Jumpa Pertama Saudara Beda Negara

Suara telepon genggam berdering. Tanpa nama. Dengan yakin aku angkat panggilan tersebut. “Assalaamu’alaykum, ini Pak Wo Man,” ucap suara di seberang sana. Benar dugaanku, telepon dari sepupu Ayahku. “Nanti Pak Wo jemput di stasiun Melati, ya,” lanjutnya memberikan arahan.

Sebelumnya Ayahku sudah memberi tahu terlebih dahulu kepada Pak Wo Man tentang kedatanganku. Aku memang belum menyimpan nomor beliau. Setelah telepon ditutup, nomor panggilan barusan aku simpan di phonebook.

Aku bergegas menuju stasiun Masjid Jamek. Sesuai dengan namanya, stasiun ini terletak persis di seberang Masjid tempat aku menunaikan sholat Subuh tadi. Sistem transportasi di Negeri Jiran ini jauh lebih baik dibandingkan dengan di negaraku. Aku memasuki stasiun dengan melewati sebuah jalan kecil yang berbelok dan menanjak menuju langsung ke lantai dua. Suasana stasiun terlihat ramai.

Aku membeli tiket single trip, untuk sekali jalan. Untuk mendapatkan tiket tersebut harus berhadapan dengan sebuah mesin tiket otomatis terlebih dahulu. Cukup mengikuti panduan pada layar monitor. Setelah memasukkan sejumlah uang yang diminta, seketika akan keluar sebuah tiket berbentuk koin plastik. Nantinya koin ini dimasukkan pada pintu masuk elektrik.

Aku bergegas menuju kereta. Sulit membedakan orang Malaysia dengan Indonesia. Namun, untuk perempuan berhijab bisa dibedakan dengan melihat model hijabnya.

Kereta tiba di Stasiun Melati. Pak Wo Man telah menanti di stasiun tersebut. Aku memencet tombol handphone mengontak Pak Wo Man. Setelah saling menyebutkan ciri-ciri, kami berjumpa di luar stasiun. Ini adalah kali pertama berjumpa dengan saudara yang terpisah batas negara. Rasanya Excited. Pak Wo Man berprofesi sebagai pengemudi taksi di Kuala Lumpur. Ia menjemputku dengan taksi miliknya yang terparkir tak jauh.

Selama di perjalanan kami berbincang akrab mengulik lebih jauh silsilah keluarga. Pak Wo Man telah merantau ke Malaysia sejak tahun 1978 dibawa merantau oleh kedua orangtuanya yang merupakan adik dari nenekku. Ketika itu, Pak Wo Man dan adik kakaknya masih kecil. Tidak sulit memasuki negara tetangga pada masa itu.

Saat ini, Pak Wo Man dan keluarga besarnya telah berstatus warga negara Malaysia, hingga memiliki enam orang anak. Namun, logat khas Minang masih terdengar fasih dari lidahnya. Wajar saja, karena bahasa tersebut senantiasa dipakai saat berkomunikasi dengan istrinya yang berasal dari suku yang sama. Hanya saja, keenam anak mereka justru sangat fasih berbahasa Melayu. Saat mendengar mereka berbicara maka akan sangat sulit untuk menebak bahwa sesungguhnya mereka adalah anak-anak Minang. Sama halnya seperti aku yang tumbuh besar di salah satu bumi Melayu, Pulau Kundur.

Ternyata banyak sekali saudaraku di negeri seberang ini. Aku diperkenalkan kepada hampir semua kerabat yang bertalian darah. Berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Sambutan mereka sungguh ramah. Aku dibawa berkeliling sambil mencecap kuliner setempat.

Seorang kerabat mengajakku menghabiskan sore hari di sebuah kawasan kuliner dengan menggunakan sepeda motor. Dari sini terlihat jelas ikon Malaysia, Twin Tower. Suguhan kuliner beragam dari masakan Melayu, Thailand, Minang, hingga Aceh. Uniknya, hampir semua pedagang di sini keturunan Indonesia.

Sebelum senja menghilang, aku dibawa menuju Dataran Merdeka. Menyaksikan bangunan-bangunan besar artistik nan cantik. Ragam bentuk bangunan dengan rancangan arsitek yang unik. Kamera ditangan tak lepas mengabadikan bangunan di sepanjang jalan meski dalam keadaan dibonceng di atas sepeda motor.

Masa di Kuala Lumpur hanya aku habiskan selama sehari semalam. Keesokan harinya aku sudah harus melanjutkan rute perjalanan berikutnya. Pengalaman bersua dengan kerabat beda negara memang sangat berkesan. Melihat wajah-wajah setalian darah yang sudah berganti bahasa. Tradisi merantau suku Minang telah membawa suku dari Propinsi Sumatera Barat ini tersebar hingga pelosok negeri, bahkan negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *