadi prioritas.

Tambal jalan asal-asalan

Jalan-jalan yang memiliki tingkat resiko membahayakan harus menjadi prioritas utama. Salah satunya adalah jalanan dengan kondisi berlubang. Melakukan pengaspalan ulang tentu saja hal yang bagus. Namun, jika pengaspalan ulang tersebut dilakukan pada jalanan yang masih tergolong aman maka akan lebih baik jika aspal tersebut dialihkan terlebih dahulu pada jalanan berlubang yang memiliki tingkat resiko membahayakan.

Namun, permasalahan belum selesai sampai di situ. Seringkali penambalan jalan di Kota Medan dilakukan secara asal-asalan. Bukannya menjadi lebih aman dan nyaman dilalui oleh kendaraan, tetapi yang terjadi justru semakin membahayakan. Aspal yang ditambal terlihat menonjol membentuk bukit. Tidak rata. Sehingga tidak ada bedanya dengan saat jalan masih berlubang.

Pengalaman penulis saat merasakan berkendara di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepri, terlihat di beberapa titik bekas penambalan lubang jalan. Tidak terlalu jelas terlihat atau samar-samar karena memang proses penambalan lubang jalan yang dilakukan bisa dikatakan sempurna. Lubang jalan ditambal rata dengan lapisan aspal mulus.

Untuk diketahui, Natuna merupakan daerah pelosok atau terluar negeri ini. Akses transportasi menuju sana cukup sulit, selain terbatas juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tidak ada salahnya Kota Medan mencontoh sistem pengaspalan di pulau terpencil tersebut.

 

Pasar Mengganggu Jalan

Potret lalu lintas di Kota Medan memang cukup kompleks. Biang kesemrawutan tidak hanya disebabkan oleh kendaraan itu sendiri, tetapi pasar pun turut andil dalam menciptakan masalah lalu lintas di kota ini.

Di beberapa titik persimpangan jalan di Kota Medan terdapat sekelompok pedagang pasar yang membuka lapaknya hingga memakan setengah badan jalan. Bahkan ada yang sampai menutupi jalan. Seperti yang terjadi di jalan seksama – simpang limun, simpang aksara, simpang sei sikambing, simpang pinang baris, dan beberapa titik persimpangan jalan lainnya.

Para pedagang seperti takut kehilangan rezeki sehingga nekad membuka lapak dagangan di tempat-tempat terlarang seperti di persimpangan jalan yang dianggap sebagai lokasi strategis. Bahkan, kawasan pasar khusus yang disediakan oleh Pemko Medan enggan untuk mereka tempati. Sehingga gedung pasar tersebut pun kosong dan dibiarkan begitu saja, seperti yang terjadi di Pasar Aksara.

Parahnya lagi, pasar-pasar yang berderet di tepi jalan tersebut menyebabkan aspal jalan rusak terkikis hingga membentuk kubangan yang membahayakan, terutama di simpang aksara. Selain menutupi sebagian badan jalan dan merusak aspal, keberadaan pasar tersebut juga menyisakan sampah yang hampir menutupi seluruh aspal di dekatnya dan menimbulkan bau menyengat tak sedap.

Lagi-lagi, ketegasan pihak terkait, dalam hal ini Pemko Medan sangat diperlukan dalam menertibkan pasar-pasar ilegal yang mengganggu ketertiban lalu lintas. Langkah pemerintah setempat dalam menyediakan lapak bagi para pedagang patut diapresiasi. Hanya saja, diperlukan konsistensi dan ketegasan dalam menertibkan pedagang-pedagang yang nakal.

Pasar Simpang Limun yang menutupi permanen akses dari Jalan Seksama

 

Astra Membangun Negeri

Kontribusi PT. Astra International dalam menciptakan kemudahan bagi pembangunan di negeri patut mendapat apresiasi. Tak terkecuali dalam memperlancar arus lalu lintas. Hal ini sebagaimana terlihat dari keberadaan beberapa gerbang tol yang diinisiasi oleh PT. Astra International. Salah satunya adalah Gerbang Tol Cikupa yang merupakan bagian dari tol Jakarta – Merak.

Kota Medan dengan segala permasalahan lalu lintasnya, mulai dari lampu lalu lintas yang tidak berfungsi hingga infrastruktur jalan dengan lubang yang membahayakan di beberapa titik pun masih mempunyai harapan untuk menjadi kota yang ramah, khususnya bagi pengguna jalan.

Ide terkait pembenahan lalu lintas di Kota Medan mungkin bisa dicoba dengan cara mengapresiasi pengendara yang tertib berlalu lintas. Caranya dengan memberikan bonus bisa berupa uang tunai atau apa saja. Sedikit mirip dengan program reality show di televisi.

Jika selama ini pengendara lebih sering ditilang karena kesalahannya, maka program ini justru sebaliknya. Pihak sponsor turun langsung ke lapangan atau kawasan lampu lalu lintas dan menyidak pengendara-pengendara yang taat berlalu lintas.

Tujuannya adalah untuk memberikan stimulasi kepada pengendara lain terutama yang sering melakukan pelanggaran. Publikasi program ini sebaiknya dilakukan secara besar-besaran sehingga semua masyarakat Medan mengetahuinya dan harapannya mampu menstimulasi untuk berkendara dengan lebih tertib lagi.

Cara lainnya, bisa juga dengan memberikan kupon berhadiah kepada semua pengendara yang taat aturan saat berada di lampu lalu lintas. Mulai dari membawa surat izin lengkap hingga mematuhi marka zebra cross. Nantinya kupon-kupon yang diperoleh para pengendara yang tertib berlalu lintas tersebut diundi untuk mendapatkan hadiah-hadiah menarik.

Gerbang Tol Cikupa merupakan salah satu kontribusi PT. Astra International dalam memperlancar arus lalu lintas. (sumber: astra.co.id)

 

Dampak Pariwisata

Letak geografis serta predikat sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia menjadi keuntungan tersendiri bagi Kota Medan. Dari segi letak geografis, Medan berjiran dekat dengan negara Malaysia. Sehingga dibuka penerbangan langsung ke dua kota populer di negara tersebut: Kualalumpur dan Penang. Bahkan dari kota ini pun sudah bisa melakukan penerbangan langsung ke Bangkok, Thailand.

Selain itu, dua objek wisata yang bertaraf internasional seperti Danau Toba dan Bukit Lawang pun cukup mudah dijangkau dari kota ini. Sebagai kota terbesar di Sumatera, Medan sering menjadi pilihan lokasi bagi event-event tingkat nasional. Hal tersebut merupakan kabar baik bagi sektor pariwisata di Kota Medan.

Yang menjadi fokus pada sub bab ini tentu saja bukan soal pariwisatanya. Melainkan dampak yang dirasakan Kota Medan terhadap kondisi yang menguntungkan tersebut. Terutama bagi sektor pariwisatanya.

Tetapi tunggu dulu. Apakah kondisi tersebut memang benar-benar menguntungkan bagi Kota Medan? Wisatawan yang berkunjung ke Medan akan bercerita kepada kerabat dan sahabat sekembali ke kota asalnya. Selain menceritakan tentang keindahan alam dan budaya yanng ada di Sumatera Utara, biasanya mereka juga akan bercerita tentang kondisi lalu lintasnya yang buruk.

Sudah saatnya Medan berubah!

*dokumentasi pribadi

28 thoughts on “Lalu Lintas Aman, Wisatawan Nyaman, Medan Paten!”

  1. Wah bener banget ini, saya pernah 3 bulan tinggal di Kota Medan jadi sudah merasakan gimana lalu lintas disini, ya semoga dengan adanya ide ide brilian seperti yang disampaikan disini segera bisa terealisasi oleh pemerintah setempat, dan harapannya kita semua bisa menjadi lebih baik lagi hehe sehingga tercipta medan yang semakin baiklah pokoknya hehe

    1. Iya, bang. Sebenarnya bagus kalau tidak bentrok kayak di Batam. Jadi lancar. Tapi kalau di Medan seringnya bentrok dari dua arah berlawanan.

  2. Bisa juga ya, jalan tertutup gara gara buka lapak.

    Kayak pasar pagi Jodoh aja.
    Wkwkwkw.

    Tulisannya panjang Bang Fadly.
    Mending dipotong potong jadi beberapa artikel.
    Cuma saran sih….

    Lanjutkan Bang Fadly, semoga Medan bisa mengalahkan kota kota yang lainnya.

  3. Beberapa.kali ke.medan, selalu.masalahnya kampung lalang yang muacetnya g jelas.. dan peraturan lalu lintas yang g jelas.. asal ada duit.. semua bablas..

    1. Itu dekat dengan Pinangbaris. Memang sebaiknya dibangun fly over karena selalu macet setiap hari.

      Makasih sudah berkunjung bang 🙂

  4. Wah udah berapa lama ya gak ke medan lagi? Menurut saya hampir semua kemacetan yang terjadi di Indonesia karena masalah kedisiplinan dalam berkendara dan juga perencanaan tata kota yang tidakterencana jauh sebelumnya

    1. Betul, Mas. Hampir di semua daerah di Indonesia. Tapi di Medan cukup unik, terutama soal lampu lalu lintasnya.

      Terimakasih mas sudah berkunjung 🙂

  5. memang permasalahan yang tidak asing lagi kalau di kota besar, banyak permasalahan yang sama di kota kota yang lain, saya rasa memang kesadaran dari masing masing pengguna jalan yang harus di benahi dan banyak permalahan lainnya, mulai dari trafik light yang terlalu cepat atau volume kendaraan yang terlalu banyak, sebenarnya itu tugas polisi lalu lintas dan pemerintah daerah untuk memberi edukasi atau kepada pengguna jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *