Asiknya Jalur Kanal di Bangkok

Jalur kanal di pusat kota Bangkok

Berjalan kaki di jantung kota Bangkok, menyusuri trotoar. Melewati komplek kepresidenan. Tang-tank milik tentara Thailand terparkir di beberapa sudut jalan tersebut. Ada tentara yang berjaga di pos-pos tertentu. Kawasan sedang dalam pengawasan karena ada aksi demo sekelompok warga Thailand.

Spanduk-spanduk demo bertuliskan aksara Thailand berjejer memenuhi salah satu sudut jalan, di bagian ujung. Sepertinya kalimat-kalimat tersebut bermakna protes terhadap pemerintahan setempat. Namun, saat itu tidak terlihat satu pun pendemo di kawasan tersebut. Sengaja ditinggalkan sementara. Meski begitu, kondisi tetap kondusif. Beberapa turis pun tampak berlalu lalang melintasi kawasan tersebut. Kawasan ini bisa dipintasi, tembus ke jalan lainnya.

Para tentara Thailand ternyata sangat ramah, meski menyimpan mimik yang serius. Bahkan tak menolak saat ada turis yang ingin mengajak foto bersama. Seketika senyum mereka pun tersungging saat di depan kamera.

Thailand memang ramah bagi turis yang bertandang ke negerinya. Pantas saja setiap hari ramai ditemui turis dari berbagai negara di sini. Warga Thailand sudah sangat mengerti dengan keberadaan turis.

Dari komplek kepresidenan, aku terus berjalan menuju tujuan selanjutnya, masih berbau kuil. Sebagaimana kota-kota metropolis lainnya, tempat wisata di Bangkok didominasi wisata ibadah, museum, dan bangunan-bangunan unik yang berdiri di pusat kota.

Aku bertanya kepada warga setempat tentang lokasi keberadaannya. Kebetulan seorang tentara Thailand berjalan menuju arah yang sama. Ia menjawab dengan ramah. Karena searah, ia menyuruhku mengikuti langkahnya.

Sampai juga tempat yang dituju. Di kawasan ini sedang berlangsung sebuah acara di ballroom, sepertinya sangat resmi. Meski begitu, tidak tertutup bagi wisatawan yang hendak memasukinya. Banyak pepohonan hijau menghiasi area ini. Sebuah pos penjaga terbuka seluas 3×3 meter, di tempat ini melayani pembelian tiket menuju puncak kuil yang cukup tinggi.

Harga tiket masuk 20 baht. Tangga naiknya persis samping pos tesebut. Sisi kiri-kanan tangga selebar satu meter ini terhampar pepohonan, semi hutan. Terlihat apik. Naik ke atasnya sedikit meliuk.

Hampir sampai ke puncak. Tiba di area yang cukup luas, di tengahnya ada bangunan kuil. Bagian sisi kuil tersebut terdapat deretan gong yang bisa dipukul setiap gongnya. Katanya memiliki makna jika memukul gong tersebut. Masih ada puncak tertinggi. Aku menaiki tangga lagi. Dari sini bisa terlihat panorama kota Bangkok yang membentang.

Banyak pemeluk Buddha yang melakukan ritual ibadah di sini. Tempat ini berhadapan langsung dengan langit, terbuka. Di tengahnya, terdapat benda berbentuk kerucut, mirip piramida raksasa, setinggi sekitar 10 meter. Wisatawan diperbolehkan masuk ke dalamnya.

Tak perlu berlama-lama di tempat ini. Sekadar melihat-lihat saja, sudah cukup puas. Aku kembali turun. Tangga naik dan turun terletak terpisah.

Aku melanjutkan perjalanan. Menyusuri koridor depan deretan ruko. Menuju tempat pemberhentian kapal, disebut juga dengan stasiun kapal. Kapal dalam kota. Ya, di Kota Bangkok, sebagaimana di beberapa kota di Eropa, terdapat kanal-kanal atau anak sungai yang bisa dilewati kapal-kapal kecil. Kanal ini dijadikan jalur transportasi air resmi. Bisa jadi alternatif saat terjadi kemacetan di jalan raya. Efisien sekali.

Stasiun yang aku datangi ini terdapat persis di samping minimarket Seven Eleven. Para calon penumpang tampak duduk menanti kedatangan kapal. Tidak terlalu lama menunggu. Kemudian kapal berangkat menuju stasiun-stasiun pemberhentian selanjutnya. Petugas menarik tiket saat di dalam kapal. Aku membayar 10 baht. Tiketnya berupa secarik kertas kecil selebar jempol.

Aku hendak menuju kawasan pusat perbelanjaan ternama di Bangkok. Pratunam, Mal MBK (Moh Boon Krong), Paragon, Madame Tussaud, semuanya terpusat di sini. Kapal tiba di stasiun tak jauh dari tempat yang akan aku tuju. Setelah turun dari kapal, berjalan menuju sisi jalan raya, seketika pemandangan berubah menjadi gedung-gedung pencakar langit, salah satunya mal MBK yang tampak dari kejauhan.

Dari stasiun kapal ini menuju mal MBK berjarak sekitar 500 meter. Aku berjalan menyusuri trotoar di sisi jalan raya. Tiba di persimpangan aku tidak langsung menyeberang, tetapi memanfaatkan tangga penyeberangan yang menghubungkan beberapa bangunan tinggi di sekitarnya. Tangga penyeberangan ini sangat lebar, selebar jalan raya di bawahnya. Terhubung dengan mal MBK, stasiun monorel, serta beberapa gedung-gedung lainnya.

Mal MBK merupakan mal terbesar di Thailand. Pusat perbelanjaan bagi kelas menengah ke atas ini menyuguhkan kesan elegan saat memasukinya. Selain toko-toko yang memanjakan bagi penggila shopping, ada juga foodcourt yang terpusat di lantai paling atas. Terdapat juga restoran halal, salah satunya ala arab.

Jika hendak ke Madame Tussaud, cukup menyeberang ke gedung Paragon yang berad di salah satu sudut persimpangan. Ya, di Negeri Gajah putih ini juga ada patung-patung lilin menyerupai tokoh dan selebriti ternama dunia. Tiket masuknya sebesar 800 baht. Namun, bisa lebih murah, sekita 50 persen, jika memesannya secara online.

Kota Bangkok memang menghadirkan kesan tersendiri bagi siapa saja yang mendatanginya. Khususnya bagi pelancong asal negara-negara yang serumpun dengannya. Melihat wajah-wajah serupa, dan seketika surprise ternyata mereka berbicara dengan bahasa berbeda, beraksen suara hidung sengau. Mengetahui hal-hal semacam itu akan menambah momen indah dalam perjalanan mengunjungi negeri yang sejarahnya tidak pernah dijajah bangsa lain ini Selain melihat panorama kotanya yang tak jauh berbeda dengan Jakarta, tentu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *