Kolam Renang Rasa Pantai di Treasure Bay Bintan

Berdiri di tepian kolam renang raksasa Treasure Bay

Kolam renang terbesar di Asia Tenggara kini ada di Indonesia, tepatnya di Lagoi, Pulau Bintan, Provinsi Kepri. Bukan sembarang kolam renang. Karena selain luasnya 6,3 hektar, ia juga dikonsep mirip pantai. Bagian tepinya didesain landai, miring ke bawah hingga ke tengah sebagaimana pantai. Hanya saja tidak menggunakan pasir melainkan berbahan fiber berwarna putih yang sekilas akan terlihat seperti pasir pantai. Meski begitu, pasir pantai yang asli tetap ada. Hanya saja ditempatkan di bagian tepi luar kolam yang tak tersentuh air, di sebagian tepian kolam saja.

Treasure Bay. Begitulah nama wahana air termegah di Asean ini disebut. Bagian pinggir sekeliling kolam dibuat taman nan cantik yang disediakan jalur yang bisa dilalui baik bagi pejalan kaki maupun dengan kendaraan yang merupakan wahana di tempat ini. Tentu saja kendaraan yang ramah lingkungan dengan menggunakan tenaga listrik, tanpa desingan suara. Diantaranya adalah skuter, segway, dan mobil ford. Ya, jalur tersebut juga bisa dilintasi kendaraan roda empat.

Segway adalah kendaraan unik beroda dua, tetapi posisi rodanya tidak depan-belakang sebagaimana sepeda motor, melainkan berada di kanan-kiri. Tidak ada tempat duduk, membawanya sambil berdiri memegang setang. Pastikan mesin telah menyala atau berstatus ON saat akan menggunakannya. Jangan sekali-kali menaikinya dalam keadaan mesin OFF. Karena dipastikan akan terjatuh.

Berbagai wahana berbentuk kendaraan itu sengaja disediakan mengingat kolam renang yang luasnya lebih besar dari lapangan sepakbola ini, hampir sepanjang satu kilometer, tentu akan cukup melelahkan jika tak terbiasa berjalan kaki. Selain itu terdapat juga transportasi air. Ya, jangan heran di kolam renang ini sesekali akan tampak kapal mondar-mandir berkapasitas 15 penumpang. Tetapi tidak perlu khawatir, karena selain jumlahnya hanya satu, kapal ini juga menggunakan tenaga surya. Bukan bertenaga mesin sebagaimana kapal pada umumnya. Jalannya juga pelan tanpa desingan suara. Sehingga kolam renang tetap terjaga kenyamanan dan kebersihannya.

Tidak hanya itu, kolam renang ini juga menyediakan berbagai fasilitas water sport yang bisa disewa. Salah satunya adalah Cabel Ski. Wahana ini mirip dengan permainan ski di laut. Tetapi tidak ditarik oleh speed boat, melainkan sebagaimana namanya yaitu menggunakan kabel sebagai penarik. Sebuah tali yang dipegang oleh pemain terhubung dengan kabel di atasnya yang digerakkan dengan remote yang dikontrol oleh seorang instruktur. Sensasinya tak kalah seru dengan berselancar di laut berombak besar.

Tidak perlu khawatir soal keamanan saat bermain dengan berbagai wahana yang tersedia di kolam renang raksasa ini. Karena sebagaimana pantai-pantai di Eropa, di sini juga ada Penjaga “Pantai”. Sekelompok “Bay Watch” ala Treasure Bay senantiasa bersiaga di berbagai tempat untuk memantau para pengunjung yang bermain di dalamnya. Tetapi tentunya juga Anda perlu berhati-hati dan mematuhi segala aturan yang ada, seperti memakai helm saat menggunakan skuter yang memang diwajibkan.

Kawasan Bintan Resorts ini dibalik kemewahannya namun dominasi pepohonan hutan terlihat jelas di sini. Termasuk Treasure Bay. Sehingga tak heran jika berada dalam area kolam renang akan tampak di sekelilingnya pepohonan hijau nan menjulang. Keberadaan hutan ini juga dimanfaatkan oleh pengelola dengan menawarkan sebuah wahana nan ekstrim, ATV (All Terain Vehicle). Yaitu sebuah aktifitas menjelajah hutan dengan kendaraan roda empat beroda tebal yang mampu menjejali segala medan. Kendaraan ini dikemudikan tidak dengan setir melainkan setang sebagaimana sepeda motor.

Semua wahana tersebut bisa disewa dengan tarif beragam, mulai dari Rp. 40 ribu hingga Rp. 300 ribu. Tetapi jika Anda menginap di Hotel The Canopi, sebuah penginapan bergaya tenda namun elegan yang berlokasi di salah satu pinggir kolam renang tersebut, bisa menikmati semua wahana itu secara gratis. Tepat di depan hotel ala permukiman tersebut penampakannya menyerupai suasana pantai. Kursi santai untuk berjemur dan pasir pantai serta pohon kelapa kuning asli ditata sedemikian rupa.

Jika lapar melanda sehabis berenang terdapat sebuah restoran dan bar bernama Bora-bora di ujung kolam renang. Berbagai menu tersedia di sana dari khas Indonesia hingga western food. Harganya ditaja mulai dari Rp. 50 ribu hingga Rp. 200 ribu per porsi. Restoran ini bersebelahan dengan meja resepsionis Hotel The Canopi yang merupakan pintu masuk ke Treasure Bay.

Harga tiket memasuki Treasure Bay dibanderol sebesar Rp. 100 ribu per orang. Tiket ini menggunakan sistem deposit yang bisa digunakan untuk menikmati wahana yang ada. Jadi, dari seratus ribu tersebut, Rp. 20 ribu adalah tiket masuk sesungguhnya sedangkan Rp. 80 ribu adalah deposit. Sehingga jika hendak menikmati wahana tinggal mengambil dari deposit tersebut. Namun, deposit ini sudah menjadi kewajiban saat memasuki Treasure Bay. Meskipun tidak ingin menikmati wahana, tetap harus membayar Rp. 100 ribu.

Menurut pengalaman, pada saat-saat ramai pengunjung, diperbolehkan untuk membayar Rp. 20 ribu saja.

Tidak ada perbedaan harga antara anak-anak dan dewasa. Nantinya akan diberikan sebuah gelang karet berwarna hijau sebagai tanda pengenal untuk masuk ke dalamnya. Gelang ini wajib dikenakan bagi setiap pengunjung. Dan harus memberikan uang jaminan sebesar Rp. 40 ribu. Uang jaminan ini nantinya bisa diambil kembali saat akan pulang. Selamat berlibur ke Treasure Bay Kepri! The Best Crystal Lagoon.

 

15 Hari Jelajah Asia Tenggara – OpenTrip

Jelajah Asia Tenggara lewat Darat

Asia Tenggara merupakan wilayah geografis yang ditempati oleh Indonesia. Di dalamnya terdapat 11 negara yang juga sering disebut dengan negara-negara Asean. Beberapa negaranya terletak satu daratan yang saling terhubung seperti Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Meski Indonesia berada di pulau terpisah dengan negara-negara tersebut, namun karena kesamaan letak geografis sehingga cukup mudah untuk menjangkaunya. Bahkan, beberapa negaranya yaitu Singapura dan Malaysia bisa ditempuh kurang dari satu jam dari Indonesia, khususnya dari wilayah Provinsi Kepri dengan menggunakan feri cepat.

Penulis sudah melakukan perjalanan menjelajahi negara-negara tersebut sebanyak dua kali. Pertama, melakukannya seorang diri atau solo backpacker. Perjalanan kedua, penulis melakukannya bersama istri setelah menikah. Rute negara yang dilalui pada dua kali pengalaman tersebut adalah sama yaitu Malaysia, Thailand, Laos, dan Vietnam.

Hanya saja, lintasan jalur yang dilewati berbeda. Saat pertama, penulis melintasi jalur tengah dengan melewati Vientiane, ibu kota negara Laos. Sedangkan perjalanan kedua, penulis memilih jalur utara dengan melintasi Chiang Mai, Chiang Rai, dan Luang Prabang.

Bagi Anda yang juga ingin merasakan sensasi perjalanan melintasi empat negara berbeda dengan melalui jalur darat atau menggunakan bus, penulis memberikan kesempatan dengan mengadakan Open Trip. Nantinya penulis akan memandu perjalanan sebagaimana yang pernah penulis lakukan sebelumnya. Silakan hubungi 085292311441 (lihat poster).

Jalan-jalan Malam di Kota Tua Karimun

Suasana Tanjung Balai Karimun di Malam Hari

Pulau Karimun yang berada di jalur strategis Selat Malaka telah menjadi tempat persinggahan para pelaut sejak berabad silam. Pulau ini meninggalkan jejak kota lama yang menjadi pusat perekonomian hingga sekarang di Kota Tanjung Balai Karimun.

Pesona kota tua terpancar dari raut kotanya yang eksotis serta memiliki jalanan yang sempit. Meski sebagian bangunannya sudah menjelma menjadi bergaya modern namun kesan kota tua seakan tak lekang dimakan waktu. Sekilas mirip kota tua di Malaka, Malaysia.

Sebagaimana kota tua di daerah lainnya, Tanjung Balai Karimun pun berada di wilayah pesisir, berdekatan dengan pelabuhan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pelabuhan pulau yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Karimun ini di saat yang sama Anda sudah berada di pusat kotanya.

Kota Tua Tanjung Balai Karimun menyuguhkan ragam pilihan aktifitas yang bisa dinikmati. Saat siang hari, deretan kedai kopi bisa dijadikan tempat nongkrong yang asyik. Sajian minuman seperti teh o, kopi o, teh tarik, dan lainnya bisa menjadi peneman sembari menyaksikan geliat perekonomian di kota tua ini.

Ruko-ruko tua berjejer di sepanjang Jalan Nusantara ini. Mulai dari kedai kopi, toko pakaian, aneka oleh-oleh khas Karimun, hingga ragam penginapan. Karimun dikenal sebagai sentra perikanan dan sagu. Anda bisa menemukan dengan mudah oleh-oleh khas Negeri Berazam yang didominasi dengan makanan olahan ikan dan sagu seperti kerupuk ikan, kerupuk sagu, dll. disini.

Aroma Kota Tua Tanjung Balai Karimun semakin terasa saat malam menjelang. Para pedagang kaki lima membuka lapak di sebuah jalan khusus yang menjelma menjadi pasar malam. Mulai dari pedagang souvenir, kaos, jajanan pasar, hingga foodcourt atau pujasera menyatu di sini.

Beberapa lapak kedai kopi yang senantiasa ramai pun turut memenuhi kawasan pasar malam ini. Pasar malam ini terletak di pusat kota tua yang berdekatan dengan pelabuhan. Sangat mudah dijangkau karena berjarak dekat dengan banyak penginapan. Banyak wisatawan yang berkunjung ke sini.

Tak jauh dari pasar malam, terdapat pusat kuliner ala foodcourt tradisional dikelilingi pedagang gerobak yang beratapkan langit. Masyarakat setempat mengenalnya dengan Akau Taman Bunga. Akau ini berada persis di pelabuhan besar Tanjung Balai Karimun.

Ragam makanan tradisional seperti nasi goreng kampung, mi goreng melayu, soto, sate, bakso, dll. tersaji di sini. Aneka minuman khas pun bisa dijadikan pelepas dahaga seperti teh tarik, teh o, kopi o, teh obeng, hingga jus buah-buahan. Kesan romantis yang disuguhkan akau ini, mulai percikan cahaya lampu kuning serta pepohonan rindang yang tumbuh di sekitarnya, mampu meredakan rasa lelah sembari menyantap makanan atau menyeruput minuman.

Menginap di hotel mana pun di kota tua ini aksesnya senantiasa mudah untuk menjangkau baik ke pasar malam, akau taman bunga, atau pun spot-spot menarik lainnya di kawasan ini. Saat musim durian, Anda bisa menemukan beberapa buah asal Pulau Kundur itu di kota tua ini. Biasanya durian dijajakan dengan cara digantung di dalam gerobak sebagaimana gerobak makanan.

Menuju Ke Sana

Kota Tua Tanjung Balai Karimun memiliki akses yang sangat mudah dijangkau. Kota Tua yang juga merupakan jantung perekonomian di Kabupaten Karimun ini terletak di jalur pelayaran dunia Selat Malaka. Tidak hanya dari Pulau Batam, bahkan bisa diakses langsung dari dua negara tetangga: Singapura dan Malalysia.

Dari Batam, hampir setiap jam ada feri cepat yang melayani keberangkatan dari atau ke Tanjung Balai Karimun. Mulai dari pagi hingga sore hari sekitar pukul empat. Selain itu, bisa juga diakses langsung dari Ibukota Provinsi Kepri, Tanjungpinang, Tanjungbatu, bahkan provinsi jiran seperti Dumai, Riau.

Terdapat banyak jasa sewa mobil dan motor di pusat kota tua ini. Jika hendak menyewa motor cukup datangi saja tukang ojek yang mangkal di sekitar pelabuhan. Namun akan lebih berkesan jika menggunakan becak sepeda yang masih eksis hingga sekarang. Tarif sekali putaran di kota tua adalah Rp. 20 ribu.

Berbagai penginapan dapat dengan mudah ditemukan di kawasan kota tua ini. Tarifnya mulai dari Rp. 90 ribu hingga Rp. 600 ribu per malam. Menginap di sini tidak perlu lagi menggunakan jasa transportasi yang ada. Karena selama masih di kota tua, akses menuju kemana pun sangatlah dekat.

Menonton Ribuan Bangau di Taman Cemara

Taman Burung Cemara Asri

Di Kota Medan, Sumatera Utara, terdapat sebuah taman yang dihuni oleh ribuan bangau, namanya Taman Burung Cemara Asri. Ya, begitulah taman ini disebut.

Taman ini seakan menjadi paru-parunya Kota Medan. Di tengah hiruk pikuk lalu lintasnya dengan tingkat polusi yang cukup mengkhawatirkan, taman ini menjadi solusi bagi warga Medan yang mendambakan udara segar.

Taman ini dirancang menjadi habitat buatan bagi unggas berkaki dan berparuh panjang tersebut. Luasnya satu setengah kali lapangan sepakbola. Dibuat mirip rawa-rawa. Tumbuhan ilalang ditanam di dalamnya sehingga membentuk semak belukar. Di dalamnya juga disebar pakan berupa katak sehingga bangau-bangau tersebut betah tinggal di taman tersebut.

Pada sebagian sisi tepi habitat bangau tersebut membentuk kolam seperti tambak. Ratusan ikan mas yang berebut makanan dapat disaksikan dari sisi pagar pembatas. Banyak anak-anak kecil yang melempar makanan kepada ikan-ikan mas tersebut.

Tidak hanya bangau, di sini juga terdapat beberapa fauna lainnya seperti ular sawah dan ribuan burung dara nan jinak yang dikandangkan di sebelah habitat bangau.

Ramai warga Medan yang berkunjung ke sini. Terutama pada sore hari atau akhir pekan. Disediakan juga beberapa bangku tempat bersantai di pinggirnya yang bisa digunakan untuk menyaksikan atraksi ribuan bangau putih yang beterbangan bagaikan salju.

Taman Burung ini terletak di kawasan nan luas komplek perumahan dan bisnis terpadu Cemara Asri. Meski begitu, taman ini terbuka untuk umum. Bebas masuk bagi siapa saja tanpa dikenakan tiket masuk alias gratis. Tidak hanya datang untuk melihat burung, sebagian warga memanfaatkan taman di sekitarnya untuk melakukan olahraga jogging.

Transit Singapura Sebelum Pulang

Di Masjid Sultan Singapura

Penampakan gedung-gedung pencakar langit terlihat rapi dari dari ketinggian. Panorama kota yang tertata sangat apik. Hamparan hijau rumput pun terlihat indah. Pesawat yang aku naiki masih terbang di udara. Menuju Singapura.

Pesawat mendarat di Bandara Changi, salah satu bandara tersibuk di dunia. Canggih sekali negara ini. Padahal luasnya tak jauh berbeda dengan Pulau Batam. Singapura merupakan salah satu negara mungil yang masuk dalam 10 besar negara terkaya di dunia. Negara ini pernah menjadi bagian dari Malaysia.

Tujuan pertamaku tentu saja Merlion, patung singa yang menjadi kebanggaan Singapura. Aku menggunakan MRT dari bandara Changi. Akses menuju dari satu tempat ke tempat lainnya sungguh mudah di sini. MRT menghubungkan semua tempat di Singapura, seperti pelabuhan, terminal bis, bandara, hingga tempat-tempat wisata. Tidak perlu takut tersesat. Rajin-rajinlah bertanya. Meski penampilan warga Singapura terkesan cuek namun sebenarnya mereka sungguh ramah saat diajak ngobrol.

Aku menuju Stasiun City Hall, jarak terdekat ke Merlion. Sesampainya di staisun City Hall aku meneruskan dengan berjalan kaki untuk menuju Merlion. Bagi yang tidak terbiasa berjalan kaki mungkin akan cukup melelahkan. Stasiunnya memang cukup luas. Namun, jalur ini merupakan yang terdekat jika dengan berjalan kaki. Perjalanan akan dimanjakan dengan melintasi tempat-tempat menarik.

Akhirnya aku bisa melihat ikon Singapura yang selama ini hanya dilihat melalui gambar. Patung Merlion berdiri gagah sembari menyemburkan air dari mulutnya. Tempat ini selalu dipenuhi wisatawan dari mancanegara, khususnya Asia Tenggara. Padahal patung ini terlihat biasa saja. Hm. Kreatifitas Singapura dalam mempromosikan pariwisatanya patut diacungi jempol. Berhasil membuat orang-orang di seluruh dunia penasaran untuk melihatnya secara langsung.

Patung ini berada di tepi teluk. Di sekelilingnya, tampak mencolok gedung-gedung menjulang yang berdiri berdekatan. Tepat di seberang teluk sana tampak gedung unik yang sangat populer. Tiga gedung tinggi yang menopang bangunan berbentuk kapal di atasnya. Tempat ini dikenal dengan Marina Bay.

Gedung ini sering menjadi sasaran kamera fotografer. Sementara di sisi kiri, tampak bangunan berbentuk setengah durian bernama Esplanade. Ini merupakan gedung teater.

Di dekat patung Merlion ini terdapat jasa perahu wisata yang bisa dimanfaatkan untuk mengelilingi teluk nan luas tersebut. Di dekatnya lagi tersedia resotoran yang dapat meredakan rasa lapar.

Rasa penasaran terhadap patung berkepala Singa bertubuh ikan itu pun telah terlampiaskan. Selanjutnya, aku akan menjelajahi kota di negara imut ini. Ada dua kawasan populer yang seering menjadi incaran wisatawan:s Little India dan China Town.

Little India, sebagaimana namanya tempat ini memang dominasi etnis keturunan India. Untuk menuju Little India lebih praktis menggunakan MRT. Ada dua stasiun yang berada di dekat di kawasan ini yaitu Stasiun Little India dan Quay Park. Namun stasiun yang lebih dekat di pusat Little India justru stasiun Quay Park. Pada peta jalur MRT kedua stasiun ini ditandai dengan warna ungu.

Hampir semua perdagangan di sini dikuasai warga keturunan mereka. Mulai dari pemilik toko, rumah makan, sampai pengemisnya. Toko-toko musik seringkali menyetel musik-musik India, membuat seakan benar-benar berada di Negeri Taj Mahal.

Tidak sedikit etnis India beragama Islam di sini. Sehinga bisa dengan mudah untuk menemukan tempat makan halal. Terdapat juga Masjid Mangolian di tengahnya, persisi di pinggir jalan utama.

Setelah city tour di Little India aku beranjak menuju China Town. Stasiun pemberhentian di China Town memiliki nama sama, Stasiun China Town. Pada peta stasiun ini ditandai dengan warna hijau. Meski Singapura secara umum didominasi etnis Tionghoa, namun berada di China Town akan menemukan suasana kampung China yang lebih detail.

China Town sengaja dikonsep untuk wisatawan. Pedagang kaki lima berjejer teratur memenuhi salah satu jalan. Pusat kuliner yang bersih dan luas. Tetapi tentu saja meski waspada soal makanan halal. Kawasan yang terlihat seperti taman ini merupakan tempat favorit untuk bersantai.

Uniknya, di kawasan China Town ini terdapat asebuah sebuah kuil milik umat Hindu yang berdiri megah. Kuil ini dijadikan destinasi bagi wisatawan. Memasukinya harus melepas alas kaki dan dilarang membawa kamera. Jika sedang panas terik jangan coba-coba menginjak lantai bagian luarnya, karena kaki terasa seperti terbakar.

China Town menjadi destinasi terakhir dalam lawatanku di Negeri Mini ini. Juga akhir dari lawatan penuh menempuh Asia Tenggara. Aku tidak menginap di Singapura, mengingat waktu cuti yang akan segera habis. Mengunjungi tempat-tempat tersebut dalam satu hari memang memungkinkan, karena selain jaraknya yang tidak terlalu jauh, juga akses transportasi yang sangat memudahkan dalam bepergian.

Hari beranjak senja. Aku kembali menaiki MRT, menuju stasiun Harbour Front, stasiun yang berada di dalam mal Vivo City, menyatu dengan pelabuhan internasional yang menuju Batam, Tanjungpinang, dan Karimun. Aku menuju loket penjualan tiket di lantai tiga. Ada sekitar empat agen tiket feri cepat di sini. Aku membeli tiket tujuan seharga SGD 29.

Usai membeli tiket, aku langsung menuju pos pengecopan paspor. Berbaris antri. Lalu turun ke lantai dasar menuju ruang tunggu. Ramai penumpang duduk menanti di sini. Didominasi wajah-wajah Indonesia.

Petugas pelabuhan menginformasikan kapal feri akan segera berangkat. Aku bergegas menuju antrian boarding pass. Lalu berjalan menyusuri koridor pelabuhan sepanjang 200 meter untuk tiba di ponton tempat bersandar feri. Suasana di luar telah berubah gelap. Malam menjelang. Feri berjalan perlahan meninggalkan Singapura.

Feri tidak terisi penuh, hanya sepertiga penumpang. Sepi sekali di dalam ruangan. Penumpang lain memilih duduk di dek atas feri sambil menikmati panorama gedung-gedung pencakar langit Singpura yang berkilau di malam hari. Aku memilih merebahkan tubuh di dalam ruangan ber-AC nan nyaman. Meredakan rasa lelah setelah seharian menguras energi. Lelah bercampur nikmat.

40 menit kemudian feri tiba di Pulau Batam. Akhirnya tiba di negeri tercinta, Indonesia. Tak sabar rasanya ingin sampai di rumah. Dari ponton pelabuhan aku masih harus berjalan menyusuri koridor sepanjang 100 meter untuk tiba di pos pengecopan paspor.

Stempel imigrasi berhasil mendarat di pasporku. Rasa lelah bercampur nikmat masih aku rasakan. Aku keluar dari terminal feri, berjalan keluar mencari ojek. Malam semakin larut. Seorang tukang ojek menghampiriku sambil berkata, “Mau cari penginapan, Mas?”

Selangkah Menuju Tiongkok

Di ruang tunggu bandara No Bai Hanoi, Vietnam

Hari terakhir di Hanoi. Hari terakhir pula petualangan menempuh Asia Tenggara hinggaVietnam Utara tanpa pesawat ini. Selesai sudah perjalanan darat. Hari ini aku akan menuju Singapura menggunakan pesawat.

Pukul enam pagi. Aku bergegas mandi. Berkemas barang lalu check out. Berpamitan pada Brandon yang masih tinggal di hostel ini semalam lagi. Aku menuju lantai bawah. Menyelesaikan pembayaran kepada resepsionis sebesar USD 15 untuk tiga malam.

Aku melangkah keluar dari hostel. Menuju pool bis bandara dengan berjalan kaki. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini. Pool bis bandara terletak di persimpangan dekat kantor Vietnam Airlines, Jalan Quang Trung. Tanyakan saja kepada warga setempat untuk mencari keberadaannya, karena sudah dikenal warga sini.

Beberapa bis bandara tampak terparkir di depan kantornya. Pool ini memang berada di bahu jalan, namun luasnya cukup lebar sehingga tidak mengganggu bagi pejalan kaki yang melintasi trotoar. Bis ini sejenis minibus. Berukuran sedang berkapasitas 15 orang. Aku membeli tiket bis pukul delapan pagi. Tiket bus dibanderol sebesar USD 2. Jadwal keberangkatan bis setiap satu jam, selain jam tujuh pagi. Bus pertama berangkat jam enam pagi. Entah kenapa bus tidak beroperasi pada jam 7 pagi, mungkin pada jam tersebut rawan macet.

Tepat pukul delapan pagi bis meninggalkan Old Quarter. Menuju Bandara No Bai. Membelah pagi yang masih berselimut kabut. Penumpang terisi penuh. Perjalanan menuju bandara memakan waktu 45 menit.

Setibanya di bandara, aku langsung menuju konter check-in. Menyerahkan paspor dan lembaran tiket yang aku dapat dari agen travel di Batam. Petugas tersebut hanya mengambil pasporku. Tiket yang aku berikan tadi ditolaknya. Ternyata ia hanya butuh data di paspor saja untuk mencocokkan dengan data di komputer sistem informasi di komputernya.

Usai check-in aku langsung menuju pos pengecopan paspor. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Aku menanti di ruang tunggu. Pesawatku terbang pukul sebelas siang nanti. Waktu tersisa ini aku manfaatkan dengan berbincang warga Jepang yang duduk di depanku.

Tak lama kemudian, terdengar suara informasi yang menandakan pesawat akan segera berangkat. Aku berbaris antri untuk melewati pemeriksaan boarding pass. Sekejap lagi aku akan meninggalkan negeri Paman Ho ini. Menuju negeri Paman Lee, Singapura.

Melihat Keajaiban Halong Bay

Membeli buah di pelabuhan terapung

Hari ini aku akan menghabiskan waktu seharian di tempat yang ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, Halong Bay. Hamparan bebatuan karst raksasa di sebuah teluk bernama Halong membuatnya berhasil dinobatkan sebagai daerah dengan keajaiaban alam. Bebatuan karst yang menjulang di sini jumlahnya mencapai sekitar dua ribu.

Aku mempersiapkan diri lalu turun ke lantai bawah. Begitu juga Brandon yang memiliki tujuan serupa. Pukul delapan pagi pemandu tur datang ke hostel menjemput kami. Ia membawa kami menuju bis pariwisata yang terparkir tak jauh. Aku dan Brandon memilih menanti di luar bis, sementara menanti peserta tur lainnya.

Bis hampir terisi penuh. Perlahan berjalan meninggalkan Old Quarter. Belum jauh berjalan ternyata masih ada beberapa peserta tur lagi yang akan naik. Perjalanan diteruskan menyusuri Kota Hanoi. Kota ini masih kalah modern dengan Bangkok atau Jakarta. Bis melewati jembatan yang di bawahnya terdapat sungai besar yang membelah kota bernama Sungai Merah.

Perjalanan ini akan ditempuh selama tiga jam. Setengah perjalanan bis ini akan berhenti di pusat jajajanan dan cinderamata. Lokasinya luas setara dua kali lapangan tenis. Membentuk sebuah bangunan tanpa sekat tembok. Aneka jajanan dan oleh-oleh ditempatkan terpisah dengan cinderamata yang harganya mencapai puluhan juta.

Di sini juga terdapat buku-buku wisata terbitan Lonely Planet. Sebagian areanya ditempati kafe mini. Sebagiannya lagi tempat parkir kendaraan di ruang terbuka. Semua bis wisata sepertinya wajib mampir ke sini.

Setelah mampir di pusat oleh-oleh, bis kembali berjalan menuju Halong. Aku tertidur pulas. Satu setengah jam kemudian bis tiba di Kota Halong. Memasuki kawasan Halong Bay akan melewati gerbang besar lalu melintasi jalan khusus nan lebar sepanjang satu kilometer.

Bis tiba di pelabuhan Halong Bay yang besar dan luas. Semua turun dari bis. Pemandu tur senantiasa memberikan arahan. Ia menginstruksikan untuk segera memasuki pelabuhan. Aku mengikuti langkahnya. Masuk pelabuhan, begitu keluar di pintu belakang tampak hamparan luas Teluk Halong yang dipenuhi kapal wisata yang berlabuh berjejer. Kapal wisatanya terlihat unik, dipoles warna cokelat sehingga terkesan tradisional. Bentuknya kapalnya didesain khas Vietnam.

Kapal ini bertingkat dua. Dek bawah didesain ala restoran, deretan meja dan bangku dengan nuansa elegan. Sedangkan dek atas berkonsep terbuka tanpa atap, diberi pembatas pagar kayu hampir semeter. Bisa duduk lesehan atau menempati beberapa bangku yang tersedia.

Paket tur ini sudah termasuk makan siang. Namun aku tidak ikut makan bersama mereka. Aku sempat iseng bertanya kepada tukang masak di dapur. Ia mengatakan ada campuran daging babi. Aku sudah memperkirakan hal-hal semcam ini. Sehingga sudah mempersiapkan bekal makanan dari hostel tadi.

Tampak gugusan batu karst di ujung sana. Terkesan seperti saling menyambung. Siraman mentari yang jatuh ke permukaan teluk semakin menambah eksotis. Kapal melepas sauh, berjalan santai menuju bebatuan itu. Semakin didekati batu-batu karst tersebut semakin membesar berdiri terpisah, bak monster raksasa. Tinggi menjulang setara dengan rumah tiga tingkat.

Kapal bersandar di pelabuhan terapung seluas dua kali lapangan badminton yang dikelilingi batu-batu karst yang berdiri kokoh di dekatnya, hanya berjarak sepelemparan batu. Pelabuhan ini ditopang oleh drum-drum besar di bawahnya. Ada sekitar lima kapal yang berlabuh di sini. Terdapat loket penjualan tiket di atasnya. Bagi yang ingin menikmati wahana kayaking atau sampan bisa mencobanya di sini. Tarifnya dipatok USD 5 per orang.

Selain itu, di atas pelabuhan ini juga ada pondok kecil yang menjual aneka jajanan, ikan bakar, jagung rebus, dll. Bagi yang tidak ingin menikmati wahana tersebut bisa bersantai di bangku yang tersedia atau sekadar jalan-jalan melihat panorama yang menakjubkan. Terdapat juga keramba ikan milik nelayan di sini.

Beberapa sampan merapat ke pelabuhan. Sampan-sampan tersebut milik warga setempat yang menjual aneka buah dan jajanan. Mirip pasar terapung. Salah satu buah yang dijual adalah rambutan. Dari namanya buah ini memang terdengar Indonesia. Iseng aku bertanya kepada pedagang buah tersebut apa nama buahnya. “Zambutan,” jawabnya. Benar sekali. Buah berambut itu memang khas negeriku.

Kapal kembali melanjutkan perjalanan. Spot selanjutnya adalah goa karst. Ya, goa ini berada di dalam salah satu batu karst. Di dalamnya terdapat stalagmit dan stalaktit. Jaraknya tidak begitu jauh.

Sebelum memasuki goa, pemandu memberikan arahan kepada peserta tur dalam bahas Inggris. Kami mulai memasuki goa. Menaiki tangga yang diselimuti pepohonan. Cahaya mulai temaram, lalu berganti warna-warni, menempel di stalagtit dan stalaktit. Cahaya warna-warni tersebut berasal dari lampu yang dipasang di celah-celah goa.

Trek di dalam gua teksturnya bergelombang dan berliku. Menanjak dan menurun. Hingga tiba di spot yang lebih luas. Saking menikmati keeksotisan di dalam goa ini hingga membuat aku terpisah dari rombongan.

Aku berjalan keluar goa. Secercah cahaya bersinar di ujung sana, pintu keluar goa. Di luar terdapat para pedagang souvenir. Aku terus berjalan menuruni tangga yang masih diselimuti peohonan rindang. Begitu tiba di bawah masih di sambut lagi oleh para pedagang yang lebih ramai, menjual aneka jajanan dan souvenir.

Dari kejauhan tampak pemandu melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Menyuruhku untuk segera menaiki kapal. Ternyata ia hafal dengan wajah-wajah rombongannya. Sukurlah. Semua rombongan sudah naik ke atas kapal. Mereka hanya menunggu aku yang belum naik. Ups. Aku segera berlari.

Kapal mulai berjalan. Menuju pelabuhan pertama tadi, kembali pulang. Semua tampak lelah, merehatkan tubuh, ada juga yang tertidur. Tak lama kapal pun tiba di pelabuhan Halong. Kami menuju bis. Ternyata bis telah berganti, bukan yang kami naiki saat pergi tadi. Bis ini lebih kecil.

Aku duduk paling belakang, sempit-sempitan dengan bule-bule bertubuh besar. Pukul lima sore bus berjalan meninggalkan Halong. Aku melaksanakan sholat sambil duduk dengan kondisi darurat di dalam bis ini. Waktu sholat tidak bisa dikejar lagi, karena tiba di Hanoi malam hari.

Pukul delapan malam bis tiba di Old Quarter. Aku tidak diturunkan di depan penginapan. Masih harus berjalan kaki lagi sejauh 200 meter. Jalur di Old Quarter ini penuh cabang, banyak persimpangan, beberapa ada yang satu arah.

Akhirnya tiba juga di hostel, merebahkan diri di kasur yang empuk. Namun aku tidak berlama-lama di atas kasur. Karena harus mencari makan malam. Aku menuju restoran halal malam sebelumnya. Tidak perlu dibantu peta lagi. Aku sudah merekamnya dalam memori. Malam ini terlihat lebih sepi dari malam sebelumnya.

Tiba di restoran aku masih memesan menu yang ada nasinya, namun dengan penampilan berbeda, namanya Kashmiri Pillau. Sedikit mirip Nasi Biryani. Hanya saja disajikan dengan bumbu yang dihidangkan pada wadah terpisah. Ternyat bumbunya tidak cocok dilidah. Kali ini aku tidak memesan teh vietnam. Jera dengan rasanya yang pahit.

Malam semakin larut. Aku kembali ke hostel. Kasur nan empuk terlihat begitu menggoda. Tak sabar ingin segera mengobati rasa lelah ini. Zzz.

Malam Pertama di Hanoi

Suasana riuh old quarter Hanoi di malam minggu

Wajah kota Vietnam terlihat semakin modern. Jalur jalan tol yang berbentuk memutar seperti benang yang terlilit. Cahaya kuning lampu jalan menernagi jalan. Gedung-gedung pencakar langit mulai terlihat. Jarum jam hampir mendekati pukul tujuh malam. Aku tiba di Hanoi.

Bus memasuki terminal. Taksi-taksi tampak telah bersiaga berebut penumpang. Beryukur ada Hung yang merupakan warga Hanoi. Aku naik taksi bersamanya. Kebetulan kami melintasi jalur yang sama. Aku menuju Old Quarter, kawasan populer bagi para wisatawan.

Taksi di Hanoi bentuknya mini, mirip mobilnya Mr. Bean. Taksi yang membawa kami ini dikemudikan oleh anak muda berusia sekitar duapuluhan tahun. Membelah malam di Hanoi yang terlihat semarak. Melewati pusat perbelanjaan yang dipadati banyak orang. Akhirnya taksi yang kami naiki melintasi kawasan Old Quarter.

Hung bertanya kepadaku hendak menginap dimana. Aku katakan kepadanya bahwa turunkan saja dimanapun yang ada penginapannya. Tak sengaja aku melihat tulisan Hanoi Central Backpacker, berbentuk ruko. Aku turun sebentar dari taksi. Mencari tahu apakah ada kamar kosong tersedia. Resepsionis wanita berparas imut dan berambut panjang menyambut dengan aksen Inggris yang sedikit cadel. Ia mengatakan bahwa masih tersisa tempat menginap. Alhamdulillah.

Aku kembali menuju taksi. Berpamitan pada Hung. Aku berikan lembaran dong kepadanya. Namun ia menolak. Terimakasih Hung. Semoga kelak berjumpa kembali. Tak jarang aku mendapatkan bantuan-bantuan tak terduga selama perjalanan. The magic of solo backpacking.

Aku memasuki hostel. Kamarku berada di lantai tiga. Meski dari luar terlihat seperti ruko, namun fasilitas di dalamnya tidak murahan. Tarif menginap per malam hanya USD 5. Ya, kamar yang akan aku tempati memang berjenis dormitori. Ada empat tempat tidur tingkat (untuk delapan penginap). Fasilitasnya sungguh nyaman. Dan naik ke atas menggunakan lift!

Selain kamarnya sejuk ber-AC, tempat tidurnya pun empuk dilengkapi selimut tebal yang pas untuk menetralkan dari dinginnya AC. Kamar mandi bersih, desainnya menarik, mirip hotel berbintang.

Ternyata hostel ini merupakan rekomendasi para traveler. Padahal aku menemukannya secara acak, go show. Tanpa memesan online. Ini kemudahan kesekian kali yang aku dapatkan. Lucky me.

Di dalam kamar tampak tiga penginap yang menempati tempat tidur masing-masing. Semuanya bule. Aku menyapa salah satunya, yang menempati tempat tidur di sampingku. Traveler bernama Brandon ini berasal dari California. Sama sepertiku, ia pun berpetualang seorang diri. Setelah Hanoi, ia berencana melanjutkan menuju Tiongkok dan Hongkong lewat darat yang hanya berjarak 6 jam menggunakan bis. Di atas tempat tidurku ditempati traveler asal Kanada. Satu orang lagi tampak tertidur pulas.

Aku bersih-bersih di kamar mandi lalu turun ke bawah menuju meja resepsionis. Hendak bertanya tentang paket tur ke Halong Bay. Harga tiketnya sebesar USD 25, tanpa menginap. Paket tur ini menyediakan kamar layaknya hotel untuk bermalam. Jika menginap di kapal dipatok sebesar USD 60.

Ternyata Brandon juga membeli paket tur yang sama. Kami akan ke Halong Bay bersama besok.

Waktunya makan malam. Sepanjang dari Vientiane, perutku belum menyentuh makanan berat. Sekadar roti yang diolesi saos. Fasilitas internet gratis di tempat menginap ini aku manfaatkan untuk mencari tempat makan halal terdekat. Berselancar di Google. Ketemu juga.

Aku bertanya kepada resepsionis tentang keberadaan restoran halal tersebut. Ia memberikanku selembar kertas berukuran jumbo yang berisikan peta lokasi Old Quarter. Ia menandai jalan mana saja yang harus aku lalui. Sangat terbantu sekali menginap di sini.

Malam pertama di Hanoi, bertepatan malam Minggu. Jalanan penu sesak oleh sepeda motor. Kendaraan roda empat cukup sulit melintas di sini. Suara klason saling bersahutan. Riuh sekali. Aku terus berjalan menyisir trotoar di pinggiran ruko. Meraba-raba jalan sambil sesekali melihat peta.

Aku bertanya kepada warga setempat yang kutemui. Orang Hanoi sangat welcome dengan turis. Mereka terlihat antusias membantu saat ada turis yang bertanya. Kawasan ini memang merupakan rumah para traveler dari berbagai penjuru bumi.

Namanya Taj Mahal Restaurant. Dari namanya tentu dapat ditebak. Ya, restoran milik Muslim ini didominasi makanan India. Terdapat label halal di depannya. Berada di antara deretan ruko. Desainnya elegan layaknya restoran meski ukurannya mungil. Aku menuju lantai atas.

Seorang pelayan menghampiriku sambil menyodorkan daftar menu. Aku memesan menu yang ada nasinya, Nasi Biryani. Dan minuman Teh Vietnam.

Nasi Biryani disajikan dalam panci mini. Berwarna kuning mirip nasi kuning. Hanya saja bentuk nasinya panjang-panjang. Paduan rempah-rempah menyatu dalam bumbu nasi ini. Enak sekali. Segelas teh vietnam disajikan dalam gelas kecil. Warna tehnya agak bening. Aku menyeruputnya. Weks! Rasanya sungguh pahit. Mungkin belum ditambah gula, pikirku. Setelah aku tambahkan gula tetap saja pahit. Ah, sudahlah. Aku minum air mineral saja.

Akhirnya perutku terisi nasi. Lumayan mengenyangkan. Aku kembali ke hostel. Sambil meraba-raba jalan sebagaimana perjalanan pergi tadi. Melintasi sebuah danau yang bernuansa romantis. Cahaya lampu berwarna-warni di tepian danau, tampak menarik.

Tiba-tiba terasa asing dengan jalan yang aku lalui. Seperti bukan jalan yang aku lewati tadi. Ternyata salah jalan. Aku kembali melihat peta. Berbalik arah. Mataku memandang awas. Terlihat bangunan unik yang aku lihat saat pergi tadi. Aku mengarah ke sana. Akhirnya sampai juga di penginapan. Fiuh.

Aku lelah, tapi nikmat. Mungkin ini yang dinamakan passion. Setelah menghabiskan perjalanan 24 jam di dalam bis. Kasur empuk hostel ini menggodaku untuk segera menimpukinya. Hawa dingin kamar seketika berubah hangat oleh selimut tebal yang menutupi. Zzz.

 

Penuh Sensasi Menembus Vietnam

Pemeriksaan Paspor oleh tentara Vietnam

Tepat pukul tujuh malam bis meninggalkan Vientiane. Bangku di sebelahku ditempati oleh warga Vietnam bernama Hung Dong Minh yang dipanggil dengan Hung. Usianya sebaya denganku. Ia merupakan pekerja bank di Vientiane.

Kami menghabiskan waktu dengan berbincang. Ia lumayan mahir berbahasa Inggris meski hanya seadanya. Hung tampak bersemangat menceritakan tentang sejarah negaranya yang pernah beradu senjata dengan Negara Adidaya Amerika Serikat.

Aku mengeluarkan camilan kacang atom pedas yang aku bawa dari Indonesia. Ternyata ia sangat suka dengna kacang atom tersebut. Hung mengira bahwa anak muda Indonesia menggunakan bahasa Inggris sehari-hari. Entah mengapa ia bisa menduga demikian.

Bis terus berjalan membelah malam. Semakin jauh meninggalkan Vientiane. Sesaat bis berhenti di sebuah rumah makan. Semua penumpang diwajibkan keluar dari bis. Aku pun turun tanpa turut makan di rumah makan tersebut. Tentu saja mengantisipasi soal kehalalan makanan. Aku menambal perut dengan persediaan roti dan saos yang aku bawa dari Indonesia.

Aku tertidur pulas di dalam bis. Hingga jarum jam menunjukkan angka dua dinihari. Bis berhenti. Di sekitar tampak bis lainnya yang juga berhenti. Ternyata sudah tiba di perbatasan negara. Bis-bis tersebut menanti pagi hingga kantor imigrasi buka. Aku melanjutkan tidur hingga rona langit terlihat sedikit bercahaya.

Satu per satu para penumpang keluar dari bis. Aku pun turut melangkahkan kaki merasakan udara di luar sana. Sangat dingin. Tebing-tebing tinggi mengelilingi kami. Sebuah gedung berlantai dua terlihat tak jauh di depanku yang merupakan kantor imigrasi Laos. Kabut menyelimuti kota bernama Cau Treo ini.

Aku menuju toilet sekalian bersih-bersih. Airnya dingin seperti es. Rasanya tak sanggup ingin berkumur saat akan menyikat gigi. Hawa dingin tercium segar, memasuki sela-sela tenggorokan. Ramai sekali bis terparkir di area ini.

Kantor imigrasi telah buka. Para petugas bis memasuki kantor imigrasi, menyerahkan paspor para penumpang yang dikumpulkannya di dalam bis tadi. Hanya warga Laos dan Vietnam saja yang bisa dilayani oleh petugas tersebut. Selain itu harus menyerahkan sendiri ke kantor imgirasi, termasuk aku. Aku mengikuti petugas bis memasuki kantor. Mengantri bersama bule-bule Backpacker.

Setelah menyerahkan paspor kepada tugas, aku harus menanti dipanggil. Satu per satu nama dipanggil, hingga tiba giliranku. Petugas bis telah selesai mengurus paspor para penumpangnya. Ia tampak sedikit berlari mengejar bus yang mulai berjalan. Aku memberikan aba-aba kepadaku untuk bergegas mengikutinya. Bye, Laos!

Bis berjalan menembus batas negara. Memasuki Vietnam. Aku dan para penumpang turun kembali untuk melakukan pemeriksaan paspor di imigrasi Vietnam. Stempel paspor melayang di pasporku dengan mudah. Lebih cepat saat di imigrasi Laos tadi. Petugas imigrasi mengembalikan pasporku sambil tersenyum ramah.

Hujan turun deras. Aku dan para penumpang lainnya masih berlindung di sekitar kantor imigrasi. Bis tampak belum bergerak. Kabut semakin menebal. Jarak pandang hanya lima puluh meter. Dingin sekali.

Petugas bis memerintahkan kami untuk mengikutinya. Para tentara Vietnam tampak berjaga-jaga di depan sana. Mereka turut memeriksa paspor, sekadar mengecek saja. Tidak terlalu rumit tampaknya memasuki negeri Paman Ho ini. Setelah melewati tentara yang berumlah empat orang itu aku bergegas menaiki bus.

Halo, Vietnam! Saatnya memulai petualangan di negara paling utara di Asia Tenggara ini. Bersebelahan dengan Tiongkok. Layaknya sim card telepon genggam, perasaanku seketika berganti sinyal. Merasakan sensasi di negara baru. Perlahan hujan mulai mereda. Hanya rintik gerimis di luar sana.

Kawasan pedesaan terpencil mendominasi perjalanan awal ini. Hamparan perkebunan hijau terlihat dari balik jendela bus. Sungai Yang Tze tampak dari kejauhan. Alirannya membelah kawasan perkebunan sayur. Pepohonan hutan pun senantiasa terlihat di sepanjang perjalanan ini, juga rumah-rumah kayu khas pedesaan.

Beberapa jam kemudian rona kota terlihat lebih ramai. Segerombolan anak sekolah sedang mengendarai sepeda. Orang dewasa pun tak jarang terlihat mengayuh kendaraan tak bermesin tersebut. Perkembangan kehidupan modern seperti belum tersentuh di kawasan ini. Perbukitan karst nan eksotis menjadi pemandangan yang menarik. Bukit-bukit berbatu yang diselimuti pepohonan hijau. Berjejer di sebagian perjalanan ini.

Semakin jauh perjalanan, penampakan tampak mulai lebih maju. Jalanan tampak lebih cantik dan rapi. Deretan ruko beton memenuhi di sisi jalan, meski masih terkesan sederhana. Geliat aktifitas warga Vietnam semakin riuh. Pemandangan mengendarai sepeda masih terlihat wajar, terutama anak-anak sekolah. Kehidupan modern yang masih disentuh dengan nuansa tradisional. Rasa senang terus berdendang di hati ini. Hingga tak peduli dengan perjalanan panjang yang menghabiskan waktu 24 jam.

5 Jam di Laos

Sholat Jumat di Vientiane, Laos

Vientiane tidak semegah Bangkok. Mungkin setara dengan Kota Malang atau Palembang. Namun, beberapa gedung tinggi tetap tak luput dari wajah sebuah ibukota negara. Hanya saja, tidak semenjulang sebagaimana gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

Aku meninggalkan kawasan Morning Market. Tampak di seberang jalan sebuah ruko kecil di depan sebuah rumah. Ruko tersebut merupakan tempat penukaran uang. Ruko ini tidak berjejer menempel sebagaimana umumnya.

Aku ingin menukar persediaan rupiah ke mata uang setempat. Kusodorkan beberapa lembar rupiah kepadanya. Ia meninggalkan loket sejenak, menuju ke belakang. Beberapa saat aku menanti. Sepertinya ia jarang melihat uang dari negeriku ini.

Tak lama kemudian petugas money changer itu kembali. Ia mengatakan bahwa tidak bisa ditukar di sini. Baiklah. Mungkin ia sedang tidak memiliki stok rupiah. Aku kembali berjalan, mencari tempat penukaran uang lainnya. Ternyata beberapa money changer pun merespon sama. Rupiahku belum berubah juga.

Aku mulai khawatir. Bagaimana seandainya rupiah ini benar-benar tidak bisa ditukar. Sementara aku sudah berada di pertengahan jalan. Bahkan lebih dekat ke Vietnam, negara paling utara. Jauh dari negaraku. Bagaimana nasibku selanjutnya.

Aku mulai memutar otak, mencari solusi. Aku kembali ke toko orang Pakistan tadi. Mencari tahu tentang rupiah yang tidak bisa ditukar. Barangkali ia tahu tempat penukaran uang yang bisa menerima rupiah. Wanita itu menyarankanku untuk menuju sebuah bank milik negara Malaysia. Setelah Ia menyebutkan nama bank yang harus aku datangi, aku pun bergegas pergi.

Tidak jauh dari Morning Market. Kawasan ini sepertinya memang khusus ditempati oleh bank-bank bergedung besar. Aku mencoba menukarnya di semua bank yang dilewati yang ada pelayana penukaran uang, sebelum menemukan bank Malaysia. Siapa tahu ada yang bisa. Namun tetap nihil. Bank-bank itu tidak menerima rupiah.

Akhirnya aku tiba di bank milik negara tetanggaku, Malaysia. Aku merasa optimis karena letaknya yang berjiran dekat dengan negaraku, seharusnya familiar dengan rupiah. Aku memasuki tangga luar yang langsung menuju lantai dua bank tersebut.

Aku serahkan rupiah kepada karyawan bank. Setelah diterimanya, ia bergegas ke belakang sesaat. Aku berharap cemas. Tak lama kemudian karyawan bank itu datang kembali. Ia menyodorkan lembaran uang yang sama. Rupiah itu kembali lagi ke tanganku. Masih tidak bisa ditukar.

Sejenak aku melupakan permasalahan ini. Dengan tetap meyakinkan diri bahwa akan ada jalan keluar. Tiba-tiba ingatakanku tertuju pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Hm. Ada secercah harapan.

Secara tiba-tiba lagi, terpikirkan olehku tentang dolar yang sempat aku tukar saat di Batam. Dolar US senilai tiga digit. Ya, ada seratus dolar amerika di dalam ranselku. Jujur saja, aku tidak ingat tentang dolar penyelamat ini. Aku buka salah satu kantong ransel yang berukuran kecil. Alhamdulillah.

Aku tukarkan dolar ini dengan mata uang Laos, sebagian saja. Sebagian lagi tetap dalam bentuk dolar, untuk berjaga-jaga saat memasuki Vietnam nanti.

Aku kembali ke toko kain Pakistan tadi untuk bersiap-siap menunaikan sholat Jumat bersama. Matahari bersinar terik. Lalu lalang kendaraan terlihat ramai. Tak lama berselang, mobil mewah sejenis Pajero berhenti di hadapanku. Sesosok wajah keluar dari jendela mobil tersebut. Orang Pakistan itu datang menjemputku.

Orang Pakistan itu memberikan aba-aba kepadaku untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia bersama keponakannya. Bukan yang aku jumpai saat di terminal Nongkhai, melainkan abangnya yang bernama Shahab. Shahab pernah mengenyam pendidikan tinggi di Malaysia, sehingga sedikit fasih berbahasa Melayu.

Mencari Masjid di negara minoritas Muslim ini akan sangat lelah jika dengan berjalan kaki, tidak seperti di negara-negara mayoritas Muslim sepeprti Indonesia. Mobil mulai mencari posisi untuk tempat parkir. Namun belum terlihat tanda-tanda Masjid di sini. Ternyata masih masuk ke dalam lagi sejauh 50 meter. Masjid sederhana berlantai dua ini sepertinya sudah cukup tua.

Satu per satu jamaah memasuki Masjid. Tiba-tiba seorang pria paruh baya menyapaku dengan dengan bahasa yang sangat familiar didengar. Entah bagaimana bapak ini bisa menebak darimana aku berasal, kenal saja enggak. Mungkin karena wajahku yang khas Melayu.

Bapak yang menyapaku itu bernama Azhar. IA merupakan pensiunan KBRI di Laos yang sampai sekarang menetap di negara ini. Setelah memperkenalkan diri, Pak Azhar sepertinya sedang mencurahkan apa yang dialaminya. Tentang kondisinya yang masih menetap di Vientiane meski sudah pensiun.

Pak Azhar menikah dengan seorang wanita Laos. Awalnya, kehidupan rumah tangga mereka berjalan mulus hingga memiliki dua orang anak perempuan yang sudah beranjak dewasa. Namun, takdir berkata lain. Istrinya yang sempat menjadi mualaf, kembali ke keyakinan semula. Pak Azhar tetap memilih menetap di Vientiane karena mengingat dua anak gadisnya.

Usai sholat Jumat, aku dan orang Pakistan itu kembali ke mobil. Kami tidak kembali ke Morning Market melainkan akan menuju terminal bis Dongdok. Setelah sebelumnya sempat nyasar di terminal dekat pasar. Kali ini tidak perlu ragu lagi, karena aku diantar langsung oleh warga asli Laos. Ini merupakan terminal internasional yang memiliki keberangaktan menuju Vietnam.

Selalu ada saja hal tak terduga selama perjalanan ini. Hingga diantar menuju terminal bis, yang merupakan tujuan terakhir selama di Laos. Sebelum ke terminal, kami mampir sebentar di kantor KBRI Laos. Masih mencari solusi tentang rupiahku tadi. Barangkali ada jawaban di sini. Ternyata kantor KBRI masih tutup. Sepertinya masih istirahat makan siang. Karena terus dikejar waktu, akhirnya aku batalkan ke KBRI.

Tak lama kemudian kami tiba di terminal bis Vientiane. Suasana terminal masih tampak sepi. Bis-bis berjejer rapi di ujung sana, di halaman luas yang beralas tanah. Orang Pakistan itu menuju salah satu bis untuk membeli tiket, setelah aku menitipkan uangku kepadanya.

Tiket bis Vientiane – Hanoi didapat seharga USD 25. Petugas bis yang merupakan orang Vietnam itu menerima dolar sebagai alat pembayaran. Pasokan kip-ku sudah tidak mencukupi lagi. Uang kembalian pembelian tiket tadi dalam bentuk dong, mata uang Vietnam. Sengaja aku meminta uang Vietnam karena untuk persediaan di Hanoi nanti.

Bis berangkat pukul tujuh malam nanti. Masih tersisa banyak waktu sekitar 5 jam. Sebelum berpamitan dengan orang Pakistan itu, aku menyempatkan untuk foto bersama. Ia memberikan bekal roti baguette kepadaku. Roti jenis ini dijual hampir di tiap sudut kota Vientiane. Bentuknya panjang setara tangan orang dewasa. Agak keras digigit. Katanya lebih nikmat disantap dengan susu.

Sembari menanti keberangkatan bis, aku pututskan untuk jalan-jalan tak jauh dari sini, dengan menggunakan tuktuk. Aku memilih tuktuk secara acak. Tanpa bertanya kemana tujuan tuktuk tersebut.

Aku coba menghafal kemana saja arah tuktuk ini. Aku tidak berani menuju lebih jauh lagi. Bukan karena takut tersesat, tetapi aku tidak mau sampai ketinggalan bis ke Hanoi yang tinggal beberapa jam lagi.

Saat tuktuk yang aku naiki melintasi warnet (warung internet), aku mampir sejenak. Ingin mengabarkan kepada kerabat di tanah air. Lumayan membingungkan menggunakan komputer di Laos ini. Karena aksara di layar komputernya menggunakan huruf laos. Syukurlah aku masih familiar dengan simbol-simbol di komputer sehingga bisa digunakan untuk membaca simbol.

Usai berkirim kabar via internet, aku meminta izin kepada pemilik warnet untuk menunaikan sholat Ashar di ruangan ini. Dengan ramah ia mempersilahkanku. Tidak terlihat ekspresi aneh di wajahnya saat aku meminta izin untuk sholat. Keadaan warnet saat itu kebetulan sedang sepi, sehingga bisa menunaikan sholat dengan tenang.

Jarum jam terus berputar. Aku kembali menanti tuktuk lewat, kembali ke terminal bis tadi. Sambil mengingat-ingat jalur tadi. Mataku senantiasa awas melihat sisi kiri jalan untuk melihat keberadaan terminal. Mengantisipasi agar tidak kelewatan. Aku meminta bantuan kepada penumpang di dalam tuktuk untuk memberitahu saat tiba di terminal bis Dongdok.

Untunglah penampakan terminal mudah ditebak. Aku memberhentikan tuktuk, membayar ongkos tuktuk sebesar lima ribu kip (setara lima ribu rupiah). Mentari beranjak turun. Senja semakin jelas terlihat. Aku duduk menanti di ruang tunggu terminal yang terbuka, tanpa sekat. Hiruk pikuk para calon penumpang mulai riuh. Bule-bule backpacker pun tampak berseliweran.

Aku menuju bis. Melintasi halaman parkir bis yang luas. Para petugas bis tampak berlomba-lomba mendapatkan penumpang. Sedikit memaksa dengan menarik-narik tangan. Tidak semuanya. Namun harus tetap waspada. Aku sempat ditarik-tarik juga, tetapi rileks saja. Abaikan mereka dan terus berjalan hingga memasuki bus.

Bis yang aku naiki merupakan jenis sleeper bus. Bentuknya tidak deretan kursi sebagaimana biasanya. Melainkan seperti tempat tidur, kaki hanya bisa memanjang layaknya orang tidur. Bebas selonjoran. Bagian tempat bersandar didesain miring derajat dilengkapi bantal kecil dan selimut. Nyaman untuk ditempati. Aku menempati posisi persis di samping jendela. Serasa berada di penginapan berjalan saja. Memandangi panorama di luar sana. Menyenangkan sekali.