Keluarga Baru di Phuket

Seketika aku terbangun saat bis memasuki terminal bis Phuket. Aku membangunkan Bedul yang duduk di sampingku. Jarum jam menunjukkan angka 5 pagi. Pagi masih perawan. Sepi. Hanya ada beberapa orang, yang baru saja turun dari bis, menanti jemputan kerabat.

Aku dan Bedul memutuskan untuk rehat sejenak di terminal ini. Memanfaatkan fasilitas toilet untuk membersihkan diri, bergantian dengan Bedul menjaga ransel. Terminal ini berkonsep terbuka, tanpa dinding penutup. Dari sini bisa memandang bebas ke luar, tempat bis melintas keluar-masuk. Tampak para tukang ojek duduk menanti di salah satu sudut terminal, berjarak sekitar 15 meter dari sini. Mereka mengenakan rompi khusus berwarna oren.

Tukang ojek di sini sungguh pengertian. Saat mereka menawarkan jasa ojek kepadaku, hanya dengan sekali penolakan dengan menggunakan isyarat tangan dan gelengan kepala, seketika ia pun langsung menjauh, tanpa memaksa untuk kedua kali. Teman-temannya yang melihat pun turut mengerti. Salut untuk sopan santun pengemudi ojek di sini.

Sholat Subuh hampir tiba. Aku bertanya pada salah seorang tukang ojek tentang keberadaan Masjid. Bahasa memang menjadi kendala. Tetapi setelah dengan bantuan isyarat tubuh akhirnya ia mengerti yang aku maksud. Ia memanggil temannya, sesama tukang ojek yang beragama Islam.

Aku dan Bedul menggunakan jasa dua tukang ojek untuk menuju Masjid. Jalanan lengang. Warga Phuket masih terlelap dalam tidurnya. Hening. Sesaat kemudian kami tiba di Masjid. Hanya lima menit perjalanan. Kami membayar 40 baht per orang untuk ongkos ojek.

Kami diturunkan di Masjid Yameay. Lumayan besar. Bertingkat dua. Tempat sholat berada di lantai dua, bisa dimasuki langsung dari luar melalui anak tangga selebar lima meter. Para jamaah satu per satu tampak keluar dari dalam Masjid. Sholat Subuh usai ditunaikan. Masih dua jamaah tersisa di dalam Masjid, tampak sedang berzikir.

Kami ketinggalan sholat berjamaah bersama mereka. Usai berwudhu, Aku dan Bedul berjamaah untuk sholat Subuh. Setelah sholat, kami bersantai sejenak di luar, di bangku dekat tangga masuk. Perlahan langit mulai cerah. Seorang pria keluar dari Masjid. Saat ia melintas di depan kami, aku mencegatnya untuk bertanya, mencari informasi.

Pria Thailand tersebut bernama Khosim. Ia tak paham bercakap Inggris. Menanyakan tentang keberadaan Pulau Phiphi ternyata sulit sekali diisyaratkan dengan gerakan tubuh. Akhirnya aku mengeluarkan secarik kertas dan pena. Kami berkomunikasi melalui coretan gambar. Namun, tetap saja tidak nyambung. Hmm. Tiba-tiba ia bergegas turun tangga sambil berkata sesuatu. Entah apa yang diucapkannya, kami tak mengerti.

Dari bawah, ia memberikan aba-aba kepada kami untuk ikut bersamanya menaiki sepeda motor yang sedang dikendarainya. Ia memanggil seorang temannya yang tinggal di kawasan Masjid tersebut, mungkin seorang marbot. Aku berboncengan dengan Khosim dan Bedul bersama Abdul, teman Khosim.

Motor Khosim bersanding dengan gerobak yang ditempati beberapa kotak stereofoam. Sedikit mirip becak. Sepertinya kotak-kotak itu berisi ikan segar. Aku tak menaruh rasa curiga sedikitpun terhadapnya. Pertemuan kami di rumah ibadah seketika melenyapkan keraguan yang ada.

Ternyata kami dibawa Khosim ke sebuah rumah. Sederhana sekali rumahnya, berbahan kayu. Berbeda dengan tetangga kanan-kirinya yang sudah bertembok beton. Rumah ini berjejer membentuk seperti ruko pinggir jalan. Jalan beraspal di depannya terlihat mulus, rapi, dan bersih. Padahal bukan jalan utama, melainkan khusus untuk dilintasi warga setempat. Wajar saja, karena selain posisinya yang berada di pusat kota, Phuket adalah kota wisata yang menjadi primadona Thailand.

Ternyata ini adalah rumah Mak Cik-nya Khosim. Mak Cik lumayan mahir berbahasa Melayu. Ia pernah tinggal di Malaysia. Pantas saja Khosim membawa kami ke sini. Mak Cik berjualan nasi minyak (nasi lemak/uduk) di teras rumahnya.

Setiap kali aku dan Bedul berucap sesuatu kepada Mak Cik, Khosim selalu penasaran, meminta Mak Cik untuk mengartikannya ke dalam Bahasa Thai. Begitu juga saat Khosim hendak menyampaikan sesuatu, ia meminta bantuan Mak Cik untuk menyampaikannya kepada kami.

Wajah Bedul tampak memelas, mengelus perutnya yang sedikit berisik, mulai lapar. Tak lama berselang, nasi minyak dan es teh manis mendarat di meja kami. Nasi minyak ini terdapat beberapa irisan daging seukuran stik kentang goreng. Ditemani dengan sup yang diletakkan terpisah pada mangkuk kecil. Nasinya ada rasa-rasa nasi pulut. Sedap.

Setelah sarapan, Khosim langsung menyerahkan 150 baht kepada Mak Cik. Aku mencegahnya, merasa tidak enak. Namun, ia memaksa hingga uang tersebut berpindah ke tangan Mak Cik.

Khosim mengantarkan kami ke pelabuhan khusus untuk menuju Pulau Phiphi. Saat sedang melaju di atas motor, aku merasakan ada yang kurang. Ternyata jaketku tertinggal di rumah Mak Cik. Aku bingung bagaimana menjelaskannya kepada Khosim. Terkendala bahasa. Akhirnya aku menepuk pelan bahu Khosim sambil berucap “Makcik.. Makcik..,” sambil mengisyaratkan tangan ke belakang. Khosim memutar balik motornya. Bedul yang berbonceng di motor belakang turut mengikuti.

Tak lama kemudian kami tiba di pelabuhan. Aku dan Bedul membeli tiket tur ke Pulau Phi-phi. Si penjual tiket memberi harga 1.200 baht. Namun, setelah tawar-menawar akhirnya kami dikasih harga 1.000 baht.

Kapal belum berangkat. Aku dan Bedul menghampiri Khosim yang sedang duduk tak jauh. Bercengkerama semampunya. Lebih banyak diam kayak mengheningkan cipta. Seandainya kami mengerti bahasa Thai, tentu akan lebih banyak cerita yang kami dapat.

Khosim memperlihatkan sebuah foto balita perempuan mengenakan hijab melalui telepon genggamnya, anak semata wayangnya. Hmm. Sepertinya banyak hal yang ingin diungkapkannya. Aku menyodorkan lembaran baht kepada Khosim, karena telah banyak merepotkannya. Ia menolak dan tetap menolak, meski beberapa kali aku sodorkan. Ia mengatakan bahwa yang dilakukannya semata hanya mengharap ridho Allah SWT. “Lillaahita’ala,” katanya. Kami berpelukan sebelum berpisah.

Melanglang ke Aonang

Aku dan Bedul sudah berada di dalam tuktuk yang akan mengantarkan kami ke Aonang. Ongkosnya 50 baht per orang. Memilih angkutan umum di sini cukup dengan melihat warnanya. Tuktuk yang kami naiki ini berwarna putih. Sepanjang perjalanan aku tertidur pulas di dalam tuktuk. Membalas rasa lelah akibat ngegembel tadi malam.

Kami masih di wilayah Provinsi Krabi. Dari Krabi Town ke Aonang memakan waktu 30 menit menggunakan tuktuk. Di tengah perjalanan, pemandangan di dominasi oleh kawasan perkebunan dan hutan. Meski begitu, sepanjang jalannya berlapis aspal nan cantik dan terlihat bersih sehingga sedap dipandang.

Rona kota Aonang mulai terlihat. Masih sekitar 1,5 kilometer lagi untuk tiba di titik wisatanya. Pemandangan pun berganti deretan bangunan hotel, agen perjalanan wisata, restoran, toko souvenir, dan minimarket yang menjamur di sekitar. Tuk-tuk berhenti di halte, tak jauh dari pantai.Tepat di depan tuktuk, bentangan pantai dan laut tampak memesona. Ah, segarnya.

Pasir pantainya berwarna kekuningan berpadu dengan pesona lautnya yang bening. Menyegarkan pikiran saat melihatnya. Gugusan batu karst nan menjulang tinggi, setara rumah 3 lantai, di ujung sana terkesan seperti memagari sisi pantai.

Bedul tampaknya excited sekali untuk menuju batu karst itu. Sambil menenteng ransel, kami berjalan menyusuri pasir pantai yang lembut. Banyak turis bersantai menghangatkan tubuh di berbagai titik di pantai ini. Mengenakan busana minim. Tutup mata, Dul!

Sekilas, bukit karst itu tampak dekat. Tetapi setelah ditelusuri ternyata jauh juga. “Sudahlah, Dul. Sampai di sini saja”, jawabku lelah. Entah kenapa aku selalu kalah jika berjalan dengan Bedul yang bertubuh subur itu. Tampaknya ia seperti tak kenal lelah. Hebat betul Si Bedul temanku itu. Telepon genggam seketika berubah fungsi jadi kamera. Aku arahkan kamera di depan Bedul yang memohon sejak awal untuk berpose dengan batu raksasa itu. Bedul berdiri membelakangi pemandangan batu karst. Jepret!

Semua sudut kawasan wisata Ao Nang kami jelajahi dengan berjalan kaki. Kebetulan tidak terlalu luas. Apalagi Bedul yang sepertinya mempunyai energi serap. Kawasan wisata di Aonang, jika berpatokan pada jalan utamanya, membentuk letter U. Dari halte tempat tuktuk berhenti tadi, berbelok ke kanan sepanjang satu kilometer. Sisi ini merupakan tepian pulau, bersebalahan dengan pantai. Kemudian belok lagi ke kanan untuk menuju jalan pulang.

Di antara bahu jalan dan pantai terdapat trotoar selebar lima meter, ramah bagi pejalan kaki. Sedangkan di sisi jalan sebelahnya terdapat deretan toko-toko penjaja kebutuhan wisata, persis seperti toko-toko souvenir di Bali.

Krabi merupakan kawasan wisata favorit pelancong dari Malaysia. Mungkin hal ini dikarenakan banyak terdapat Muslim di sini, sehingga suasananya sedikit lebih santun dibandingkan Patong di Phuket atau Pattaya. Makanan halal pun mudah didapat. Agen-agen perjalanan sering dijumpai dengan pekerjanya wanita yang berhijab. Pada salah satu sudut, di arah jalan keluar, banyak pedagang jajanan gerobak yang memenuhi trotoar. Hampir semua pedagang di sini beragama Islam. Gerobak dihias menarik, kreatif sekali.

Aku dan Bedul duduk mengemper di rerumputan dekat trotoar, di seberang pusat jajanan gerobak halal. Bukan sekadar beristirahat, tetapi kami hendak memanfaatkan fasilitas wifi gratis milik pemerintah. Aroma internet gratis senantiasa tercium oleh Bedul. Sejenak kami beristirahat sambil meng-update keseruan yang terjadi seharian ini. Bedul memang membawa berkah.

Mengingat banyaknya Muslim di sini, seharusnya keberadaan Masjid pun tidak jauh dari sini. Setelah bertanya, kami di arahkan melewati sebuah jalan pintas. Informasi yang didapat, jarak ke Masjid sekitar satu kilometer. Dengan yakin Aku dan Bedul berjalan menyusuri jalanan yang terkesan sepi, namun tidak sedikit bangunan berdiri di sini termasuk hotel berbintang. Rumah penduduk berjarak jarang. Penampakan pepohonan kelapa sering dijumpai.

Setelah sekian jauh berjalan, tetap belum ditemukan juga Masjid yang dicari. Fiuh! Kami terus berjalan dengan yakin. Jalanan berbukit naik turun. Hendak menumpang Tuk-tuk tidak memungkinkan karena tidak ada yang melintas di sini. Seorang pria berwajah arab bertubuh besar tampak sedang berjalan berlawanan arah di depan kami. Kami bertanya kepadanya. “Where is the Mosque?,” tanyaku kepada pria yang ternyata warg Turki itu. Ia menjawab sambil mengisyaratkan tangannya menunjuk ke arah jalan yang baru saja ia lewati. Ternyata ia juga lepas melakukan sholat di Masjid tersebut.

Setelah sekian jauh berjalan sambil menenteng ransel yang cukup membebani, tampak kubah dari kejauhan. Ah, akhirnya. Meski kaki sudah cukup lelah namun sepertinya Bedul tak pernah menampakkan kepenatannya. Proud of you, Dul!

Masjid ini cukup besar meski tidak terlalu mewah. Memiliki halaman yang luas. Disekitarnya di dominasi penduduk Muslim. Satu per satu jamaah mulai berdatangan untuk menunaikan Sholat Dzuhur. Rata-rata mereka mengenakan gamis. Wajah mereka sangat mirip Indonesia, 100 persen. Seketika aku menjadi de javu. Seperti berada di negeri sendiri saja. Namun, ketika mendengar mereka berbicara baru terasa kalau ini adalah negeri orang.

Kami rehat sejenak di selasar Masjid. Angin bertiup sepoi merasuk pori-pori kulit, terasa dipasok energi baru. Lantai di selasar Masjid ini berlapis marmer, terasa adem, kami semakin pulas.

Energi telah terisi. Bersiap untuk menempuh petualangan selanjutnya. Bedul yang senantiasa membawa botol minuman memanfaatkan fasilitas air minum gratis yang disediakan Masjid ini. Sebelumnya, kami berkeliling sebentar melihat kehidupan penduduk sekitar. Kami membeli panganan khas setempat yang dijual oleh warga di pondok kecil di depan rumahnya. Wajah mereka tak ada bedanya dengan orang di kampungku. Terkadang membuat bingung. Suasana kampungnya juga hampir sama. Namun, lidah seakan tertahan untuk bercakap-cakap dengan penduduk sekitar, terhalang oleh perbedaan bahasa.

Kami kembali ke titik wisata Aonang tadi, melalui jalan yang sama. Menuju halte tempat pemberhentian Tuk-tuk tadi pagi. Senja mulai menjelang. Perlahan berganti dengan gelapnya malam. Kami menanti keberangkatan Tuk-tuk selanjutnya yang masih ngetem di sisi halte. Tak lama kemudian Tuk-tuk membawa kami meninggalkan Aonang, menembus malam dibawah deretan lampu jalan. Menempuh kembali perjalanan 30 menit ke Krabi Town.

Tuk-tuk berhenti di sisi jalan, di pusat kota. Kami menuju ruko tempat agen penjualan tiket bis. Meski sudah tutup, namun tidak sedikit yang berdiri di depan agen tersebut. Mereka sedang menanti bis yang melintas. Biasanya bis berhenti otomatis tanpa perlu dicegat. Waktu telah menunjukkan angka 10 malam. Aku dan Bedul masih saja terdampar di sini. Sementara penumpang lainnya berangsur-angsur lenyap di tempat penantian bis ini. Seperti malam sebelumnya, Aku dan Bedul kembali menggembel.

Aku, Bedul, dan Krabi

Hujan masih turun deras. Aku dan Bedul berteduh di depan ruko. Membentang koran, duduk di atasnya, beristirahat. Kami kedinginan. Tiba-tiba tukang ojek datang menghampiri. Sambil mengenakan jas hujan ia menawarkan jasa tumpangan berbayar. Kami menggelengkan kepala. Menanti hujan reda saja.Khawatir dipermainkan dengan bayaran tak sewajarnya, karena kami bukan orang Thailand.

Hujan perlahan reda. Hngga tak bersisa. Tampak warung makan yang masih buka di seberang jalan. Aku dan Bedul menuju ke sana, sekadar menyeruput kopi. Sembari menggali informasi kepada pemilik warung tersebut, dengan komunikasi semampunya. Ternyata warungnya sudah hampir tutup. Kami meminta izin kepada pemiliknya untuk menempati teras di luar ruko. Namun ia tidak memperbolehkan. Ia menyuruh kami untuk ngemper di lokasi ATM yang terletak tak jauh. Kami mencoba ikuti sarannya.

Lokasi ATM ini memang terlihat bersih. Namun tidak nyaman untuk ditempati. Apalagi banyak kamera cctv bertebaran di tiap sudut. Mataku mengarah pada warung internet 24 jam di seberangnya. “Kita nginap di situ aja, Dul.” Kataku kepada Bedul sambil menunjuk warnet tersebut. Bedul selalu setuju. Asiknya punya partner ngegembel yang se-passion seperti Bedul.

Kami menuju warnet tersebut. Setelah bertanya tarif per jamnya, ternyata mahal sekali. Batal lagi. Aku dan Bedul terus berjalan menyusuri tepian ruko. Kursi panjang yang mengganggur di depan ruko menjadi sasaran kami untuk berehat. Kebetulan tampak seseorang sedang menunggu di depan ruko tersebut sambil memegang koper. Kami menduga ia sedang menanti bis malam. Sepertinya ruko tersebut adalah agen perjalanan yang biasa ditempati oleh calon penumpang. Kami menuju ke sana.

Tak lama kemudian datang seseorang dengan mengendarai sepeda motor. Ternyata ia akan menjemput wanita yang sedang berdiri menanti itu. Rupanya wanita itu baru tiba di Krabi.

Aku dan Bedul beristirahat di kursi panjang depan ruko ini. Tidur dengan posisi duduk. Secepat kilat, Bedul langsung pulas tertidur. Aku masih tetap terjaga. Tukang ojek yang tadi mendatangi kami saat kehujanan tiba-tiba nongol lagi. Ia masih ngotot merayu kami untuk menerima tawaran ojeknya. Namun kami kami masih ingin rehat melepas lelah di kursi ini. Tukang ojek yang diketahui bernama Inoy itu tetap menanti di sebelah kami. Apakah ia masih menunggu kami sampai berubah pikiran atau hendak menanti penumpang lainnya. Entahlah.

Inoy merupakan tukang ojek yang lugu. Usianya sekitar 35 tahun dengan paras sedikit oriental. Senyum ramahnya senantiasa terkembang. Meski terkendala bahasa namun kami masih bisa berkomunikasi semampunya dengan bantuan gerakan tubuh. Jika ia sulit mengungkapkan kata dalam bahasa inggris, maka matanya akan menerawang ke atas sambil berusaha mencari pengucapan yang tepat. Sesekali terlihat ekspresi kesal sambil sedikit tertawa jika hasrat ingin menyampaikan sesuatu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Malam semakin pekat. Memasuki waktu dinihari. Kami berpindah ke ruko tak jauh dari sini. Banyak orang sedang menanti di ruko yang juga merupakan agen perjalanan. Perlahan satu per satu orang-orang tersebut beranjak pergi, menaiki bis yang berhenti di pinggir jalan.

Ada juga yang dijemput oleh kerabatnya. Tersisa Aku, Bedul, dan Inoy. Serta seorang penumpang lagi yang merupakan seorang pria, sepertinya sangat kenal dengan Inoy dilihat dari keakraban antara keduanya.

Aku dan Bedul berbincang akrab dengan Inoy. Ia duduk di antara kami. Ternyata ia ramah sekali. Teman Inoy yang berpenampilan seperti anak kuliahan itu meminta kami beroto dengan Inoy. Ia memotret kami bertiga. Jari-jemarinya seketika langsung menari-nari di atas tombol gadget miliknya sesaat setelah memotret. Sepertinya ia ingin mengunggah foto kami ke media sosial untuk diperlihatkan kepada teman-teman Thai-nya.

Waktu hampir mendekati akhir dari sepertiga malam. Aku dan Bedul masih setia mengemper di depan ruko. Sementara Inoy dan temannya sudah menghilang sejak tadi. Tampak dari kejauhan seorang wanita muda mengenakan hijab sedang menanti di depan sebuah minimarket 24 jam. Kami menduga ia adalah seorang traveler seperti kami yang hendak menjelajahi Krabi. Bedul menghampiri wanita tersebut.

Aku berharap cemas memantau dari kejauhan. Berharap ada kabar baik. Aku menanti Bedul cukup lama. Tampaknya asik sekali ia bercakap-cakap dengan wanita tersebut. Aku melihat Bedul dan wanita itu beranjak dari minimarket tadi dan menyeberangi jalan raya di depan. Namun Bedul tak kunjung jua datang. Lelah menanti, Aku berinisatif mendatangi Bedul.

Ternyata tiadk hanya Bedul dan wanita itu. Ada dua orang lagi: laki-laki dan perempuan sebaya mereka. Aku mendekati mereka. Bedul menceritakan bahwa ia akan ditunjukkan lokasi Masjid terdekat. Ternyata wanita itu warga Thailand yang baru tiba dari Pattani, salah satu provinsi di selatan Thailand yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Kedua orang yang baru tiba itu ternyata kerabatnya. Mereka membawa mobil dengan bak terbuka untuk menjemput wanita tersebut. Aku dan Bedul menempati bak di belakang. Berdiri sembari menatap jalan nan sepi, membelah kota Krabi yang masih terlelap. Angin kencang berhembus menepis wajah kami seiring dengan laju kendaraan, ditambah dinginnya udara subuh yang baru disirami hujan. Aku menyunggingkan senyum, bersyukur atas apa yang diperoleh hari ini. Begitu juga Bedul.

Perjalanan Seru Menembus Thailand

Kota Hatyai, Thailand

Van membawaku meninggalkan Penang. Melintasi jembatan kokoh sepanjang 24 km penghubung Penang dengan Semenanjung Malaysia. Menembus batas negara. Menuju negeri Gajah Putih, Thailand. Van berkapasitas 15 orang ini sungguh nyaman sekali. Kursinya empuk mirip sofa. Bersih dan adem.

Semakin jauh dari pusat negara Malaysia, perlahan pemandangan berganti lebih alami. Dipenuhi area perkebunan sawit. Tak jauh berbeda dengan perjalanan Jakarta – Merak di Indonesia. Hanya saja, di sini lebih tertata dan aspalnya lebih bagus.

Memasuki Negeri Kedah, disuguhi suanasan kota modern yang tidak terlalu ramai. Meski tidak seramai Kuala Lumpur atau Penang, tetapi di Kedah ini kotanya terlihat maju sekali, sebagaimana kota-kota lainnya di Malaysia. Lepas dari pusat kota Kedah, penampakan kembali didominasi pepohonan hijau. Sesekali, terlihat bangunan pabrik serta perumahan penduduk.

Menembus batas negara. Melakukan proses masuk di imigrasi Malaysia kemudian berlanjut ke imigrasi Thailand. Jarak kedua imigrasi tersebut tak sampai satu kilometer, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Minivan kembali mengangkutku dan penumpang lainnya, melanjutkan perjalanan ke Hatyai.

Setibanya di Hatyai aku memilih penginapan bernama Chatay Guesthouse. Sebuah hostel sederhana yang merupakan favorit para backpacker. Selain murah, bertarif 200 baht per malam, fasilitas untuk wisatawan tersedia komplit. Seperti paket tur ke berbagai objek wisata, sewa kendaraan, hingga pembelian tiket bis bisa dilakukan di sini.

Hatyai merupakan kota kecil di selatan Thailand. Banyak sekali persimpangan jalan di sini, yang menjadi ciri khas kotanya. Angkutan umum di sini disebut tuktuk, berbentuk imut, ngepas badan. Pintu masuknya dari belakang seperti bemo.

Hostel tempat aku menginap ini lokasinya sangat strategis. Hanya berjarak 200 meter dari stasiun kereta api yang menghubungkan hingga ke Bangkok. Agen bus berjejer di ruko-ruko sekitar. Bisa ditemui dengan mudah. Tempat makan halal tak sulit untuk ditemukan. Kota ini masih berada tak jauh dari Malaysia. Pengaruh Muslim masih terasa cukup kuat di sini. Bahkan, bank besar milik Thailand bernama Islamic Bank berdiri gagah di salah satu sudut kota.

Hostel yang aku tempati berada di lantai tiga. Sementara lantai dasarnya digunakan sebagai tempat agen perjalanan wisata. Kafe mungil nan sederhana tersedia di dekat meja resepsionis. Meski sederhana namun terlihat kreatif.

Di hadapanku, seorang pria bertubuh subur sedang duduk menyeruput teh. Pria yang usianya tak jauh berbeda denganku itu sepertinya orang Malaysia. Ops! Dugaanku salah. Setelah mendengar logat bicaranya ternyata dia anak jakarte abis. Ah, senangnya bertemu saudara sekampung (baca: negara) di negeri orang.

Sama sepertiku, pria yang lebih senang dipanggil dengan Bedul juga baru tiba di Hatyai. Setelah mengobrol, diketahui kami memiliki passion yang sama, bertualang ugal-ugalan alias ngegembel. Haha. Aku mengatakan kepadanya tentang rencanaku untuk mengeksplorasi Kota Hatyai dengan berjalan kaki. Ternyata ia merespon dengan semangat. Aha!

Mengelilingi kota mungil yang penuh persimpangan ini dengan berjalan kaki memang pilihan yang menyenangkan, tentunya juga selain hemat. Si Bedul ternyata sangat handal dalam menemukan akses internet gratis. Di beberapa sudut kota ini, terutama di area fasilitas publik, terdapat layanan internet gratis yang disediakan oleh pemerintah setempat. Termasuk stasiun kereta api. Stasiun yang sungguh dekat ini menjadi incaran kami untuk berselancar di dunia maya, sembari menyempatkan update status terkini.

Menu paling nikmat di Hatyai adalah nasi goreng dan nasi kebuli. Seperti tak pernah menemukan di negeri sendiri saja saking nikmatnya nsai goreng di sini. Tekstur nasi gorengnya sejatinya serupa dengan nasi goreng kampung, tanpa dilumuri kecap. Bercampur sedikit minyak—sepertinya minyak ikan. Takaran garam dan bumbu penyedap dirasa sungguh pas sekali. Sehingga tercecap sangat nikmat di lidah, hingga piring pun licin tak bersisa.

Sementara nasi kebuli, sejatinya juga serupa dengan nasi kuning di Indonesia. Perbedaannya, dilengkapi dengan daging ayam bakar berukuran jumbo. Saking sedapnya sampai tak segan untuk menambah nasi sepiring lagi. Kedua makanan tersebut merupakan menu yang umumnya dijual oleh Muslim Thailand.

Meski bertubuh gempal, namun Bedul ternyata lebih berstamina dibandingkan aku. Saat berjalan kaki aku yang lebih sering meminta untuk beristirahat. Ia tak pernah sekalipun mengutarakan keinginan untuk rehat kepadaku. Tetap dijajal seperti apapun medannya. Ah, gembul temanku hebat sekali.

Siang berganti malam. Cahaya lampu keemasan menerangi kota Hatyai di malam hari. Bukan. Bukan waktunya untuk beristirahat. Tetapi aku dan Bedul akan segera meninggalkan Hatyai. Melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya, Krabi. Kami menuju terminal bis. Suasana terminal dipenuhi penumpang yang hendak berangkat ke berbagai kota di Thailand.

Perlahan bus berjalan meinggalkan Hatyai. Aku dan Bedul menempati salah satu ruas bangku. Wajah penumpang di dalam bis ini sulit dibedakan. Wajah orang Thailand, Malaysia, dan Indonesia identik sekali. Saat petugas bis berjalan hendak memeriksa tiket ia mengajak kami bercakap-cakap dengan bahasa Thai. Sorry, i’m Indonesia! Si Bedul menjelaskan kepada petugas tersebut.

Tepat tengah malam, kami tiba di Krabi salah satu provinsi di Thailand. Penumpang tujuan Krabi diturunkan di sisi jalan. Dekat keramaian kota. Tidak dibawa ke terminal bis mengingat posisinya cukup jauh sehingga lebih efisien diturunkan di pinggir jalan. Hujan turun sangat deras. Disertai sedikit genangan air yang merendam hingga mata kaki, di sekitar lokasi pemberhentian bis menurunkan penumpang. Malam semakin pekat. Padahal ini perjalanan perdana kami ke negara orang. Ditambah dengan bahasa yang tak kami mengerti. Tulisan negara ini yang keriting. Sempurna. Anyway, Ini kesukaan kami. Tantangan baru. The real adventure!

Seharian Keliling Penang

Jembatan Penghubung Semenanjung Malaysia dengan Pulau Pinang (Penang)

Mentari perlahan menampakkan wujudnya. Pagi mulai menerangi Negeri Penang. Sembari menggendong ransel, aku menghampiri salah satu warung makan. Roti canai dan teh tarik menjadi pilihan sarapan di pagi nan cerah ini.

Melalui Facebook, aku mengontak seorang sahabat yang tinggal di Penang, Pak Amin. Ya, aku memanggil dengan tambahan ‘Pak’ di depan namanya karena usia kami terpaut cukup jauh. Beruntung Pak Amin senantiasa memantau akun Facebook miliknya sehingga tidak perlu waktu lama untuk menunggu balasan pesannya.

“Di mana posisi sekarang?”, Pak Amin membalas pesanku. Setelah menjelaskan keberadaanku, Pak Amin menginstruksikan agar aku menanti di Masjid Kapitan Muslim, masjid bersejarah yang juga menjadi salah satu destinasi wisatawan.

Aku melihat sosok wajah yang tak asing di depan sana. Ya, itu Pak Amin. Pertemuan pertama kami setelah sekian lama berkomunikasi melalui dunia maya, berawal dari media Kompasiana.

Pak Amin datang dengan mobil putih mirip Serena. Seragam kerjanya masih menempel di badannya. Mobil mulai melaju, mengiringi perbincangan kami selama di perjalanan. Pak Amin mengatakan bahwa ia sengaja meminta izin dari kantor hanya karena kedatanganku ke Penang. Ah, baik sekali. Aku jadi merasa tidak enak.

Penang terlihat sudah sangat maju. Meski hanya sebuah pulau kecil yang terpisah dari daratan Malaysia. Sekilas tampak seperti Singapura. Jalanannya terlihat mulus dan bersih. Pepohonan pinggir jalan menghadirkan kesejukan. Gedung-gedung pencakar langit menjadi pemandangan yang biasa, berjejer dimana-mana.

Pak Amin merupakan warga Malaysia kelahiran Sabah, salah satu negeri (provinsi) yang terletak di Malaysia bagian timur dekat Kalimantan. Ia memiliki garis keturunan Banyuwangi, Jawa Timur. Mobil yang kami naiki terus melaju membelah jalanan Penang. Pemandangan seketika berganti dengan suasana komplek perumahan yang bersebelahan dengan kawasan hutan. Ternyata di Penang masih banyak kawasan hutan yang belum tersentuh pembangunan.

Rumah Pak Amin terletak paling ujung di komplek perumahan ini. Persis bersebalahan dengan kawasan hutan yang dipisahkan sebuah sungai selebar 50 meter. Meski sudah dibatasi pagar, namun pemandangan hutan rimbun nan segar masih bisa terlihat jelas.

Aku memasuki rumah Pak Amin. Diperkenalkan dengan istri dan seorang anak perempuannya. Keluarga Pak Amin menyambut kedatanganku dengan hangat. Aku dipersilakan menempati kamar di lantai atas untuk melepas lelah.

Siang ini aku akan diajak oleh Pak Amin jalan-jalan keliling Penang, beserta Istri, anak, dan seorang keponakan perempuannya yang baru tiba dari Sabah untuk menghabiskan masa liburannya. Kebetulan sekali, ikut menemani keponakannya berlibur di Penang.

Penang merupakan sebuah pulau kecil. Sebagian tekstur tanahnya berbukit dan dipenuhi pepohonan hutan. Tidak seperti Singapura yang sudah meratakan semua sudut pulau kecilnya itu. Kali ini Pak Amin membawa mobil sedan. Aku duduk di kursi depan, puas memandang panorama Penang.

Mobil melaju mengelilingi pulau kecil ini. Melintasi sisi bagian lain, berlawanan dengan pusat kota Penang. Sisi di sebaliknya ini dinamakan Balik Pulau. Sebagaimana namanya, wilayah ini memang terletak di belakang pulau. Pemandangan didominasi pepohonan hutan dan berbukit.

Jalanan yang kami lintasi persis di bibir pulau, di atas ketinggian bukit. Dari sini, bisa menyaksikan hamparan laut nan luas di sisi kiri. Meski berada jauh dari pusat kota, namun jalanan di sini senantiasa beraspal mulus. Pak Amin mengarahkan kemudi mobil ke kanan, memasuki wilayah perkampungan. Ternyata masih ada daerah sederhana nan alami serupa kampung di kota modern ini. Kami mampir sejenak di rumah kerabat Pak Amin.

Perjalanan diteruskan, mengelilingi penuh pulau mungil ini. Mampir sejenak di kawasan wisata Peringgi. Ya, objek wisata di sini tentu tentu saja tidak jauh-jauh dari laut. Tempat ini benar-benar dikelola dengan baik. Hotel dan resor mewah banyak dibangun di dekatnya.

Kami mampir ke sebuah Masjid yang berada persis di pinggir laut untuk untuk menunaikan Sholat Dzuhur. Masjid ini dikenal dengan Masjid Terapung. Pernah terdampak tsunami pada tahun 2004 silam. Sehingga dilakukan renovasi total dan sekarang tampak lebih elegan. Sejak kejadian itulah, Masjid ini populer disebut dengan Masjid Tsunami.

Dari Peringgi sudah dekat menuju pusat kota, Georgetown. Perjalanan mengelilingi Pulau  Penang ini nan modern bercampur kawasan hutan nan alamai sungguh berkesan. Bersama keluarga Malaysia yang ramah dan penuh kehangatan. Tak terlupakan.

Jumpa Pertama Saudara Beda Negara

Suara telepon genggam berdering. Tanpa nama. Dengan yakin aku angkat panggilan tersebut. “Assalaamu’alaykum, ini Pak Wo Man,” ucap suara di seberang sana. Benar dugaanku, telepon dari sepupu Ayahku. “Nanti Pak Wo jemput di stasiun Melati, ya,” lanjutnya memberikan arahan.

Sebelumnya Ayahku sudah memberi tahu terlebih dahulu kepada Pak Wo Man tentang kedatanganku. Aku memang belum menyimpan nomor beliau. Setelah telepon ditutup, nomor panggilan barusan aku simpan di phonebook.

Aku bergegas menuju stasiun Masjid Jamek. Sesuai dengan namanya, stasiun ini terletak persis di seberang Masjid tempat aku menunaikan sholat Subuh tadi. Sistem transportasi di Negeri Jiran ini jauh lebih baik dibandingkan dengan di negaraku. Aku memasuki stasiun dengan melewati sebuah jalan kecil yang berbelok dan menanjak menuju langsung ke lantai dua. Suasana stasiun terlihat ramai.

Aku membeli tiket single trip, untuk sekali jalan. Untuk mendapatkan tiket tersebut harus berhadapan dengan sebuah mesin tiket otomatis terlebih dahulu. Cukup mengikuti panduan pada layar monitor. Setelah memasukkan sejumlah uang yang diminta, seketika akan keluar sebuah tiket berbentuk koin plastik. Nantinya koin ini dimasukkan pada pintu masuk elektrik.

Aku bergegas menuju kereta. Sulit membedakan orang Malaysia dengan Indonesia. Namun, untuk perempuan berhijab bisa dibedakan dengan melihat model hijabnya.

Kereta tiba di Stasiun Melati. Pak Wo Man telah menanti di stasiun tersebut. Aku memencet tombol handphone mengontak Pak Wo Man. Setelah saling menyebutkan ciri-ciri, kami berjumpa di luar stasiun. Ini adalah kali pertama berjumpa dengan saudara yang terpisah batas negara. Rasanya Excited. Pak Wo Man berprofesi sebagai pengemudi taksi di Kuala Lumpur. Ia menjemputku dengan taksi miliknya yang terparkir tak jauh.

Selama di perjalanan kami berbincang akrab mengulik lebih jauh silsilah keluarga. Pak Wo Man telah merantau ke Malaysia sejak tahun 1978 dibawa merantau oleh kedua orangtuanya yang merupakan adik dari nenekku. Ketika itu, Pak Wo Man dan adik kakaknya masih kecil. Tidak sulit memasuki negara tetangga pada masa itu.

Saat ini, Pak Wo Man dan keluarga besarnya telah berstatus warga negara Malaysia, hingga memiliki enam orang anak. Namun, logat khas Minang masih terdengar fasih dari lidahnya. Wajar saja, karena bahasa tersebut senantiasa dipakai saat berkomunikasi dengan istrinya yang berasal dari suku yang sama. Hanya saja, keenam anak mereka justru sangat fasih berbahasa Melayu. Saat mendengar mereka berbicara maka akan sangat sulit untuk menebak bahwa sesungguhnya mereka adalah anak-anak Minang. Sama halnya seperti aku yang tumbuh besar di salah satu bumi Melayu, Pulau Kundur.

Ternyata banyak sekali saudaraku di negeri seberang ini. Aku diperkenalkan kepada hampir semua kerabat yang bertalian darah. Berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Sambutan mereka sungguh ramah. Aku dibawa berkeliling sambil mencecap kuliner setempat.

Seorang kerabat mengajakku menghabiskan sore hari di sebuah kawasan kuliner dengan menggunakan sepeda motor. Dari sini terlihat jelas ikon Malaysia, Twin Tower. Suguhan kuliner beragam dari masakan Melayu, Thailand, Minang, hingga Aceh. Uniknya, hampir semua pedagang di sini keturunan Indonesia.

Sebelum senja menghilang, aku dibawa menuju Dataran Merdeka. Menyaksikan bangunan-bangunan besar artistik nan cantik. Ragam bentuk bangunan dengan rancangan arsitek yang unik. Kamera ditangan tak lepas mengabadikan bangunan di sepanjang jalan meski dalam keadaan dibonceng di atas sepeda motor.

Masa di Kuala Lumpur hanya aku habiskan selama sehari semalam. Keesokan harinya aku sudah harus melanjutkan rute perjalanan berikutnya. Pengalaman bersua dengan kerabat beda negara memang sangat berkesan. Melihat wajah-wajah setalian darah yang sudah berganti bahasa. Tradisi merantau suku Minang telah membawa suku dari Propinsi Sumatera Barat ini tersebar hingga pelosok negeri, bahkan negara.

Mengejar Twin Tower

Selfie bersama Twin Tower

Aku dan Bang Harahap memiliki tujuan yang sama, ingin melihat gedung pencakar langit. Ndeso memang. Tapi ini bukan gedung pencakar langit biasa, tetapi popularitasnya sudah mendunia, Twin Tower. Menara kembar tertinggi milik perusahaan minyak Malaysia, Petronas.

Lokasinya tak jauh dari terminal bis Puduraya. Puncaknya dapat terlihat dari sekitar sini. Sehingga meyakinkan kami bahwa jaraknya tidaklah jauh. Dengan percaya diri, aku dan Bang Harahap berjalan menuju gedung tersebut, menyusuri trotoar, tanpa bertanya sana-sini. Puncak Twin Tower yang terlihat, menjadi petunjuk jalan kami.

Setelah beberapa menit berjalan, kami meyakinkan diri bahwa Twin Tower sudah semakin dekat. Ketia mendongakkan kepala ke atas, puncaknya sudah tidak terlihat lagi, tertutup gedung bertingkat lainnya. Kami kebingungan. Pasrah. Hah! Ternyata memang butuh panduan, minimal dari orang-orang yang ditemui.

Akhirnya kami memutuskan bertanya kepada setiap orang yang berpapasan. Setelah mendapatkan informasi kami melanjutkan perjalanan. Rasanya seperti sudah semakin dekat saja. Tetapi anehnya tidak kunjung jumpa. Ya Tuhan. Setelah beberapa kali berputar sana-sini, akhirnya tiba juga di Twin Tower.

Demi melihat bangunan yang tak ubahnya gedung lain ini, hanya saja lebih tinggi dan ada dua (kembar), kami rela berpeluh keringat untuk mencapainya. Tak mengapa. Yang penting rasa penasaran akan gedung yang menjadi pembicaraan banyak orang ini bisa terlampiaskan. Sekadar ingin tahu seperti apa wujudnya jika dilihat langsung. Nothing special. Tetapi cukup puas.

Kami memasuki gedung tersebut. Ingin menjajal naik ke puncaknya. Kami diarahkan ke lantai bawah oleh sekuriti. Tampak poster besar bergambar panoama Kuala Lumpur dari ketinggian yang menutupi salah satu tembok. Tak jauh dari poster tersebut tampak beberapa orang sedang mengantri. Ternyata mereka hendak menaiki puncak Twin Tower. Dikenakan tiket sebesar RM 80 per orang. Yasalam. Perjalananku masih panjang. Duit segitu lebih baik sebagai bekal di negara berikutnya.

Sebagai kenangan tentu saja kami tidak ingin melewatkan kesempatan berfoto narsis dengan gedung kembar ini. Ada beberapa tempat terbaik untuk mengabadikan foto dengan gedung ini, salah satunya di danau buatan. Danau ini letaknya di dalam area gedung, sehingga untuk mendatanginya harus memasuki gedung terlebih dahulu.

Aku bersiap di depan kamera yang dipegang oleh Bang Harahap. Gedung kembar menjadi latar. Jembatan penghubung kedua gedung terlihat jelas di tengahnya sehingga terlihat seperti huruf H. Aku mengambil posisi lebih tinggi dari kamera dengan menjejali anak tangga. Bang Harahap mengarahkan lensa kamera ke arahku dari bawah dengan posisi jongkok, kepalanya hampir menyentuh lantai. Hal ini dilakukan agar puncak gedung terlihat sempurna. Perlu bersusah-susah dahulu jika ingin berpose dengan gedung ini. Begitulah.

Tidak hanya kami, hampir semua wisatawan tampak melakukan serupa. Pemandangan orang-orang berfoto dengan segala macam pose membelakangi Twin Tower akan selalu ditemui di sini.

Di sebelahku, segerombolan anak muda asal Filipina tampak foto bersama. Heboh sekali mereka. Si tukang foto sibuk mengarahkan dengan isyarat tangannya demi mendapatkan hasil foto yang bagus, bergeser ke kiri dan ke kanan. “Kanan.. Kanan..”, ujar si tukang foto itu. Kanan? Lalu, secara tiba-tiba siraman air pancur dari danau tersembur ke arah mereka. Semua berlarian sambil ada yang berucap, “basah.. basah..”. Basah? Setelah mereka berfoto, aku hampiri si tukang foto untuk menanyakan tentang bahasa mereka. Ternyata bahasa Tagalog Filipina memang banyak kemiripan dengan Bahasa Indonesia.

Puas menikmati Twin Tower, aku dan Bang Harahap melanjutkan perjalanan, meninggalkan Twin Tower. Kami berpisah. Bang Harahap masih akan melakukan petualangannya. Sementara aku hendak bersilaturahmi dulu ke rumah saudara yang tak pernah kujumpa. Saudara sepupu Ayahku yang sudah menjadi warga negara Malaysia. Semoga berjumpa kembali di lain waktu, Bang Harahap. Horas!

Subuh di Masjid Jamek Kuala Lumpur

Masjid Jamek Kuala Lumpur

Hening. Jarum jam menunjukkan angka 5 pagi. Hanya sesekali terlihat bis melintas di perempatan jalan raya lebar ini. Ada juga bis yang berhenti di sisi jalan, menurunkan penumpang, sebagaimana yang dilakukan bis yang aku naiki tadi.

Aku masih berdiri terpaku, memandangi keadaan sekitar. Aku tidak sendiri. Penumpang lain pun ada yang menanti di sini.

Tepat di seberang jalan tampak sebuah bangunan besar serupa mal yang ternyata adalah terminal bis Puduraya yang tampak masih sepi. Ditinggal tidur para pekerjanya. Pantas saja semua penumpang diturunkan di sisi jalan tak jauh dari terminal tersebut.

Tempat aku berdiri saat ini di pinggir jalan, tepat di depan sebuah restoran mamak yang buka 24 jam. Bukan, itu bukan restoran ibuku. Sebutan mamak di negeri ini dikhususkan bagi warung makan India yang beragama Islam. Restoran tersebut berada pada ketinggian satu meter, seperti panggung. Cukup menjejali beberapa anak tangga untuk masuk ke dalamnya.

Adzan Subuh akan bergema beberapa menit lagi. Aku mulai sibuk mencari tahu keberadaan Masjid terdekat. Satu per satu orang-orang yang sedang berdiri menanti di tempat yang sama, aku hampiri. Beruntung tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan informasi tersebut karena terjawab oleh orang kedua yang aku tanyai, yang juga akan menuju Masjid.

Kami berjalan membelah keheningan subuh di sepanjang trotoar. Melewati para wanita setengah pria yang berdandan seksi menanti pelanggan. Aku khawatir mendapat gangguan dari para pekerja dinihari tersebut. Tetapi, kekhawatiranku sirna. Mereka tidak mengusik. Sukurlah.

Jarak dari tempat penurunan penumpang bis tadi menuju Masjid sekitar satu kilometer. Terasa menyenangkan meskipun dengan berjalan kaki. Sambil memandangi jalan raya nan sunyi diterangi lampu jalan nan remang, berwarna keemasan. Sesekali terdengar desingan suara kendaraan roda empat yang melintas laju.

Azan subuh berkumandang merdu di Masjid Jamek. Jika dilihat dari luar, Masjid ini terkesan sempit. Namun ketika memasukinya, ternyata jauh dari yang dibayangkan. Selain bangunan yang besar, perkarangan masjid ini juga cukup lega.

Desain Masjid sekilas mirip Masjid Keraton di Jogja. Bagian luarnya lebih luas dari bagian dalam, yang ditopang oleh banyak tiang. Pancaran cahaya keemasan lampu di atas Masjid menambah kesan elegan.

Saat hendak berwudhu, di dekatnya aku melihat sebuah tulisan ‘Tandas’ di atas pintu. Sebuah kata yang masih membuatku bertanya-tanya. Yang sempat mengusik rasa penasaranku saat mendengar teriakan kondektur bis yang aku naiki tadi. Akhirnya terjawab juga. Toilet.

Jamaah sholat Subuh terisi satu setengah saf. Udara subuh terasa segar. Syahdu. Semakin menambah nikmat beribadah. Lantunan Alfatihah Sang Imam mengalun merdu.

Pagi mulai remang. Hari mulai terang. Sejenak aku merehatkan tubuh di selasar Masjid. Menikmati udara pagi nan segar. Di sini, aku bertemu dengan seseorang asal Indonesia, Bang Harahap. Kami berbincang sebentar. Dari namanya tentu mudah untuk ditebak asal daerahnya. Ya, Bang Harahap berasal dari ujung Sumatera Utara, Padangsidempuan. Ia juga sedang melakukan perjalanan, seorang diri. Ia memanfaatkan sisa perjalanan dinasnya di Pulau Batam untuk menjajal Singapura dan Malaysia.

Sejenak di Terminal Bis Larkin

Senja tampak semakin mencolok dengan pesona jingganya. Para pekerja mulai memadati jalanan hendak menuju pulang. Mulai dari riuhnya kendaraan yang memenuhi jalan hingga para pekerja yang berjalan melintasi trotoar berlalu-lalang.

Aku mulai berkemas, memasukkan semua perlengkapan ke dalam ransel. Menyerahkan kunci kamar kepada resepsionis, lalu bergegas menuju halte menanti angkutan umum tujuan terminal bis Larkin.

Sepuluh menit kemudian Aku tiba di terminal bis Larkin. Tampak deretan loket penjualan tiket, aku mendatangi salah satunya untuk membeli tiket tujuan Kuala Lumpur. Aku memutuskan memilih jadwal bis terakhir agar tidak terlalu lama menanti pagi saat tiba di Kuala Lumpur. Harga tiket 31 ringgit.

Adzan Maghrib berkumandang. Terdengar jelas dari terminal, artinya lokasi keberadaan Masjid berada tak jauh dari sini. Setelah bertanya, ternyata suara adzan barusan bergema dari lantai tiga terminal. Aku bergegas menuju atas melalui eskalator. Sebuah Masjid terletak di pojok, bagian sayap kanan. Masjid ini cukup luas. Nyaman berada di dalamnya.

Perutku mulai memberontak. Memaksa untuk mencari warung makan terdekat. Warung makan di terminal menjadi pilihanku. Aku memesan nasi lemak berisi ikan teri dengan sambal terpisah. Kelihatan hambar. Tapi perut harus segera diisi. Segelas teh tarik menjadi teman makan malam ini. Totalnya 4,5 ringgit.

Suasana terminal bis Larkin, secara fisik, sedikit mirip terminal di kota-kota besar di Indonesia. Hanya saja, penataannya lebih teratur. Kebersihan juga senantiasa terjaga. Ruas-ruas berbentuk miring yang memuat untuk dimasuki satu bis berjejer di sepanjang depan loket penjualan tiket. Ruas tersebut digunakan untuk dimasuki bis yang akan segera berangkat.

Salah satu ruasnya, terletak paling ujung, khusus ditempati oleh bis tujuan Johor-Singapura. Bentuk bisnya mirip busway, namun lebih pendek.

Di pojok terminal, tampak keriuhan sekelompok orang sedang menyaksikan layar tv di sebuah kafe. Ternyata mereka sedang menyaksikan siaran langsung pertandingan sepakbola antara Malaysia dan Indonesia. Aku turut di antara kerumunan orang-orang itu. Tidak berdesakan memang. Tapi sorakan suporter di sini terdengar cukup heboh.

Saat bola menembus masuk gawang Indonesia teriakan kegembiraan menggema seketika. Namun, ketika yang terjadi sebaliknya, bola membobol gawang Malaysia, suasana berganti hening. Rasanya aku ingin bersorak. Ah, sebaiknya kalem saja. Waktu dan tempat dirasa kurang tepat.

Aku hanya mampu berteriak girang dalam hati sambil menyunggingkan senyum tipis. Meskipun, hasil akhir pertandingan membuat aku kecewa. Namun, orang-orang di sekitar tidak menampakkan ekspresi berlebihan saat tim kesayangan mereka menang.

Malam semakin pekat. Bis akan segera berangkat. Aku menanti di bangku depan loket, tepat di depan pool bis. Wanita berhijab berbaju kurung khas melayu berparas manis menghampiriku sambil berucap, “Itu bis awak, plat nambe wai kei yu…”. Aku sedikit bingung dengan apa yang dikatakan petugas loket tersebut.

Loading sesaat mencerna maksudnya. Akhirnya aku ketahui bahwa ia sedang mengeja abjad plat mobil dengan aksen Melayu Malaysia yang berrti huruf W, K, dan U. Oalah!

Aku menaiki bis. Sungguh nyaman sekali di dalamnya. Terlihat ekslusif. Kursinya sangat empuk. Seperti sedang duduk di sofa saja. Di samping kursi tempat sandaran tangan terdapat tombol yang jika dipencet akan menggerakkan tempat bersandar kursi. Wah, pijat refleksi gratis! Keren. Seketika Aku membandingkannya dengan bis di negeriku sendiri.

Kondektur bis berteriak mengatakan bahwa bis sebentar lagi akan berangkat. Aku memilih kursi paling depan. Bersama seorang bapak tua yang duduk di sampingku. Aku memanggilnya dengan sebutan Pak Cik. Pria berumur sekitar 60 tahun namun tetap fit itu kerap melontarkan pertanyaan kepadaku, seperti sedang berceramah saja. Bahasanya terdengar formal. Ia merasa heran dengan perjalananku yang dilakukan seorang diri. Selama ini yang ia tahu turis selalu bepergian minimal berdua, sebagaimana orang Eropa.

Pak Cik mulai menghentikan ceramahnya. Sepertinya ia mengerti bahwa aku sudah sangat lelah. Perlahan mataku mulai terpejam. Bis terus melaju membelah kota. Suara mesin bis terdengar halus. Hening. Aku terlelap.

Awal Baru di Johor Bahru

Pelabuhan Stulanglaut tampak masih hidup dipenuhi para pekerja dan pendatang yang memasuki Malaysia. Setelah berjalan sejauh 30 meter dari tempat bersandarnya feri, aku tiba di antrian pemeriksaan paspor. “Nak buat apa kat sini?” tanya petugas imigrasi. “Transit to Thailand,” jawabku singkat. Ia merespon mengangguk pelan. Tanpa berceloteh panjang petugas tersebut langsung menempelkan cop di pasporku.

Banyak sekali konter pemesanan taksi di kawasan pelabuhan ini. Usai sholat Maghrib di musola pelabuhan, aku berjalan santai sambil meraba-raba suasana di negara yang baru pertama aku jejaki ini.

Aku memutuskan untuk memanfaatkan jasa taksi di dalam pelabuhan. Malam hari. Menjejali daerah baru seorang diri. Aku mesti berantisipasi. Taksi melaju membawaku ke kawasan JB City (Johor Bahru City). Ragam penginapan terdapat di sini.

Sebuah hostel bernama Hongkong menjadi pilihan tempat menginap malam ini. Posisinya tidak berada di sisi jalan utama, melainkan pada jalan bagian dalam, dekat persimpangan. Memasuki hostel tersebut harus menaiki anak tangga yang menuju ke lantai dua. Tarif permalam 35 ringgit. Aku rasa ini tarif termurah dari semua penginapan yang ada di sini.

Lelah. Perjalanan lintas negara membelah lautan sepulang dari kantor tanpa istirahat mengharuskanku untuk segera merebahkan tubuh sesaat setelah membersihkan diri dan mengisi perut.

Selamat pagi, Johor! Sebelum mentari menampakkan dirinya, aku bergegas keluar menghirup aroma pagi di kota berjarak sepelemparan batu dari Singapura ini. Langit perlahan mulai remang. Fajar menyingsing. Aku terus berjalan menyusuri tiap sudut kawasan JB City. Tata kota di sini sungguh menarik. Terlihat bersih dengan taman-taman kecil yang menghiasinya. Bak terciprat modernitas Singapura yang dipisahkan oleh Selat Johor di seberangnya.

Aku berjalan menuju bibir pulau, bagian paling selatan dari semenanjung Malaysia. Tampak jelas bangunan pencakar langit negara Singapura di seberang sana. Di bibir pulau terdapat taman cantik, persis di pinggir jalan besar. Matahari pagi mulai menyengat. Memancarkan sinarnya ke muka bumi.

Johor Bahru terhubung jembatan besar dengan Singapura. Jembatan ini tidak menggantung sebagaimana umumnya. Tetapi menyatu jejak hingga ke dasar selat. Dipadatkan dengan pasir yang ditimbun sehingga tampak seperti daratan. Mematikan aliran air di Selat Johor yang terisolasi tanpa ada sedikitpun aktifitas pelayaran di dalamnya.

Aku duduk di tepi selat sambil memandangi padatnya arus kendaraan menuju Singapura di jembatan lintas negara tersebut. Dijejali oleh para pekerja asal Malaysia yang mengadu nasib di negara tetangga. Jarak yang sangat dekat membuat para pekerja Malaysia tidak perlu membuang biaya mencari rumah untuk tinggal di Singapura. Tentu saja merupakan keuntungan tersendiri bagi pekerja khususnya dari Johor Bahru mengingat biaya hidup di Negeri Singa yang mahal.