Hello, Bangkok!

Seketika aku tersadar dari tidur. Nyaman sekali tidur di dalam bis tingkat ini. Pagi masih gelap-gelap remang. Mentari belum menampakkan dirinya. Hamparan sawah di luar sana membuat hati terasa tentram memandangnya. Sesekali tampak pabrik industri yang dipugar tembok tinggi, diapit oleh rumah-rumah penduduk yang terlihat jarang.

Tak ada Bedul di samping kursiku. Kami berpisah di Phuket. Masa cutinya yang akan segera berakhir mengharuskan Bedul untuk kembali ke Indonesia. Aku kembali melanjutkan perjalanan seorang diri.

Aku menunaikan sholat Subuh yang masih tersisa. Bersuci sebelum sholat dengan menempelkan kedua telapak tangan ke bodi samping bis untuk mendapatkan percikan debu sebagai pengganti air. Mengoleskannya pada wajah dan kedua lenganku. Aku sholat sambil tetap duduk di atas kursi, mengikuti kemana bis berjalan. Kalimat syukur dalam bacaan Alfatihah aku lafazkan dengan penuh khusyu. Mensyukuri nikmat perjalanan ini.

Penampakan sawah tak lama kemudian berganti dengan jejeran gedung pencakar langit. Bis berjalan melintasi jalan layang, panorama kota metropolitan terlihat jelas. Macet. Para pekerja mulai berktifitas, berlalu lalang memenuhi. Penuh sesak. Aku tiba di Ibukota Negara Thailand. Sawadeeka Bangkok!

Bis masih berjalan membelah kota metropolitan ini. Jalanan tampak lebar, mulus dan bersih. Gedung-gedung nan menjulang tinggi menjadi pemandangan yang biasa di sini. Sekilas mirip Jakarta. Hanya saja, perbedaannya pada jalur lintasan monorel yang berada di antara dua lajur jalan di ketinggian lima meter.

Bis tiba di pemberhentian terakhir, di sebuah tempat berbentuk lapangan cukup luas yang dialasi paving block, enak dilihat. Para pedagang kaki lima memenuhi di beberapa sudut. Sepintas terlihat seperti terminal bis di Pulogadung, Jakarta. Namun, disini lebih tertata rapi. Jarang ditemui serakan sampah. Sederhana tapi bersih.

Aku masih menerka-nerka tempat apa gerangan ini. Jauh dari kesan terminal bis, terlebih lagi hanya satu bis yang tampak di sini, itu pun bis yang aku naiki tadi. Aku mengikuti arah jalan penumpang bis yang baru turun. Melintasi jalanan kecil serupa gang yang cukup panjang. Para pedagang kaki lima memenuhi kedua sisi jalan. Keluar dari jalan kecil ini, seketika penampakan manusia menjadi lebih ramai. Aku terus mengikuti langkah kaki mereka.

Akhirnya aku mengetahui tujuan orang-orang itu. Mereka hendak menuju terminal bis. Ternyata tempat bis menurunkan aku tadi merupakan terminal lama. Terminal bis baru tampak lebih megah, mirip mal. Bangunannya besar, memiliki empat lantai. Aku memasukinya. Sembari mencari tahu informasi tujuan ke kota selanjutnya yang akan kutuju. Aku menaiki lift untuk menuju lantai teratas. Keluar dari pintu lift, deretan loket penjual tiket berjejer panjang. Di tengahnya deretan kursi berlapis besi disediakan bagi calon penumpang di ruang tunggu.

Aku merasa sedikit shock. Mataku seketika kabur melihat tulisan nama-nama kota tujuan yang terpajang di atas semua loket. Hurufnya keriting semua. Menggunakan aksara Thai. Seperti melihat coretan anak kecil saja.

Saat-saat seperti ini menuntut aku untuk memutar otak mencari solusi. Harus kreatif. Selalu saja ada menemukan ide saat berhadapan dengan kondisi terdesak seperti ini. I’ve got the idea. Kuncinya, harus tahu nama kota yang hendak dituju. Sebutkan nama kota tujuan kepada petugas loket. Soal hitung-hitungan harga bisa diselesaikan dengan kalkulator. Beres.

Aku menemukan pusat informasi turis di bagian tengah agak ke depan. Mereka mahir berbahasa Inggris. Lega rasanya. Berbagai kemudahan aku dapatkan secara perlahan. Selalu saja ada jalan keluar di setiap kenekadanku. Ternyata modal nekad seringkali berujung pada hal-hal manis yang tak terduga.

Aku berada di Bangkok sehari saja. Besoknya, aku akan melanjutkan perjalanan menuju Nongkhai, kota di Thailand yang berbatasan dengan Laos. Aku mencari tahu terlebih dahulu tentang jadwal keberangkatan bis ke kota tujuanku selanjutnya.

Aku keluar dari terminal bis Chatuchak, menelusuri sepanjang sisi jalan raya dengan berjalan kaki. Tanpa perencanaan. Aku ingin menikmati dengan bebas. Wajah Kota Bangkok serupa Jakarta. Menyeberang jalan saja harus menempuh jarak yang cukup dengan melintasi jembatan penyeberangan. Rasa penasaranku dengan tempat-tempat baru membuat aku senantiasa bersemangat.

Baru 300 meter berjalan, sebuah taman cantik di sisi kiri menarik perhatianku. Padang rumput hijau dihiasi aneka tanaman bunga nan cantik seakan menghipnotisku untuk memasukinya. Ditengah taman terdapat danau cantik yang kelilingi oleh perbukitan padang rumput hijau. Tanaman teratai menghiasi danau.

Aku berjalan menyusuri jalan selebar empat meter di dalam taman. Sembari berbincang dengan warga Thailand yang kebetulan berjalan di sampingku. Hingga bertemu dengan salah satu pintu keluar dari taman ini, tembus ke sebuah mal tepat di seberang jalan bernama JJ Mall.

Aku memasuki mal tersebut. Pria berpakaian gamis dan bersorban melintas di depanku. Ini merupakan kesempatan untuk mencari tahu tentang tempat makan halal. Aku hampiri orang tersebut. Ternyata di area foodcourt di lantai atas mal ini terdapat stan pedagang Muslim. Alhamdulillah.

Ternyata di mal ini juga terdapat fasilitas musala. Bersyukur, di negara yang minoritas Muslim ini ternyata tidak sulit untuk mencari fasilitas beribadah. Setelah makan siang, aku bergegas menuju musala. Aku larut dalam sholat. Menunaikan kewajiban yang mampu menciptakan rasa damai. Mensyukuri setiap jejak perjalananku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *