Aku, Bedul, dan Krabi

Hujan masih turun deras. Aku dan Bedul berteduh di depan ruko. Membentang koran, duduk di atasnya, beristirahat. Kami kedinginan. Tiba-tiba tukang ojek datang menghampiri. Sambil mengenakan jas hujan ia menawarkan jasa tumpangan berbayar. Kami menggelengkan kepala. Menanti hujan reda saja.Khawatir dipermainkan dengan bayaran tak sewajarnya, karena kami bukan orang Thailand.

Hujan perlahan reda. Hngga tak bersisa. Tampak warung makan yang masih buka di seberang jalan. Aku dan Bedul menuju ke sana, sekadar menyeruput kopi. Sembari menggali informasi kepada pemilik warung tersebut, dengan komunikasi semampunya. Ternyata warungnya sudah hampir tutup. Kami meminta izin kepada pemiliknya untuk menempati teras di luar ruko. Namun ia tidak memperbolehkan. Ia menyuruh kami untuk ngemper di lokasi ATM yang terletak tak jauh. Kami mencoba ikuti sarannya.

Lokasi ATM ini memang terlihat bersih. Namun tidak nyaman untuk ditempati. Apalagi banyak kamera cctv bertebaran di tiap sudut. Mataku mengarah pada warung internet 24 jam di seberangnya. “Kita nginap di situ aja, Dul.” Kataku kepada Bedul sambil menunjuk warnet tersebut. Bedul selalu setuju. Asiknya punya partner ngegembel yang se-passion seperti Bedul.

Kami menuju warnet tersebut. Setelah bertanya tarif per jamnya, ternyata mahal sekali. Batal lagi. Aku dan Bedul terus berjalan menyusuri tepian ruko. Kursi panjang yang mengganggur di depan ruko menjadi sasaran kami untuk berehat. Kebetulan tampak seseorang sedang menunggu di depan ruko tersebut sambil memegang koper. Kami menduga ia sedang menanti bis malam. Sepertinya ruko tersebut adalah agen perjalanan yang biasa ditempati oleh calon penumpang. Kami menuju ke sana.

Tak lama kemudian datang seseorang dengan mengendarai sepeda motor. Ternyata ia akan menjemput wanita yang sedang berdiri menanti itu. Rupanya wanita itu baru tiba di Krabi.

Aku dan Bedul beristirahat di kursi panjang depan ruko ini. Tidur dengan posisi duduk. Secepat kilat, Bedul langsung pulas tertidur. Aku masih tetap terjaga. Tukang ojek yang tadi mendatangi kami saat kehujanan tiba-tiba nongol lagi. Ia masih ngotot merayu kami untuk menerima tawaran ojeknya. Namun kami kami masih ingin rehat melepas lelah di kursi ini. Tukang ojek yang diketahui bernama Inoy itu tetap menanti di sebelah kami. Apakah ia masih menunggu kami sampai berubah pikiran atau hendak menanti penumpang lainnya. Entahlah.

Inoy merupakan tukang ojek yang lugu. Usianya sekitar 35 tahun dengan paras sedikit oriental. Senyum ramahnya senantiasa terkembang. Meski terkendala bahasa namun kami masih bisa berkomunikasi semampunya dengan bantuan gerakan tubuh. Jika ia sulit mengungkapkan kata dalam bahasa inggris, maka matanya akan menerawang ke atas sambil berusaha mencari pengucapan yang tepat. Sesekali terlihat ekspresi kesal sambil sedikit tertawa jika hasrat ingin menyampaikan sesuatu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Malam semakin pekat. Memasuki waktu dinihari. Kami berpindah ke ruko tak jauh dari sini. Banyak orang sedang menanti di ruko yang juga merupakan agen perjalanan. Perlahan satu per satu orang-orang tersebut beranjak pergi, menaiki bis yang berhenti di pinggir jalan.

Ada juga yang dijemput oleh kerabatnya. Tersisa Aku, Bedul, dan Inoy. Serta seorang penumpang lagi yang merupakan seorang pria, sepertinya sangat kenal dengan Inoy dilihat dari keakraban antara keduanya.

Aku dan Bedul berbincang akrab dengan Inoy. Ia duduk di antara kami. Ternyata ia ramah sekali. Teman Inoy yang berpenampilan seperti anak kuliahan itu meminta kami beroto dengan Inoy. Ia memotret kami bertiga. Jari-jemarinya seketika langsung menari-nari di atas tombol gadget miliknya sesaat setelah memotret. Sepertinya ia ingin mengunggah foto kami ke media sosial untuk diperlihatkan kepada teman-teman Thai-nya.

Waktu hampir mendekati akhir dari sepertiga malam. Aku dan Bedul masih setia mengemper di depan ruko. Sementara Inoy dan temannya sudah menghilang sejak tadi. Tampak dari kejauhan seorang wanita muda mengenakan hijab sedang menanti di depan sebuah minimarket 24 jam. Kami menduga ia adalah seorang traveler seperti kami yang hendak menjelajahi Krabi. Bedul menghampiri wanita tersebut.

Aku berharap cemas memantau dari kejauhan. Berharap ada kabar baik. Aku menanti Bedul cukup lama. Tampaknya asik sekali ia bercakap-cakap dengan wanita tersebut. Aku melihat Bedul dan wanita itu beranjak dari minimarket tadi dan menyeberangi jalan raya di depan. Namun Bedul tak kunjung jua datang. Lelah menanti, Aku berinisatif mendatangi Bedul.

Ternyata tiadk hanya Bedul dan wanita itu. Ada dua orang lagi: laki-laki dan perempuan sebaya mereka. Aku mendekati mereka. Bedul menceritakan bahwa ia akan ditunjukkan lokasi Masjid terdekat. Ternyata wanita itu warga Thailand yang baru tiba dari Pattani, salah satu provinsi di selatan Thailand yang berpenduduk mayoritas Muslim.

Kedua orang yang baru tiba itu ternyata kerabatnya. Mereka membawa mobil dengan bak terbuka untuk menjemput wanita tersebut. Aku dan Bedul menempati bak di belakang. Berdiri sembari menatap jalan nan sepi, membelah kota Krabi yang masih terlelap. Angin kencang berhembus menepis wajah kami seiring dengan laju kendaraan, ditambah dinginnya udara subuh yang baru disirami hujan. Aku menyunggingkan senyum, bersyukur atas apa yang diperoleh hari ini. Begitu juga Bedul.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *