Keluarga Baru di Phuket

Seketika aku terbangun saat bis memasuki terminal bis Phuket. Aku membangunkan Bedul yang duduk di sampingku. Jarum jam menunjukkan angka 5 pagi. Pagi masih perawan. Sepi. Hanya ada beberapa orang, yang baru saja turun dari bis, menanti jemputan kerabat.

Aku dan Bedul memutuskan untuk rehat sejenak di terminal ini. Memanfaatkan fasilitas toilet untuk membersihkan diri, bergantian dengan Bedul menjaga ransel. Terminal ini berkonsep terbuka, tanpa dinding penutup. Dari sini bisa memandang bebas ke luar, tempat bis melintas keluar-masuk. Tampak para tukang ojek duduk menanti di salah satu sudut terminal, berjarak sekitar 15 meter dari sini. Mereka mengenakan rompi khusus berwarna oren.

Tukang ojek di sini sungguh pengertian. Saat mereka menawarkan jasa ojek kepadaku, hanya dengan sekali penolakan dengan menggunakan isyarat tangan dan gelengan kepala, seketika ia pun langsung menjauh, tanpa memaksa untuk kedua kali. Teman-temannya yang melihat pun turut mengerti. Salut untuk sopan santun pengemudi ojek di sini.

Sholat Subuh hampir tiba. Aku bertanya pada salah seorang tukang ojek tentang keberadaan Masjid. Bahasa memang menjadi kendala. Tetapi setelah dengan bantuan isyarat tubuh akhirnya ia mengerti yang aku maksud. Ia memanggil temannya, sesama tukang ojek yang beragama Islam.

Aku dan Bedul menggunakan jasa dua tukang ojek untuk menuju Masjid. Jalanan lengang. Warga Phuket masih terlelap dalam tidurnya. Hening. Sesaat kemudian kami tiba di Masjid. Hanya lima menit perjalanan. Kami membayar 40 baht per orang untuk ongkos ojek.

Kami diturunkan di Masjid Yameay. Lumayan besar. Bertingkat dua. Tempat sholat berada di lantai dua, bisa dimasuki langsung dari luar melalui anak tangga selebar lima meter. Para jamaah satu per satu tampak keluar dari dalam Masjid. Sholat Subuh usai ditunaikan. Masih dua jamaah tersisa di dalam Masjid, tampak sedang berzikir.

Kami ketinggalan sholat berjamaah bersama mereka. Usai berwudhu, Aku dan Bedul berjamaah untuk sholat Subuh. Setelah sholat, kami bersantai sejenak di luar, di bangku dekat tangga masuk. Perlahan langit mulai cerah. Seorang pria keluar dari Masjid. Saat ia melintas di depan kami, aku mencegatnya untuk bertanya, mencari informasi.

Pria Thailand tersebut bernama Khosim. Ia tak paham bercakap Inggris. Menanyakan tentang keberadaan Pulau Phiphi ternyata sulit sekali diisyaratkan dengan gerakan tubuh. Akhirnya aku mengeluarkan secarik kertas dan pena. Kami berkomunikasi melalui coretan gambar. Namun, tetap saja tidak nyambung. Hmm. Tiba-tiba ia bergegas turun tangga sambil berkata sesuatu. Entah apa yang diucapkannya, kami tak mengerti.

Dari bawah, ia memberikan aba-aba kepada kami untuk ikut bersamanya menaiki sepeda motor yang sedang dikendarainya. Ia memanggil seorang temannya yang tinggal di kawasan Masjid tersebut, mungkin seorang marbot. Aku berboncengan dengan Khosim dan Bedul bersama Abdul, teman Khosim.

Motor Khosim bersanding dengan gerobak yang ditempati beberapa kotak stereofoam. Sedikit mirip becak. Sepertinya kotak-kotak itu berisi ikan segar. Aku tak menaruh rasa curiga sedikitpun terhadapnya. Pertemuan kami di rumah ibadah seketika melenyapkan keraguan yang ada.

Ternyata kami dibawa Khosim ke sebuah rumah. Sederhana sekali rumahnya, berbahan kayu. Berbeda dengan tetangga kanan-kirinya yang sudah bertembok beton. Rumah ini berjejer membentuk seperti ruko pinggir jalan. Jalan beraspal di depannya terlihat mulus, rapi, dan bersih. Padahal bukan jalan utama, melainkan khusus untuk dilintasi warga setempat. Wajar saja, karena selain posisinya yang berada di pusat kota, Phuket adalah kota wisata yang menjadi primadona Thailand.

Ternyata ini adalah rumah Mak Cik-nya Khosim. Mak Cik lumayan mahir berbahasa Melayu. Ia pernah tinggal di Malaysia. Pantas saja Khosim membawa kami ke sini. Mak Cik berjualan nasi minyak (nasi lemak/uduk) di teras rumahnya.

Setiap kali aku dan Bedul berucap sesuatu kepada Mak Cik, Khosim selalu penasaran, meminta Mak Cik untuk mengartikannya ke dalam Bahasa Thai. Begitu juga saat Khosim hendak menyampaikan sesuatu, ia meminta bantuan Mak Cik untuk menyampaikannya kepada kami.

Wajah Bedul tampak memelas, mengelus perutnya yang sedikit berisik, mulai lapar. Tak lama berselang, nasi minyak dan es teh manis mendarat di meja kami. Nasi minyak ini terdapat beberapa irisan daging seukuran stik kentang goreng. Ditemani dengan sup yang diletakkan terpisah pada mangkuk kecil. Nasinya ada rasa-rasa nasi pulut. Sedap.

Setelah sarapan, Khosim langsung menyerahkan 150 baht kepada Mak Cik. Aku mencegahnya, merasa tidak enak. Namun, ia memaksa hingga uang tersebut berpindah ke tangan Mak Cik.

Khosim mengantarkan kami ke pelabuhan khusus untuk menuju Pulau Phiphi. Saat sedang melaju di atas motor, aku merasakan ada yang kurang. Ternyata jaketku tertinggal di rumah Mak Cik. Aku bingung bagaimana menjelaskannya kepada Khosim. Terkendala bahasa. Akhirnya aku menepuk pelan bahu Khosim sambil berucap “Makcik.. Makcik..,” sambil mengisyaratkan tangan ke belakang. Khosim memutar balik motornya. Bedul yang berbonceng di motor belakang turut mengikuti.

Tak lama kemudian kami tiba di pelabuhan. Aku dan Bedul membeli tiket tur ke Pulau Phi-phi. Si penjual tiket memberi harga 1.200 baht. Namun, setelah tawar-menawar akhirnya kami dikasih harga 1.000 baht.

Kapal belum berangkat. Aku dan Bedul menghampiri Khosim yang sedang duduk tak jauh. Bercengkerama semampunya. Lebih banyak diam kayak mengheningkan cipta. Seandainya kami mengerti bahasa Thai, tentu akan lebih banyak cerita yang kami dapat.

Khosim memperlihatkan sebuah foto balita perempuan mengenakan hijab melalui telepon genggamnya, anak semata wayangnya. Hmm. Sepertinya banyak hal yang ingin diungkapkannya. Aku menyodorkan lembaran baht kepada Khosim, karena telah banyak merepotkannya. Ia menolak dan tetap menolak, meski beberapa kali aku sodorkan. Ia mengatakan bahwa yang dilakukannya semata hanya mengharap ridho Allah SWT. “Lillaahita’ala,” katanya. Kami berpelukan sebelum berpisah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *